Senin, 14 Januari 2013

Serial #IndonesiaTanpaJIL: Episode 10

Serial #IndonesiaTanpaJIL
Episode: 10

Hermeneutika Hari Ini, "Tafsir" Qur'an Gaya Baru

Keotentikan Al-Qur'an sebagai wahyu Ilahi ternyata tidak serta merta membuat kitab suci ini terbebas dari segala bentuk hujatan dan "kritikan-kritikan" ngawur lainnya. Perkembangan zaman dengan segala perubahan kondisi dan situasi sosial masyarakat dunia dianggap menjadi salah satu hal penting yang perlu dikaji, hingga Al-Qur'an dianggap harus mengikuti perkembangan tersebut. Seakan Al-Qur'an tidak relevan lagi dengan kondisi zaman. Tafsir para 'ulama dibuang. Diganti dengan tafsir-tafsir model baru, yang lebih progresif, "fresh", dan lebih sesuai kondisi zaman katanya. Otoritas Al-Qur'an digugat sehebat-hebatnya. Tafsir Hermeneutika orang bilang.

Secara etimologi, istilah “hermeneutics” berasal dari bahasa Yunani (ta hermeneutika), (bentuk jamak dari to hermeneutikon) yang berarti ‘hal-hal yang berkenaan dengan pemahaman dan penerjemahan suatu pesan. Kedua kata tersebut merupakan derivat dari kata “Hermes”, yang dalam mitologi Yunani dikatakan sebagai dewa yang diutus oleh Zeus (Tuhan) untuk menyampaikan pesan dan berita kepada manusia di bumi. Dalam karya logika Aristoteles, kata “hermeneias” berarti ungkapan atau pernyataan (statement), tidak lebih dari itu.

Bahkan para teolog Kristen abad pertengahan pun lebih sering menggunakan istilah ‘interpretatio’ untuk tafsir, bukan ‘hermeneusis’. Karya St. Jerome, misalnya, diberi judul “De optimo genere interpretandi” (Tentang Bentuk Penafsiran yang Terbaik), sementara Isidore dari Pelusium menulis “De interpretatione divinae scripturae” (Tentang Penafsiran Kitab Suci). Adapun pembakuan istilah ‘hermeneutics’ sebagai suatu ilmu, metode dan teknik memahami suatu pesan atau teks, baru terjadi kemudian, pada sekitar abad ke-18 Masehi. Dalam pengertian modern ini, ‘hermeneutics’ biasanya dikontraskan dengan ‘exegesis’, sebagaimana ‘ilmu tafsir’ dibedakan dengan ‘tafsir’. (Lihat CAP Adian Husaini, Hermeneutika dan Infiltrasi Kristen)

Pada perkembangannya, hermeneutika digunakan para teolog Kristen untuk memahami teks-teks Bibel dengan satu pertanyaan: apakah Bibel termasuk kalam Tuhan atau kalam manusia? Karena setidaknya ada 3 masalah yang dimiliki Bibel (yang tentunya tidak ada dalam Al-Qur'an); masalah otentisitas teks, segi bahasa, dan isinya.

Melalui hermeneutika maka semua teks dianggap sama. Semua pemahaman terhadap teks tersebut adalah relatif dan subjektif. Tafsir 'ulama yang ada dianggap hanya sesuai dengan kondisi dan situasi 'ulama tersebut berada.

Bila ini diimplementasikan terhadap ayat-ayat Al-Qur'an maka kalam Ilahi ini tak ubahnya seperti teks manusia biasa.

Ugi Sugiharto, Dosen International Institute of Islamic Thought and Civilization (ISTAC), IIUM Kuala Lumpur, Malaysia mengingatkan bahwa apabila filsafat hermeneutika digunakan pada Al-Qur'an, ada kemungkinan ayat-ayat yang muhkamat (lafadz yang jelas dan tidak mengandung keragu-raguan) akan menjadi mutasyabihat (lafadz yang tidak jelas dan mengandung keragua-raguan), yang ushul (pokok) menjadi furu' (cabang agama), yang qath'i menjadi zhanni (syak), yang ma'lum (dikenal) menjadi majhul (tidak dikenal), dan yang yaqin menjadi zhann (dugaan) bahkan syakk. (Lihat "Ada Pemurtadan di IAIN" karya Hartono Ahmad Jaiz)

Terakhir, saya teringat salah satu komentar teman ketika ditanya pendapatnya tentang hermeneutika, "Tinggalkanlah tanpa ragu-ragu" kata beliau.

Allahu a'lam.
to be continued..
 

Sudah Shalatkah Anda?