Selasa, 28 Mei 2013

Tafsir Al-An'am 74-79, Siapa Bilang Ibrahim Mencari Tuhan?


Dan (ingatlah) di waktu Ibrahim berkata kepada bapaknya, Aazar, "Pantaskah kamu menjadikan berhala-berhala sebagai tuhan-tuhan? Sesungguhnya aku melihat kamu dan kaummu dalam kesesatan yang nyata.
Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan (Kami yang terdapat) di langit dan bumi, dan (Kami memperlihatkannya) agar Ibrahim itu termasuk orang-orang yang yakin.
Ketika malam telah menjadi gelap, dia melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata: "Inilah Tuhanku" Tetapi tatkala bintang itu tenggelam dia berkata: "Saya tidak suka kepada yang tenggelam. Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit dia berkata: "Inilah Tuhanku". Tetapi setelah bulan itu terbenam dia berkata: "Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang-orang yang sesat.
Kemudian tatkala dia melihat matahari terbit, dia berkata: "Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar", maka tatkala matahari itu telah terbenam, dia berkata: "Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan. Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Tuhan yang menciptakan langit dan bumi dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan.” (Qs. al-An’am: 74-79)
Selama ini sebagian besar dari kita sering diceritakan kisah bagaimana Ibrahim ‘alaihissalam bertualang mencari “Tuhan”. Sampai akhirnya beliau menemukan dan meyakini sendiri siapa Tuhannya. Beliau buktikan sendiri secara empiris melalui kejadian-kejadian alam di sekitarnya. Pendapat-pendapat ini kerap kita temukan mengambil dari kisah yang Allah abadikan melalui enam ayat di atas.
Tetapi, benarkah demikian?
Agar lebih pasti, yuk coba kita merujuk pendapat Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya.
Para ulama tafsir berbeda pendapat sehubungan dengan keadaan yang dialami oleh Nabi Ibrahim, apakah Nabi Ibrahim saat itu dalam rangka renungannya ataukah dalam rangka perdebatannya.
Ibnu Jarir memilih pendapat bahwa saat itu Nabi Ibrahim sedang dalam masa perenungan. Muhammad bin Ishaq mengatakan bahwa kala itu Nabi Ibrahim baru saja keluar dari gua persembunyiannya. Sebab, ibu beliau melahirkan Nabi Ibrahim di tempat itu guna menghindari ancaman Raja Namruz bin Kan’an yang memerintahkan kepada segenap pasukannya untuk membunuh semua bayi laki-laki yang lahir di tahun itu.
Ibnu Katsir mengomentari pendapat ini dengan mengatakan, “Kemudian Muhammad bin Ishaq melanjutkan riwayatnya hingga selesai, yang di dalamnya banyak diceritakan hal-hal yang aneh dan bertentangan dengan hukum alam.”
Beliau, Imam Ibnu Katsir, melanjutkan tafsirnya dengan mengatakan bahwa yang benar saat itu Nabi Ibrahim sedang mendebat kaumnya. Pada fase pertama, Nabi Ibrahim menjelaskan kekeliruan mereka menyembah berhala-berhala yang dianggap sebagai perantara antara mereka kepada Pencipta Yang Mahabesar.
Kemudian Nabi Ibrahim menjelaskan kekeliruan dan kesesatan mereka dalam menyembah bintang-bintang yang berjumlah tujuh; Bulan, Merkurius, Venus, Matahari, Mars, Jupiter, dan Saturnus. Di antara semua itu ada yang memiliki cahaya paling kuat, yakni Venus, Bulan, dan Matahari.
Kalimat Nabi Ibrahim ketika menyebutkan tentang bintang, bulan, dan matahari dengan mengatakan, “Inilah Tuhanku!” hanyalah untuk menarik perhatian kaumnya. Pernyataan tersebut sekaligus dipakai untuk menyindir mereka. Ketika beliau berhasil menarik perhatian kaumnya, lantas beliau mematahkan argumen itu saat bintang, bulan, dan matahari perlahan menghilang dari peredarannya.
Lalu semua argumen beliau ditutup melalui ayat 79.
Mengakhiri tafsir enam ayat ini, Imam Ibnu Katsir kembali berkata, “Mustahil bagi Nabi Ibrahim, kekasih Allah yang dijadikan-Nya sebagai panutan umat manusia, taat kepada Allah, cenderung kepada agama yang benar, dan bukan termasuk orang-orang yang mempersekutukan-Nya, dianggap sebagai orang yang mempertanyakan hal tersebut. Bahkan dia orang yang lebih utama untuk memperoleh fitrah yang sehat dan pembawaan yang lurus sesudah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam. Yang benar ialah dia dalam keadaan mendebat kaumnya yang mempersekutuan Allahu Ta’ala, bukan dalam kedudukan sebagai orang yang mempertanyakan hal yang dikisahkan oleh Allah tersebut.”

Allahu a’lam.

'Illat dan Hikmah; Jika Babi Sudah Steril

Penting: bedakan antara ‘illat (sebab) dan hikmah (dampak). ‘Illat; sebab tegaknya hukum, dengannya hukum menjadi ada atau tiada. Hikmah; dampak kebaikan yang dirasakan ketika hukum ditegakkan. ‘Illat utama berasal dari Nash Qur’an dan Sunnah.

Hikmah mungkin diketahui dari ketercantuman dalam Nash, bisa juga tersirat dari penjelasan ‘ulama dan/atau penelitian ilmiah. Berbeda dengan ‘illat, batalnya hikmah tidak membatalkan hukum. Misal, “Mengapa daging Babi diharamkan?”, ada 2 jawaban; mau jawaban ‘illat (Allah haramkan, kami beriman) atau jawaban hikmah (cacing pita, parasit, penyakit, dan sebagainya).

Ada Tanya, “Bagaimana jika nanti ditemukan metode sterilisasi untuk memusnahkan semua parasit dan kotoran pada tubuh Babi?” Jawabnya, “batalnya hikmah tidak membatalkan hukum.”

Dan ini berlaku pula untuk perkara-perkara lain terkait perintah dan larangan Allah dan Rasul-Nya.

Allohu a’lam.

Senin, 13 Mei 2013

Pentas Apatis-Pesimis

Apa lagi yang diharapkan dari negeri yang miskin lagi memiskinkan?

Kecemasan yang keluar justru bukanlah ketika akhirnya kereta dakwah itu mati-beku. Atau nilainya hancur terpuruk lesu. Mungkin iya, tapi bukan itu. Bukan. Ada kekhawatiran lain yang lebih besar menyeruak ke permukaan jiwa. Kereta dakwah yang satu itu sudah punya cukup banyak pengalaman dan memiliki mekanisme khusus mengelola angin negatif yang membadai di tiap jengkal perjalanan.

Logika massa; satu yang salah, maka semua yang berkaitan dengannya digeneralkan penilaiannya. "Semua partai Islam pastilah begitu" kasarnya. Maka sederhana saja opini yang terbentuk. Kalau yang sekuler korupsi, yang berbasis Islam tentulah sama pasti. Kemudian, suara-suara syubhat di-amin-kan di tengah belantara masyarakat.

Jika semua sudah di-cap seperti itu. Jadilah tiap hasta politik itu berwarna hitam. Pekat. Tak ada cahaya atau yang menjadi cahaya. Kalau sudah begitu, apatis kembali ditelurkan di tubuh umat. Harapan dimatikan. Api semangat pembaharuan diredupkan. Dan "kiamat" negeri, ibarat telur di ujung tanduk.

Jadilah umat masyarakat bingung. Pilih mana pun tak ada yang merubah keadaaan. Jadilah lagi orientasi kembali ke perut dan kemaluan. Asal terpenuhi, negeri tak diambil peduli. Anak-cucu tak dipikir lagi. Dan jiwa ringkih penzalim negeri kian melanggengkan ketamakannya di bumi pertiwi. Si miskin tak ingin sendiri; maka ia memiskinkan yang lain. Lengkap sudah kemiskinannya; miskin harta, miskin ilmu, miskin tekad, miskin kepedulian.

Bagi yang faham, jangan berdiam diri. Sebarkan! Agar para akademisi dan si empunya nurani tahu apa yang dihadapi. Yang tak tahu, moga yang sedikit ini membantu. Yang sok tahu, tak mau tahu, dan tak ada rasa peduli, moga basa-basi ini dapat masuk ke hati.

Allohu a'lam.

Jumat, 03 Mei 2013

Penggodok Batu

Sampai hari ini saya belum dengar ada yang menyalahkan sang ibu yang menggodok batu, agar anak-anaknya tertidur lantaran tak ada lagi bahan makanan yang dapat dimasaknya. Mungkin sejarah akan sangat kecewa bila Khalifah Umar bin Khattab tidak
segera datang dan serta merta pergi ke gudang logistik negara, lalu bergegas memanggul sendiri tepung yang akan mengubah batu menjadi roti.

Hari ini sejarah melihat banyak ibu merebus apa saja, termasuk kucing (kebablasan), agar anak-anaknya tidak tidur, alias mati kelaparan. Sementara ada banyak orang yang terus menerus menjanjikan batu (dan terigu), namun tak pernah membuktikannya, padahal secara pribadi mereka lebih kaya dari Umar.
Sebagian pembaca mungkin terperanjat dan segera menyergah : “Nah, betul kan, agama itu candu untuk rakyat?”

Tunggu dulu, Tuan. Agama bukan candu rakyat. Tuan boleh katakan : “Agama itu batu dan terigu buat rakyat.”

Di banyak tempat rakyat melempar batu karena tak dapatkan terigu. Di Palestina rakyat melempar batu ke arah Zionis yang kepala serta hati mereka terbuat dari batu. Hati serdadunya boleh jadi terigu yang meleleh melihat prajurit kecil yang tak kunjung selesai melempar batu. Para politisi dan rabinya berhati batu, bahkan lebih keras daripada batu, karena batupun masih “…dapat mengeluarkan air.” (QS 2:74)
Palestina tidak punya senjata lain kecuali batu. Itulah “agama” yang paling primitif, agama batu, yang sangat ditakuti Yahudi dan sangat efektif di zaman ultra modern ini, minimal untuk sekedar mengingatkan bahwa Palestina masih ada dan tetap siap berlaga.

Pada saat batu-batu beterbangan dari arah demonstran ke aparat keamanan, mereka menjadi “sabda kebenaran” yang tak dapat diganggu gugat. Jangan tanya manusiawi atau tidak. “Hari ini makan rezeki batu,” kata serdadu yang kelelahan menahan hujan batu dan tak boleh membalas.

Buat kredibilitas kita, ini batu sandungan,” kata pengambil keputusan, seraya berfikir bagaimana menyusun press release. Dengan tujuan yang sangat berbeda, para Bonek menggunakan batu untuk menghancurkan genteng dan kaca ruamh penduduk serta kereta api. “Jununul kurah” (gila bola) telah ikut memanfaatkan senjata intifadhah untuk menggugat entah siapa.

Dari apa terbuat hati para provokator perusuhan Ambon, teror Banyuwangi, teror Dili, Larantuka, Abepura, Poso, Kupang, Sambas, bahkan 14 Mei 1998? Juga hati petawur antarsekolah dan antargang? Semoga tak ada yang menjawab: “Dari batu, atau tak terbuat dari apa-apa alias tak punya hati.”

Di banyak kawasan, rakyat yang punya semangat kerja sepakat membangun, entah masjid atau madrasah. Kelak, dari kasus-kasus pembangunan yang tak selesai muncul pemeo “pakar batu pertama”, karena tak pernah selesai dengan batu terakhir.

Dalam jajaran para Rasul, Muhammad shalallahu alaihi wasallam yang datang paling akhir menjadi penutup dan penyempurna. Dengannya bangunan agama ini menjadi jelas wujud dan karakteristiknya. “Perumpamaan aku dan para Nabi sebelumku, seperti seseorang yang membangun rumah. Setiap Nabi telah meletakkan batu pada tempatnya. Tinggallah satu batu penjuru yang belum. Akulah yang menggenapinya.” (HR Bukhari & Muslim)

Kursi dan Batu

Berbahagialah mereka yang tak tahu politik. Berbahagialah mereka yang tak tahu arti kebahagiaan. Lebih berbahagia lagi mereka yang tahu politik dan mau berpolitik untuk menjinakkan politik. Karirnya sebagi penjinak politik.

Mengapa orang begitu sinis dengan politik? Barangkali karena kecewa dengan ulah para politisi.

Mereka kumpulkan batu-batu untuk menyusun tangga yang akan menyampaikan mereka ke puncak kekuasaan dan memborong seribu kursi perwakilan. Mereka boleh bersiap jika rakyat yang mereka wakili marah dan mulai lempar batu. Siapa peduli penyelesaian masalah demi masalah yang diwariskan generasi lampau. Rakyat memang hanya punya satu senjata: protes dan satu kesempatan: sekarang! Selebihnya urusan para pengambil keputusan. Si licik tinggal impor terigu dengan jaminan harga diri dan kehormatan bangsa. Yang lebih berbahaya bila kursi yang diperebutkan dengan kelelahan mendaki tangga-tangga batu telah merobah hati manusianya menjadi batu. Bahkan ada kader partai yang sebelum mendapat kursi, hatinya telah bertukar batu. Dusta, nifaq, intrik, khianat dan egoismenya adalah lelehan najis yang keluar dari hati yang batu. Ditingkah cairan sifat suka menjilat dan rekayasa ayat, lengkap sudah pentas perpolitikan dipenuhi biang laknat.

Batu Ujian

Partai Anda partai orang-orang bersih? Tidak ada jaminan pribadi otomatis baik. Klaim dan imitasi adalah sikap khas ahli kitab sepanjang masa yang di otaknya hanya terpola satu pemikiran: “Takkan masuk surga kecuali Yahudi atau Nasrani.”(QS.2:111)

Silakan masuk lewat pintu Yahudi atau Nasrani. Pintu Islam hanya terbuka bagi mereka yang : “…..Menyerahkan dirinya kepada Allah seraya terus ihsan, maka ia berhak mendapatkan ganjaran disisi rabbnya, tiada mereka rasakan ketakutan dan tiada mereka dapat kesedihan.” (QS 2:112)
Kalau ada kanker yang menggerogoti agama-agama, maka diantaranya bisa berbentuk umat yang hanya berbangga dengan status, tak peduli dengan nilai dan kualitas, lalu menjadikan simbol status itu sebagai gincu saja atau alat justifikasi kezaliman.

Dalam Pesan untuk Bangsa-bangsa Timur, Iqbal menyindir :

cuma gereja, kuil, masjid, dan rumah berhala
kau bangun lambang-lambang penghambaanmu
tak pernah dalam hati kau bangun dirimu
hingga kau tak bisa jadi utusan merdeka

Era da’wah kelembagaan yang mengambil bentuk partpol adalah era setiap orang berpacu dan bergiat dalam kendaraan kolektifnya, dengan segala kreasi besar yang ditumbuhkan oleh niat dan cita-cita besar, walau sekecil apapun langkah yang bisa diayunkannya dan huruf-huruf sejarah yang bisa dipahatkannya. Bila popularitas yang dipanen hari ini dianggap sebagai buah dari benih yang ditanam hari ini juga, maka genap sudah kedunguan Yahudi dalam diri sang aktivis, tepatnya sang parasit.

Yang malas kembali ke surau-surau dan gubug-gubug untuk mengeja kata demi kata pesan suci yang telah membesarkan komunitas ini. Yang lebih bernafsu mendeklamasikan do’a dengan suara menggeram, memaksa orang menangis di siang terang, lalu ia sendiri tertidur mendengkur sampai pagi melewati malam-malam, tanpa sujud, tanpa doa, tanpa rintihan. Perutnya terlalu kenyang dengan jamuan pertemuan, sementara gelap malam telah melindunginya dari intaian penilai dungu yang mengira betapa panjang tahajjudnya, betapa lirih doanya, betapa bening hatinya!

Ia yang resah mempertahankan identitas da’wahnya, gelisah dan ingin cepat-cepat kembali ke gita cinta zaman SMA, lalu menginginkan rapat-rapatnya benar-benar rapat laki-laki dan perempuan, bergurau bebas, berbaur lepas. Lepas dari norma-norma santrinya.

Yang meluncur dengan janji-janji politik yang tak bisa dipenuhinya, si pandir yang menggunakan forum walimah dan bakti sosial untuk mendikte orang lain menerima partainya yang ‘paling hebat’ tanpa melihat bibir mereka yang mencibir mengejek jamaahnya.

Yang mulai grogi seraya mencari celah berlari ketika satu bunga Al-Qur’an gugur sebagai syahid da’wah, ingatlah Musa pun pernah ngeri melihat tantangan besar di hadapannya, namun ia tak larut dalam perasaan takut yang manusiawi namun tidak imani itu.

Batu Sendi

Kader, sesungguhnya nama harum harimu dibangun diatas fakta-fakta yang berakar dalam ke masa lalu, ketika da’wah ini bermula. Di gubug-gubug gang sempit lahirnya. Berpeluh di kendaraan umum dalam rute-rute panjang aktifisnya. Menapak jalan-jalan kota dan desa, nyaris tanpa sepatu kadernya. Mengorbankan nikmat tidur dengan pulang larut pagi. Jauh dari hingar-bingar massa yang menyambut dengan gegap gempita. Lapar dan haus jadi kata yang asing untuk dieja pada entri kamusnya, karena telah berganti dengan kesenangan menghirup sepuas hati telaga Al-Qur’an.

Adapun Sa’ad dan Mush’abnya, telah meninggalkan gedung bapaknya yang megah, tanpa suara duduk bersimpuh di rumah-rumah Arqam bin Abi Arqam yang tanpa papan nama, tanpa grup musik, mitos atau tokoh kharismatik. Yatimlah anak-anaknya, karena tak satu bapak mau mengakuinya.

Adapun Khadijah, Fathimah dan Sumayyahnya terusir dari kelas-kelas sekolah yang dibangun dengan pajak ummatnya karena tak mau melepas pakaian taqwa penutup aurat mereka. Tanpa pemasaran lewat catwalk rumah-rumah butik yang hari ini menjamur, tanpa bayar royalti kepada para korban yang diusir dari sekolah mereka. Mendunia kebangsaannya tanpa kehilangan kecintaan yang tulus ke puak sendiri. Bila ada yang berbangga dengan kelompok, suku atau bangsa, segera rajaz melantun dari mulut Salmannya: “Ayahku Islam dan tak ada lagi bapak selainnya bila mereka berbangga dengan Qais dan Tamim.”

Dan dalam kerja, semboyan ini meningkat gelora jiwanya menepiskan semua pengandalan status dan nama besar : “Siapa yang lamban amalnya, tak dapat dipercepat oleh nasabnya.”

_Ust. Rahmat Abdullah

Kamis, 02 Mei 2013

Paket SETIA

Tidak suka baca buku???

Hmmm..saya selalu punya keyakinan bahwa setiap orang itu dapat dipastikan memiliki minat untuk membaca buku. Hanya saja jenis bacaannya saja yang beda. Hanya genre bukunya saja yang beda.

Oleh karena itu, kami SETIA Distributor kini menghadirkan PAKET Buku-buku Pilihan. Beda buku, beda genre. Plus potongan harga yang membuat harga semakin terjangkau.

Paket SETIA (SErba TIgA)

Paket Anak
1. 50 Cerita Islami Terbaik Untuk Anak
2. Birrul Walidain
3. Kisah Istimewa Dalam Al Qur'an Untuk Anak
Harga normal Rp 151.000
Diskon menjadi Rp 116.000

Paket Liberalisme dan Aliran Sesat
1. Aliran dan Paham Sesat di Indonesia
2. Kyai Kocak VS Kyai Liberal
3. #IndonesiaTanpaLiberal
Harga normal Rp 137.000
Diskon menjadi Rp 107.000

Paket Novel Konspirasi
1. Indonesia Incorporated
2. CODE X
3. Book of Codes
Harga normal Rp 149.000
Diskon menjadi Rp 118.000

Paket Novel Remaja
1. Titip Satu Cinta
2. Sambal Love
3. Cinderella Syndrome
Harga normal Rp 98.000
Diskon menjadi Rp 78.000

Paket Sejarah
1. Sirah Nabawiyah
2. Ensiklopedi Sejarah Islam
3. Biografi 'Ali bin Abi Thalib
Harga normal Rp 385.000
Diskon menjadi Rp 285.000

Paket Selingan
1. Misi Dari Langit
2. Jangan Hidup Jika Tak Memberi Manfaat
3. Humor Sehat ala Ustadz
Harga normal Rp 142.000
Diskon menjadi Rp 113.000

Paket Pernikahan dan Rumah Tangga
1. Untukmu yang Akan Menikah dan Telah Menikah
2. Suami Istri Berkarakter Surgawi
3. Bahasa Cinta Suami Istri
Harga normal Rp 168.000
Diskon menjadi Rp 131.000

Paket Tokoh Islam
1. Muhammad Al Fatih
2. Shalahuddin Al Ayyubi
3. Erdogan
Harga normal Rp 274.000
Diskon menjadi Rp 208.000



Berminat?
Informasi dan Pemesanan silakan hubungi 089654915928
Setiap hari pkl 08.00-20.00



SETIA Distributor
Buku Adalah Teman

 

Sudah Shalatkah Anda?