Rabu, 16 Januari 2013

Disorientasi Pendidikan: Derita Peserta Didik

Disorientasi Pendidikan:
Derita Peserta Didik

Kalau ada orang yang paling mengerti apa yang dicapai oleh ilmu, mungkin ulama-ulama abad pertengahan termasuk salah satunya. Kitab asy-Syifa ala Ibnu Sina, al-Jabar nya al-Khawarizmi, atau kita geser sedikit ke zaman yang agak kekinian, kitab Fii Zhilalil Qur'an Sayyid Quthb dari balik jeruji. Karya nyata, buah pendidikan.

"Jadi, ilmu yang dimaksud dalam Al-Qur'an itu," kata Ust. Rahmat Abdullah, "adalah ilmu nafi (ilmu yang bermanfaat). Selebihnya hanya akan menjadi jidal (debat), ...".

Wajib belajar 12 tahun, biaya Sekolah Atas yang murah, kampus yang menjamur, mengeluarkan beribu lulusan intelek tiap tahunnya. Lulusan yang melek teknologi, sadar zaman, plus ijazah penambah percaya diri. Ah, banyak yang seperti itu di negeri ini, di ruang lingkup yang lebih kecil, seperti Jakarta, membanjir itu. Tapi ada yang unik - kalau mau tidak dibilang aneh - dari realita hari ini.

Silakan teman-teman sekali-kali plesir ke daerah Jakarta Barat dan Tangerang, di situ banyak perusahaan-perusahaan industri berdiri rapi berjejer. Yang pakai jas dan dasi? Warga luar negeri. Pegawainya? Tentu pribumi asli.

Kita pindah ke lain tempat, yang lebih sering didengungkan ke telinga masing-masing. Korupsi, kasus Freeport, hutang luar negeri, penjualan aset-aset pemerintah,

Salah satu poin yang dapat dicermati ialah ini semua tidak terlepas dari proses pendidikan yang berlangsung. Bila dibandingkan dengan abad pertengahan, bisa jadi fasilitas dan sarana prasarana yang menunjang pendidikan belum ada seperti sekarang ini. Tapi mengapa mereka dapat menghasilkan karya yang jauh lebih banyak, lebih bermanfaat, dan lebih luar biasa daripada kita hari ini?

Orientasinya.

Tujuan, atau lebih santunnya niat kita menuntut ilmu. Hari ini sebagian besar - kalau tidak mau disebut semua - peserta didik diperlakukan seperti robot. Berangkat pagi, pulang sore, pelajaran yang diterima hanya memuaskan otak, atau bahkan bagi sebagian murid malah membebani otak. Bagi yang hari ini masih duduk di kelas 1 atau 2 SMP/SMA, belajarnya dipersiapkan agar lulus ujian akhir, buat yang kelas 3-nya belajar fokus menghadapi monster bernama UN, bagi yang sekolah di kejuruan, belajar dipersiapkan untuk jadi tenaga kerja yang bangga dengan gaji 2-3 juta per bulan, buat yang bersekolah di menengah ke atas biasa, belajar biar bisa masuk PTN. Betul apa betul?

Buat yang sudah kuliah, ada aja yang tujuannya agar setelah lulus dapat bekerja di perusahaan besar dengan gaji cukup untuk membeli motor dalam waktu 1 bulan.

Maka, tidak perlu heran dengan buah pendidikan hari ini. Kita diajarkan untuk berpikir kecil, jangka pendek, ujung-ujungnya menjadi budak zaman. Kreatifitas dan kemampuan personal kita terhalang generalisasi kemampuan tiap siswa di dalam kelas atau minimal tercegah oleh stigmatisasi "Emang loe itu siapa?". Sungguh, kata-kata yang sangat tidak membangun.

Lihat saja Bill Gates, beliau membuktikan sendiri bukan karena kuliah ia menjadi orang terkaya hari ini sedunia.

Jadi, kalau begitu, pendidikan tidak penting, dong?

Eitts, sebentar..

Sungguh mulia Diin ini, sebagai sebuah manhaj hidup yang integral dan komprehensif, ia mengatur dan melindungi seluruh bidang kehidupan. Goal utama menuntut ilmu seharusnya adalah taqorrub ilalloh, mendekatkan diri kepada Alloh semata; Sang Pemilik alam semesta. Kalau goal utama ini sudah hilang dari pendidikan, maka para peserta didik bukan lagi nantinya menjadi pengubah peradaban. Ini goal yang utama dan pertama.

Selanjutnya, mengenai kebermanfaatan ilmu itu sendiri. Bukan untuk individu, bahkan untuk orang banyak, keluarga, negara, apalagi agama. Karya kita sedang ditunggu bangsa ini. Haruskah menulis kitab seperti ulama sebelumnya? Bukan, bukan hanya itu. Itu hanya sebagian kecil. Yang terjun di bidang politik, manfaatkan ilmunya untuk membangun politik Indonesia yang lebih sehat. Yang minat di bidang olahraga, usahakan timnas Indonesia lolos ke piala dunia. Yang mampu di bagian perbankan, bukankah praktek riba dan kapitalisme telah lama menggerogoti kemakmuran bangsa ini?

Indah nian bila ilmu kita dimanfaatkan untuk hal-hal yang besar seperti itu. Jangan terlalu bangga dengan upah 3-5 juta per bulan. Kita bisa lebih bermanfaat dari keadaan kita hari ini. Insya Alloh.

Jangan sampai seperti salah satu kutipan di film "Alangkah Lucunya Negeri Ini", 'berkat pendidikan, aku jadi tahu kalau pendidikan itu tidak penting'. Nah loh ?!

Allahu a'lam.
 

Sudah Shalatkah Anda?