Senin, 21 Januari 2013

Keranjang Berlubang

Di pedalaman hutan ujung timur sebuah negeri, tersebutlah seorang Ayah yang hidup berdua dengan seorang anak laki-lakinya yang berumur sekitar 12 tahun. Hidup berkebun dikelilingi pohon-pohon tinggi dan sungai panjang yang melalui kira-kira 100 meter dari depan rumah mereka. Syukurnya, hidayah Islam telah memenuhi setiap ruang di dada mereka.

Sholat, membaca Al Qur’an, dan ibadah lain pun menjadi sebuah kebiasaan. Hingga di suatu sore, ketika sang Ayah sedang bersantai menikmati secangkir teh panas di halaman rumah, sang anak mendatanginya. Berawal sebuah senyuman tipis, ia memulai pembicaraan.

“Ayah, bolehkah aku menanyakan sesuatu?” tanya sang anak.

“Oh, silakan. Kau mau menanyakan apa, Nak?” jawab sang Ayah ditambah senyum yang tipis pula.

“Begini, Yah. Selama ini aku selalu mengajarkan ajaran agama Islam sesuai yang Allah dan RasulNya tetapkan. Termasuk membaca kitab-Nya; Al Qur’an yang mulia. Yang aku tanyakan, apakah ketika aku tidak dapat memahami dan mengerti apa yang aku baca ini, apakah berarti sia-sia saja aku membaca Al Qur’an?” tanya sang anak penasaran.

Sang Ayah bergegas memasuki rumah dan keluar kembali dengan membawa sebuah keranjang bambu yang kotor dan penuh debu dengan 3 lubang di permukaannya.

“Nak, tolong kau bawakan sekeranjang air di sungai menggunakan keranjang ini.” Sang Ayah menyuruh.

Tanpa banyak membantah, sang anak segera mengambil keranjang tersebut dan bergegas menuju sungai. Setibanya di sungai, diciduknya air sungai dengan keranjang tersebut hingga penuh. Lekas, ia kembali ke rumah dan menemui Ayahnya.

Tapi, air yang penuh tadi ditemukannya telah bocor melalui 3 lubang di permukaan keranjang. Lalu, sang Ayah menyuruhnya kembali mengambil air sungai dengan keranjang tersebut.

Kali, ini sang anak berjalan lebih cepat menuju rumah. Tapi, setali tiga uang. Airnya kembali bocor melalui lubang di permukaan keranjang.

Untuk ketiga kalinya, sang Ayah kembali memberikan perintah yang sama kepada anaknya. Kali ini sang anak berlari sangat cepat, hingga tak sadar bukan hanya bocor, air tersebut banyak yang tumpah karena ia berlari terlalu cepat. Sampai di rumah, hanya tersisa beberapa tetes air yang membasahi keranjang.

“Ayah, percuma saja aku melakukan ini. Sampai kapanpun, keranjang ini takkan terisi dengan air bila ia masih berlubang.” Keluh sang anak.

“Nak,” kata sang Ayah, “Coba kau lihat keranjang itu. Kini ia bersih, tak seperti keadaannya di awal tadi. Air sungai tersebut telah membersihkannya dari segala kotoran dan debu. Begitulah dengan Al Qur’an, Nak. Tentu yang lebih baik adalah keranjang tersebut berisi air sehingga mampu bermanfaat jauh lebih baik bagi umat manusia. Tapi, tak terisi air bukan berarti sia-sia. Meski terkadang engkau tidak dapat mengerti apa yang engkau baca dari kitab ini, tapi sesungguhnya kalam-kalam Allah ini telah membersihkan hati tiap orang yang rajin membacanya sebagaimana air yang membersihkan keranjang tersebut dari segala kotoran dan debu. Maha Besar Allah yang telah menurunkan kitab ini dengan beragam kemuliaannya.”

Pelukan hangat sang Ayah mengakhiri percakapan di sore hari tersebut.

Wallahu a’lam.
 

Sudah Shalatkah Anda?