Rabu, 11 Mei 2016

Resensi Novel Maneken: Cerita Ada, Karena Kita Percaya

Kau kira hanya manusia saja yang memiliki obsesi terhadap cinta? Jangan membuatku tertawa. Aku pun sebagai benda yang dipajang di sebuah toko punya obsesi itu dan akan memperjuangkannya.

Claudia namanya. Maneken cantik—calon—penghuni etalase utama toko Medilon Shakespeare. Sebagai butik yang baru direnovasi, Medilon Shakespeare membutuhkan kejutan utama di hari peluncurannya. Tentu agar butik ini tidak begitu saja tenggelam di balik butik-butik besar lainnya di daratan Inggris. Dan Claudia adalah jawabannya.

Claudia begitu senang. “Dunia kaca kecilku. Etalase milikku,” akunya. (hal. 4)

Tapi Sophie, pengelola butik, ternyata juga menyimpan kejutan lain. Tiga karyawan lain, Touya, Deborah, dan Nichole hanya bisa menuruti perintah. Termasuk Vince, pemilik asli butik yang tak pandai mengelola bisnis.

Claudia bukanlah satu-satunya bintang utama Medilon Shakespeare. Butuh satu maneken lagi. Maka didatangkanlah Fereli. Maneken pria tampan, ‘pelengkap’ bagi Claudia. Tentu bagi Claudia, ini jauh di luar harapan. Milikku, artinya milikku. Tidak boleh ada maneken lain yang menghuni etalase utama. Apalagi, sejak pertemuan pertama, Claudia sudah dibuat jengkel dengan pertanyaan dalam bahasa Perancis yang membuatnya terlihat bodoh. “Bonjour Mademoiselle! Comment vous-allez vouz? (Halo Nona, apa kabar?)” (hal. 14)

Ah, lupa. Claudia dan Fereli memang maneken, tapi keduanya mampu berbicara. Tentu dalam bahasa mereka, dan hanya mereka yang bisa mendengarnya. Ada empat kemampuan maneken lainnya yang tidak dimiliki manusia. Takkan jadi kejutan kalau semuanya dituang dalam resensi sederhana ini.

Sangat tak mudah bagi Claudia yang ambisius dan menggebu selalu bersama 24 jam dengan Fereli yang formal dan dingin. Musim terus berganti, dan tema toko pun berubah. Begitu pula dengan Claudia dan Fereli. Busana dan posisi mereka selalu disesuaikan dengan tema yang diusung Medilon Shakespeare. Tapi benci Claudia justru perlahan menguap. Fereli yang dikenalnya ternyata juga memiliki sifat lembut dan sopan. Gentle. Sampai akhirnya rasa itu kemudian hadir. Terutama setelah tangan Claudia bersentuhan dengan tangan Fereli. “Saat itu, kukira sebagai ungkapan sepakat kami harus saling menyentuh tangan, ternyata dampak yang harus ditimbulkan lebih dari sekadar itu.” (hal. 49)

Sejak itu, etalase utama bukan lagi milikku. Tetapi menjadi etalase kami. Claudia merasa telah menyatu dengan Fereli, begitu pun sebaliknya.

Pada saat yang sama, sebuah rahasia terkuak. Dari mana mereka berasal, dan mengapa Fereli merasa bahwa mereka telah ditakdirkan bersama sejak pertama kali diciptakan oleh seseorang bernama Sinclair. Rahasia yang membuat Sophie tak segan membuang dan membakar Fereli sesaat setelah kekasihnya membatalkan rencana pernikahan mereka. Rahasia yang kembali mempertemukan Fereli dan Sinclair. Rahasia yang mampu "menghidupkan" kembali Fereli dan memaksanya untuk menyelamatkan Claudia dari rencana jahat Sophie lainnya. Rahasia apa? Apa yang sebenarnya telah terjadi?

Cerita yang kita punya takkan ada jika tak percaya.”

***

Sungguh tak disangka, ternyata sebuah video clip bisa disulap menjadi novel setebal 181 halaman. Dengan imajinasinya, penulis mampu mengembangkan video clip lagu Dalam Duka miliki Letto, lengkap dengan beberapa detail. Seperti tema toko yang tulisannya ditempel di depan etalase utama, serta busana dan posisi kedua maneken. Termasuk sikap Claudia yang menaruh iri pada pasangan kekasih yang kerap meramaikan kafe di depan toko. Benar-benar seperti sedang menonton video clip, namun dengan cerita yang lebih meluas.

Kisah cinta yang unik, karena diambil dari sudut pandang benda mati. Benda yang selama ini mungkin kita abaikan. Tetapi ternyata memiliki emosi dan ambisi sebagaimana manusia.
Tidak heran, seluruh bab ditulis dengan kalimat pasif. Dinamai, Dijengkelkan, Dilamar, Ditinggalkan, dan sebagainya. Awalnya ini semacam keunikan tersendiri. Perlahan disadari, benda mati sejatinya memang tidak bergerak sendiri. Ada manusia yang menjadi subjeknya.

Kelebihan lain novel ini ialah bahasa yang lincah mengalir dan diksi yang puitik. Sebagaimana endorse dari Tasaro GK, “Setiap kata dalam novel Maneken ini seakan dipilih dengan kesadaran penuh akan rimanya, maknanya, filosofinya, dan kritiknya.” Seperti ketika penulis menguraikan perasaan Claudia atas kehadiran tirai yang menjuntai di depan etalase.

Kemarin malam, lapisan-lapisan kertas yang melekat dan mengganggu pandanganku terhadap suguhan kecil jagat raya bagian depan etalase utama dicopot oleh Sophie dan kawan-kawan. Saat kertas tersibak, terkuaklah pemandangan di luar. Bukan panorama padang hijau yang terpampang—sebab kutahu ini di kota—melainkan jalanan dan jejeran bangunan bisu yang bising oleh aktivitas manusia.” (hal. 7-8)

Atau beberapa quote  yang turut merenda novel.

Tak ada yang tak mungkin, karena kau hidup di bawah awan. Kau diperbolehkan bermimpi setinggi awan dan bisa berusaha meraihnya. Coba bayangkan jika kau hidup di atas awan, di manakah kau menggantung mimpimu?” (hal.90)

Setiap bab ditulis pendek. Sekitar 3-8 halaman saja. Sehingga pembaca tidak dibebani dengan penantian akhir bab dan bosan sebelum menuntaskannya. Justru pembaca tidak sadar kalau novel yang dibacanya bisa habis dalam waktu singkat. Klimaksnya tentu saja menunggu akhir kisah cinta Claudia dan Fereli. Pembaca dibuat penasaran dengan klimaks tersebut, namun tidak butuh waktu lama untuk naik ke puncaknya.

Sayangnya, ada beberapa noda yang sedikit mengotori novel Maneken ini.

Pertama, lagi-lagi typo. Misal penulisan “disekitaran” (hal. 90) yang seharusnya dipisah, malah disambung. Tapi ini tidak banyak. Masih dalam hitungan kewajaran.

Kedua, desain sampul. Rasanya kurang eye catching. Font untuk tulisan Maneken sedikit kurang tegas. Dari jauh, pembaca akan sedikit kesulitan membaca judul novel ini. Selain itu, gambar kedua manekennya masih kurang mirip seperti maneken. Awalnya saya kira gambar itu sekadar merepresentasikan tokoh di dalam novel. Manusia, bukan maneken.

Ketiga, kelewat puitik. Ini terjadi di beberapa scene. Terutama ketika wawancara beberapa saksi mata yang mengaku melihat manusia (baca: maneken) terbang di malam hari.

...Namun saat itu berbeda, dalam tidurku aku merasa gelisah. Terbangunlah aku, tidak dengan berteriak sebab aku tidak mimpi buruk, suamiku masih tertidur dengan kenyenyakan yang takkan terusik gempa. Aku berjalan ke dapur, berniat meminum air putih...” (hal. 124)

Jarang sekali ada orang yang masih dalam keadaan terkejut lalu dapat berbicara panjang lebar dan dengan kalimat-kalimat yang tersusun rapi. Biasanya mereka akan bicara sepotong-potong, to the point, serta kalimat yang kadang tidak keruan.

Keempat, alur maju yang terlalu cepat. Sepertinya ada beberapa bagian yang masih bisa dikembangkan oleh penulis. Cerita sekreatif dan seunik ini rasanya agak sayang dapat tuntas hanya dalam waktu singkat. Contoh, kisah mengenai awal pembuatan Claudia dan Feleri. Penulis bisa saja membuat bab baru, sedikit flash back, dan menyusun cerita yang lebih detail. Tidak sekadar omongan Feleri yang menjawab rasa penasaran Claudia. Saya jadi bertanya, jika setiap maneken memiliki lima kemampuan yang sama, bukankah mungkin saja ada Claudia dan Fereli lainnya? Bahkan mungkin ada maneken yang nakal, memberontak kepada manusia. Menuntut hak asasi manekennya. Mengerucutnya cerita hanya pada Claudia dan Fereli mungkin bisa sedikit dikembangkan dengan kehadiran maneken lain sebagai penyeimbang.

Saya juga sedikit kecewa mengapa penulis memilih Claudia dan Fereli untuk “dimanusiakan”, dalam arti harfiah. Ke-maneken-nya tergantikan oleh “kemanusiannya”. Cerita cinta yang telah disusun dengan legit dari awal itu seperti kehilangan makna dan keunikannya.

Begitulah, tapi beberapa kekurangan tersebut seperti tidak terasa jika kita telah membaca novel ini hingga khatam. Terakhir, bagi para penikmat novel dan cerita roman, novel ini tentu sayang dilewatkan begitu saja. Buat para penulis pemula, menyeksamai novel Maneken pasti akan menambah wawasan, atau minimal kosakata kita. Mengembangkan imajinasi kita mengenai dunia fantasi. Sesuatu yang awalnya tampak tidak mungkin, ternyata dapat diwujudkan. Sebab cerita itu akan ada, hanya jika kita percaya. []

Judul: Maneken
Penulis : SJ. Munkian
Penerbit: Mahaka Publishing, Jakarta
Tebal: x+181 halaman; 13.5 x 20.5 cm
Cetakan: I, September 2015
Nomor ISBN: 978-602-9474-06-0 

Jumat, 23 Oktober 2015

Memaknai Sakinah, Memburu Mawaddah - Resensi Buku Sayap-Sayap Sakinah



Apa yang Anda imajinasikan saat mendengar kata “pernikahan”?

Kegembiraan bertemu tambatan hati, kesibukan menyiapkan walimah, atau debar-debar menjelang akad? Juga segala rasa bahagia, canggung, tak sabar, seluruhnya menyatu dalam satu waktu? “Mari kita bersepakat bahwa rasa yang paling mendominasi segenap jiwa saat itu pastinya adalah bahagia. Kita semua sependapat bahwa menikah itu sebuah perkara indah.” (hlm. 9)

Namun, tampaknya ada yang perlu diluruskan dengan definisi “bahagia” kita. Sebab kita kerap mengartikan bahagia dengan penyelenggaraan walimah (resepsi) yang megah lagi wah. Masalahnya, kebahagiaan terlalu sempit jika dimaknai melalui besar-kecilnya walimah saja. Substansi pernikahan jauh lebih rumit. Butuh waktu panjang, energi besar, dan kesabaran luar biasa untuk menapakinya.

Untungnya Dzat Yang Maha Penyayang menunjukkan bimbingan-Nya. Bahwa perjalanan berat berupa pernikahan bertujuan satu: tercapainya sakinah.

Dan di antara ayat-ayat-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri supaya kamu merasa nyaman kepadanya…”  (Qs. Ar-Rum: 21)

“Dalam ayat tersebut terdapat kata litaskunuu ilaiha (merasa tenteram kepadanya). Litaskunuu berasal dari kata sakana, yang berarti nyaman, cenderung, tenteram, atau tenang—sakinah. Sedangkan kata ilaiha merujuk bahwa rasa sakinah itu berarti kepada yang dicintainya—dalam hal ini adalah pasangannya.” (hlm. 45)

Karena sakinah adalah tuntunan-Nya, maka selayaknya jalan menuju ‘cinta’ pun mengikuti petunjuk-Nya.

Betapa sebagian dari kita hari ini terburu-buru menebar janji yang belum tentu terbukti dan menitipkan rasa cinta pada sosok yang sebetulnya masih misteri. Andai saja kita merenungi kisah Abu Bakar bin Umar dan Zainab el-Nafzawiya. Kisah singkat dari buku Kitab Cinta dan Patah Hati-nya Sinta Yudisia tersebut membuktikan pada kita bahwa yang telah menikah pun belum tentu ‘berjodoh’. Sayangnya, pacaran, hari ini masih menjadi ikhtiar mencari jodoh paling populer. Sepasang lelaki-wanita menjalin hubungan tak halal berdalih penjajakan karakter. Dalih yang mudah dipatahkan.

“Nyatanya, anak-anak SD pun saat ini sudah mulai mencoba berpacaran. Anak SMP sekarang sudah ‘mahir’ menjerat mangsa dan melakukan hubungan seks tanpa nikah, bahkan di ruang kelas sekolah!” (hlm. 55)

Lalu mencari jodoh dari mana? Tenang, Mbak Afifah Afra telah menyiapkan 6 rumus yang dapat ditelaah di halaman 61-65. Agar rumus ini lebih aplikatif, di beberapa bab Mbak Afifah Afra dan Riawani Elyta pun tak segan membagikan kisah pernikahan mereka yang (catat!) tanpa didahului pacaran.

Lengkaplah persiapan merayakan cinta. Degup jantung kembali tenang sebakda akad. Apa yang sebelumnya haram, kini mendapatkan stempel halal, bahkan bernilai ibadah.
“Akan tetapi, apa yang perlu Anda ketahui bahwa pernikahan bukanlah sebuah taman bunga yang serba indah.” (hlm. 104)

Pria dan wanita jelas berbeda. Baik fisik, psikis, maupun pola pikir. Jika tidak diantisipasi, perbedaan-perbedaan kecil yang ada justru bisa berbuah perselisihan besar nantinya. Bagaimana mengantisipasinya? Temukan sendiri jawabannya di halaman 109-110, ya. Hehe.
Semakin ke dalam, kita akan disuguhkan formula-formula agar sakinah terus mengepakkan sayapnya. Dari menata ulang pemahaman tentang Mitsaqon Gholidzo, menata hati di malam pertama, menata cinta di awal pernikahan, menata sikap terhadap mertua, sampai menata jiwa jika ternyata sifat pasangan bertolak-belakang dengan harapan kita.

Cukuplah pemaparan menuju akad nikah hingga kiat membangun rumah tangga dalam buku ini, menjadi bekal bagi kita yang masih lajang atau telah berkeluarga. Agar sayap-sayap sakinah mampu mengembang. Dan menerbangkan rumah tangga kita mencapai ridha-Nya.

***

Saya yakin, buku ini bukanlah buku bertema pernikahan Islami pertama yang Anda temui. Saya sendiri sempat berpikir, “Apa bedanya buku ini dengan buku bertema sejenis lainnya? Ah, paling bahasnya itu-itu lagi.”

Tapi, bukankah kunci sukses belajar adalah ‘mengosongkan gelas’ dahulu?

Kita mesti berani merendah. Dan seperti kata Helvy Tiana Rosa, “…sadar bahwa kita belum tahu banyak.”

Dan sikap semacam itu terbukti hasilnya. Dalam buku setebal 248 halaman ini, saya memperoleh beberapa perspektif baru mengenai pernikahan dan beragam kisah berhikmah yang patut diteladani. “Nikah dan Second Opinion” adalah contoh bab yang sangat saya sukai. Benar-benar memberikan pemahaman baru.

Ditambah, kedua penulis ini merupakan penulis besar dan telah menelurkan banyak buku fiksi. Tidak heran diksi yang dipakai bervariasi dan mampu menyampaikan pesan tanpa kesan mendakwai. Bahasanya mengalir lincah, terselip humor, namun tetap padat dengan nash-nash dan fakta ilmiah.

Bagi Pembaca yang tidak terbiasa menyelesaikan bacaannya (ups!), buku ini lumayan membantu Anda. Penyusunannya yang tidak sistematis memungkinkan kita membaca dari bab mana pun. “Saya ingin tulisan-tulisan ini terjelma bak kumpulan benda-benda kecil yang bisa dinikmati secara terpisah. Namun tatkala benda-benda itu dikumpulkan, menjelmalah sebuah bentuk yang lebih besar dan utuh.” (hlm. 18)

Bobot buku ini bertambah dengan tampilan sepotong quote setiap mengawali bab baru. Seperti yang berada di halaman 189,

Bukankah cinta datang untuk menyatukan, dua hati yang berbeda.
Dan tiada memaksakan satu keinginan, atas keinginan yang lain.”
(Yana Yulio)

Bersiaplah pula meleleh dengan puisi-puisi cinta di akhir buku. Selamat membacanya di depan pasangan halal Anda (eh!).

Dari segi tampilan, desain sampul cukup eye catching dengan background warna biru dihiasi dua ekor burung dara. Tapi, karena bernuansa feminim, bagi saya yang laki-laki mungkin agak malu jika membacanya sambil berdiri di Commuter Line atau Transjakarta, hehe.

Terakhir, saya ucapkan selamat membaca dan mengepakkan sayap-sayap sakinah Anda.

***

Judul         : Sayap-Sayap Sakinah
Penulis        : Afifah Afra dan Riawani Elyta
Penerbit      : Indiva Media Kreasi, Solo
Tebal         : 248 halaman; 19 cm
Cetakan      : 1, Juli 2014
Nomor ISBN : 978-602-1614-22-8

Selasa, 19 Mei 2015

Ikhwan - Akhawat

Beberapa waktu lalu, seorang adik kelas berbisik mengajukan tanya, "Bang, teman saya pernah nanya begini, kenapa sih kalau acara-acara Rohis atau keislaman gitu harus pakai hijab? Ikhwan dan akhawat kenapa sih harus dipisah?"

Sampai sini, di dalam hati saya kira temannya itu ingin memprotes aturan tersebut tanpa alasan. Namun kemudian ia melanjutkan, "Tapi kadang kalau melihat panitianya, ngobrol antara ikhwan dan akhawat biasa saja. Saling tatap. Hijabnya seolah lepas jika berada di luar acara. Saya juga dulu sempat mikir sama kaya gitu bang. Terus ngapain saya diajarkan soal pergaulan ini-itu. Menurut antum bagaimana, bang?"

Subhanallah. Sungguh, sebenarnya saya terlalu malu untuk menjawabnya. Jelas, ini pukulan telak.

"Pertama, saya mewakili teman-teman memohon maaf pada antum dan teman-teman yang berpikiran sama seperti itu. Apa pun yang diajarkan pada antum mengenai pergaulan, insya Allah itu yang lebih benar dan lebih berhak untuk antum ikuti.

Insya Allah ini jadi bahan evaluasi buat saya dan teman-teman. Beberapa orang mungkin antum temui berbeda sikapnya dengan apa yang kami ajarkan. Yang seperti ini, jangan antum ikuti dan silakan dilaporkan kepada saya atau teman-teman alumni yang lain."

Beberapa hari yang lalu pun, seorang kakak kelas memberi pesan kepada saya melalui Whatsapp. Saat itu, sedang berlangsung diskusi antarsekolah mengenai apakah di acara rihlah antarrohis nanti akan ada penampilan seni dari Rohis masing-masing atau tidak.

"Ry, kalau nanti penampilan seninya jadi," pesan beliau, "tolong ingatkan sekolah lain ya. Usahakan akhawat itu jangan tampil. Ini kan acaranya untuk ikhwan juga. Khawatir apa yang kita ajarkan di sini, berbeda dengan sekolah lain."

Seharusnya ini menjadi koreksi bagi diri kita semua. Terutama mereka yang bergelut di dunia dakwah dan kebajikan.

Jangan-jangan, banyak yang lari dari dakwah ini bersebab kelakukan para pegiat dakwah itu sendiri. Nilai-nilai keteladanan meluntur. Seluruhnya atas dalih keterbukaan dan peleburan. Sampai tak jarang, antara ikhwan dan akhawat sesama penegak dakwah bercanda sepuasnya. Cair begitu saja seolah belum pernah merasakan tarbiyah Islamiyah.

Sebagaimana yang dituturkan Ust. Salim A. Fillah, kisah-kisah seperti ikhwan-akhawat sebuah kampus yang duduk saling membelakangi membicarakan dakwah, hingga salah satunya tidak sadar jika temannya telah pergi, tak tahu bahwa untuk beberapa menit ia berbicara sendiri. Kini sekadar cerita saja. Atau lelucon yang tak diambil ibrahnya.

Dakwah harus lebih memasyarakat, itu betul. Tetapi sesama pegiat dakwah sendiri tak saling menjaga adab, lalu masyarakat mau mencontoh siapa lagi? Di mana kontrol diri?

"Insya Allah kami masih bisa mengontrol diri kok. Sekadar saling tatap insya Allah masih aman."

Wallahi, apa indikator kita dapat menjaga diri? Padahal umur kita adalah masa-masa ketika syahwat bergejolak. Bergelora meminta dituruti ajakannya. Minimal, ia mengajak setan agar membengkokan hati kita. Jadilah amal itu sia-sia.

Sudah dakwah tidak maksimal, pahala tak jua didapat.

Allahu a'lam.

Yang Mana Kita?

Ada beda; antara rizki dan pendapatan. Rizki memiliki arti umum. Meliputi seluruh pemberian-Nya bagi hidup kita. Kesehatan, waktu luang, istri yang shalihah, anak-anak yang menentramkan hati, hingga iman yang menyuburkan jiwa. Sedang pendapatan ialah bagian dari rizki. Dinanti para karyawan tiap akhir bulan, diburu para pebisnis ketika bertransaksi.

Beberapa orang menikmati keduanya; pendapatan cukup, rizki berlimpah. Inilah karunia ganda. Yang tak semua orang merasainya. Namun rindu kita atasnya tidak berhenti. Siapa yang tak ingin berlibur dengan keluarga tanpa memikirkan biaya?

Sebagian lain, diberi kenikmatan berbeda. Pendapatan pas-pasan, tetapi rizki terus mengalir. Ini yang kerap kita lupa syukuri. Hitung saja kebutuhan sebulan, lalu bandingkan dengan penghasilan yang diperoleh. Jangan lupa, hitung biaya oksigen yang kita hirup saban hari. Betapa matematika langit senantiasa melampaui pikiran manusia. Siapa sangka seorang tukang bubur dengan pendapatan biasa, mampu memenuhi seruan-Nya ke tanah suci?

Sementara lainnya, Allah uji dengan pendapatan yang mencukupi namun rizki baginya terbatas. Ini yang tak jarang kita jumpai. Mapan, rumah mewah, anak banyak, tetapi makan tidak boleh sembarangan. Ada pantangan ini dan itu. Kalau tidak, siap-siap harta dihabiskan untuk menggaji pegawai rumah sakit. Na'udzubillah.

Bagi sejumlah orang, keduanya justru serba kekurangan. Namun, selayak nasihat Ust. Rahmat Abdullah, jika ada kemiskinan paling berbahaya di dunia ini, maka itulah kemiskinan tekad. Tidak penting ia kaya atau miskin, cukup atau kurang, bila hatinya krisis tekad, ia hanya menunggu untuk ditakbirkan empat kali.

Lalu, yang mana kita? Semoga apa pun keadaannya, Allah tetap mengaruniakan syukur dan sabar di setiap desir nafas kita. Sebab, seluruh yang dihadirkan-Nya tidak ada yang datang kecuali bersama kebaikan. Jika lapang, semoga syukur menghiasi segala nikmat-Nya. Hingga kelapangan itu mengantarkan pada kemuliaan dan kebermanfaatan bagi sesama. Jika sempit, semoga sabar mengisi setiap kekosongan rizki dan pendapatan. Hingga kesempitan itu tidak membawa kita pada kemaksiatan serta kekafiran.

Allahu a'lam.

Yang Lebih Mahal Dari Sekadar Haram-Halal

Pernahkah Anda, melihat seorang lelaki shalat memakai celana sekadar menutup pusar hingga lutut? Saya rasa Anda mungkin jarang--atau tidak pernah--menemukan lelaki semacam ini. Kecuali jika orang tersebut kurang kewarasannya, atau minimal sangat minim pemahamannya.

Agama fitrah kita, Islam, memiliki tiga komponen utama. Ialah aqidah, syariah, dan akhlak. Konsekuensi pelanggaran aqidah biasanya seputar kafir, munafik, bid'ah, khurafat, dsb. Pada syariat, hukumnya tak jauh dari wajib, sunnah, mubah, makruh, haram, fasad, dan lainnya.

Sementara akhlak, bermuara pada dua penilaian; terpuji dan tercela.

Ketiganya, membuktikan betapa Islam agama yang paripurna. Mengatur setiap sudut kehidupan serta membimbing umatnya bagaimana beribadah dan meraih ridha-Nya dengan metode yang tepat.

Sebagaimana perintah shalat. Anda tidak akan mungkin menemukan seorang Muslim yang memahami ketiganya, pergi ke masjid bermodal celana saja. Tentu ia punya malu. Ia paham, ia akan bersimpuh di hadapan Rabb yang telah menciptakannya. Secara aqidah, ia mengakui adanya Allah, Rabb yang harus disembah. Melalui syariat, ia belajar bagaimana menunaikannya dengan cara yang benar. Termasuk batasan aurat pria. Dalam fikih, sebetulnya sah saja shalatnya meski hanya bagian pusar hingga lutut yang tertutupi.

Tetapi ada yang lebih mahal dari sekadar halal-haram, ialah akhlak.

Sebab akhlak adalah bagian dari takwa. Ia memenuhi porsi besar saat Rasulullah mula-mula berdakwah di Mekkah. Ia menjadi indikator keimanan seseorang. Ia tak hanya bermanfaat di dunia, bahkan membawa kebaikan hingga ke akhirat. Selayak jawaban Sang Nabi atas tanya Ummu Salamah.

"Ya Rasul, di antara kami, para wanita, ada yang menikahi lebih dari satu lelaki di dunia. Jika kelak wanita tersebut dan para suaminya masuk surga. Wanita ini akan bersama siapa wahai Rasul?"

"ia dibebaskan memilih," sahut Rasulullah, "lalu dia pun memilih siapa di antara mereka yang paling baik akhlaknya.

…Wahai Ummu Salamah, akhlak yang baik itu akan pergi membawa dua kebaikan, dunia dan akhirat.”

Adalah Imam Ahmad ibn Hanbal sempat diprotes oleh beberapa orang, "Wahai Imam, bukankah engkau bilang bahwa tanah itu bukan najis. Mengapa ketika baju yang hendak engkau pakai untuk shalat terkena tanah, engkau pulang lalu berganti pakaian?"

Sang Imam menjawab tawadhu, "Dzalika fatwa, wa hadza takwa; yang itu fatwa, yang ini adalah takwa."

Allahu a'lam.

Jumat, 27 Februari 2015

Resensi Buku Midnight Kring - Lomba FLP


Roger 8, geng pengurus OSIS di STM Pembinaraganungan, mendadak terganggu ketenangan hidupnya. Geng yang beranggotakan Oji, Mandar, Yono, Pandu, dan Manto ini mendapatkan teror telepon gelap. Tepat jam 12 setiap malam, telepon mereka berdering. Namun ketika diangkat, tak ada jawaban. Senyap. Kadang, suara yang keluar justru bikin bulu kuduk merinding: suara cekikikan.

Keadaan bertambah runyam karena ternyata OSIS sedang pontang-panting memburu dana. Acara mereka yang bertajuk P4 (Pasukan Prestasi Vs. Pasukan Pornografi) kekurangan biaya sebesar 15 juta rupiah. Padahal acara hanya menyisakan waktu dua minggu lagi.

Sementara itu, geng lain yang diketuai oleh Gamal sedang menyusun rencana untuk menghancurkan Roger 8. Ipat dan Nafis, anak buah Gamal, diperintahkan mendaftar sebagai pengurus OSIS. Sedangkan Gamal mengatur siasat dari balik layar.

Merasa tak nyaman, Roger 8 memberanikan diri mengusut tuntas masalah ini. Penyelidikan demi penyelidikan mengarahkan mereka pada rumah kosong di Rawakodibangun Residence. Rumah yang benar-benar tampak horor, terbengkalai, dan tanpa penerangan.

Ternyata masalah ini secara tidak langsung juga menyeret Gamal, dkk. Mau tak mau, ketiga musuh OSIS itu pun harus menikmati gelapnya rumah kosong di Rawakodibangun Residence.

Di tempat lain, Jepri, artis yang sedang naik daun, bertambah popularitasnya di layar kaca. Kasus perampokan yang terjadi di rumahnya menjadi buah bibir di mana-mana.

Semua cerita kemudian saling terhubung menjadi satu benang lurus. Membawa Roger 8, Gamal, dan kasus perampokan Jepri melewati beragam episode penuh humor, misteri, bahkan tak ketinggalan petikan-petikan hikmah. Pembaca dibuat penasaran hingga akhir cerita. Padahal si penelepon ajaib itu ternyata…

***

Dibagi dalam 10 chapter, novel remaja karya Asa Mulchias ini diawali dengan saat pertama kali Yono dan kawan-kawan diteror si penelepon gelap. Hanya Oji yang tak diteror. Si doi nggak punya ponsel. Ia hanya diteror dengan timpukan-timpukan gaib ke arah jendela rumahnya di tengah malam.

Meski begitu, Oji tak peduli. Dibandingkan keempat temannya, ketua Roger 8 ini paling tidak percaya dengan hal-hal berbau takhayul.

Sedangkan Gamal dan kedua temannya, perlahan menyusun siasat untuk melawan Roger 8. Dendam Gamal di masa lalu telah sampai puncaknya. Dendam inilah yang kemudian merepotkan Roger 8. Rencana-rencana Gamal menjadi awal mula teror telepon gelap terhadap Yono dan kawan-kawan.

Kepiawaian penulis dalam menyusun alur cerita terlihat dalam novel ini. Jalan cerita kadang dibuat maju-mundur. Dari scene telepon gelap yang menyerang Yono, tiba-tiba scene berpindah ke Nafis dan Ipat yang terpaksa menuruti perintah Gamal karena rasa balas budi. Dari adegan Roger 8 mencari dana bagi acaranya, plot bisa berubah pada enyak Oji yang setia mengikuti perkembangan kasus perampokan di rumah artis kesayangannya, Jepri.

Tidak mudah bosan membaca Midnight Kring. Ditambah banyak humor-humor ringan yang menghiasi paragraf demi paragraf. Misal ketika Pak Fajar—tukang nasi goreng di kantin—ditanya mengapa ia tak bangga STM Pembinaraganungan berpredikat SBI alias Sekolah Berskala Internasional. “Ngapain saya bangga? Siswa bukan, guru bukan! Saya, kan, cuma jualan nasi goreng di sini!” (Hal. 11).

Pembaca juga dibuat menebak-menebak siapa penelepon gelap itu sebenarnya. Meski Gamal memiliki andil dalam misteri ini, namun salah jika menebak pelakunya adalah ia.

Keunggulan lain novel ini ialah point of view yang beragam. Kita bisa melihat sudut pandang hampir dari setiap tokoh. Selain itu, kedalaman karakter tiap tokoh digambarkan tak hanya melalui deskripsi penulis, namun juga melalui dialog-dialog.

Penulis juga menyisipkan informasi-informasi yang patut diapresiasi. Misal ketika menggambarkan Yono yang maniak Doraemon atau Mandar yang fanatik dengan isu HIV-AIDS, penulis kadang memaparkannya melalui dialog tokoh. Selain karena data-data akurat yang pasti perlu diteliti dahulu sebelum menulisnya, pemaparan informasi menjadi tidak kaku. Terasa lebih ringan karena menggunakan bahasa remaja pada umumnya.

Tak ketinggalan, di sela-sela cerita ada pelajaran dan kata-kata bijak yang sayang  dilewatkan. Seperti ketika Oji menasihati Yono—ketua acara P4—yang frustasi dengan masalah yang datang bertubi-tubi.

Bro,” Oji buka mulut, “kalo ada orang yang boleh putus asa di forum ini, gue bisa bilang orangnya bukan dan nggak boleh elo. Elo itu pemimpin acara ini. Elo harusnya jadi sumber semangat, sumber harapan, sumber inspirasi anak buah elo. Kalau elo lesu begitu, gimana anak buah lo?” (Hal. 77).

***

Dengan segala kelebihannya, novel ini tentu tak lepas dari beberapa hal yang perlu dikritisi. Dari segi fisik, kertas di buku yang saya beli mudah lepas. Padahal buku ini terbilang buku baru dan jarang saya buka. Barangkali ini salah satu pekerjaan rumah bagi penerbit.

Sedangkan pada isi novel, tokoh Manto hampir terasa terabaikan. Digambarkan sebagai sosok pendiam, ia hanya berbicara dua kali sepanjang cerita. Selain itu, mungkin bagi beberapa orang, ide cerita terdengar basi. Kalau saja bukan karena penyajian cerita yang apik dan bahasa yang tidak membosankan, mungkin novel ini telah ditinggalkan sejak chapter pertama.

Ending cerita juga terasa menggantung. Meski misteri ini akhirnya terkuak, akhir cerita seperti memberikan ruang tanya bagi pembaca. Tokoh Gamal hanya digambarkan menyendiri dan menjauh dari teman-temannya. Tak ada keterangan tentang kelanjutan geng yang diketuainya atau hubungan antara Gamal dengan Roger 8.

For your information, keunikan novel ini terletak pada keterkaitan antara tokoh-tokohnya dengan penulis. Ternyata nama-nama dan karakter tokoh disesuaikan dari nama-nama adik kelas penulis di STM dahulu. Meski kisahnya fiktif, bagi orang-orang yang mengenal penulis dan tokoh-tokoh aslinya, bukan tak mungkin merasa novel ini seperti hidup.

Detail:
Judul              : Midnight Kring
Penulis          : Asa Mulchias
Penerbit         : PING!!!
Tebal              : 224 halaman
Cetakan         : I, Mei 2014

No. ISBN       : 978-602-255-521-6
 

Sudah Shalatkah Anda?