Senin, 14 Januari 2013

Harakah Islamiyah (Perjalanan Mengulang Sejarah) 3



Kerikil Kecil

            Sejak 3 Maret 1924 M, umat Islam telah kehilangan sebuah Jama’atul Muslimin yang berfungsi menyatukan seluruh lapisan masyarakat muslim dalam satu komando yang sama. Maka, berdirinya Harokah Islamiyyah merupakan alternatif metode untuk menyatukan umat dalam satu panji; Islam. Munculnya beragam harokah ini, beragam organisasi, maupun partai, telah membuat beberapa kalangan umat Islam khawatir. Khawatir jangan-jangan keberagaman dan perbedaan ini justru malah memecah belah umat Islam. Khawatir dengan keadaan yang ada, bahkan tak jarang di antara mereka memilih tidak memilih jama’ah atau kelompok apapun. Bahkan yang lebih ekstrem, di antara kelompok-kelompok yang ada malah saling mencaci-maki dan (na’udzubillahi min dzalika) saling mengafirkan.

Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.

-QS. Ali Imran: 104-

            “Arti segolongan,” kata Ust. Felix Siauw, “dalam ayat di atas mengacu bukan hanya 1 kelompok saja. Tapi juga berarti beberapa kelompok”. Dengan begitu keberagaman kelompok-kelompok pergerakan Islam – khususnya di Indonesia – bukanlah menjadi sesuatu hal yang menjadi alasan bagi seseorang yang tergabung dalam suatu kelompok atau jama’ah kemudian menjadi ash-Shobiyah. Menganggap kelompoknya yang paling benar dan paling berhak masuk surga. Membela kelompoknya meskipun melakukan kesalahan. Hingga ia merendahkan kelompok lain, enggan bekerja sama, menghina, bahkan sampai tahap mengafirkan. Karena pada dasarnya, menurut Yusuf Qordhowi, “Partai itu ibarat madzhab dalam politik, dan Madzhab itu ibarat partai dalam fiqh”.

            Pun meskipun jama’ah dan kelompok ini berbeda, yang berbeda hanyalah dalam hal metode bukan tujuan akhir. Dapat dipastikan kelompok harokah yang ada saat ini bertujuan menyebarkan benih-benih nilai keIslaman di seluruh aspek kehidupan dan mengembalikan Khilafah Islamiyyah. Hanya saja berbeda metodenya, ada yang melalui parlemen, bidang sosial, jihad fisik, seruan untuk mendirikan Khilafah, mengajarkan tauhid sebagai ujung tombak, dan lainnya. Di bidang media, umumnya tiap kelompok memiliki media tersendiri dari mulai radio (Radio Rodja, Radio ‘Alaikassalam, Dakta FM), televisi (Insan TV), majalah (SABILI, UMMI, Annida), bulletin (al-Islam), sampai penerbit buku (Pustaka al-Kautsar, Darul Haq, al-I’tishom, Pro-U Media, Khilafa Press).

            Perseteruan yang kadang terjadi antarjama’ah atau kelompok ibarat saudara kandung yang sedang bertengkar. Tetap satu rumah, konflik yang terjadi hanya sebuah selingan. Malamnya, sudah makan dan menonton televisi bersama lagi.

            Ini merupakan sebuah proyek amal jama’I yang harus terus berjalan. Melalui beragam pembinaan sedari awal, sehingga tidak tercipta pengkultusan terhadap seorang tokoh. Sehingga, ketika ia berhenti maka kelompoknya juga berhenti. Ketika seorang jama’ahnya pun memilih keluar dari kelompoknya, bukan berarti ia murtad dari agama Islam, karena sekali lagi Harokah Islamiyyah hanyalah alternatif metode untuk menyatukan umat Islam. Ketika ia keluar, semoga saja ia tetap berada di atas suatu jama’ah, meskipun berbeda metodenya dengan jama’ah yang kita bergabung di dalamnya.

            Justru, yang patut menjadi perhatian adalah mereka yang tidak memilih jama’ah apapun. Atau mungkin ingin membuat jama’ah sendiri? Apapun alasannya, bersendiri bukanlah pilihan yang bijak. Bukankah sholat berjama’ah pahalanya lebih banyak dari sholat sendiri? Bukankah domba lebih mudah diterkam serigala ketika sendiri? Melalui bergabung dalam suatu jama’ah Islam, kita dapat memiliki teman-teman yang saling mengingatkan. Bila diri ini sudah menjauh dari Islam, telah banyak maksiat, terus menambah puing-puing dosa, ketika memiliki mereka yang siap mengingatkan. Yang bersedia mengangkat kita ketika terjatuh, menghibur ketika sedih, mengobati ketika terluka, dengan ikhlas, lillahi ta’ala. Atas nama Islam, atas nama ukhuwah.

            Tentunya kita tetap berharap, agar kelompok-kelompok yang ada akhirnya menjadi satu Jama’atul Muslimin demi menegakkan agama ini (Iqomatud Diin). Yang perlu digarisbawahi pula, jama’ah atau kelompok Islamiyyah yang disebutkan di atas adalah insya Allah kelompok yang memiliki cita yang sama, pedoman yang sama, meskipun metodenya berbeda. Sedang ada kelompok-kelompok Islam yang dapat kita sebut dengan kelompok ‘sempalan’, mendompleng nama Islam tetapi jauh dari nilai keIslaman. Ada Syi’ah yang sangat mengagungkan ‘Ali rodhiyallohu ‘anhu dan menolak mengakui shahabat Nabi yang lain, Ahmadiyah yang mengakui Mirza Ghulam Ahmad sebagai Rasul setelah Rasulullah shollallohu ‘alaihi wassalam, Islam Liberal yang kini dimotori oleh Ulil Abshar Abdalla. Ketiganya merupakan kelompok ‘Islam” namun jelas berbeda dengan kelompok yang telah disebutkan sebelumnya.

            Bila di Malaysia telah menyatakan diri sebagai negeri Islam dan hanya ada satu partai Islam di sana (PAS), bila di Mesir al-Ikhwan al-Muslimin, Jama’ah Tabligh, dan Salafi akhirnya dapat berkompromi, bila di Turki memiliki Perdana Menteri yang telah dibina (tarbiyah) dengan baik. Tentunya kita berharap negeri ini dapat seperti pula. Bahkan dapat kembali menjadi satu bagian kekhalifaan dengan negeri muslim lainnya.

Insya Allah.
Jadilah kalian seperti pohon,
Jika manusia melemparinya dengan batu,
Ia melemparinya dengan buah.

-Imam Hasan al-Banna-



Sumber Referensi:

Adian Husaini, Hendak Kemana (Islam) Indonesia?
Artawijaya, #IndonesiaTanpaLiberal
Imam Hasan al-Banna, Risalah Bainal ‘Amsi wal Yaumi
Muhamad Yasir Lc., Jangan Hidup Jika Tak Memberi Manfaat
http://al-fatih.blogspot.com/2008/08/seputar-gerakan-islam-klasifikasi.html
http://ramonsarbre.blogspot.com/2010/04/sejarah-penyebaran-islam-di-indonesia.html
http://ustadchandra.wordpress.com/2012/04/19/menyikapi-fenomena-keberagaman-harakah-islamiyah/
http://www.oocities.org/tau_jih/d-harokah.htm

 

Sudah Shalatkah Anda?