Jumat, 25 Januari 2013

Masyarakat Madani (Adakah Model Masyarakat yang Lebih Baik?)

Masyarakat Madani
(Adakah Model Masyarakat yang Lebih Baik?)

Kata Diin dalam bahasa kita (bahasa Indonesia) berasal dari akar kata DYN (dibaca: diin). Terdiri dari 3 huruf; Dal, Ya, dan Nun. Bila diterjemahkan ke dalam KBBI maka artinya adalah agama, lain lagi bila ke dalam bahasa Inggris maka artinya menjadi "religion" yang dalam bahasa Latin menjadi "Religio". Memiliki arti 'ikatan antara manusia dengan tuhan-tuhan'.

Itulah bagaimana sepintas definisi agama yang dipahami di luar Islam. Ibn Munzir melalui kitab klasiknya; Lisan al-'Arab memaknakan Diin dalam 4 kesimpulan: (1) Keadaaan Berhutang, (2) Penyerahan Diri, (3) Kuasa Peradilan, (4) Kebiasaan.

Empat kesimpulan di atas meskipun terlihat berbeda, tetapi ternyata memiliki hubungan mendalam secara konsepsi.

Kata kerja 'daana' yang berasal dari kata 'diin' memiliki arti Keadaan Berhutang. Maka seorang daa'in (orang yang berhutang) semestinya berada dalam keadaan berserah dan taat kepada hukum dalam berhutang dan dalam keadaaan tertentu juga kepada yang dihutangi. Daa'in dalam hal ini tentunya memiliki kewajiban atau dayn yang berkaitan erat dengan penghakiman atau daynunah dan pemberian hukuman atau idanah. Seluruh pemaknaan tersebut hanya dapat terjadi dalam masyarakat yang terlibat kegiatan perdagangan di dalam kota yang disebut mudun atau madaa'in. Suatu kota memiliki seorang hakim, pemerintah, penguasa, atau dayyaan.

Sepintas dapat tergambar di dalam pikiran kita suatu kehidupan masyarakat yang diatur dengan hukum, peraturan, keadilan, dan otoritas. Hal ini berkaitan erat pula dengan kata maddana yang berarti membangun atau membina kota, membangun peradaban, memurnikan, memanusiakan. Dari kata maddana lahirlah kata tamaddun yang bermakna peradaban dan perbaikan dalam budaya sosial.

Konsep hukum, peradilan, keadilan, dan otoritas, serta perbaikan dalam budaya sosial menuntut adanya suatu 'cara berperilaku' yang sesuai dengan hukum yang ada. 'Cara berperilaku' baru dapat disebut normal bila merupakan cerminan dari konsep hukum tersebut. Maka keadaa normal ini adalah suatu keadaan yang menjadi kebiasaan atau adat. Oleh Syed M. Naquib al-Attas, ini disebut kecenderungan alamiah.

Kemudian, apa yang dimaksud dengan 'hutang' disini?

Kita menjawab di sini bahwa manusia berhutang pada Allah, karena menjadikan manusia ada dari yang tadinya tidak ada (lihat al-Mu'minun: 12-14).

Dari konsep Diin diatas kemudian kita lihat makna perubahan dari kota bernama Yatsrib menjadi al-Madiinah atau lebih tepat Madiinatun Nabiy (Kota Besar Nabi). Kota yang terbentuk setelah Rosululloh Shollallohu 'Alaihi Wassalam dan para shahabat berhijrah ini menandai era baru sejarah manusia. Di kota inilah Diin benar-benar tegak didirikan untuk umat manusia. Di sana orang yang beriman menghambakan diri (lihat definisi Diin nomor 2) di bawah otoritas dan kuasa hukum (lihat definisi Diin nomor 3) Nabi sebagai dayyan-nya. Di sanalah kesadaran akan keberhutangan dengan Allah mengambil bentuknya dengan pasti, dan cara serta kaidah pembayarannya yang disetujui mulai diterangkan dengan jelas. Kota Nabi memberi makna tempat di mana Diin yang sebenarnya dilaksanakan di bawah otoritas dan kuasa hukumnya.

Dari sini lahirlah konsep Masyarakat Madani. Meniru apa yang telah dibangun generasi terbaik umat ini. Masyarakat Madiinah ketika itu menjadi contoh unggul sistem sosio-politik, dengan terbentuknya konstitusi tertulis berupa Piagam Madinah. Kota yang didalamnya masyarakat secara sadar menjalankan otoritas dan pemerintahan. Menundukkan diri dan berserah, serta taat terhadap hukum, peraturan, dan keadilan. Dan sekali lagi, Diin-dalam hal ini Islam-secara benar tegak di atas kota ini.

Saya tak tahu model masyarakat mana yang lebih baik dari ini. Kalau ada, silakan saja tunjukkan. Lalu, adakah yang sanggup menandingi konsep Kota Nabi?

Allohu a'lam []
 

Sudah Shalatkah Anda?