Senin, 13 Mei 2013

Pentas Apatis-Pesimis

Apa lagi yang diharapkan dari negeri yang miskin lagi memiskinkan?

Kecemasan yang keluar justru bukanlah ketika akhirnya kereta dakwah itu mati-beku. Atau nilainya hancur terpuruk lesu. Mungkin iya, tapi bukan itu. Bukan. Ada kekhawatiran lain yang lebih besar menyeruak ke permukaan jiwa. Kereta dakwah yang satu itu sudah punya cukup banyak pengalaman dan memiliki mekanisme khusus mengelola angin negatif yang membadai di tiap jengkal perjalanan.

Logika massa; satu yang salah, maka semua yang berkaitan dengannya digeneralkan penilaiannya. "Semua partai Islam pastilah begitu" kasarnya. Maka sederhana saja opini yang terbentuk. Kalau yang sekuler korupsi, yang berbasis Islam tentulah sama pasti. Kemudian, suara-suara syubhat di-amin-kan di tengah belantara masyarakat.

Jika semua sudah di-cap seperti itu. Jadilah tiap hasta politik itu berwarna hitam. Pekat. Tak ada cahaya atau yang menjadi cahaya. Kalau sudah begitu, apatis kembali ditelurkan di tubuh umat. Harapan dimatikan. Api semangat pembaharuan diredupkan. Dan "kiamat" negeri, ibarat telur di ujung tanduk.

Jadilah umat masyarakat bingung. Pilih mana pun tak ada yang merubah keadaaan. Jadilah lagi orientasi kembali ke perut dan kemaluan. Asal terpenuhi, negeri tak diambil peduli. Anak-cucu tak dipikir lagi. Dan jiwa ringkih penzalim negeri kian melanggengkan ketamakannya di bumi pertiwi. Si miskin tak ingin sendiri; maka ia memiskinkan yang lain. Lengkap sudah kemiskinannya; miskin harta, miskin ilmu, miskin tekad, miskin kepedulian.

Bagi yang faham, jangan berdiam diri. Sebarkan! Agar para akademisi dan si empunya nurani tahu apa yang dihadapi. Yang tak tahu, moga yang sedikit ini membantu. Yang sok tahu, tak mau tahu, dan tak ada rasa peduli, moga basa-basi ini dapat masuk ke hati.

Allohu a'lam.
 

Sudah Shalatkah Anda?