Rabu, 20 Maret 2013

Iconisasi, Nilai, dan Pertempuran Itu

Butuh waktu 5 tahun hijriah, hingga puncaknya di perang Khondaq, basis kekuatan Islam terbentuk. Islam tidak lagi tergambarkan lemah. Kini ia buktikan kedigdayaannya. Maka Rosululloh berkata setelahnya, “Sekarang kita yang akan menyerang mereka, dan mereka takkan pernah menyerang kita lagi.” Babak baru perjuangan kaum muslimin dimulai di sini.

Pertarungan antara al-Haqq dan al-Bathil sebetulnya telah dimulai sejak Iblis menabuh genderang perang terhadap umat manusia dahulu kala. Al-Haqq dan al-Bathil merupakan 2 nilai yang telah tervariabelkan sejak lama, ditakdirkan berseteru hingga Yaumul Jazaa. Batas yang jelas antara keduanya mampu membuat ‘Umar berkata kepada ‘Amr bin al-Ash di Mesir, “Kita tidak akan pernah mengalahkan orang-orang kafir karena kecukupan sarana dan jumlah tentara kita. Kita hanya bisa mengalahkan mereka karena kita beriman sedangkan mereka kafir. Kita bertaqwa, sedang mereka bermaksiat. Jadilah sejak itu; Iblis sebagai icon kebathilan. Siapa icon kebenaran? Para mukhlisin itu.

Setiap pertarungan nilai, disitu ada pertarungan icon. Ada person yang ditonjolkan, atau satu kelompok yang menjadi perwakilan. Icon ini yang jadi indikator. Men-general-kan keadaan orang-orang yang berada di balik icon ini. Meskipun (tentu) ada pengecualian.

Maka pertarungan kafir Quraisy dan pasukan muslimin mencapai puncak salah satunya ketika perang Khondaq. Kemenangan di perang itu membuat image pasukan muslimin di tangan musuh berubah, menjadi lebih kuat, lebih perkasa. Ada nilai, ada icon.

Beberapa tahun lalu terjadi pula di Indonesia. Seorang penyanyi dengan tarian erotis mendadak tampil di layar kaca. Mendadak tenar, mendadak banyak dukungan. Maka seorang ustadz menonjol menjadi icon penentang, jadi wakil dari kebenaran. Entah ada konspirasi apa, sang ustadz – serta pendukungnya – kalah, kalah secara moral dan survey masyarakat. Pertarungan 2 nilai memberikan hasil akhir; kebenaran kala itu mengalami kekalahan.

Lain cerita baru-baru ini, ketika Partai Keadilan Sejahtera sebagai icon Islam di parlementer diterpa musibah berat. Imbasnya, akseptabilitas dan image partai di mata masyarakat. Tapi, Alloh punya cerita lain. Ia berikan kemenangan di Jawa Barat, Sumatera Utara, bahkan Papua. Hasil akhir sementara; partai Islam tetap tampak digdaya di tengah badai prahara. Penghancuran atas icon kebenaran mendekati kegagalan.

Barangkali ini yang perlu diperhatikan bagi pergerakan Islam lainnya, maupun lembaga dakwah di kampus dan sekolah. Bila ada Oki Setiana Dewi sebagai icon muslimah berjilbab yang tetap bisa terlihat aktif, jika ada Mesut Ozil sebagai icon muslim yang sporty. Maka lembaga dakwah perlu jadi icon sebagai kesatuan kolektif di ladang dakwah mereka. Icon kolektif terkadang lebih berat, karena sering masyarakat menyalahkan institusi meskipun kesalahan ada pada oknum. Tapi dalam konteks pertarungan antara al-Haqq dan al-Bathil, icon kolektif tidak boleh terjebak dalam situasi seperti itu. Aib meski segera ditutup kebaikan, kesalahan person meski segera ditimbun kebajikan lain.

Rohis adalah icon gerakan Islam di sekolah, maka bersungguhlah menjadi icon tersebut. LDK sebagai icon keIslaman di kampus, maka bersikaplah sebagaimana Islam itu sendiri ajarkan. Karena imbasnya bukan pada organisasi, tapi pada Islam itu sendiri. Jika tak bisa jadi panutan, lalu siapa lagi yang mesti jadi teladan? Tentu Nabi Muhammad standarnya, tapi terkadang beberapa orang butuh yang terlihat di depan mata.

Hal ini tetap menimbulkan satu pertanyaan. Jika hanya ada al-Haqq dan al-Bathil, lalu di mana posisi mereka yang menonton? Yang ‘netral’? Mereka yang tidak ikut berkonflik?

Hmm, mungkin lain kali akan kita bahas.

Allohu a’lam.

Kamis, 14 Maret 2013

Fenomena Fatin dan Cara Pikir Dakwah Kita

Triwulan pertama di tahun 2013, masyarakat Indonesia dimeriahkan dengan muncul seorang idola baru berumur belasan tahun yang memiliki suara khas nan merdu dari salah satu ajang pencarian bakat di salah satu stasiun televisi swasta. Nilai lebihnya lagi, ia muslimah, berjilbab pula. Bahkan satu-satunya peserta wanita yang berjilbab di antara peserta yang lolos hingga babak yang dikenal “Gala Show”.

Justru sisi ini yang menarik, dan membuat banyak orang berkomentar. Cuap-cuap kesana-kesini. Bernada positif, tapi tak sedikit yang negatif.

Bagaimana tidak? Kalau biasanya muslimah berjilbab itu diidentikkan sebagai muslimah yang lemah, tidak berwawasan luas, kolot, dan tidak bisa apa-apa – bahkan jilbab saja sudah telanjur diidentikkan hanya di sekitar wilayah masjid dan majelis ta’lim lain-. Lalu sekejap kita dihadirkan dengan seorang muslimah berjilbab yang mampu bernyanyi dengan bahasa inggris yang baik dan benar, plus suara yang belum tentu dimiliki semua orang.

Sampai sini, komentar-komentar pelemah itu menggaung. “Ah, jilbabnya nggak syar’i tuh.”. Ada lagi, “pake jilbab kok nyanyi-nyanyi lenggak-lenggok di depan orang.” Pun ada juga yang membawa nash Qur’an dan hadits mengenai para biduanita.

Ada satu kisah nyata di dalam sebuah buku mengenai pengalaman sang penulis. Dan saya masih ingat hingga hari ini meski hanya inti cerita saja.

Si penulis bersama temannya suatu hari berjalan-jalan di sebuah pusat perbelanjaan. Mereka terhenti sejenak, seketika ingin menonton sebuah acara yang diadakan oleh pemilik pusat perbelanjaan itu. Acara dimulai. Seperti biasa MC dengan ceria dan antusias membawakan acara. Kali ini ditawarkanlah sebuah barang elektronik bagi siapa saja yang bersedia maju ke atas panggung dan melakukan apa yang diperintahkan oleh MC. Beberapa menaiki panggung, salah satunya seorang muslimah berjilbab. Mereka semua mengikuti apa yang diperintahkan oleh MC, bernyanyi, dan menari, untuk sebuah barang elektronik.

“Kok pake jilbab gitu sih. Cuma buat barang gituan pake nyanyi-nyanyi di atas panggung gitu.” tukas penulis pada temannya. Dan inilah dialog favorit saya, ketika dengan bijak temannya membalas. “Bersyukur aja akh. Udah untung dia pake jilbab. Sudah berusaha menutupi rambutnya ketika para wanita menampakkannya.”

Mungkin inilah sebab mengapa terkadang dakwah kita tidak digubris masyarakat. Tidak berpengaruh. Tidak simpatik. Bahkan dalam beberapa kasus malah dibenci dan terpinggirkan.

Kita, begitu memasuki zona para du’aat kemudian merasa diri paling spesial. Terasa ada superioritas spiritual dan akhlak antara para du’aat dan masyarakat. Masyarakat adalah rakyat jahiliyyah modern dan kita adalah jelmaan malaikat di muka bumi. Ada jarak yang jauh antara kita dan mereka.

Kerapkali pola pikir kita tentang dakwah tidak jauh dari situ. Cara pandang kita masih tradisional. Kerja kita masih terbatas teori. Maka ketika caci-maki itu terucap, komentar tak membangun itu menggaung, kemudian kita diam. Tak ada gerak untuk perubahan atau minimal niat untuk mengadakan perbaikan. Tak juga doa yang mengalun lembut untuk mereka.

Bagi saya, muslimah yang berjilbab di era fitnah ini--meskipun nggak “syar’i-syar’i” banget--itu telah menunjukkan satu keberanian luar biasa. Satu keputusan yang sangat patut diapresiasi, diacungi jempol, dan dibantu do’a pula agar jilbabnya semakin syar’i dan tegak di atas keistiqomahan.

Allahu a’lam.

Rabu, 06 Maret 2013

Panduan Wisatawan Muslim

Siapa yang tak butuh wisata? Penatnya kehidupan, beratnya cobaan, dan kompetisi bisnis yang kerap memusingkan kepala membuat orang butuh pada penyegaran atau lazim disebut dengan refreshing. Penyegaran itu dimaksudkan untuk mengembalikan semangat dan vitalitas agar dapat senantiasa produktif. Aktivitas yang paling sering ditempuh adalah dengan berwisata ke tempat-tempat yang indah, seperti pantai dan pegunungan, atau ke tempat hiburan seperti puncak gunung, suaka margasatwa, ataupun taman permainan. 

Namun, sejatinya, wisata itu bukan hanya dimaknai sebagai bagian hiburan. Tapi bagian dari kontemplasi dan tadabbur atas kemahakuasaan Allah Rabbul alamin. Karena itu, bukan hanya kesehatan pikiran yang kita dapatkan, tapi juga pahala dengan memaknai wisata sebagai ibadah. 

Yang juga perlu diperhatikan, bagaimana petunjuk syariat Islam terkait wisata. Jangan sampai, dalam berwisata, kita jauh dari syariat Allah SWT. Karena itu, buku ini menjadi penting untuk dibaca. Buku ini menerangkan hukum-hukum Islam yang terkait dengan wisata, baik makanan, pakaian, pembiayaan keuangan, dan lainnya. Juga bagaimana melaksanakan shalat, puasa, dan ibadah-ibadah lainnya dalam berwisata. 

Karena itu, buku ini sangat dibutuhkan oleh setiap Muslim. Penyajiannya praktis, modern dan mudah dicerna. Ditambah lagi visual yang menarik untuk memanjakan pembaca. Jangan sampai Anda lewatkan.

Buku ini ditulis oleh Dr. Fahad Salim Bahamman dan sangat cocok bagi Anda yang suka berpergian.

Berminat? Silakan hubungi nomor saya 089654915928 (Setiap hari pkl 06.00-21.00 WIB). Harga hanya Rp 185.000 (bisa diskon tergantung kesepakatan).

Insya Alloh tidak ada penipuan atau sebagainya, karena buku resmi terbitan dari penerbit Pustaka Al Kautsar. :D
 

Sudah Shalatkah Anda?