Senin, 14 Januari 2013

Harakah Islamiyah (Perjalanan Mengulang Sejarah) 2



Lembaran Kebangkitan
Daulah Islamiyah (Khilafah Islamiyyah) dan hukum Islam tidak akan tegak kecuali dengan Jihad dan Jihad bisa ditegakkan jika ada Harokah Islamiyyah yang mendidik para pengikutnya dengan tarbiyyah atau pendidikan Islam.

-Syaikh ‘Abdullah ‘Azzam-

            Kata harokah menurut etimologi bahasa Arab, diambil dari akar kata at taharruk yang artinya bergerak. Istilah tersebut kemudian menjadi populer dengan arti "Sekelompok orang atau suatu gerakan yang mempunyai suatu target tertentu, dan mereka berusaha bergerak serta berupaya untuk mencapainya". Makna istilah ini masih termasuk dalam kategori makna lughawi untuk kata tersebut.

            Maka, dalam konteks ini, kata Harokah Islamiyyah memiliki arti sebuah pergerakan Islam yang dilakukan oleh individu maupun kelompok yang memiliki tujuan mengembalikan Khilafah Islamiyyah dan berusaha menebarkan nilai-nilai Islam di atas permukaan bumi.

            Ada Jama’ah Islamiyyah di India dan Pakistan yang diprakarsai oleh Abul A’la al-Maududi, ada al-Ikhwan al-Muslimin di Mesir yang didirikan oleh Imam Hasan al-Banna, muncul Hizbut Tahrir di Palestina oleh Taqiyuddin an-Nabhani. Di negeri kita sendiri, pergerakan ini sudah muncul sejak zaman kemerdekaan. Meskipun pada tahun 840 M, telah berdiri kerajaan Islam pertama di utara Sumatera; Kerajaan Perlak yang kemudian disusul oleh berdirinya kerajaan Islam lainnya seperti Samudera Pasai, Demak, Mataram Islam, namun dunia pergerakan Islam lebih mengenal istilah Harokah Islamiyyah sebagai sebuah gerakan kebangkitan yang dimulai sejak runtuhnya khilafah pada tahun 1924 M. Runtuhnya khilafah menandai berawalnya babak baru bagi Islam dalam kancah persaingan memimpin dunia, bersikutan dengan ideologi sempalan lain di luar Islam.

            Moh. Natsir dan Buya Hamka merupakan 2 tokoh yang terbilang aktif dalam upayanya menegakkan Diin Islam di bumi Indonesia. Buya Hamka tercatat sebagai ketua Majelis Ulama Indonesia yang pertama, bahkan Moh. Natsir sempat 2 kali menjadi Perdana Menteri Indonesia ketika Indonesia menganut sistem Parlementer dengan membentuk Kabinet Natsir I dan Kabinet Natsir II. Ketika perumusan Pancasila pun, Natsir dan beberapa tokoh Islam lainnya termasuk yang paling ‘getol’ mempertahankan bunyi sila pertama ketika itu, yakni “Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syari’at Islam bagi pemeluk-pemeluknya”.

            Sebelumnya, Partai Masyumi dan Sarikat Dagang Islam telah terlebih dahulu memulai perjalanan panjang ini, bahkan sempat pula muncul gerakan Jong Islam Bond sebagai basis perkumpulan pemuda-pemuda Islam se-Indonesia dalam usaha memerdekakan bangsa ini. Setelah ketiganya dibubarkan, perlahan muncul 2 organisasi Islam yang kini menjadi yang terbesar di Indonesia, Nahdhlatul ‘Ulama oleh KH. Hasyim Asy’ari dan Muhammadiyah oleh KH. Ahmad Dahlan. Perlahan tapi pasti terbentuk partai-partai Islam dan ormas-ormas Islam sejak dekade ’80-an hingga sekarang, meskipun pada awal kemunculannya mendapat pertentangan dan perlawanan keras dari pemerintah ketika itu. Ada Laskar Jihad milik Ja’far ‘Umar Thalib, ada Hizbut Tahrir Indonesia, Front Pembela Islam milik Habib Rizieq Shihab, Forum ‘Umat Islam, Majelis Intelektual dan ‘Ulama Muda Indonesia (MIUMI), INSISTS, Harokah Sunniyah untuk Masyarakat Islami (HASMI), Jama’ah Tabligh, Dewan Dakwah Islamiyyah Indonesia oleh Adian Husaini, kelompok Salafi, PERSIS oleh A. Hassan, al-Irsyad, Anshorut Tauhid, bahkan kini ada komunitas #IndonesiaTanpaJIL. Di parlemen, partai Islam pun tak mau kalah. Ada Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) hasil didikan NU, Partai Amanat Nasional (PAN) keluaran dari Muhammadiyah, Partai Bulan Bintang (PBB), Partai Persatuan Pembangunan (PPP), dan Partai Keadilan yang kemudian berubah nama menjadi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang relatif muda dan masih bersih.

 

Sudah Shalatkah Anda?