Senin, 14 Januari 2013

Serial #IndonesiaTanpaJIL: Episode 11

#IndonesiaTanpaJIL
Episode 11

Seputar Ayat yang (Katanya) Mendukung Pluralisme

Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin, siapa saja di antara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (QS. Al-Baqoroh: 62)

Semakin marak saja orang-orang yang tanpa disiplin ilmu yang memadai dengan berani dan sombonnya mengatakan ini itu tentang Al-Qur’an hanya berdasarkan terjemahan. Kitab-kitab tafsir ‘ulama terdahulu dikatakan tidak relevan dengan perkembangan zaman sehingga harus diganti dengan penafsiran yang lebih ‘segar’ bahkan tak segan-segan melalui akal pribadi dengan dalih “Al-Qur’an itu kan untuk semuanya, mengapa harus ‘ulama saja yang menafsirkan?!” Lucu atau ngawur?

Kali ini giliran pluralisme agama yang dicarikan pembenarannya. Comot sana comot sini sembarang ayat Al-Qur’an. Salah satu ayat diatas merupakan salah satu ayat yang dijadikan ‘dalil’ bagi mereka yang menghalalkan pluralisme. Berdasarkan “ayat pluralisme” di atas, mereka mengklaim bahwa perbedaan agama tidak menghalangi Allah untuk memberikan pahala. Asalkan mereka beriman dan berbuat baik, mereka tidak akan dijebloskan ke dalam neraka.

Benarkah sesederhana demikian?

Salman Al-Farisi r.a. suatu hari bercerita kepada Rasulullah saw. Tentang para sahabatnya yang beragama Kristen (Nasrani) seraya menanyakan tentang status dan nasib mereka. “Mereka tidak mati dalam keadaan Islam; mereka masuk neraka.” Jawab Nabi saw. Mendengar itu Salman merasa sedih seraya berkata, “Kalau mereka sempat bertemu engkau (wahai Rasulullah saw.), niscaya mereka beriman dan mengikuti engkau.” Beberapa saat kemudian turunlah ayat di atas. Rasulullah saw. memanggil Salman lalu berkata,”Ayat ini turun berkenaan dengan sahabat-sahabatmu. Mereka yang mati dalam agama Isa sebelum mendengar seruanku, maka baiklah keadaannya. Adapun mereka yang telah mendengar seruanku tetapi tidak beriman, maka binasalah dia.

Riwayat di atas merupakan asbabun nuzul ayat di awal tadi yang dinukil oleh Imam Ath-Thobari di dalam kitab tafsir beliau, Jami’ Al-Bayan ‘an Ta’wil Ay Al-Qur’an, juga oleh Imam Ibnu Katsir di dalam kitab Tafir Al-Qur’an Al-‘Azhim, juga oleh Imam As-Suyuthi, dan oleh ‘ulama tafsir lainnya.

‘Abdullah ibn ‘Abbas menjelaskan yang dimaksud dengan dengan “orang-orang yang beriman” dalam ayat tersebut adalah “orang yang sepenuhnya memercayai Rasulullah saw. serta apa yang disampaikannya dari Allah SWT. Ataupun menunjuk kepada orang-orang terdahuu yang beriman kepada Nabi Musa as. dan Isa as. sehingga datangnya Nabi Muhammad saw. lalu beriman kepada beliau.

Imam Ath-Thobari, Imam As-Suyuthi, dan Al-Firuzabadi juga menyebutkan riwayat Ibnu ‘Abbas bahwa ayat ini telah dibatalkan (mansuh) dan digantikan oleh surat Al-Imran ayat 85 yang berbunyi, “Siapa yang mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.

Jadi kesimpulannya, menurut DR. Syamsudin Arif, para ‘ulama tafsir baik kalangan salaf maupun khalaf sepakat bahwa: (1) ayat 62 surat Al-Baqoroh tersebut berkenaan dengan para sahabat Salman Al-Farisi yang belum sempat masuk Islam, (2) orang-orang yang munafik dari kalangan Muslim, Yahudi, maupun Nasrani adalah kuffar tak beriman, (3) keselamatan, kedamaian, dan kebahagiaan akhirat hanya dapat diraih melalui iman sejati dan amal shaih sesuai dengan petunjuk Rasulullah saw.

Allahu a’lam.
 

Sudah Shalatkah Anda?