Senin, 14 Januari 2013

Serial #IndonesiaTanpaJIL: Episode 4

#IndonesiaTanpaJIL
Episode 4:

Liberalisme, Theosofi, dan Sejarah Nusantara

Tidak banyak buku sejarah di sekolah-sekolah yang membahas hal ini. Bahwa bangsa ini terlalu banyak disusupi pemikiran-pemikiran asing. Hari ini ada liberalisme. Dan itu bukan hal baru sebenarnya, karena sejarah bangsa ini menyatakan ada gerakan Theosofi dahulu. Sedikit mirip dengan liberalisme. Tapi sama-sama berbahaya.

Theosofi yang didirikan oleh Helena Petrovna Blavatsky, seorang wanita asal Rusia berdarah Yahudi, pada 1875 di New York, Amerika Serikat, ini memang memberikan pengaruh yang cukup besar bagi gerak nasionalisme di negeri ini. Banyak elit-elit nasional dan founding father negeri ini pada masa lalu yang terpengaruh dalam ajaran-ajaran Theosofi ini.

Di antaranya ada Dr. Radjiman Wedyodiningrat (bahkan beliau adalah anggota resmi Freemasonry), Mohammad Tabrani, Ki Sarmidi Mangoensarkoro, Ki Hadjar Dewantara, Tjipto Mangoenkoesomo, Goenawan Mangoenkoesoemo, Armin Pane, Sanoesi Pane, Mohammad Amir, Datoek Soetan Maharadja, Siti Soemandar, dan tokoh-tokoh nasional lainnya, terutama yang berasal dari Keraton Paku Alaman Yogyakarta, organisasi Tri Koro Dharmo, Jong Java, Boedi Oetomo, Perhimpoenan Goeroe Hindia Belanda (PGHB/cikal bakal PGRI), dan para alumnus Sekolah Pendidikan Dokter Hindia (School tot Opleiding van Indische Artsen/STOVIA) di Batavia.

Jargon yang terkenal dari gerakan ini adalah soal pluralisme, dimana semua agama pada intinya sama saja, selama menebarkan kebajikan, kasih sayang, toleransi, perdamaian, persamaan, dan sebagainya. Semua itu tercermin dalam motto organisasi ini, yaitu "There is no religion higher than truth", tak ada agama yang lebih tinggi daripada kebajikan. Namun, mereka sendiri cenderung bersikap konfrontatif terhadap aspirasi Islam. Sehingga tak heran, jika Prof. Reeve sebagai akademisi yang pernah meneliti Gerakan Theosofi, menyatakan, "Perkumpulan Theosofi mengaku terbuka untuk semua agama, namun tampaknya mereka menjalin sangat sedikit persentuhan dengan Islam," jelasnya.

Selain itu, paham mereka yang terkenal adalah Eksoteris dan Esoteris. Dalam paham ini diajarkan bahwa simbol atau penampilan (Eksoteris) suatu agama tidaklah penting, asalkan tiap individu mengerjakan kebajikan dan menyebarkan perdamaian, yang penting adalah apa yang ada di dalam hati (Esoteris). Sebenarnya hal ini bisa saja benar dalam Islam, karena Diin ini pun mengajarkan bahwa ketaqwaan itu lebih penting. Tapi, kata-kata itu juga perlu diluruskan. Kalau penampilan tidak penting, berarti tiap muslimah silakan saja tidak berjilbab atau membuka aurat asalkan ia tidak merugikan orang lain? Tentu ini tidak benar dan mengada-ada. Islam memang bukan hanya soal penampilan, tapi penampilan juga diatur oleh Islam. Ada batasan-batasan baku di dalamnya.

Lebih jauh tentang Theosofi dan sejarah bangsa ini saya sarankan Anda membaca buku-buku yang kini marak di pasaran. Seperti, #IndonesiaTanpaLiberal terbitan Pustaka Al Kautsar, Gerakan Theosofi di Indonesia karya Artawijaya, dan Islam Liberal: Sejarah, Konsepsi, Penyimpangan dan Jawabannya karya Adian Husaini dan Nuim Hidayat.

Dari Abu Sa'id Al-Khudri Ra. ia berkata: Bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: "Kamu akan mengikuti jejak langkah umat-umat sebelum kamu, sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta, sehingga jikalau mereka masuk ke lobang biawakpun kamu akan mengikuti mereka". Sahabat bertanya. "Ya Rasulullah! Apakah Yahudi dan Nasrani yang Tuan maksudkan?" Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjawab, "Siapalagi?" (kalau bukan mereka). [HR. Muslim]

Allahu a'lam...
 

Sudah Shalatkah Anda?