Kamis, 14 Maret 2013

Fenomena Fatin dan Cara Pikir Dakwah Kita

Triwulan pertama di tahun 2013, masyarakat Indonesia dimeriahkan dengan muncul seorang idola baru berumur belasan tahun yang memiliki suara khas nan merdu dari salah satu ajang pencarian bakat di salah satu stasiun televisi swasta. Nilai lebihnya lagi, ia muslimah, berjilbab pula. Bahkan satu-satunya peserta wanita yang berjilbab di antara peserta yang lolos hingga babak yang dikenal “Gala Show”.

Justru sisi ini yang menarik, dan membuat banyak orang berkomentar. Cuap-cuap kesana-kesini. Bernada positif, tapi tak sedikit yang negatif.

Bagaimana tidak? Kalau biasanya muslimah berjilbab itu diidentikkan sebagai muslimah yang lemah, tidak berwawasan luas, kolot, dan tidak bisa apa-apa – bahkan jilbab saja sudah telanjur diidentikkan hanya di sekitar wilayah masjid dan majelis ta’lim lain-. Lalu sekejap kita dihadirkan dengan seorang muslimah berjilbab yang mampu bernyanyi dengan bahasa inggris yang baik dan benar, plus suara yang belum tentu dimiliki semua orang.

Sampai sini, komentar-komentar pelemah itu menggaung. “Ah, jilbabnya nggak syar’i tuh.”. Ada lagi, “pake jilbab kok nyanyi-nyanyi lenggak-lenggok di depan orang.” Pun ada juga yang membawa nash Qur’an dan hadits mengenai para biduanita.

Ada satu kisah nyata di dalam sebuah buku mengenai pengalaman sang penulis. Dan saya masih ingat hingga hari ini meski hanya inti cerita saja.

Si penulis bersama temannya suatu hari berjalan-jalan di sebuah pusat perbelanjaan. Mereka terhenti sejenak, seketika ingin menonton sebuah acara yang diadakan oleh pemilik pusat perbelanjaan itu. Acara dimulai. Seperti biasa MC dengan ceria dan antusias membawakan acara. Kali ini ditawarkanlah sebuah barang elektronik bagi siapa saja yang bersedia maju ke atas panggung dan melakukan apa yang diperintahkan oleh MC. Beberapa menaiki panggung, salah satunya seorang muslimah berjilbab. Mereka semua mengikuti apa yang diperintahkan oleh MC, bernyanyi, dan menari, untuk sebuah barang elektronik.

“Kok pake jilbab gitu sih. Cuma buat barang gituan pake nyanyi-nyanyi di atas panggung gitu.” tukas penulis pada temannya. Dan inilah dialog favorit saya, ketika dengan bijak temannya membalas. “Bersyukur aja akh. Udah untung dia pake jilbab. Sudah berusaha menutupi rambutnya ketika para wanita menampakkannya.”

Mungkin inilah sebab mengapa terkadang dakwah kita tidak digubris masyarakat. Tidak berpengaruh. Tidak simpatik. Bahkan dalam beberapa kasus malah dibenci dan terpinggirkan.

Kita, begitu memasuki zona para du’aat kemudian merasa diri paling spesial. Terasa ada superioritas spiritual dan akhlak antara para du’aat dan masyarakat. Masyarakat adalah rakyat jahiliyyah modern dan kita adalah jelmaan malaikat di muka bumi. Ada jarak yang jauh antara kita dan mereka.

Kerapkali pola pikir kita tentang dakwah tidak jauh dari situ. Cara pandang kita masih tradisional. Kerja kita masih terbatas teori. Maka ketika caci-maki itu terucap, komentar tak membangun itu menggaung, kemudian kita diam. Tak ada gerak untuk perubahan atau minimal niat untuk mengadakan perbaikan. Tak juga doa yang mengalun lembut untuk mereka.

Bagi saya, muslimah yang berjilbab di era fitnah ini--meskipun nggak “syar’i-syar’i” banget--itu telah menunjukkan satu keberanian luar biasa. Satu keputusan yang sangat patut diapresiasi, diacungi jempol, dan dibantu do’a pula agar jilbabnya semakin syar’i dan tegak di atas keistiqomahan.

Allahu a’lam.
 

Sudah Shalatkah Anda?