Senin, 28 Januari 2013

Humor Sehat ala Ustadz

Hidup ini tidak boleh terlalu serius. Harus ada saat-saat senggang, santai, tersenyum, melempar joke-joke, basa-basi walau hanya sebentar. Tujuannya agar hidup selalu bergairah, semangat, termotivasi, fresh dan yang paling penting tidak bosan memulai dan menjali hari-hari panjang penuh kesibukan yang terkadang monoton dan menjemukan.

Saudaraku, buku ini menghimpun canda-canda segar, cerita lucu, anekdot, sindiran sosial tentang berbagai tema kehidupan; tentang kekeliruan dalam beragama, tentang kebenaran yang dianggap keliru, tentang nilai-nilai luhur yang sudah mulai luntur, tentang hal-hal lucu yang sering terjadi dalam ibadah dan seterusnya yang terjadi di dalam dan di luar masjid. Semua dikemas dalam bahasa yang lucu, mudah dan menarik.

Sangat cocok buat teman-teman yang sedang jadi mentor sebuah kelompok mentoring, yang jadi tutor sebuah halaqoh, yang jadi murobbi sebuah liqoan, yang sering kultum ba'da ashar di kampus atau sekolahnya, yang sering ngisi kajian sana-sini.
 
Semoga buku yang kami susun ini dapat menjadi hiburan dan pelepas penat di tengah-tengah kesibukan yang berat dan tak berujung. Selamat tersenyum!

Murah mas, cuma Rp 40.000,00 itu juga nanti insya Allah dapet diskon dari saya. So, langsung aja sms ke 089654915928 (tenang aja, smsnya nggak dipungut biaya kok).

Jika Dakwah Adalah Cinta, ... ?

Cukup bergetar bila sesekali mengingat apa yang pernah Syaikh Tarbiyah ini ucapkan, “dakwah adalah cinta…”. Ternyata lebih jauh dari itu beliau ingin terus ingatkan kita bahwa bukan karena dakwah adalah cinta, sehingga pengertiannya bahwa ia nya kan menggerogoti tubuh kita, setiap energi, dan waktu tak tersisa dengan sia-sia. Lebih, jauh lebih dalam.

Karena jika dakwah adalah cinta maka ia adalah faham. Individu itu faham untuk apa ia disini, apa hakikat jalan ini, sadar dan tahu bahwa inilah jalan para Anbiya. Tak mulus, bahkan menerjang tubuh hingga penuh luka dan darah. Tapi ia faham.

Karena jika dakwah adalah cinta maka ia adalah satu bentuk amal berbalut keikhlasan. Karena cinta kepada dakwah inilah yang melahirkan energi dalam jiwa, potensi terpendam, dan lahirlah keajaiban dari rahim cinta. Imannya pun hidup, menyala, terang berusaha menerangi Bumi dengan nilai-nilai yang ia usung. Amalnya mengalir tiap waktu. Ia bersungguh-sungguh, coba maksimalkan tiap hari yang ia lewati. Tak penting hasilnya nanti apa, ataupun apakah ia yang nanti memanen hasilnya. Karena dakwah adalah cinta yang diberikan kepada Rabb nya. Ia lah pemegang teguh doktrin “Allah tujuan kami”.

Pun jika dakwah adalah cinta maka dakwah ialah jihad berbaju tadhdhiyah (pengorbanan) dan tajarrud (totalitas). Pandangan individu ini jauh ke depan, dan cita-citanya jauh memenuhi seluruh ruang di hatinya. Tak tergadai buaian dunia. Seluruh waktu dan pikirannya telah membesarkan jiwanya. Ia yang bukan lagi individu yang menyisakan waktu dan tenaga untuk menghadap Allah dan berjuang untuk agama-Nya. Ia yang mengalokasikan waktu, mempersiapkan tenaga, dan menyumbangsihkan jiwa raga di jalan ini. Tak peduli masalah pribadi kesehariannya. Ia sadar, dakwah ini sudah banyak masalah, tak perlu lagi ditambah masalah pribadinya.

Dan jika dakwah adalah cinta, ia adalah ukhuwah, keta’atan, dan ketsiqohan (percaya). Tidak melebihi batas lower upper. Untuk berlapang dada sebagai batas minimum dan itsar (mendahului kepentingan saudaranya) ketika ia mencapai batas maksimum. Selebihnya ialah yang memahami pesan mulia "Innahu in lam takun bihim falan yakuna bighoirihim, wa in lam yakunu bihi fasayakununa bighoirihi" (Jika ia tidak bersama mereka, ia tak akan bersama selain mereka. Dan mereka bila tidak bersamanya, akan bersama selain dia). Untuk saling percaya antarsaudara, antara qiyadah dan jundi-jundinya. Untuk ta’at kepada qiyadah dalam rangka ta’at kepada-Nya. Dan dakwah ialah mencakup ketiganya.

Karena dakwah adalah cinta…

Allahu a’lam

Titip Satu Cinta

"Istriku, bisa saja dia sakit, ginjalnya sudah rusak, kondisi fisiknya pun semakin menurun. Tapi hatinya adalah hati yang sehat, hati yang hidup, hati yang memancarkan cahaya pada orang di sekitarnya. Dan bagiku, itu lebih dari cukup.” -- Haviz Deni
_____________________________________________
Elmy divonis gagal ginjal di usia muda. Saat harapan dan mimpi seorang gadis jauh membentang, ia dihadapkan pada mimpi buruk masa depannya. Jika masih ingin hidup, Elmy harus menjalani cuci darah dua kali dalam seminggu. Elmy pernah bermimpi tentang sosok pangeran yang akan mengisi kesepian dalam hidupnya. Tetapi, adakah laki-laki berhati malaikat yang mau menikahi seorang gadis sakit yang harus menjalani cuci darah seumur hidupnya? Apalagi saat ia tahu bahwa seorang pasien gagal ginjal disarankan untuk tidak mempunyai anak karena keterbatasan kondisi fisiknya itu. Lelaki manakah yang rela tidak memiliki buah hati?

_____________________________________________
"Sejak kuliah, tidak ada yang tahu Elmy mengidap gagal ginjal. Semangatnya melebihi orang yang sehat. Membaca buku ini membuat saya lebih memaknai dan mensyukuri hidup. Mengharukan!" (Yulia Rachman, artis, sahabat)

"Sulit dipercaya melihat sosok Elmy saat ini dibanding ketika ia datang pertama kali untuk cuci darah. Dulu ia tampak begitu lemah, tak ada harapan untuk hidup. Setelah delapan tahun menjalani cuci darah, ia malah kelihatan makin sehat. Elmy adalah orang yang optimis, percaya diri, tabah, ikhlas, dan sabar dalam menghadapi ujian hidup. Ia pun rajin memotivasi rekan-rekannya sesama pasien. Waktu ia bilang akan akan menikah, kami sangat kaget. Seorang pasien gagal ginjal sangat jarang bisa menikah setelah divonis gagal ginjal. Elmy tidak hanya berani melakukannya, tetapi juga berhasil menjadi istri yang luar biasa!" (Dr. J. Sarwono, dokter speasialis penyakit dalam) 

Kisah inspirasi ini ditulis oleh suami tercinta karena kasih sayang terhadap istrinya, seorang pasien gagal ginjal. Sangat menyentuh, mengharu biru kalbu, sekaligus banyak hikmah yang bisa kita petik, spesial tentang: semangat hidup!" (Pipiet Senja, novelis, pasien kelainan darah bawaan)

Buku ini berisi kisah nyata tentang cinta dan perjuangan seorang penderita gagal ginjal. Membacanya, membuat kita merasakan hadirnya jiwa baru. Inspiratif, mencerahkan, menggerakkan!

Harga hanya Rp 36.000,00 (belum termasuk diskon loh? jadi bisa lebih murah lagi).
Informasi dan pemesanan bisa sms ke nomor saya di bawah ini (lho?), maksudnya ke nomor ini: 089654915928. Ditunggu ya..

Erdogan

Muadzin Istanbul Penakluk Sekularisme Turki

Recep Tayyip Erdogan adalah politisi yang dijuluki sebagai "Muadzin Istanbul Penumbang Sekularisme Turki". Erdogan mampu mengembalikan masa keemasan Turki, setelah sebelumnya terjerat dalam gurita sekularisme dan otoritarianisme yang memarginalkan Islam dan menjerumuskan negeri yang indah ini ke dalam kegelapan. 

Dengan kepiawaiannya berpolitik, Erdogan mampu meyakinkan rakyatnya bahwa dengan identitas Islam, Turki bisa mengembalikan kejayaan Kekhilafahan Utsmani, kekhilafahan yang tidak hanya kuat dalam segi pertahanan, tapi juga dalam perekonomian. Dengan keyakinan bahwa "Islam adalah Solusi" (Al-Islam huwa Al-Hall), Erdogan yang dibesarkan dalam lingkungan keislaman, mampu membangkitkan kembali Turki dari julukan "the Sick Man in Europe" menjadi negara yang sehat dan tumbuh berkembang, bahkan diperhitungkan sebagai negara yang mampu memberikan kontribusi dalam menciptakan perdamaian.

Dengan kesantunannya, Erdogan mampu menumbangkan "berhala sekularisme Attaturk" tanpa melakukan kudeta dan melesatkan peluru sebutir pun. Sekularisme yang disucikan oleh militer, dan dijaga oleh kekuatan senjata, mampu ditumbangkan dengan 'kudeta tanpa senjata' oleh Erdogan. Keraguan kelompok sekular Turki yang menyebut Erdogan sebagai sosok "islamis reaksioner" dijawab olehnya dengan kerja nyata dalam mensejahterakan rakyat Turki dan menjadikan negaranya sebagai kekuatan penyeimbang dalam kancah globalisasi. Erdogan mampu membawa Turki menjadi negara dengan stabilitas ekonomi yang kuat, mandiri, dan mampu bersaing di dunia internasional.

Erdogan adalah contoh politisi dan pemimpin yang tidak larut dalam kekuasaan, sehingga melupakan identitas keislamannya. Jejak rekamnya dalam membela kaum muslimin yang tertindas, terutama di Palestina, sudah tidak diragukan lagi. Ketika kekuasaan sudah di tangan, maka tak ada alasan untuk tidak berkhidmat pada Islam. Inilah teladan dari sosok Erdogan.

Buku biografi Erdogan ini bisa menjadi cermin dan teladan bagi politisi, aktivis, dan mereka yang berjuang untuk kemaslahatan. Sayang jika Anda lewatkan!

Rincian Product

Judul : ERDOGAN : Muadzin Istanbul Penakluk Sekularisme Turki
Penulis : Syarif Taghian
No ISBN : 978-979-592-5972
Kategori : Referensi Tokoh & Sejarah
Cover : Soft Cover
Isi : 536 halaman
Ukuran : 15.5 x 24.5 cm
Berat : 1000 gr
Harga : Rp 89.000,00
Diskon : 20 % (Diskon dapat melebihi 20% sewaktu-waktu)



Informasi dan Pemesanan sok atuh sms ke 089654915928. Setiap hari 24 jam non-stop (kecuali waktu tidur).

Jumat, 25 Januari 2013

Masyarakat Madani (Adakah Model Masyarakat yang Lebih Baik?)

Masyarakat Madani
(Adakah Model Masyarakat yang Lebih Baik?)

Kata Diin dalam bahasa kita (bahasa Indonesia) berasal dari akar kata DYN (dibaca: diin). Terdiri dari 3 huruf; Dal, Ya, dan Nun. Bila diterjemahkan ke dalam KBBI maka artinya adalah agama, lain lagi bila ke dalam bahasa Inggris maka artinya menjadi "religion" yang dalam bahasa Latin menjadi "Religio". Memiliki arti 'ikatan antara manusia dengan tuhan-tuhan'.

Itulah bagaimana sepintas definisi agama yang dipahami di luar Islam. Ibn Munzir melalui kitab klasiknya; Lisan al-'Arab memaknakan Diin dalam 4 kesimpulan: (1) Keadaaan Berhutang, (2) Penyerahan Diri, (3) Kuasa Peradilan, (4) Kebiasaan.

Empat kesimpulan di atas meskipun terlihat berbeda, tetapi ternyata memiliki hubungan mendalam secara konsepsi.

Kata kerja 'daana' yang berasal dari kata 'diin' memiliki arti Keadaan Berhutang. Maka seorang daa'in (orang yang berhutang) semestinya berada dalam keadaan berserah dan taat kepada hukum dalam berhutang dan dalam keadaaan tertentu juga kepada yang dihutangi. Daa'in dalam hal ini tentunya memiliki kewajiban atau dayn yang berkaitan erat dengan penghakiman atau daynunah dan pemberian hukuman atau idanah. Seluruh pemaknaan tersebut hanya dapat terjadi dalam masyarakat yang terlibat kegiatan perdagangan di dalam kota yang disebut mudun atau madaa'in. Suatu kota memiliki seorang hakim, pemerintah, penguasa, atau dayyaan.

Sepintas dapat tergambar di dalam pikiran kita suatu kehidupan masyarakat yang diatur dengan hukum, peraturan, keadilan, dan otoritas. Hal ini berkaitan erat pula dengan kata maddana yang berarti membangun atau membina kota, membangun peradaban, memurnikan, memanusiakan. Dari kata maddana lahirlah kata tamaddun yang bermakna peradaban dan perbaikan dalam budaya sosial.

Konsep hukum, peradilan, keadilan, dan otoritas, serta perbaikan dalam budaya sosial menuntut adanya suatu 'cara berperilaku' yang sesuai dengan hukum yang ada. 'Cara berperilaku' baru dapat disebut normal bila merupakan cerminan dari konsep hukum tersebut. Maka keadaa normal ini adalah suatu keadaan yang menjadi kebiasaan atau adat. Oleh Syed M. Naquib al-Attas, ini disebut kecenderungan alamiah.

Kemudian, apa yang dimaksud dengan 'hutang' disini?

Kita menjawab di sini bahwa manusia berhutang pada Allah, karena menjadikan manusia ada dari yang tadinya tidak ada (lihat al-Mu'minun: 12-14).

Dari konsep Diin diatas kemudian kita lihat makna perubahan dari kota bernama Yatsrib menjadi al-Madiinah atau lebih tepat Madiinatun Nabiy (Kota Besar Nabi). Kota yang terbentuk setelah Rosululloh Shollallohu 'Alaihi Wassalam dan para shahabat berhijrah ini menandai era baru sejarah manusia. Di kota inilah Diin benar-benar tegak didirikan untuk umat manusia. Di sana orang yang beriman menghambakan diri (lihat definisi Diin nomor 2) di bawah otoritas dan kuasa hukum (lihat definisi Diin nomor 3) Nabi sebagai dayyan-nya. Di sanalah kesadaran akan keberhutangan dengan Allah mengambil bentuknya dengan pasti, dan cara serta kaidah pembayarannya yang disetujui mulai diterangkan dengan jelas. Kota Nabi memberi makna tempat di mana Diin yang sebenarnya dilaksanakan di bawah otoritas dan kuasa hukumnya.

Dari sini lahirlah konsep Masyarakat Madani. Meniru apa yang telah dibangun generasi terbaik umat ini. Masyarakat Madiinah ketika itu menjadi contoh unggul sistem sosio-politik, dengan terbentuknya konstitusi tertulis berupa Piagam Madinah. Kota yang didalamnya masyarakat secara sadar menjalankan otoritas dan pemerintahan. Menundukkan diri dan berserah, serta taat terhadap hukum, peraturan, dan keadilan. Dan sekali lagi, Diin-dalam hal ini Islam-secara benar tegak di atas kota ini.

Saya tak tahu model masyarakat mana yang lebih baik dari ini. Kalau ada, silakan saja tunjukkan. Lalu, adakah yang sanggup menandingi konsep Kota Nabi?

Allohu a'lam []

Senin, 21 Januari 2013

Keranjang Berlubang

Di pedalaman hutan ujung timur sebuah negeri, tersebutlah seorang Ayah yang hidup berdua dengan seorang anak laki-lakinya yang berumur sekitar 12 tahun. Hidup berkebun dikelilingi pohon-pohon tinggi dan sungai panjang yang melalui kira-kira 100 meter dari depan rumah mereka. Syukurnya, hidayah Islam telah memenuhi setiap ruang di dada mereka.

Sholat, membaca Al Qur’an, dan ibadah lain pun menjadi sebuah kebiasaan. Hingga di suatu sore, ketika sang Ayah sedang bersantai menikmati secangkir teh panas di halaman rumah, sang anak mendatanginya. Berawal sebuah senyuman tipis, ia memulai pembicaraan.

“Ayah, bolehkah aku menanyakan sesuatu?” tanya sang anak.

“Oh, silakan. Kau mau menanyakan apa, Nak?” jawab sang Ayah ditambah senyum yang tipis pula.

“Begini, Yah. Selama ini aku selalu mengajarkan ajaran agama Islam sesuai yang Allah dan RasulNya tetapkan. Termasuk membaca kitab-Nya; Al Qur’an yang mulia. Yang aku tanyakan, apakah ketika aku tidak dapat memahami dan mengerti apa yang aku baca ini, apakah berarti sia-sia saja aku membaca Al Qur’an?” tanya sang anak penasaran.

Sang Ayah bergegas memasuki rumah dan keluar kembali dengan membawa sebuah keranjang bambu yang kotor dan penuh debu dengan 3 lubang di permukaannya.

“Nak, tolong kau bawakan sekeranjang air di sungai menggunakan keranjang ini.” Sang Ayah menyuruh.

Tanpa banyak membantah, sang anak segera mengambil keranjang tersebut dan bergegas menuju sungai. Setibanya di sungai, diciduknya air sungai dengan keranjang tersebut hingga penuh. Lekas, ia kembali ke rumah dan menemui Ayahnya.

Tapi, air yang penuh tadi ditemukannya telah bocor melalui 3 lubang di permukaan keranjang. Lalu, sang Ayah menyuruhnya kembali mengambil air sungai dengan keranjang tersebut.

Kali, ini sang anak berjalan lebih cepat menuju rumah. Tapi, setali tiga uang. Airnya kembali bocor melalui lubang di permukaan keranjang.

Untuk ketiga kalinya, sang Ayah kembali memberikan perintah yang sama kepada anaknya. Kali ini sang anak berlari sangat cepat, hingga tak sadar bukan hanya bocor, air tersebut banyak yang tumpah karena ia berlari terlalu cepat. Sampai di rumah, hanya tersisa beberapa tetes air yang membasahi keranjang.

“Ayah, percuma saja aku melakukan ini. Sampai kapanpun, keranjang ini takkan terisi dengan air bila ia masih berlubang.” Keluh sang anak.

“Nak,” kata sang Ayah, “Coba kau lihat keranjang itu. Kini ia bersih, tak seperti keadaannya di awal tadi. Air sungai tersebut telah membersihkannya dari segala kotoran dan debu. Begitulah dengan Al Qur’an, Nak. Tentu yang lebih baik adalah keranjang tersebut berisi air sehingga mampu bermanfaat jauh lebih baik bagi umat manusia. Tapi, tak terisi air bukan berarti sia-sia. Meski terkadang engkau tidak dapat mengerti apa yang engkau baca dari kitab ini, tapi sesungguhnya kalam-kalam Allah ini telah membersihkan hati tiap orang yang rajin membacanya sebagaimana air yang membersihkan keranjang tersebut dari segala kotoran dan debu. Maha Besar Allah yang telah menurunkan kitab ini dengan beragam kemuliaannya.”

Pelukan hangat sang Ayah mengakhiri percakapan di sore hari tersebut.

Wallahu a’lam.

Belajar Dari (Si) Resepsionis

Siang itu, seorang pria berjas hitam rapi berjalan cepat menuju meja resepsionis sebuah hotel. Dengan wajah yang menunjukkan tekanan darahnya yang sedang meninggi, pria itu memarahi seorang wanita yang kebetulan sedang bertugas ketika itu. "Hotel macam apa ini?! Pelayanannya buruk sekali, air di kamar mandi kotor sekali, lampunya tidak terang. Aaargh, pokoknya buruk sekali!." bentak pria tersebut dengan nada marah dan suara yang lantang hingga hampir setiap orang memerhatikan kejadian tersebut. "Baik Pak, silakan Bapak isi selembar kertas ini dengan nomor kamar Bapak dan apa saja keluhan Bapak. Nanti kami akan segera perbaiki." balas resepsionis dengan wajah yang tampak tenang.

"Ah, saya tidak mau nanti-nanti. Saya mau sekarang! Mana manajer kamu, saya mau bicara!"

"Maaf Pak, tapi manajer kami sedang tidak ada di tempat. Nanti setelah Bapak menulis keluhan Bapak di kertas ini, kami akan segera memberitahukannya kepada manajer kami." jawab resepsionis dengan tetap tenang.

"Jangan bohong kamu, mana ada manajer hotel kelayaban seperti itu. Cepat, mana manajer mu? Atau kamu mau saya laporkan kepada manajer mu karena memperlama saya! Siapa nama Anda? Nanti saya akan laporkan ke manajer kamu!"

"Maaf Pak, tapi memang manajer kami sedang tidak ada di tempat."

Dengan penuh kesal dan kecewa, pria tersebut pergi keluar dan meninggalkan hotel beserta resepsionis dan orang-orang yang menyaksikan kejadian tersebut sedari tadi.

Seorang pria lain menghampiri si resepsionis dan bertanya, "Mengapa Anda tadi tetap dapat tenang, sedang Anda dibentak-bentak dan hampir saja dilaporkan kepada manajer Anda oleh pria tersebut?" tanya pria itu penasaran.

"Pria yang tadi itu sebenarnya sedang emosi oleh suatu hal, kemudian ia melampiaskannya melalui cara ini. Hanya sebuah emosi sesaat, tidak perlu lagi ditimpali dengan hal yang lain." jawab si resepsionis dengan tersenyum.

---

Ada kalanya ketika seseorang memarahi kita atau sedang marah-marah di depan kita atas sesuatu hal yang tidak pernah kita lakukan atau atas hal yang sebenarnya sepele atau bahkan atas suatu hal yang sebetulnya orang tersebut belum mendapat penjelasan kita sebelumnya. Bisa jadi itulah yang dinamakan emosi sesaat. Orang tersebut sedang menghadapi tekanan hebat atau sedang emosi di tempat lain kemudian melampiaskannya dengan cara itu.

Maka, diam mendengarkan sebenarnya merupakan pilihan yang bijak. Dengarkan saja. Tidak perlu disahuti, ditimpali, apalagi dibalas dengan emosi pula. Tunggu sampai tenang dahulu, kemudian baru bicarakan baik-baik.

Semoga menjadi pelajaran bagi kita. Allohu a'lam.

Muhammad al-Fatih

Awalnya adalah sabda Rasulullah saw., "Sungguh Konstantinopel akan ditaklukkan. Sebaik-baik pemimpin adalah penakluk dan sebaik-baik pasukan adalah pasukannya." (HR. Ahmad)

Sekitar 800 tahun lamanya, mimpi indah ini tersimpan rapi dalam lembaran-lembaran kitab hadits. Bukan tidak ada yang berminat menjadi pahlawannya. Sudah banyak. Bahkan, sekitar 11 kali percobaan telah dilakukan oleh tokoh-tokoh besar. Termasuk yang paling bersemangat adalah Abu Ayyub Al-Anshari. Kuburannya yang ditemukan di dekat benteng Konstantinopel menjadi bukti kuat keinginan untuk menjadi pembuat sejarah besar dan pewujud mimpi indah itu.

Tapi memang, sejarah besar hanya akan ditorehkan oleh orang-orang besar. Seperti Muhammad Al-Fatih. Pada usia 25 tahun, ia mampu membuktikan dirinya sebagai pelaku hadits mulia itu. Ia menjadi pembawa kabar gembira Sang Nabi untuk menaklukkan Konstantinopel, ibukota Imperium Bizantium. Sosoknya boleh jadi tidak begitu dikenal anak-anak generasi zaman kini. Tapi, sejarah sangat mengenal sebagai orang besar yang telah membuat sejarah besar dalam perjuangan besarnya.

Penulis buku ini, Ramzi Al-Munyawi, pakar sejarah Islam, tidak saja menyajikan biografi besar Muhammad Al-fatih. Tapi juga, tentang cerita suksesnya menaklukkan kota yang begitu menggoda semua peradaban kala itu. Tentang guru-gurunya yang berperan besar dibalik kesuksesannya, tentang strategi militer yang mencengangkan dunia, tentang proyek-proyek peradaban dan ekonomi yang berhasil dihadirkan untuk dunia dan tentang cerita terbunuhnya yang misteri.
-----
Kali ini buku yang sarat dengan nilai hikmah dan perjuangan hadir di depan Anda. Siap mewarnai kembali kehidupan kita di dunia yang minim tokoh teladan.

Pesan sekarang! Dan dapatkan diskon 20%
Harga asli: Rp 45.000,00 
274 halaman, ukuran: 14.5 x 21 cm 
Informasi dan Pemesanan:
SMS ke nomor 089654915928 (Setiap hari pkl 06.00-22.00 WIB)

Salam, Pustaka Al Kautsar.
 

WIN Sholat

 
Win Shalat adalah aplikasi free yang bisa Anda download untuk mempelajari tata cara shalat dengan baik dan benar. Aplikasi Win Shalat sangat cocok untuk para orang  tua untuk membimbing anak-anaknya belajar sholat yang baik dan benar melalui software digital. Software ini juga dilengkapi dengan bacaan-bacaan dzikir setelah sholat berdasarkan buku karya seorang ulama mufti ‘am kerajaan Saudi Arabia; Syaikh 'Abdul 'Aziz ibn 'Abdullah ibn Baz, sementara untuk simulasi sholat dibuat berdasarkan buku Sifat Sholat Nabi karya seorang 'ulama Timur Tengah; Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani. Software Win Shalat ini berupa software portable sehingga sangat mudah penggunaannya karena Anda tidak perlu menginstal, cukup diletakkan di drive PC atau laptop Anda, ataupun dapat Anda bawa kemanapun di dalam Flashdisc. Software Win Shalat ini dapat Anda download melalui link 4shared yang telah saya sediakan di bawah ini.
 
Sekedar mengingatkan, software ini hanyalah sarana dalam pembelajaran, terutama sekali bagi anak-anak atau orang-orang yang baru saja ingin mempelajari tata cara sholat. Sangat saya sarankan untuk tidak menjadikan software ini sebagai satu-satunya media pemeblejaran. Usahakan belajar langsung dari guru, murobbi, ustadz, atau 'alim 'ulama yang lebih faqih ilmunya dalam hal ini. Semoga bermanfaat.
Sumber download:
http://vivateknologi.com/free-download-winshalat-aplikasi-tata-cara-shalat-terbaru.html

Kamis, 17 Januari 2013

Kontak

Buat nyak, babe, ncang, ncing, abang, mba, om, tante, paman, bibi, kakak, adik, bapak, ibu, pa'de, bude, pa'le, bu'le, kakek, nenek, opung, tulang, laki-laki, perempuan, ikhwan, akhwat, saudara, saudari, teman-teman, dan semua orang yang sedang membutuhkan saya, semua orang yang sedang ada perlu dengan saya, semua orang yang ingin sekali menghubungi saya, sok atuh saya kasih tau caranya.

Bisa sms atau telepon di sini:
089654915928 ,Setiap hari pkl 00.00-12.00 WIB (kalau nggak ketiduran).

Atau bisa lewat dumay di:
Email: hary_alghozi@yahoo.com
Facebook: hary_alghozi@yahoo.com

Oke?

Profil Singkat

Any complain, need information, or looking for some books?

Please, call me at:

Hary Setiawan
0896-5491-5928
hary_alghozi@yahoo.com
awanany45@gmail.com
Jl. Rawa Kuning, Rt. 011/07 No. 63E,
Pulogebang, Cakung,
Jakarta Timur
DKI Jakarta 13950

Jalan Juang

Sabarlah wahai saudaraku
Tuk menggapai cita
Jalan yang kau tempuh sangat panjang
Tak sekedar bongkah batu karang

Yakinlah wahai saudaraku
Kemenangan kan menjelang
Walau tak kita hadapi masanya
Tetaplah al-Haq pasti menang

Tanam di hati benih iman sejati
Berpadu dengan jiwa Rabbani
Tempa jasadmu jadi pahlawan sejati
Tuk tegakkan kalimat Ilahi

Pancang tekadmu jangan mudah mengeluh
Pastikan azzam-mu smakin meninggi
Kejayaan Islam bukanlah sekedar mimpi
Namun janji Allah yang Haq dan pasti..!


by: Izzatul Islam

Tekad

Kami sadari jalan ini kan penuh onak dan duri
Aral menghadang dan kedzaliman yang akan kami hadapi
Kami relakan jua serahkan dengan tekad di hati
Jasad ini , darah ini sepenuh ridho di hati

Kami adalah panah-panah terbujur
Yang siap dilepaskan dari busur
Tuju sasaran , siapapun pemanahnya

Kami adalah pedang-pedang terhunus
Yang siap terayun menebas musuh
Tiada peduli siapapun pemegangnya

Asalkan ikhlas di hati tuk hanya Ridho Ilahi Robbi....

Kami adalah tombak-tombak berjajar
Yang siap dilontarkan dan menghujam
Menembus dada lantakkan keangkuhan

Kami adalah butir-butir peluru
Yang siap ditembakkan dan melaju
Dan mengoyak menumbang kezaliman

Asalkan ikhlas di hati tuk jumpa wajah Ilahi Robbi

Kami adalah mata pena yang tajam
Yang siap menuliskan kebenaran
Tanpa ragu ungkapkan keadilan

Kami pisau belati yang selalu tajam
Bak kesabaran yang tak pernah akan padam
Tuk arungi da?wah ini , jalan panjang

Asalkan ikhlas dihati menuju jannah Ilahi Robbi

by: Izzatul Islam

Panggilan Suci

Lantang t'lah terdengar panggilan suci
Menyeru 'kan jiwa Muslim sejati
Sambut semangat membebaskan negeri
Tanah persada suci para nabi
Panggilan suci bebaskan negeri
Palestina.. palestina...

T'lah menguntai angan kaum Yahudi
Bagai kera yang t'rus menjalin mimpi
Seolah kuasa kangkangi bumi
Nan tiada pernah kan termiliki
Berangan bagai miliki negeri

Rantai kedustaan tegas terpampang
Mengaku agung perkasa bak Tuhan
Tak pernah mengubah janji, Ar Rahman
Terlaknat Yahudi tiada ampun
Tumpas yahudi bebaskan negeri

Al-Aqsha ini jantung Palestina
Kiblat pertama jua nan mulia
Bagai jiwa nanbebas dan meredeka
Bagi Qudsi tak boleh kan terluka
Al-Aqsha, qudsi tegaknya negeri
Palestina.. palestina...

Palestina negeri berkah bestari
Sehasta pun tak pantas ternodai
Dan api jihad kan berkobar pasti
Andai negeri ternista tercaci
Geliat Intifadhah mengguncang bumi

Batu terlontar tangan-tangan kecil
Senandung jihad dan pekikan takbir
Tiada pribadi yang bertopang tangan
Hancurkan penzhalim syahid tujuan
Bertumbah darah basahi bumi

Bentuk barisan berderap melangkah
Hai mujahid ikhlas 'tuk ridha Allah
Tiap langkahmu jadikanlah pasti
Sejengkal Palestina terbebasi
Majulah sambut panggilan suci
Palestina.. palestina...



by: Izzatul Islam

Indonesia Memanggil

Singsingkan lengan baju pancangkan asa
Ukirlah hari esok pertiwi jaya
Bergandengan tangan tuk meraih ridho Allah

Buatlah negri ini selalu tersenyum
Bahagia dan Sejahtera dalam cinta-Nya
Tiada lagi resah tiada lagi duka lara

Negeri indah Indonesia
Memanggil namamu
Menyapa nuranimu

Negeri Indah Indonesia
Menanti hadirmu
Rindukan karyamu

by: Shoutul Harokah

Bingkai Kehidupan

Mengarungi samudra kehidupan
Kita ibarat pada pengembara
Hidup ini adalah perjuangan
Tiada masa tuk berpangku tangan

Setiap tetes peluh dan darah
Tak akan sirna ditelan masa
Segores luka dijalan Allah
Kan menjadi saksi pengorbanan

Allah ghayatuna
Ar-Rasul Qudwatuna
Al-Quran dusturuna
Al-Jihadu sablluna
Al-Mautu fi sabilillah asma amanina

Allah adalah tujuan kami
Al-Quran Pedoman hidup kami
Jihad adalah jalan juang kami
Mati di jalan Allah adalah
cita-cita kami tertinggi

by: Shoutul Harokah

Tekad Perjuangan

Didalam gemuruh cita2 perjuangan
Berbekal semangat keadilan…
Akan terwujudnya kesejahteraan
Mari kita tumbangkan kedzaliman

Bersama –sama kita saling bergandengan tangan..
Mari tunaikan panggilan ilahi…
Melepaskan negri ini… Dari tangan2 tirani…..

Ayo mari tegakkan bangunan kebenaran..
Semai keadilan di bumi pertiwi…..
Dengan satu tekad…yang kuat
Tertancap…ALLAH tujuan kita….

by: Shoutul Harokah

Rabu, 16 Januari 2013

Bayi Matahari


Fenomena Bayi Matahari

Berita luar angkasa dari hasil tangkapan Teleskop Herschel cukup membuat perhatian lebih para peneliti di dunia, karena teleskop tersebut berhasil menangkap embrio bintang baru yang berada di tata surya kita. Bintang tersebut bisa kita sebut sebagai sang Matahari baru karena jika di perhatikan dan di teliti untuk ukuran jika sudah terbentuk nanti bisa saja besar nya akan melebihi matahari yang sudah ada dalam susunan tata surya bima sakti kita, waah masa nanti ada dua matahari yah, aneh.


Menurut info detektor inframerah yang di miliki oleh Teleskop Herschel mampu menangkap materi suhu rendah yang bisa melahirkan bintang, RCW 120 atau citra gelembung gas disinyalir dapat membantu untuk menjelaskan bagaimana proses sebuah bintang raksasa terbentuk. Waa canggih sekali yah teknologi yang di miliki oleh manusia sekarang ini, sampai-sampai kemunculan embrio bintang baru saja bisa di deteksi.

Kalau kita lihat sang calon bintang raksasa ini dalam citra teleskop tersebut tampak seperti sebuah gumpalan putih di tepi bawah gelembung. Embrio itu diperkirakan bisa tumbuh menjadi salah satu bintang terbesar dan yang paling cerah di galaksi dalam ratusan ribu tahun mendatang. Apa seperti artikel tentang kemunculan objek terang di luar angkasa yah?

Menurut para peneliti juga di sinyalir calon bintang besar seperti matahari ini memiliki massa sekitar delapan hingga sepuluh kali lebih besar dibanding massa Matahari, dan dikelilingi begitu banyak material. Waw bisa kita bayangkan yah besar nya seperti apa, matahari yang ada di tata surya kita saja sudah sangat besar, ternyata ada lagi calon bintang yang masih jadi embrio bakal melebihi besarnya.

Info menyatakan jika saja ada banyak gas dan debu berjatuhan di embrio bintang baru tersebut maka objek baru luar angkasa ini mempunyai potensi untuk menjadi salah satu objek besar atau raksasa dalam Galaksi Bima Sakti, katanya juga jika saja ini terjadi maka kehadiran dari bintang baru pesaing dari matahari tersebut dapat mempengaruhi keadaan lingkungan sekitar.

Ilmuwan Herschel, Dr. Annie Zavagno, dari Laboratoire d’Astrophysique de Marseille menyatakan, “Ini merupakan bintang besar yang mengontrol evolusi kimia dan kedinamisan galaksi,” ia juga menambahkan lagi “Ini merupakan bintang besar yang menciptakan elemen berat seperti besi dan elemen-elemen tersebut akan berada di ruang antar bintang. Dan karena bintang-bintang besar mengakhiri hidup mereka dengan ledakan supernova, mereka juga menyuntikkan energi besar ke galaksi.”

Embrio bintang baru cikal bakal bayi matahari ini disinyalir lebih besar 10 kali dari matahari kita dan bisa terbentuk dengan sempurna menjadi seperti matahari dengan jarak waktu sekitar 100 tahun lagi. Waah kalau jadi ada dua matahari di tata surya kita bisa berabe donk nih kalau ada kejadian seperti badai matahari bakalan lebih dahsyat lagi.

Sun Dogs


Fenomena Sun Dogs ( Matahari ada 3 )

Kalau suatu saat lihat ada 3 buah matahari di langit, jangan panik!
bukan berarti kiamat sudah dekat. Ini adalah fenomena alam yang disebut sebagai sundog/parelion.

Fenomena dimana matahari terlihat berjumlah 3 buah. Nama ilmiahnya parhelion, sama dengan parhelia, dari bahasa Yunani parēlion,disebut juga matahari tiruan adalah sebuah fenomena atmosfer yang menciptakan titik-titik terang cahaya di langit, berbentuk sebuah cincin atau lingkaran bercahaya di kedua sisi matahari, dibentuk oleh kristal es.
Sundogs mungkin sebagai cerminan cahaya ke kiri atau kanan dari matahari.Sundogs yang terbaik dan yang
paling mencolok terlihat adalah ketika matahari rendah.



Sun dog atau sundog, yang memiliki nama ilmiah parhelion atau parhelia
{dari bahasa Yunani parēlion, (παρήλιον), παρά (beside) + ήλιος (sun), "beside the sun"}
juga dipanggil "mock sun" adalah sebuah fenomena di atmosfer yang menimbulkan
suatu titik yang terang di langit, sering berupa cincin atau halo
di kedua sisi matahari.

Sundogs dapat muncul sebagai cahaya berwarna disebelah kanan atau kiri matahari.
Di kejauhan 22° (atau lebih) pada ketinggian yang sama dengan matahari pada horizon.
Sundogs dapat muncul di mana saja dibelahan bumi manapun pada musim apa saja.
Meskipun demikian, penampakanya tidak selalu jelas dan terang.
Sundogs paling menyolok terlihat pada saat matahari berada di posisi yang rendah.


PENYEBAB

Sundogs terbentuk dari plat es kristal berbentuk hexagonal pada awan sirus yang tinggi
dan dingin, atau bisa juga terbentuk pada cuaca yang sangat dingin oleh kristal
yang bernama "diamond dust" yang melayang di udara pada ketinggian yang rendah.

Sundogs terbentuk saat cahaya memasiki bagian prisma secara hampir vertikal dari kristal
dan keluar melalui bagian lainnya dengan sudut inklinasi 60° dari sudut datang.

Terdapat jaring pembiasan (net refraction) dari setiap face dan cahaya di dispersi
menjadi warna-warni. Sudut deviasi minimal adalah ~22°, tidak terdapat suatu sudut
pembiasan tunggal yang melalui kristal.
Ini berkaitan dengan jarak batas dalam dari sundogs terhadap matahari saat
sundogs berada pada posisi rendah.

Seiring dengan matahari merangkak naik, cahaya yang melalui kristal bertambah
tegak lurus dari horiontal plane. Sudut deviasinya meningkat dan sundogs menjauh
dari matahari. Namun, altitudenya selalu sama dengan matahari.

Sundogs berwarna merah pada sisi yang paling dekat dengan matahari,
semakin jauh, warna bergradasi menjadi oren sampai biru. Meskipun demikian,
penumpukan warna (color overlap) lebih kuat sehingga sundogs tidak pernah
berwarna murni. Warna-warna dari sundog pada akhirnya bergabung pada parhelic
circle menjadi berwarna putih.

Kutipan Halaqoh

Kenapa antum ada di sini?
Kenapa antum masih ada di jalan ini?
Kenapa antum masih tergabung dalam lingkaran ini?

Akhi fillah,

Pertama, yakinlah keberadaan kita di jalan ini semata-mata adalah takdir Allah 'Azza wa Jalla. Allah yang telah memilih kita. Kita yang dipilih Allah, bukan yang lain. Maka, beruntunglah dan bersyukurlah kita.

Kedua, yakinlah bahwa ini adalah jalan kebaikan. Pernahkah di sini antum diajarkan mencuri, meminum minuman keras, berpacaran, dll? Kalaupun ada, itu hanyalah oknum. Tidak menggambarkan karakteristik jalan ini yang sebenarnya.

Bersama kita mengejar ridho Allah 'Azza wa Jalla. Mulai dari membangun pribadi muslim, keluarga muslim, masyarakat muslim, negara muslim, khilafah Islam, hingga kita menjadi guru bagi alam.

Beberapa waktu yang lalu, adik-adik antum tingkat 2 diberi tugas berjalan kaki dari PGC hingga Buperta Cibubur. Kira-kira itulah gambaran jalan yang kita lalui saat ini. Panjang. Melelahkan. Panas. Berdebu. Penuh cobaan. Bayangkan bila itu dilakukan sendiri, betapa sulitnya melalui jalan itu. Bersama-sama saja tetap merasa lelah, apalagi sendiri...

***
Sesungguhnya lingkaran ini tidak terpencar saat kita kembali ke kehidupan masing-masing. Tapi ia hanya melebar. Melebar sejauh kaki kita melangkah...

Mengingat (Lagi)

Mungkin kali ini kita perlu instropeksi diri. Sebagai aktivis dakwah. Sebagai orang-orang yang mengaku berjuang di atas agama-Nya. Sudahkah hati ini tulus berjuang? Atau ternyata ada sebab lain mengapa kita di sini. Selain kepada-Nya. Selain untuk-Nya. Hingga usaha dan pengorbanan selama ini hanyalah fenomena usang di tengah jalan.

Sudahkah metode kita selama ini benar-benar telah mengikuti Rasul-Nya? Tanpa sindiran, dengan nasihat yang baik. Tanpa celaan, kepada objek dakwah atau da'i lain yang tidak sepaham. Dengan hikmah dan cinta.

Sudahkah kita menjadi teladan bagi yang lain? Baik perbuatan dan perkataan. Sudahkah dikoreksi akhlak kita? Mencontek saat ulangan, berbohong saat berbicara, pantaskah kita?

Periksa lagi jiwa kita. Adakah rasa paling benar? Adakah rasa paling pantas menikmati surga-Nya? Tinggi hati, ingin dipuji, ingin diapresiasi.

Sudahkah kesabaran itu menyertai perjalanan kita? Sabar. Hingga langkah yang diambil pun tidak terburu-buru. Tenang, dengan kepala dingin. Mencoba mengambil tiap keputusan dengan bijak. Hingga tidak ada yang tersakiti karenanya.

Mari instropeksi diri kita akhi wa ukhti fillah.

Allahu a'lam.

Kembali Segar

Stress? Makhluk macam apa itu?

Hmmm, buat yang lagi ujian, buat yang sedang menghadapi sebuah permasalahan, buat yang sedang dipusingkan oleh sesuatu. Sepertinya pembahasan kali ini cocok deh...

Kita samakan persepsi dahulu. Pada dasarnya stres adalah sebuah proses pengadaptasian. Yap, pengadaptasian diri kita terhadap suatu perubahan. Saat stres, sebenarnya otak kita sedang fokus terhadap sebuah permasalahan, tubuh kita sedang meredusi tekanan-tekanan dari luar. Wajar. Manusiawi. Bahkan orang yang bertabiat tenang sekalipun niscaya pernah berada di dalam situasi ini, meskipun memang tingkatannya berbeda.

Misalnya gini, ketika kita sedang bersantai, kita kita akan cenderung lebih tenang karena kita tidak sedang menghadapi sesuatu. Tapi, ketika ada ultimatum, "Besok ujian" maka otak kita segera merespon untuk fokus menyelesaikan hal tersebut. Ingat! Menyelesaikan bukan menghindari. Itulah yang dinamakan stres. Sekali lagi, tingkatan stres tiap orang berbeda-beda.

Maka, perlu langkah antisipasi agar stres ini tidak sampai ke tahap stadium 4 (hehe, lebay dikit). Sederhana, cuma 3. Pertama dan yang paling utama, ruhani. Yuuk, kembali mengingat Sang Maha Pemberi Solusi. Perbanyak sholat. Sholat, kata Sayyid Quthb adalah sarana manusia berhubungan dengan Tuhannya, jembatan yang menghubungkan hulu air dengan sumber mata air abadi. Sehinga biarkan Ia yang memberikan solusinya. Tilawah qur'an juga tak ketinggalan.

Kedua, faktor psikologi juga perlu diperhatikan. Coba untuk lebih banyak merenung untuk mengumpulkan energi. Jika perlu, bermain pun tak apa-apa untuk sekedar refreshing. Atau keluar dari rutinitas juga boleh. Extra ordinary.

Ketiga, faktor fisik penting juga nih. Tidur dan makan yang teratur plus tidak berlebihan dapat pula mengantisipasi stres yang Anda alami. Kurang lebih seperti itulah. Semoga bermanfaat.

Allahu a'lam.

Disorientasi Pendidikan: Derita Peserta Didik

Disorientasi Pendidikan:
Derita Peserta Didik

Kalau ada orang yang paling mengerti apa yang dicapai oleh ilmu, mungkin ulama-ulama abad pertengahan termasuk salah satunya. Kitab asy-Syifa ala Ibnu Sina, al-Jabar nya al-Khawarizmi, atau kita geser sedikit ke zaman yang agak kekinian, kitab Fii Zhilalil Qur'an Sayyid Quthb dari balik jeruji. Karya nyata, buah pendidikan.

"Jadi, ilmu yang dimaksud dalam Al-Qur'an itu," kata Ust. Rahmat Abdullah, "adalah ilmu nafi (ilmu yang bermanfaat). Selebihnya hanya akan menjadi jidal (debat), ...".

Wajib belajar 12 tahun, biaya Sekolah Atas yang murah, kampus yang menjamur, mengeluarkan beribu lulusan intelek tiap tahunnya. Lulusan yang melek teknologi, sadar zaman, plus ijazah penambah percaya diri. Ah, banyak yang seperti itu di negeri ini, di ruang lingkup yang lebih kecil, seperti Jakarta, membanjir itu. Tapi ada yang unik - kalau mau tidak dibilang aneh - dari realita hari ini.

Silakan teman-teman sekali-kali plesir ke daerah Jakarta Barat dan Tangerang, di situ banyak perusahaan-perusahaan industri berdiri rapi berjejer. Yang pakai jas dan dasi? Warga luar negeri. Pegawainya? Tentu pribumi asli.

Kita pindah ke lain tempat, yang lebih sering didengungkan ke telinga masing-masing. Korupsi, kasus Freeport, hutang luar negeri, penjualan aset-aset pemerintah,

Salah satu poin yang dapat dicermati ialah ini semua tidak terlepas dari proses pendidikan yang berlangsung. Bila dibandingkan dengan abad pertengahan, bisa jadi fasilitas dan sarana prasarana yang menunjang pendidikan belum ada seperti sekarang ini. Tapi mengapa mereka dapat menghasilkan karya yang jauh lebih banyak, lebih bermanfaat, dan lebih luar biasa daripada kita hari ini?

Orientasinya.

Tujuan, atau lebih santunnya niat kita menuntut ilmu. Hari ini sebagian besar - kalau tidak mau disebut semua - peserta didik diperlakukan seperti robot. Berangkat pagi, pulang sore, pelajaran yang diterima hanya memuaskan otak, atau bahkan bagi sebagian murid malah membebani otak. Bagi yang hari ini masih duduk di kelas 1 atau 2 SMP/SMA, belajarnya dipersiapkan agar lulus ujian akhir, buat yang kelas 3-nya belajar fokus menghadapi monster bernama UN, bagi yang sekolah di kejuruan, belajar dipersiapkan untuk jadi tenaga kerja yang bangga dengan gaji 2-3 juta per bulan, buat yang bersekolah di menengah ke atas biasa, belajar biar bisa masuk PTN. Betul apa betul?

Buat yang sudah kuliah, ada aja yang tujuannya agar setelah lulus dapat bekerja di perusahaan besar dengan gaji cukup untuk membeli motor dalam waktu 1 bulan.

Maka, tidak perlu heran dengan buah pendidikan hari ini. Kita diajarkan untuk berpikir kecil, jangka pendek, ujung-ujungnya menjadi budak zaman. Kreatifitas dan kemampuan personal kita terhalang generalisasi kemampuan tiap siswa di dalam kelas atau minimal tercegah oleh stigmatisasi "Emang loe itu siapa?". Sungguh, kata-kata yang sangat tidak membangun.

Lihat saja Bill Gates, beliau membuktikan sendiri bukan karena kuliah ia menjadi orang terkaya hari ini sedunia.

Jadi, kalau begitu, pendidikan tidak penting, dong?

Eitts, sebentar..

Sungguh mulia Diin ini, sebagai sebuah manhaj hidup yang integral dan komprehensif, ia mengatur dan melindungi seluruh bidang kehidupan. Goal utama menuntut ilmu seharusnya adalah taqorrub ilalloh, mendekatkan diri kepada Alloh semata; Sang Pemilik alam semesta. Kalau goal utama ini sudah hilang dari pendidikan, maka para peserta didik bukan lagi nantinya menjadi pengubah peradaban. Ini goal yang utama dan pertama.

Selanjutnya, mengenai kebermanfaatan ilmu itu sendiri. Bukan untuk individu, bahkan untuk orang banyak, keluarga, negara, apalagi agama. Karya kita sedang ditunggu bangsa ini. Haruskah menulis kitab seperti ulama sebelumnya? Bukan, bukan hanya itu. Itu hanya sebagian kecil. Yang terjun di bidang politik, manfaatkan ilmunya untuk membangun politik Indonesia yang lebih sehat. Yang minat di bidang olahraga, usahakan timnas Indonesia lolos ke piala dunia. Yang mampu di bagian perbankan, bukankah praktek riba dan kapitalisme telah lama menggerogoti kemakmuran bangsa ini?

Indah nian bila ilmu kita dimanfaatkan untuk hal-hal yang besar seperti itu. Jangan terlalu bangga dengan upah 3-5 juta per bulan. Kita bisa lebih bermanfaat dari keadaan kita hari ini. Insya Alloh.

Jangan sampai seperti salah satu kutipan di film "Alangkah Lucunya Negeri Ini", 'berkat pendidikan, aku jadi tahu kalau pendidikan itu tidak penting'. Nah loh ?!

Allahu a'lam.

Senin, 14 Januari 2013

Harakah Islamiyah (Perjalanan Mengulang Sejarah) 3



Kerikil Kecil

            Sejak 3 Maret 1924 M, umat Islam telah kehilangan sebuah Jama’atul Muslimin yang berfungsi menyatukan seluruh lapisan masyarakat muslim dalam satu komando yang sama. Maka, berdirinya Harokah Islamiyyah merupakan alternatif metode untuk menyatukan umat dalam satu panji; Islam. Munculnya beragam harokah ini, beragam organisasi, maupun partai, telah membuat beberapa kalangan umat Islam khawatir. Khawatir jangan-jangan keberagaman dan perbedaan ini justru malah memecah belah umat Islam. Khawatir dengan keadaan yang ada, bahkan tak jarang di antara mereka memilih tidak memilih jama’ah atau kelompok apapun. Bahkan yang lebih ekstrem, di antara kelompok-kelompok yang ada malah saling mencaci-maki dan (na’udzubillahi min dzalika) saling mengafirkan.

Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.

-QS. Ali Imran: 104-

            “Arti segolongan,” kata Ust. Felix Siauw, “dalam ayat di atas mengacu bukan hanya 1 kelompok saja. Tapi juga berarti beberapa kelompok”. Dengan begitu keberagaman kelompok-kelompok pergerakan Islam – khususnya di Indonesia – bukanlah menjadi sesuatu hal yang menjadi alasan bagi seseorang yang tergabung dalam suatu kelompok atau jama’ah kemudian menjadi ash-Shobiyah. Menganggap kelompoknya yang paling benar dan paling berhak masuk surga. Membela kelompoknya meskipun melakukan kesalahan. Hingga ia merendahkan kelompok lain, enggan bekerja sama, menghina, bahkan sampai tahap mengafirkan. Karena pada dasarnya, menurut Yusuf Qordhowi, “Partai itu ibarat madzhab dalam politik, dan Madzhab itu ibarat partai dalam fiqh”.

            Pun meskipun jama’ah dan kelompok ini berbeda, yang berbeda hanyalah dalam hal metode bukan tujuan akhir. Dapat dipastikan kelompok harokah yang ada saat ini bertujuan menyebarkan benih-benih nilai keIslaman di seluruh aspek kehidupan dan mengembalikan Khilafah Islamiyyah. Hanya saja berbeda metodenya, ada yang melalui parlemen, bidang sosial, jihad fisik, seruan untuk mendirikan Khilafah, mengajarkan tauhid sebagai ujung tombak, dan lainnya. Di bidang media, umumnya tiap kelompok memiliki media tersendiri dari mulai radio (Radio Rodja, Radio ‘Alaikassalam, Dakta FM), televisi (Insan TV), majalah (SABILI, UMMI, Annida), bulletin (al-Islam), sampai penerbit buku (Pustaka al-Kautsar, Darul Haq, al-I’tishom, Pro-U Media, Khilafa Press).

            Perseteruan yang kadang terjadi antarjama’ah atau kelompok ibarat saudara kandung yang sedang bertengkar. Tetap satu rumah, konflik yang terjadi hanya sebuah selingan. Malamnya, sudah makan dan menonton televisi bersama lagi.

            Ini merupakan sebuah proyek amal jama’I yang harus terus berjalan. Melalui beragam pembinaan sedari awal, sehingga tidak tercipta pengkultusan terhadap seorang tokoh. Sehingga, ketika ia berhenti maka kelompoknya juga berhenti. Ketika seorang jama’ahnya pun memilih keluar dari kelompoknya, bukan berarti ia murtad dari agama Islam, karena sekali lagi Harokah Islamiyyah hanyalah alternatif metode untuk menyatukan umat Islam. Ketika ia keluar, semoga saja ia tetap berada di atas suatu jama’ah, meskipun berbeda metodenya dengan jama’ah yang kita bergabung di dalamnya.

            Justru, yang patut menjadi perhatian adalah mereka yang tidak memilih jama’ah apapun. Atau mungkin ingin membuat jama’ah sendiri? Apapun alasannya, bersendiri bukanlah pilihan yang bijak. Bukankah sholat berjama’ah pahalanya lebih banyak dari sholat sendiri? Bukankah domba lebih mudah diterkam serigala ketika sendiri? Melalui bergabung dalam suatu jama’ah Islam, kita dapat memiliki teman-teman yang saling mengingatkan. Bila diri ini sudah menjauh dari Islam, telah banyak maksiat, terus menambah puing-puing dosa, ketika memiliki mereka yang siap mengingatkan. Yang bersedia mengangkat kita ketika terjatuh, menghibur ketika sedih, mengobati ketika terluka, dengan ikhlas, lillahi ta’ala. Atas nama Islam, atas nama ukhuwah.

            Tentunya kita tetap berharap, agar kelompok-kelompok yang ada akhirnya menjadi satu Jama’atul Muslimin demi menegakkan agama ini (Iqomatud Diin). Yang perlu digarisbawahi pula, jama’ah atau kelompok Islamiyyah yang disebutkan di atas adalah insya Allah kelompok yang memiliki cita yang sama, pedoman yang sama, meskipun metodenya berbeda. Sedang ada kelompok-kelompok Islam yang dapat kita sebut dengan kelompok ‘sempalan’, mendompleng nama Islam tetapi jauh dari nilai keIslaman. Ada Syi’ah yang sangat mengagungkan ‘Ali rodhiyallohu ‘anhu dan menolak mengakui shahabat Nabi yang lain, Ahmadiyah yang mengakui Mirza Ghulam Ahmad sebagai Rasul setelah Rasulullah shollallohu ‘alaihi wassalam, Islam Liberal yang kini dimotori oleh Ulil Abshar Abdalla. Ketiganya merupakan kelompok ‘Islam” namun jelas berbeda dengan kelompok yang telah disebutkan sebelumnya.

            Bila di Malaysia telah menyatakan diri sebagai negeri Islam dan hanya ada satu partai Islam di sana (PAS), bila di Mesir al-Ikhwan al-Muslimin, Jama’ah Tabligh, dan Salafi akhirnya dapat berkompromi, bila di Turki memiliki Perdana Menteri yang telah dibina (tarbiyah) dengan baik. Tentunya kita berharap negeri ini dapat seperti pula. Bahkan dapat kembali menjadi satu bagian kekhalifaan dengan negeri muslim lainnya.

Insya Allah.
Jadilah kalian seperti pohon,
Jika manusia melemparinya dengan batu,
Ia melemparinya dengan buah.

-Imam Hasan al-Banna-



Sumber Referensi:

Adian Husaini, Hendak Kemana (Islam) Indonesia?
Artawijaya, #IndonesiaTanpaLiberal
Imam Hasan al-Banna, Risalah Bainal ‘Amsi wal Yaumi
Muhamad Yasir Lc., Jangan Hidup Jika Tak Memberi Manfaat
http://al-fatih.blogspot.com/2008/08/seputar-gerakan-islam-klasifikasi.html
http://ramonsarbre.blogspot.com/2010/04/sejarah-penyebaran-islam-di-indonesia.html
http://ustadchandra.wordpress.com/2012/04/19/menyikapi-fenomena-keberagaman-harakah-islamiyah/
http://www.oocities.org/tau_jih/d-harokah.htm

Harakah Islamiyah (Perjalanan Mengulang Sejarah) 2



Lembaran Kebangkitan
Daulah Islamiyah (Khilafah Islamiyyah) dan hukum Islam tidak akan tegak kecuali dengan Jihad dan Jihad bisa ditegakkan jika ada Harokah Islamiyyah yang mendidik para pengikutnya dengan tarbiyyah atau pendidikan Islam.

-Syaikh ‘Abdullah ‘Azzam-

            Kata harokah menurut etimologi bahasa Arab, diambil dari akar kata at taharruk yang artinya bergerak. Istilah tersebut kemudian menjadi populer dengan arti "Sekelompok orang atau suatu gerakan yang mempunyai suatu target tertentu, dan mereka berusaha bergerak serta berupaya untuk mencapainya". Makna istilah ini masih termasuk dalam kategori makna lughawi untuk kata tersebut.

            Maka, dalam konteks ini, kata Harokah Islamiyyah memiliki arti sebuah pergerakan Islam yang dilakukan oleh individu maupun kelompok yang memiliki tujuan mengembalikan Khilafah Islamiyyah dan berusaha menebarkan nilai-nilai Islam di atas permukaan bumi.

            Ada Jama’ah Islamiyyah di India dan Pakistan yang diprakarsai oleh Abul A’la al-Maududi, ada al-Ikhwan al-Muslimin di Mesir yang didirikan oleh Imam Hasan al-Banna, muncul Hizbut Tahrir di Palestina oleh Taqiyuddin an-Nabhani. Di negeri kita sendiri, pergerakan ini sudah muncul sejak zaman kemerdekaan. Meskipun pada tahun 840 M, telah berdiri kerajaan Islam pertama di utara Sumatera; Kerajaan Perlak yang kemudian disusul oleh berdirinya kerajaan Islam lainnya seperti Samudera Pasai, Demak, Mataram Islam, namun dunia pergerakan Islam lebih mengenal istilah Harokah Islamiyyah sebagai sebuah gerakan kebangkitan yang dimulai sejak runtuhnya khilafah pada tahun 1924 M. Runtuhnya khilafah menandai berawalnya babak baru bagi Islam dalam kancah persaingan memimpin dunia, bersikutan dengan ideologi sempalan lain di luar Islam.

            Moh. Natsir dan Buya Hamka merupakan 2 tokoh yang terbilang aktif dalam upayanya menegakkan Diin Islam di bumi Indonesia. Buya Hamka tercatat sebagai ketua Majelis Ulama Indonesia yang pertama, bahkan Moh. Natsir sempat 2 kali menjadi Perdana Menteri Indonesia ketika Indonesia menganut sistem Parlementer dengan membentuk Kabinet Natsir I dan Kabinet Natsir II. Ketika perumusan Pancasila pun, Natsir dan beberapa tokoh Islam lainnya termasuk yang paling ‘getol’ mempertahankan bunyi sila pertama ketika itu, yakni “Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syari’at Islam bagi pemeluk-pemeluknya”.

            Sebelumnya, Partai Masyumi dan Sarikat Dagang Islam telah terlebih dahulu memulai perjalanan panjang ini, bahkan sempat pula muncul gerakan Jong Islam Bond sebagai basis perkumpulan pemuda-pemuda Islam se-Indonesia dalam usaha memerdekakan bangsa ini. Setelah ketiganya dibubarkan, perlahan muncul 2 organisasi Islam yang kini menjadi yang terbesar di Indonesia, Nahdhlatul ‘Ulama oleh KH. Hasyim Asy’ari dan Muhammadiyah oleh KH. Ahmad Dahlan. Perlahan tapi pasti terbentuk partai-partai Islam dan ormas-ormas Islam sejak dekade ’80-an hingga sekarang, meskipun pada awal kemunculannya mendapat pertentangan dan perlawanan keras dari pemerintah ketika itu. Ada Laskar Jihad milik Ja’far ‘Umar Thalib, ada Hizbut Tahrir Indonesia, Front Pembela Islam milik Habib Rizieq Shihab, Forum ‘Umat Islam, Majelis Intelektual dan ‘Ulama Muda Indonesia (MIUMI), INSISTS, Harokah Sunniyah untuk Masyarakat Islami (HASMI), Jama’ah Tabligh, Dewan Dakwah Islamiyyah Indonesia oleh Adian Husaini, kelompok Salafi, PERSIS oleh A. Hassan, al-Irsyad, Anshorut Tauhid, bahkan kini ada komunitas #IndonesiaTanpaJIL. Di parlemen, partai Islam pun tak mau kalah. Ada Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) hasil didikan NU, Partai Amanat Nasional (PAN) keluaran dari Muhammadiyah, Partai Bulan Bintang (PBB), Partai Persatuan Pembangunan (PPP), dan Partai Keadilan yang kemudian berubah nama menjadi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang relatif muda dan masih bersih.

Harakah Islamiyah (Perjalanan Mengulang Sejarah) 1



Setengah-setengah orang kata
Sejarah itu ibarat pentas bermain wayang
Cerita-cerita yang lalu dihurai
Dipanjang-panjangkan

Kalau begitu
Takkanlah mustahil untuk giliran Islam pula yang mendatang
Tamadun kita yang dulu
Yang indah gemilang
Hidup semula
Kembali segar bugar di dunia yang luas

-Syed M. Naquib al-Attas-

            Adalah Musthafa Kemal at-Tatturk, 89 tahun yang lalu mencatatkan namanya dalam sejarah peradaban Islam. Kekhalifaan yang dirintis sejak wafatnya Sang Nabi akhir zaman, runtuh melalui jargon sekularisme atas nama ‘kemajuan bangsa’. Maka jadilah Turki sebagai “The Sick Man in Europe”, hari minggu menjadi hari penting sehingga perlu ‘dimerahkan’, negeri-negeri Islam terpecah belah, satu-persatu masuk ke dalam area jajahan Inggris, Perancis, dan negeri adidaya lain dari benua biru, negara Israel berdiri di tengah kedamaian penduduk Palestina. Tinggalah Islam sekedar ritual ibadah yang kosong dan bidang-bidang kehidupan itu menjauh dari nilai-nilai Diin ini.


            Sebelumnya, Musthafa Kemal bersama Menteri Luar Negeri Inggris ketika itu membuat perundingan yang menghasilkan 4 poin, sebagai berikut:




1. Meruntuhkan Khilafah Islam

2. Menumpas upaya apapun untuk mengembalikan Khilafah
3. Memerangi syi'ar-syi'ar Islam
4. Mengambil undang-undang Eropa sebagai undang-undang Turki yang baru

Sebagai konsekuensi dari perundingan di atas, Musthofa Kamal melarang hijab bagi para wanita, memerangi syi’ar-syi’ar Islam, melarang penulisan-penulisan Al qur’an dengan bahasa Arab, memerintahkan imam-imam masjid mengimami sholat dengan bahasa Turki, melarang haji, melarang sholat berjama’ah bagi pegawai pemerintah, bahkan memerintahkan satuan-satuan polisi untuk merazia wanita-wanita yang mengenakan hijab, bahkan lebih dari itu mereka diberi wewenang untuk merobek-robek pakaian para wanita muslimah di pasar-pasar dan di tempat-tempat umum lainnya.


Belum ada setahun sejak kejadian memilukan itu, Allah Subhanahu wa Ta’ala menampilkan prajurit-prajurit terbaiknya di permukaan bumi. Untuk menegaskan kembali tentang ayat-ayatnya; “Mereka hendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahaya-Nya, walaupun orang-orang yang kafir tidak menyukai.” (at-Taubah: 32). Maka, muncullah beragam gerakan dalam upaya mengembalikan kepemimpinan Islam di atas dunia. Ide Pan-Islamisme bertebaran hampir di seluruh penjuru. Dan cerita  itu memulakan paragraf perjuangannya.

Serial #IndonesiaTanpaJIL: Episode 11

#IndonesiaTanpaJIL
Episode 11

Seputar Ayat yang (Katanya) Mendukung Pluralisme

Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin, siapa saja di antara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (QS. Al-Baqoroh: 62)

Semakin marak saja orang-orang yang tanpa disiplin ilmu yang memadai dengan berani dan sombonnya mengatakan ini itu tentang Al-Qur’an hanya berdasarkan terjemahan. Kitab-kitab tafsir ‘ulama terdahulu dikatakan tidak relevan dengan perkembangan zaman sehingga harus diganti dengan penafsiran yang lebih ‘segar’ bahkan tak segan-segan melalui akal pribadi dengan dalih “Al-Qur’an itu kan untuk semuanya, mengapa harus ‘ulama saja yang menafsirkan?!” Lucu atau ngawur?

Kali ini giliran pluralisme agama yang dicarikan pembenarannya. Comot sana comot sini sembarang ayat Al-Qur’an. Salah satu ayat diatas merupakan salah satu ayat yang dijadikan ‘dalil’ bagi mereka yang menghalalkan pluralisme. Berdasarkan “ayat pluralisme” di atas, mereka mengklaim bahwa perbedaan agama tidak menghalangi Allah untuk memberikan pahala. Asalkan mereka beriman dan berbuat baik, mereka tidak akan dijebloskan ke dalam neraka.

Benarkah sesederhana demikian?

Salman Al-Farisi r.a. suatu hari bercerita kepada Rasulullah saw. Tentang para sahabatnya yang beragama Kristen (Nasrani) seraya menanyakan tentang status dan nasib mereka. “Mereka tidak mati dalam keadaan Islam; mereka masuk neraka.” Jawab Nabi saw. Mendengar itu Salman merasa sedih seraya berkata, “Kalau mereka sempat bertemu engkau (wahai Rasulullah saw.), niscaya mereka beriman dan mengikuti engkau.” Beberapa saat kemudian turunlah ayat di atas. Rasulullah saw. memanggil Salman lalu berkata,”Ayat ini turun berkenaan dengan sahabat-sahabatmu. Mereka yang mati dalam agama Isa sebelum mendengar seruanku, maka baiklah keadaannya. Adapun mereka yang telah mendengar seruanku tetapi tidak beriman, maka binasalah dia.

Riwayat di atas merupakan asbabun nuzul ayat di awal tadi yang dinukil oleh Imam Ath-Thobari di dalam kitab tafsir beliau, Jami’ Al-Bayan ‘an Ta’wil Ay Al-Qur’an, juga oleh Imam Ibnu Katsir di dalam kitab Tafir Al-Qur’an Al-‘Azhim, juga oleh Imam As-Suyuthi, dan oleh ‘ulama tafsir lainnya.

‘Abdullah ibn ‘Abbas menjelaskan yang dimaksud dengan dengan “orang-orang yang beriman” dalam ayat tersebut adalah “orang yang sepenuhnya memercayai Rasulullah saw. serta apa yang disampaikannya dari Allah SWT. Ataupun menunjuk kepada orang-orang terdahuu yang beriman kepada Nabi Musa as. dan Isa as. sehingga datangnya Nabi Muhammad saw. lalu beriman kepada beliau.

Imam Ath-Thobari, Imam As-Suyuthi, dan Al-Firuzabadi juga menyebutkan riwayat Ibnu ‘Abbas bahwa ayat ini telah dibatalkan (mansuh) dan digantikan oleh surat Al-Imran ayat 85 yang berbunyi, “Siapa yang mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.

Jadi kesimpulannya, menurut DR. Syamsudin Arif, para ‘ulama tafsir baik kalangan salaf maupun khalaf sepakat bahwa: (1) ayat 62 surat Al-Baqoroh tersebut berkenaan dengan para sahabat Salman Al-Farisi yang belum sempat masuk Islam, (2) orang-orang yang munafik dari kalangan Muslim, Yahudi, maupun Nasrani adalah kuffar tak beriman, (3) keselamatan, kedamaian, dan kebahagiaan akhirat hanya dapat diraih melalui iman sejati dan amal shaih sesuai dengan petunjuk Rasulullah saw.

Allahu a’lam.
 

Sudah Shalatkah Anda?