Senin, 21 Januari 2013

Belajar Dari (Si) Resepsionis

Siang itu, seorang pria berjas hitam rapi berjalan cepat menuju meja resepsionis sebuah hotel. Dengan wajah yang menunjukkan tekanan darahnya yang sedang meninggi, pria itu memarahi seorang wanita yang kebetulan sedang bertugas ketika itu. "Hotel macam apa ini?! Pelayanannya buruk sekali, air di kamar mandi kotor sekali, lampunya tidak terang. Aaargh, pokoknya buruk sekali!." bentak pria tersebut dengan nada marah dan suara yang lantang hingga hampir setiap orang memerhatikan kejadian tersebut. "Baik Pak, silakan Bapak isi selembar kertas ini dengan nomor kamar Bapak dan apa saja keluhan Bapak. Nanti kami akan segera perbaiki." balas resepsionis dengan wajah yang tampak tenang.

"Ah, saya tidak mau nanti-nanti. Saya mau sekarang! Mana manajer kamu, saya mau bicara!"

"Maaf Pak, tapi manajer kami sedang tidak ada di tempat. Nanti setelah Bapak menulis keluhan Bapak di kertas ini, kami akan segera memberitahukannya kepada manajer kami." jawab resepsionis dengan tetap tenang.

"Jangan bohong kamu, mana ada manajer hotel kelayaban seperti itu. Cepat, mana manajer mu? Atau kamu mau saya laporkan kepada manajer mu karena memperlama saya! Siapa nama Anda? Nanti saya akan laporkan ke manajer kamu!"

"Maaf Pak, tapi memang manajer kami sedang tidak ada di tempat."

Dengan penuh kesal dan kecewa, pria tersebut pergi keluar dan meninggalkan hotel beserta resepsionis dan orang-orang yang menyaksikan kejadian tersebut sedari tadi.

Seorang pria lain menghampiri si resepsionis dan bertanya, "Mengapa Anda tadi tetap dapat tenang, sedang Anda dibentak-bentak dan hampir saja dilaporkan kepada manajer Anda oleh pria tersebut?" tanya pria itu penasaran.

"Pria yang tadi itu sebenarnya sedang emosi oleh suatu hal, kemudian ia melampiaskannya melalui cara ini. Hanya sebuah emosi sesaat, tidak perlu lagi ditimpali dengan hal yang lain." jawab si resepsionis dengan tersenyum.

---

Ada kalanya ketika seseorang memarahi kita atau sedang marah-marah di depan kita atas sesuatu hal yang tidak pernah kita lakukan atau atas hal yang sebenarnya sepele atau bahkan atas suatu hal yang sebetulnya orang tersebut belum mendapat penjelasan kita sebelumnya. Bisa jadi itulah yang dinamakan emosi sesaat. Orang tersebut sedang menghadapi tekanan hebat atau sedang emosi di tempat lain kemudian melampiaskannya dengan cara itu.

Maka, diam mendengarkan sebenarnya merupakan pilihan yang bijak. Dengarkan saja. Tidak perlu disahuti, ditimpali, apalagi dibalas dengan emosi pula. Tunggu sampai tenang dahulu, kemudian baru bicarakan baik-baik.

Semoga menjadi pelajaran bagi kita. Allohu a'lam.
 

Sudah Shalatkah Anda?