Kamis, 18 Juli 2013

Cinta Di Atas Cinta

harianislam.com
Perempuan, oh perempuan! Pengalaman batin para pahlawan dengan mereka ternyata jauh lebih rumit dari yang kita bayangkan. Apa yang terjadi, misalnya, jika kenangan cinta hadir kembali di jalan pertaubatan seorang pahlawan? Keagungan!

Itulah misalnya pengalaman batin Umar bin Abdul Aziz. Sebenarnya, Umar seorang ulama, bahkan seorang mujahid. Namun, ia besar di lingkungan istana Bani Umayyah, hidup dengan gaya hidup mereka, bukan gaya hidup seorang ulama. Ia bahkan menjadi trendsetter di lingkungan keluarga kerajaan. Shalat jamaah kadang ditunda karena ia masih sedang menyisir rambutnya.

Namun, begitu ia menjadi khalifah, tiba-tiba kesadaran spiritualnya justru tumbuh mendadak pada detik inagurasinya. Ia pun bertaubat. Sejak itu, ia bertekad untuk berubah dan merubah dinasti Bani Umayyah. “Aku takut pada neraka,” katanya menjelaskan rahasia perubahan itu kepada seorang ulama tcrbesar zamannya, pionir kodifikasi hadits, yang duduk di sampingnya, Al Zuhri.

la memulai perubahan besar itu dari dalam dirinya sendiri, istri, anak-anaknya, keluarga kerajaan, hingga seluruh rakyatnya. Kerja keras itu membuahkan hasil; walaupun hanya memerintah dalam waktu 2 tahun 5 bulan, tetapi ia berhasil menggelar keadilan, kemakmuran dan kejayaan serta nuansa kehidupan zaman Khulal’a’ Rasyidin. Maka, ia pun digelari Khalifah Rasyidin Kelima.

Akan tetapi, itu ada harganya. Fisiknya segera anjlok. Saat itulah istrinya datang membawa kejutan besar; menghadiahkan seorang gadis kepada suaminya untuk dinikahinya (lagi). Ironis, karena Umar sudah lama mencintai dan sangat menginginkan gadis itu, juga sebaliknya. Namun, istrinya Fatimah, tidak pernah mengizinkannya; atas nama cinta dan cemburu. Sekarang, justru sang istrilah yang membawanya sebagai hadiah. Fatimah hanya ingin membcrikan dukungan moril kepada suaminya.

Itu saat terindah dalam hidup Umar, sekaligus saat paling mengharu-biru. Kenangan romantika sebelum saat perubahan bangkit kembali dan menyalakan api cinta yang dulu pernah membakar segenap jiwanya. Namun, cinta ini hadir di jalan pertaubatannya, ketika cita-cita perubahannya belum selesai. Cinta dan cita bertemu atau bertarung, di sini, di pelataran hati Sang Khalifah, Sang Pembaru.

Apa yang salah kalau Umar menikahi gadis itu? Tidak ada! Tapi, “Tidak! Ini tidak boleh terjadi. Saya benar-benar tidak merubah diri saya kalau saya masih harus kembali ke dunia perasaan semacam ini,” kata Umar. Cinta yang terbelah dan tersublimasi di antara kesadaran psiko-spiritual, berujung dengan keagungan; Umar memenangkan cinta yang lain, karena memang ada cinta di atas cinta! Akhirnya, ia menikahkan gadis itu dengan pemuda lain.

Tidak ada cinta yang mati di sini. Karena sebelum meninggalkan rumah Umar, gadis itu bertanya dengan sendu, “Umar, dulu kamu pernah sangat mencintaiku. Tapi, kemanakah cinta itu sekarang?” Umar bergetar haru, namun kemudian menjawab, “Cinta itu masih tetap ada, bahkan kini rasanya jauh lebih dalam!”

sumber:
http://www.hasanalbanna.com/cinta-di-atas-cinta/

Menulis, Dari Makna Hingga Daya

intisari-online.com
kata-kata kita menjelma boneka lilin
saat kita mati untuk memperjuangkannya
kala itulah ruh kan merambahnya
dan kalimat-kalimat itupun hidup selamanya
-Sayyid Quthb-

Menulis adalah mengikat jejak pemahaman. Akal kita sebagai karunia Allah ‘Azza wa Jalla, begitu agung dayanya menampung sedemikian banyak data. Tetapi kita kadang kesulitan memanggil apa yang telah tersimpan lama. Ilmu masa lalu itu berkeliaran dan bersembunyi di jalur rumit otak.Maka menulis adalah menyusun kata kunci untuk membuka khazanah akal; sekata menunjukkan sealinea, satu kalimat untuk satu bab, sebuah paragraf mewakili berrangkai kitab.Demikianlah kita fahami kalimat indah Imam Asy-Syafi’i; ilmu adalah binatang buruan, dan pena yang menuliskan adalah tali pengikatnya.

Menulis juga jalan merekam jejak pemahaman. Kita lalui usia dengan memohon ditambah ilmu dan dikaruniai pengertian; maka adakah kemajuan?Itu boleh kita tahu jika kita rekam sang ilmu dalam lembaran; kita bisa melihat perkembangannya hari demi hari, bulan demi bulan.Jika tulisan kita tiga bulan lalu telah bisa kita tertawai; maka terbaca adanya kemajuan. Jika anggitan setahun lewat masih terkagumi juga; itu menyedihkan.

Lebih lanjut; menulis adalah mengujikan pemahaman kepada khalayak; yang dari berbagai sisi bisa memberi penyaksamaan dan penilaian.Kita memang membaca buku, menyimak kajian, hadir dalam seminar dan sarasehan. Tetapi kebenaran pemahaman kita belum tentu terjaminkan.Maka menulislah; agar jutaan pembaca menjadi guru yang meluruskan kebengkokan, mengingatkan keterluputan, dan membetulkan kekeliruan.

Penulis hakikatnya menyapa dengan ilmu; maka ia berbalas tambahan pengertian; makin bening, makin luas, kian dalam, dan kian tajam.Agungnya lagi; sang penulis merentangkan ilmunya melampaui batas-batas waktu dan ruang. Ia tak dipupus masa dan usia, ia tak terhalang ruang dan jarak.Adagium Latin itu tak terlalu salah; Verba Volant, Scripta Manent. Yang terucap kan lenyap tak berjejak, yang tertulis kan adi mengabadi. Tetapi bagi kita, makna keabadian karya bukan hanya soal masyhurnya nama; ia tentang pewarisan nilai. Apakah kemaslahatan yang kita lungsurkan, atau justru kerusakan.

Andaikan benar bahwa II Principe yang dipersembahkan Niccolo Machiavelli pada Cesare de Borgia itu jadi kawan tidur para tiran seperti terisyu tentang Napoleon, Hitler, dan Stalin; akankah dia bertanggung jawab atas berbagai kezaliman yang terilham bukunya?Sebab bukan hanya pahala yang bersifat ‘jariyah’; melainkan ada juga dosa yang terus mengalir. Menjadi penulis adalah pertaruhan.Mungkin tak separah II Principe; tapi tiap kata yang mengalir dari jemari ini juga berpeluang menjadi keburukan berrantai-rantai.

Dan bahagialah bakda pengingat; huruf bisa menjelma dzarrah kebajikan; percikan ilhamnya tak putus mencahaya sampai kiamat tiba.Lalu terkejutlah para penulis kebenaran, kelak ketika catatan amal diserahkan, “Ya Rabbi, bagaimana bisa pahalaku sebanyak ini?”Moga kelak dijawab-Nya, “Ya, amalmu sedikit, dosamu berbukit; tapi inilah pahala tak putus dari ilham kebajikan yang kautebarkan.” Tulisan shahih dan mushlih; jadi jaring yang melintas segala batas; menjerat pahala orang terilham, tanpa mengurangi ganjaran si bersangkutan.

Menulis juga bagian dari tugas iman; sebab makhluk pertama ialah pena, ilmu pertama ialah bahasa, dan ayat pertama berbunyi “Baca!”Tersebut dalam hadis riwayat Imam Ahmad dan ditegaskan Ibnu Taimiyah dalam Fatawa, “Makhluk pertama yang dicipta-Nya ialah pena, lalu Dia berfirman, “Tulislah!” Tanya Pena, “Apa yang kutulis, wahai Rabbi?” Maka Allah titahkan, “Tulislah segala ketentuan yang Kutakdirkan bagi semua makhluk-Ku sejak awal zaman hingga akhir waktu.”

Demikianpun ilmu yang diajarkan pada Adam hingga membuat dia unggul atas malaikat yang diperintahkan bersujud padanya adalah bahasa; adalah kosa kata; adalah nama-nama (QS Al-Baqarah [2} ayat 31).
Dan “Baca!”; adalah wahyu pertama. Bangsa Arab dahulu mengukur kecerdasan dari kuatnya hafalan hingga memandang rendah tulis-baca. Sebab, menulis—kata mereka—hanyalah alat bantu bagi yang hafalannya di bawah rata-rata. Namun begitu ayat itu nuzul di Bukit Cahaya, hanya dalam 2 dasawarsa, para penggembala kambing dan penunggang unta itu meloncat ke ufuk, menjadi guru bagi semesta.

Muhammad, Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, hadir bukan dengan mukjizat yang membelalakkan. Dia datang dengan kata-kata yang menukik-menghunjam, disebut ‘Al Quran’, yang bermakna 'bacaan'.Maka Islam menjelma diri menjadi peradaban ilmiah, dengan pena sebagai pilarnya; hingga berbagai wawasan tertebar mengantar kemaslahatan ke segenap penjuru bumi.

Semoga Allah berkahi tiap kata yang mengalir dari ujung jemari kita. Sungguh, sesusun kalimat dapat menggugah jiwa manusia dan mengubah arah laju dunia.Maka bagaimana sebuah tulisan bisa mengilhami; tak tersia, tak jadi tragika, dan tak menjatuhkan penulisnya dalam gelimang kemalangan?Saya mencermati setidaknya ada tiga kekuatan yang harus dimiliki seorang penulis menggugah; Daya Ketuk, Daya Isi, dan Daya Memahamkan.

Daya Ketuk


Daya ketuk ini yang paling berat dibahas. Yang mericau ini pun masih jauh darinya dan tertatih belajar merengkuhnya. Ia masalah hati; terkait niat dan keikhlasan.Tapi pertama-tama, marilah kita jawab ketiga pertanyaan ini: 1) Mengapa saya harus menulis? 2) Mengapa hal ini harus ditulis? 3) Mengapa harus saya yang menuliskannya?

Seberapa kuat makna jawaban kita atas ke-3 soalan ini, menentukan seberapa besar daya tahan kita melewati berrupa-rupa tantangan menulis.Alasan kuat tentang diri, tema, dan akibat dunia-akhirat yang akan kita tanggung jika ia tak ditulis; akan menggairahkan, menguatkan, dan menekunkan.Keterlibatan hati dan jiwa dengan niat menyala itulah yang mengantarkan tulisan ke hati pembaca; mengetuk, menyentuh, menggerakkan.

Tetapi, tak cukup hanya hati bergairah dan semangat menyala saja jika yang kita kehendaki adalah keinsyafan suci di nurani pembaca. Menulis memerlukan kata yang agung dan berat itu; IKHLAS. Kemurnian. Harap dan takut yang hanya pada-Nya. Cinta terhadap kebenaran di atas segala-galanya.

Allah menggambarkan keikhlasan sejati bagaikan susu; terancam kotoran dan darah, tapi terupayakan. Ia murni, bergizi, mengandung tenaga inti. Ia mudah diasup, nyaman ditelan, lancar dicerna oleh peminum-peminumnya, menjadi daya untuk bertaat dan bertakwa (Q.s. an-Nahl [16] ayat 66).Maka menjadi penulis yang ikhlas sungguh payah dan tak mudah, ada goda kotoran dan darah, ada rayuan kekayaan dan kemasyhuran, ada jebakan riya’ dan sum’ah.

Jika ia berhasil dilampaui; jadilah tulisan, ucapan dan perbuatan sang penulis bergizi, memberi arti, mudah dicerna jadi amal suci.Sebaliknya; penulis tak ikhlas itu; tulisannya bagai susu dicampur kotoran dan darah, racun dan limbah; lalu disajikan pada pembaca.Ya Rabbi; ampuni bengkoknya niat dalam hati, ampuni bocornya syahwat itu dan ini, di tiap kali kami gerakkan jemari menulis dan berbagi.

Sebab susu tak murni, tulisan tak ikhlas, memungkinkan 2 hal: a) pembaca muak, mual, dan muntah bahkan saat baru mengamati awalnya.Atau lebih parah: b) pembaca begitu rakus melahap tulisan kita; tapi yang tumbuh di tubuhnya justru penyakit-penyakit berbahaya.Menulis berkeikhlasan, menabur benih kemurnian; agar Allah tumbuhkan di hati pembaca pohon ketakwaan. Itulah daya ketuk sejati.

Daya sentuh, daya ketuk, daya sapa di hati pembaca; bukan didapat dari wudhu dan shalat yang dilakukan semata karena niat menoreh kata. Ia ada ketika kegiatan menghubungkan diri dengan Dzat Mahaperkasa, semuanya, bukan rekayasa, tapi telah menyatu dengan jiwa. Lalu menulis itu sekadar satu dari berbagai pancaran cahaya yang kemilau dari jiwanya; menggenapi semua keshalihan yang mengemuka.

Daya Isi

Setelah daya ketuk, penulis sejati harus ber-Daya Isi. Mengetuk tanpa mengisi membuat pembaca ternganga, tapi lalu bingung harus berbuat apa.Daya Ketuk memang membuat pembaca terinsyaf dan tergugah. Tapi jika isi yang kemudian dilahap ternyata cacat, timpang, dan rusak; jadilah masalah baru.

Daya Isi adalah soal ilmu. Mahfuzhat Arab itu sungguh benar; “Fakidusy syai’, laa yu’thi: yang tak punya, takkan dapat memberi”.Menjadi penulis adalah menempuh jalan ilmu dan berbagi; membaca ayat-ayat tertulis; menjala hikmah-hikmah tertebar. Semuanya sebagai mujahadah tanpa henti.

Dia menyimak apa yang difirmankan Tuhannya, mencermati apa yang memancar dari hidup Rasul-Nya; dan membawakan makna ke alam tinggalnya.Dia pahami ilmu tanpa mendikotomi; tapi tetap tahu di mana menempatkan yang mutlak terhadap yang nisbi; terus mencoba mencerahkan akal dan hati.

Penulis sejati memiliki rujukan yang kuat, tetapi bukan tukang kutip. Segala yang disajikan telah melalui proses penghayatan dan internalisasi.Penulis sejati kokoh berdalil bukan hanya atas yang tampak pada teks; tapi disertai kepahaman latar belakang dan kedalaman tafsir.Dengan internalisasi itu; semua data dan telaah yang disajikan jadi matang dan lezat dikunyah. Pembacanya mengasup ramuan bergizi dengan amat berselera hati.

Sebab konon ‘tak ada yang baru di bawah matahari’; tugas penulis mungkin memang hanya meramu hal-hal lama agar segar kembali.Atau mengungkap hal-hal yang sudah ada, tapi belum luas dikenali. Diperlukan ketekunan untuk melihat satu masalah dari banyak sisi.Atau mengingatkan kembali hal-hal yang sesungguhnya telah luas difahami; agar jiwa-jiwa yang baik tergerak kuat untuk bertindak.Maka penulis sejati lihai menghubungkan titik temu aneka ilmu dengan pemaknaan segar dan baru, dengan tetap berpegang pada kaidah shahih dan tertentu.

Dia hubungkan makna yang kaya; fikih dan tarikh; dalil dan kisah; teks dan konteks; fakta dan sastra; penelitian ilmiah dan kecenderungan insaniyah.Dia menularkan jalan ilmu untuk tak henti menggal. Tulisannya tak membuat orang mengangguk berdiam diri; tapi kian haus dan terus mencari.Dia membawakan pemaknaan penuh warna; beda bagi masing-masing pembaca; beda pula bagi pembaca yang sama di saat lainnya. Tulisannya membaru dan mengilhami selalu.Maka karyanya melahirkan karya; syarah dan penjelasan, catatan tepi dan catatan kaki, juga sisi lain pembahasan, dan bahkan bantahan.

Daya Memahamkan

Seorang penulis menggugah memulai daya memahamkan-nya dengan satu pengakuan jujur; dia bukanlah yang terpandai di antara manusia.Sang penulis sejati juga memahami; banyak di antara pembacanya yang jauh lebih berilmu dan berwawasan dibandingkan dirinya sendiri.Maka dalam hati, dia mencegah munculnya rasa lebih dibanding pembaca: “Aku tahu. Kamu tidak tahu. Maka bacalah agar kuberitahu.”

Setiap tulisan dan buku yang disusun dengan sikap jiwa penulis “Aku tahu! Kamu tak tahu!” pasti berat dan membuat penat.Kadang senioritas atau lebih tingginya jenjang pendidikan tak sengaja melahirkan sikap jiwa itu. Sang penulis merasa lebih tahu.Sungguh, sikap jiwa seorang penulis harus diubah; dari “Aku tahu! Kamu tak tahu!” menjadi suatu rasa yang lebih adil, haus ilmu, dan rendah hati.

Penulis sejati mengukirkan semboyan, “Hanya sedikit ini yang kutahu, kutulis ia untukmu, maka berbagilah denganku apa yang kautahu.” Penulis sejati sama sekali tak berniat mengajari. Dia cuma berbagi; menunjukkan kebodohannya pada pembaca agar mereka mengoreksi.Penulis sejati berhasrat untuk diluruskan kebengkokannya, ditunjukkan kekeliruannya, diluaskan pemahamannya, dilengkapi kekurangannya.Penulis sejati menjadikan dirinya seakan murid yang mengajukan hasil karangan pada gurunya. Maka berribu pembaca menjadi pengajar baginya, berjuta ilmu akan menyapanya.

Inilah yang menjadikan tulisan akrab dan lezat disantap; pertama-tama sebab penulisnya adil menilai pembaca, haus ilmu, dan rendah hati.

Pada sikap sebaliknya, kita akan menemukan tulisan yang beribu kali membuat berkerut dahi, tapi pembacanya tak kunjung memahami.Lebih parahnya; keinginan untuk tampil lebih pandai dan tampak berilmu di mata pembaca sering membuat akal macet dan jemari terhenti. Jika lolos tertulis; ianya menjadi kegenitan intelektual; inginnya dianggap cerdas dengan banyak istilah yang justru membuat mual.

Kesantunan Allah menjadi pelajaran bagi kita. Rasul-Nya menegaskan keindahan surga itu belum pernah ada mata yang melihatnya, telinga yang mendengarnya, dan angan yang membayangkannya. Tetapi dalam firman-Nya, Dia menjelaskan dengan paparan yang mudah dihayati.Dia gambarkan surga dalam paparan yang mudah dicerna akal manusia; taman hijau, sungai mengalir, naungan rindang, bebuahan dekat, duduk bertelekan di atas dipan, dipakaikan sutra halus dan tebal, pelayan hilir mudik siap sedia, bidadari cantik bermata jeli.

Inilah Allah yang Mahatahu, Dia tak bersombong dengan ilmu. Bahkan Dia kenalkan diri-Nya bukan sebagai “Ilah” di awal-awal, melainkan sebagai “Rabb” yang lebih dikenal.

Penulis sejati menghayati pesan Nabi; bicaralah pada kaum sesuai kadar pemahamannya, bicaralah dengan bahasa yang dimengerti oleh mereka.Penulis sejati memahami; dalam keterbatasan ilmu yang dimiliki, tugasnya menyederhanakan yang pelik, bukan merumitkan yang bersahaja.Itu pun tidak dalam rangka mengajari; tapi berbagi. Dia haus tuk menjala umpan balik dari pembaca; kritik, koreksi, dan tambahan data.
Penulis sejati juga tahu; yang paling berhak mengamalkan isi anggitannya adalah dirinya sendiri. Daya memahamkan hakikatnya berhulu di sini.Sebab seringkali kegagalan penulis memahamkan pembaca disebabkan dia pun tak memahami apa yang ditulisnya itu dalam amal nyata.Begitulah daya memahamkan; dimulai dengan sikap jiwa yang adil, haus ilmu, dan rendah hati terhadap pembaca kita, lalu dikuatkan dengan tekad bulat untuk menjadi orang pertama yang mengamalkan tulisan, dan berbagi pada pembaca dengan hangat, akrab, serta penuh cinta.

Kali ini, tercukup sekian bincang kita tentang menulis. Maafkan tak melangkah ke hal-hal yang bersifat teknis, sebab banyak yang lebih ahli tentangnya.Semoga kita lalu tahu; menulis bukanlah profesi tunggal dan mandiri. Ia lekat pada kesejatian hidup seorang mukmin untuk menebar cahaya pada dunia.Maka menulis hanya salah satu konsekuensi sekaligus sarana bagi si mukmin untuk menguatkan iman, amal shalih, dan saling menasehati.Jika ada amal lain yang lebih utama dan lebih kuat dampaknya dalam ketiga perkara itu; maka kita tak boleh ragu; tinggalkan menulis untuk menujunya.

sumber:
http://www.hasanalbanna.com/menulis-dari-makna-hingga-daya/

Pahlawan Kejayaan

republika.co.id
Jika kecemasan merupakan kekuatan utama yang menggerakkan para pahlawan kebangkitan, maka kekuatan apakah yang paling agresif menggerakkan para pahlawan di jaman kejayaan? Jawabannya adalah obsesi kesempurnaan. Penjelasannya seperti ini: Pada jaman kejayaan suatu peradaban, kondisi kehidupan masyarakat sudah relatif stabil; ada pemerintahan yang kuat, ada pertahanan dan keamanan yang stabil, ada kemakmuran yang merata secara relatif, ada tingkat kesehatan dan pendidikan yang baik, dan seterusnya. Masyarakat tidak lagi berpikir pada lingkaran kebutuhan pokok dan logistik dasarnya. Karena itu, ada ketenangan, dan dalam ketenangan itu muncul kecenderungan untuk memenuhi kebutuhan intelektual dan spiritual.

Selain dilatari oieh sistem pemenuhan kebutuhan manusia secara bertahap, pengembangan intelektual juga merupakan kesinambungan yang niscaya dari mata rantai perkembangan sebuah peradaban. Lihatlah sejarah Islam misalnya.

Perkembangan ilmu pengetahuan yang sangat pesat terjadi pada abad kedua, ketiga, dan keempat. Pada abad pertama energi kaum muslimin tercurah untuk proses kebangkitan awal.

Ini juga yang terjadi di Eropa; masa kebangkitan peradaban dari masa keterpurukan di abad per-tengahan terjadi setelah Perang Salib pada abad ketigabelas hingga abad ketujuhbelas. Setelah itu, peradaban Etopa mengalami masa kejayaan pada abad kedelapanbelas hingga abad duapuluh. Cerita abad duapuluhsalu mungkin akan sangat berbeda. Perkembangan ilmu pengetahuan paling pesat terjadi pada tiga abad terakhir ini.

Ketenangan memungkinkan orang menekuni detil-detil, sementara pengembaraan intelektual dan spiritual selalu mendorong orang pada kesempurnaan. Ini menjelaskan tipikal kepahlawanan zaman kejayaan; biasanya terjadi paling banyak pada bidang pemikiran, kebudayaan, bahasa, seni, dan ilmu pengetahuan, dan pembangunan fisik, serta berorientasi pada spesialisasi yang rumit dan detil, sebagai simbol kesempurnaan.

Kepahlawanan zaman kejayaan didominasi oleh semangat perfeksionisme dan inovasi. Kepahlawanan dibedakan pada ketekunan dan kemampuan kreativitas; seperti ketekunan Imam Bukhari dan kawan-kawannya meneliti sanad dan matan hadits, atau kreativitas Imam Syafii saat beliau merumuskan kaidah-kaidah Ushul Fiqh, atau temuan dan inovasi Ibnu Sina dan Ibnu Rusydi dalam bidang kedokteran, atau kedalaman Imam Ghazali, Ibnul Jauzi, Ibnul Qayyim dalam bidang akhlak, ata
u Al Jahiz dalam bidang sastra, dan seterusnya.

Adapun pembangunan fisik dalam kaitan ini terjadi sebagai bagian dari cara mengekspresikan temuan-temuan itu secara fisik; bahwa kemajuan pemikiran, bahasa, budaya, seni dan ilmu pengetahuan dengan sendirinya meningkatkan cita rasa keindahan, dan itu terekspresi salah satunya dalam pembangunan fisik. Inilah penjelasan untuk Istana Al-Hamra di Spanyol, atau Islana Khilafah Abbasiyah di Bagdad.

Begitulah obsesi kesempurnaan melahirkan ilmu dan meninggikan cita rasa keindahan, dan itulah karya para pahlawan zaman kejayaan.

sumber:
http://www.hasanalbanna.com/pahlawan-kejayaan/

Pahlawan Kebangkitan

Hubungan saling menghidupkan dan saling mematikan antara pahlawan dan lingkungannya, antara tokoh dan peradabannya akan melahirkan kenyataan ini: dalam sejarah setiap peradaban, sebagian besar pahlawan muncul pada dua potongan masa, satu pada masa kebangkitan, dan satu lagi pada masa kejayaan. Setelah itu, datanglah masa keruntuhan: jaman kevakuman, jaman tanpa pahlawan, dan jaman peradaban yang mandul.

wartanews.com
Apakah yang terjadi pada jaman kebangkitan? Apa pula yang terjadi pada jaman kejayaan? Marilah terlebih dahulu kita memeriksa kenyataan sosial masyarakat manusia pada masa kebangkitannya.

Kekuatan utama yang menggerakkan masyarakat pada masa kebangkitan adalah kecemasan. Inilah mata air yang memberikan mereka energi untuk bergerak dan bergerak, melangkah tertatih-tatih sembari jatuh dan bangun, meraba dalam ketidakpastian. Namun, mereka bergerak.

Mereka semua dirundung kecemasan; karena jarak yang terbentang jauh antara idealisme dan realitas, antara harapan dan kenyataan. Mereka ‘merasakan’ jarak yang terbentang jauh itu, maka mereka menjadi cemas, dan kecemasan itulah yang menggerakakan mereka. Boleh jadi, sebuah bangsa terjajah dan menderita, tetapi mereka ‘tidak merasakannya’, maka mereka tidak cemas, maka mereka tidak bergerak.

Kenyataan inilah yang kita temukan pada masa penjajahan dahulu. Bangsa Indonesia dijajah selama 350 tahun. Waktu yang terlalu lama, kesabaran yang sungguh-sungguh luar biasa; sebab penjajahan tidak selalu dirasakan sebagai penderitaan. Selama masamasa yang pahit itu, ada banyak generasi yang merasa tidak sedang menghadapi masalah tertentu, yang merasa bahwa bahwa hidupnya baik-baik saja. Mereka mungkin orang-orang sholeh, bekerja, dan berkeluarga, tetapi hidup di bawah kekuasaan penjajah, namun tidak merasakannya sebagai sebuah masalah.

Itulah masalahnya. Senjang antara penderitaan dan perasaan tentang penderitaan itu, sebagian orang merasakannya, tetapi yang lain tidak merasakannya. Yang merasakannya akan didera oleh kecemasan, yang tidak merasakannya akan bersikap dingin terhadap penderitaan itu. Yang merasakannya biasanya akan bergerak, biasanya juga akan menjadi pahlawan. Yang tidak merasakannya biasanya orangorang awam, atau kolaborator penjajah, biasanya tidak akan bergerak, sampai arus besar perlawanan datang menghanyutkan mereka.

Begitulah kita menyaksikan Cokroaminoto, Agus Salim, dan para pejuang kemerdekaan bergerak melakukan perlawanan; mereka merasakan kesenjangan itu, mereka cemas, maka mereka menjadi pahlawan. Itulah yang terjadi di seluruh dunia Islam dan Dunia Ketiga selama abad 20 lalu; munculnya para pahlawan kebangkitan, yang menemukan gairah perlawanan dari kecemasan. Sebab, itulah potongan jaman mereka, itu pula permintaan jaman mereka, dan itu pula kehendak jaman mereka.

Karena itulah, ada nama Abdul Hamid bin Badis di Aljazair, Hasan Al Banna di Mesir, Al Kawakibi di Syria, Izzudin Al Qassam di Palestina, dan demikian seterusnya.

sumber:
http://www.hasanalbanna.com/pahlawan-kebangkitan/

Beberapa Pelajaran dari Kudeta Terhadap Mursi

viva.co.id
Pelajaran Pertama. Pertarungan abadi antara al haq dan al batil, serta junudul haq dan junudul batil.

Ikhwah fillah a’azzaniyallah wa iyyakum.

Ini adalah hakikat yang tidak terbantahkan, bahwa keduanya tidak akan pernah akur, kecuali hudnah dalam waktu yang sesaat.  Sirah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah mengajarkan, Bani Khuzaah yang pernah memberikan pertolongan kepada perjuangan Beliau pun akhirnya berkhianat hingga menghasilkan perang Khandaq.

Basa basi yang mereka lakukan di hadapan Islamiyyun (aktifis Muslim), hanyalah permen manis untuk melenakan kita agar terlupa atas kejahatan dan makar-makar mereka yang lalu, sekarang, dan akan datang. Maka, jangan pernah melupakan madah tarbiyah: “Ash Shiraa’ bainal haq wal baathil”.

Pelajaran Kedua. Musuh-musuh da’wah bersatu walau mereka juga mengalami friksi.

Ikhwah fillah,

Ini pelajaran kedua, yang begitu terang benderang. Al Kufru millatu waahidahi. Apa pun baju dan merk mereka, walau mereka juga terjadi perpecahan, mereka mampu melupakan perselisihan di antara mereka sendiri demi menghalau musuh mereka bersama; aktifis Muslim. Jika sudah selesai, maka mereka akan berselisih kembali.

Tahsabuhum jami’an wa quluubuhum syatta … kamu menyangka mereka bersatu padahal hati mereka berpecah belah.

Baik itu liberal, sekuler, zionis Yahudi, dan Salibis, baik di Indonesia, Mesir, AS, Uni Eropa, dan lainnya sama saja!

Pelajaran Ketiga. Tidak padunya sesama aktifis Muslim

Perhatikan nasihat Rabbani ini:

وَالَّذِينَ كَفَرُوا بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ إِلَّا تَفْعَلُوهُ تَكُنْ فِتْنَةٌ فِي الْأَرْضِ وَفَسَادٌ كَبِيرٌ
Adapun orang-orang yang kafir, sebagian mereka menjadi pelindung bagi sebagian yang lain. jika kamu (hai Para Muslimin) tidak bersatu, niscaya akan terjadi kekacauan di muka bumi dan kerusakan yang besar. (QS. Al Anfal: 73)

Sungguh disayangkan, ketika Presiden Muhammad Mursi dikudeta, justru Hizb An Nur (Salafi), Raja Abdullah dari Arab Saudi, dan yang semisal mereka malah mendukung penggulingan itu, bahkan memberikan selamat kepada presiden baru.

Padahal ini bertentangan dengan aqidah Ahlus Sunnah wal Jamaah yang melarang memberontak kepada pemimpin yang sah lagi shalih. Bukankah ini yang selalu mereka dengungkan, bahkan mereka menyebut khawarij bagi para pelaku bughat?

Berkata Imam An Nawawi Rahimahullah:

 وأما النصيحة لأئمة المسلمين فمعاونتهم على الحق وطاعتهم فيه وأمرهم به وتنبيهم وتذكيرهم برفق ولطف وإعلامهم بما غفلوا عنه ولم يبلغهم من حقوق المسلمين وترك الخروج عليهم وتألف قلوب الناس لطاعتهم قال الخطابي رحمه الله ومن النصيحة لهم الصلاة خلفهم والجهاد معهم وأداء الصدقات إليهم وترك الخروج بالسيف عليهم إذا ظهر منهم حيف أو سوء عشرة وأن لا يغروا بالثناء الكاذب عليهم وأن يدعى لهم بالصلاح وهذا كله على أن المراد بأئمة المسلمين الخلفاء وغيرهم ممن يقوم بأمور المسملين من أصحاب الولايات وهذا هو المشهور وحكاه أيضا الخطابي ثم قال وقد يتأول ذلك على الأئمة الذين هم علماء الدين وأن من نصيحتهم قبول ما رووه وتقليدهم في الأحكام وإحسان الظن بهم
“Ada pun nasihat untuk para imam kaum Muslimin adalah: dengan membantu mereka di atas kebenaran, mentaati mereka,  memerintahkan mereka dengan ketaatan,  dan memperingatkan mereka dengan cara lembut dan santun,  memberitahu mereka ketika mereka melalaikan hak kaum Muslimin, tidak memberontak,  dan menyatukan hati kaum Muslimin untuk mentaatinya.  Berkata Al Khathabi Rahimahullah: diantara bentuk nasihat untuk mereka adalah: shalat di belakang mereka, jihad bersama mereka, menunaikan zakat, tidak memberontak dan mengangkat senjata jika melihat adanya kezaliman pada mereka atau perilaku yang buruk, tidak  mempardayai mereka dengan pujian-pujian dusta,  dan mendoakan mereka dengan kebaikan. Semua ini nasihat bagi para imam kaum Muslimin dalam pengertian para khalifah dan selain mereka yang mengurusan urusan kaum Muslimin, dari kalangan para penguasa. Inilah yang masyhur. Ini juga dikatakan oleh Al Khathabi. Kemudian dia berkata: ada juga yang metakwil bahwa pemimpin di sini adalah para ulama, dan nasihat bagi mereka adalah dengan menerima  pandangan mereka, mengikuti mereka dalam masalah hukum, dan berbaik sangka kepada mereka.” (Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 2/38-39)
Jangan sampai hanya karena presidennya dari Ikhwanul Muslimin, maka pemberontakan dan penggulingan adalah sah! Tidak peduli dia shalih atau tidak, berprestasi atau tidak, pokokya dari Ikhwan, maka boleh digulingkan.

Ada juga yang diam, tidak peduli, bahkan masih mencibir dan sinis karena Mursi adalah presiden terpilih melalui proses demokrasi yang kufur kata mereka … Wallahul Musta’an wa Ilahi Musytaka!

Pelajaran Keempat. Pentingnya kekuatan media

Di dalam negeri, kita dibombardir berita demonstrasi anti Mursi, seakan mereka mendominasi di sana. Padahal mereka –liberal, sekuler, dan salibis- adalah tirani minoritas. Bahkan memelintir berita adalah halal bagi mereka. Merubah hakikat peristiwa adalah biasa saja ….. walau itu zalim!

Fabaddalal ladziina zhalamuu qaulan ghairalladzi qiila lahum … dan orang-orang zalim itu merubah kata-kata yang tidak dikatakan kepada mereka .

Sebaliknya, aksi dukungan untuk Mursi sepi pemberitaan. Mereka tidak tertarik memberitakannya, walau aksi dukungan tersebut jauh lebih besar. Kenapa mereka tidak tertarik? Apakah juga karena ideologi yang berbeda? Ini pun  juga  dialami oleh aktifis Muslim di Indonesia.

Jika memang begitu, apakah belum cukup alasan bagi aktifis Islam untuk memiliki Media sendiri? Jangan satu, buatlah seribu …..! Kita memiliki banyak SDM dan kekayaan, dan mampu untuk itu, tapi maukah?

Pelajaran Kelima. Pentingnya  mendakwahi militer

Ya! Mereka adalah bagian dari mad’u kita. Bukan musuh, mereka punya moncong senjata kita punya fikrah. Paduan keduanya adalah kekuatan untuk menjaga agama dan teritori. Oleh karenanya Al Ustadz Hasan Al Banna pernah mengatakan bahwa di antara Syumuliatul Islam adalah Akhlaq wa Quwwah – akhlak dan kekuatan. Semua ini agar moncong mereka tidak diarahkan kepada aktifis Muslim apalagi jamaah shalat. Melainkan kepada musuh-musuh Islam dan kaum Muslimin.

Pelajaran Keenam. Sabar tiada henti

Inilah jalan da’wah, apa yang dialami oleh Ikhwanul Muslimin dengan berbagai sejarah panjang penyiksaan, penangkapan, pengusiran, dan pembunuhan yang mereka alami, baik di Mesir, atau di negara lain, dulu dan sekarang, adalah pengulangan apa yang dialami oleh Junudul Haq generasi pertama. Fa’tabiruu yaa ulil abshaaar!

Wallahu A’lam

sumber:
http://www.hasanalbanna.com/beberapa-pelajaran-dari-kudeta-terhadap-mursi/

Buku: "Jejak Ramadhan Di Berbagai Negara"

Bagaimanakah rasanya berpuasa dan berlebaran di luar negeri? Pastilah menarik. Aneka budaya dan tradisi niscaya menambah uniknya Ramadhan dan Idul Fitri di rantau orang. Sensasi itulah yang dirasakan Nurul Asmayani dan kawan-kawannya yang tergabung dalam Ibu-ibu Doyan Nulis (IIDN).

Nah, buku yang ada di tangan pembaca ini berisi kumpulan pengalaman menarik mereka di Afganistan, Albania, Aljazair, Arab Saudi, Armenia, Azerbaijan, Bahrain, Bangladesh, Bosnia dan Herzegovina, Brunei Darussalam, Cina, Estonia, Filipina, Georgia, India, Irak, Iran, Jibouti, Kazakhtan, Kuwait, Kamerun, Kirgizstan, Lebanon, Libya, Malaysia, Maroko, Mesir, Mozambik, Nigeria, Oman, Pantai Gading, Pakistan, Palestina, Qatar, Rusia, Senegal, Somalia, Sudan, Tajikistan, Thailand, Tunisia, Turki, Turkmenistan, Uganda, Ukraina, Uni Emirat Arab, Uzbekistan, Yaman, dan Yordania.

Dengan membaca buku ini, Anda akan menemukan tradisi unik masing-masing negeri di bulan Ramadhan. Juga, memahami bagaimana kaum Muslimin setempat menjalani rukun Islam yang ketiga itu ditengah situasi dan kondisi politik yang berbeda-beda. Tentu banyak sekali manfaat dan pelajaran yang bisa dipetik dari pengalaman mereka. Apalagi kalau Anda memang berencana melancong ke negeri-negeri tersebut bertepetan dengan bulan puasa atau hari lebaran. Tentu akan sangat menyenangkan.

Selamat membaca!

Harga: Rp 55000,-
Diskon: 20%

Informasi dan Pemesanan:
089654915928 (sms recommended)

Buku: Novel "Cinderella Syndrome"

Erika 30 tahun, tidak pernah berpikir untuk menikah sama sekali. Menurut Erika, kehidupan pernikahan sangatlah sulit dan ia ingin terus bebas seumur hidupnya.

Violet, 25 tahun, seorang penulis "miskin" yang tidak mandiri. Ke mana-mana harus diantar seseorang agar tidak salah jalan. Pikirannya hanyalah menulis, menulis, menulis. Jadi, kalau Mama menyuruhnya menikah, apakah bisa?

Annisa, 28 tahun, seorang guru TK selalu memimpikan menikah dengan lelaki mapan, yang bisa mengeluarkan dari situasi paling tidak menyenangkan dalam hidupnya.

Lalu, bagaimana ketika Erika yang menolak lembaga pernikahan tiba-tiba merasa bahwa menikah adalah jalan keluar yang terbaik bagi permasalahannya?

Haruskah Violet memilih untuk menikah hanya karena ingin memiliki pengawal pribadi?

Berhasilkah Annisa menjadi istri dari Zulfikar Firdaus, duda satu anak, yang belakangan membuatnya terbang ke alam mimpi?

Semua tidak seindah dongeng Cinderella ...

Harga: Rp 33000,-
Diskon: 20%

Informasi dan Pemesanan:
089654915928 (sms recommended)

Buku: "#IndonesiaTanpaLiberal"

Perlawanan terhadap upaya penyebaran paham sekularisme, pluralisme, dan liberalisme makin menguat. Setelah muncul komunitas #IndonesiatanpaJIL yang terus bergerak dan mendapat dukungan luas masyarakat di seluruh Indonesia, kali ini buku yang mengupas sepak terjang para aktivis dan pemikiran liberal akan segera dilaunching ke publik.

Buku ini mengupas sepak terjang para aktivis liberal dan pemikiran-pemikiran menyimpangnya, serta membongkar misi asing yang menjadi penumpang gelap dari proyek liberalisasi di Indonesia. Penulis buku ini menulis sub judul: Misi Asing dalam Subversif Politik dan Agama. Karena, komunitas liberal sebagaimana tercermin dalam pemikiran para aktivis Jaringan Islam Liberal (JIL), telah melakukan upaya makar (subversif) terhadap negara dengan menerima dana asing dan melakukan subversif terhadap Islam dengan melakukan pelecehan-pelecehan terhadap ajaran-ajaran Islam.

Karena itu  mereka tidak hanya ancaman bagi akidah kaum Muslimin, tapi juga bagi keutuhan bangsa Indonesia. Fakta soal ini bisa dilihat dari pernyataan dedengkot JIL, Ulil Abshar Abdalla yang mengatakan, “Di dalam liberalisme politik terdapat liberalisme agama. Saya kira perjuangan JIL sebagian besar diarahkan pada isu ini,” tegasnya.

Buku #Indonesia Tanpa Liberal ini ditulis oleh Artawijaya, penulis buku-buku bertema pergerakan Islam dan peneliti masalah-masalah zionisme. Buku yang dikemas dengan gaya popular ini diharapkan bisa menjadi amunisi baru bagi generasi muda dalam mengkonter dan memahami peta pergerakan kelompok sekular di Indonesia. Termasuk memahami siapa saja tokoh-tokoh liberal dunia yang menjadi kiblat pemikiran para aktivis liberal di Indonesia. Rencananya, buku ini akan dibedah di beberapa wilayah di Jakarta dan berbagai daerah di Indonesia.

Gagasan mengenai #Indonesia Tanpa Liberal adalah wacana yang sah, selama ide itu didasari pada argumen yang kokoh, pada studi dampak dan pengaruhnya di masyarakat. Sebagaimana negara ini bisa melarang komunisme, maka liberalisme pun bisa dilarang jika ada political will pemerintah. Tinggal bagaimana umat Islam bisa melakukan pressure terhadap pemerintah dan menyadarkan masyarakat akan bahaya ideologi “Sepilis Global” yang diimpor dari Barat, kemudian dipasarkan oleh para pengasongnya di negeri ini.

Harga: Rp 49000,-
Diskon: 20%

Informasi dan Pemesanan:
089654915928 (sms recommended)

Buku: "Membalut Luka Gaza"

GAZA adalah sekelumit kisah tentang tanah terjajah di muka bumi. Gaza adalah cerita duka atas nama Palestina. Palestina adalah sebuah senandung perjuangan. Di setiap halaman surat kabar yang memberitakan Palestina, selalu ada air mata yang memburamkan lembarannya. Duka Palestina sering menjadi kisah yang berulang lagi dan lagi. Hingga tak satu pun kini air mata dapat menetes.

dr. Prita bersama rekan dokter dan relawan lainnya dari Bulan Sabit Merah Indonesia (BSMI), membawa bantuan obat-obatan, alat medis, buku referensi kedokteran, makanan, dan bantuan lainnya dari rakyat Indonesia sebagai penawar perih luka bangsa Palestina di Gaza. Para relawan inilah yang membantu rakyat Gaza untuk tersenyum kembali. BSMI juga memberikan beasiswa kuliah kedokteran di Indonesia bagi para mahasiswa asal Gaza.

Para relawan inilah yang mengisahkan sisi lain bangsa Palestina di dalam buku ini. Kisah ini tidak membuat kita bersedih, melainkan tersenyum dan tergetar kagum pada kekuatan bangsa Palestina.

Kontributor:
DR. dr. Basuki Supartono, Sp.OT, FICS, MARS
dr. Prita Kusumaningsih, Sp.OG
dr. Ameen An-Nawajha
Dr. Kiagus Erick, Sp.An, M.Kes.
dr. Adang Sudrajat Rosadhie
M. Djazuli Ambari, S.K.M., M.Si.
Muhammad Rudi
Sinta Yudisia
dr. Fuadi Yatim, Sp. KJ
dr. H. Dadang Rukanta, Sp.OT, M. Kes.
dr. Jamaludin, Sp.M
Syekh Abdul Qadir, S.Sos

Harga: Rp 29000,-
Diskon: 20%

Informasi dan Pemesanan:
089654915928 (sms recommended)

Buku: Novel "Misi Dari Langit"

Di puncak kehidupannya, Auxentius Zeva mendapati kenyataan bahwa dirinya kini adalah buronan kekaisaran Romawi. Ia melarikan diri melewati padang pasir dan lembah-lembah sunyi. Ia kehilangan semua keluarganya. Dalam perjalanannya itu ia bertemu dengan orang-orang yang menunjukinya kebenaran.

Mereka menjawab pertanyaan-pertanyaannya selama ini. Siapakah Tuhan? Yang manakah Tuhan sebenarnya? Dzat apakah yang layak untuk diagungkan setiap manusia?

Di lembah terpencil, ia berlatih bersama sekelompok pejuang yang menamakan diri pejuang hanif. Bersama mereka, ia menyongsong takdirnya, mengemban misi besar dari langit, menyampaikan kebenaran kepada kekaisaran Romawi, para penyembah berhala.

Menyusuri kota-kota Romawi, Zeva berjuang untuk membebaskan keluarganya dari cengkeraman kekaisaran dan kekejaman para Reogist yang bersekutu dengan jin.

Harga: Rp 52000,-
Diskon: 20%

Informasi dan Pemesanan:
089654915928 (sms recommended)

Buku: Distorsi Sejarah Islam

Penulisan Ulang sejarah Islam tampaknya sudah merupakan suatu hal yang sangat mendesak. Banyak sekali buku-buku sejarah kita yang ternoda oleh berbagai dusta, penyelewengan, dan riwayat yang tidak berdasar. Sejarah Islam telah terdistorsi sedemikian rupa. Sebuah rekayasa besar dan konspirasi jahat dari musuh Islam untuk mendeskreditkan Islam dengan sejarahnya. Seakan-akan kaum muslimin adalah umat yang terbelakang, suka perang, gila wanita, dan berbagai tuduhan negatif lainnya.

Para orientalis sukses memperdaya kaum muslimin dengan buku-buku sejarah yang mereka tulis. Mereka mengklaim apa yang mereka lakukan sebagai aktivitas keilmuan dan karya ilmiah yang obyektif. Dan, mereka pun berhasil mewariskan ilmunya kepada murid-muridnya yang beragama Islam yang silau dengan kemajuan peradaban barat. Mereka menulis seolah-olah kegemilangan Islam hanya terjadi pada masa Khulafaur Rasyidin saja. Tidak ada kemajuan dan prestasi yang ditorehkan umat Islam setelah itu, selain hanya sejarah kelam dan memilukan. Padahal, betapa banyaknya ulama besar yang muncul pada masa Bani Umayyah dan Bani Abbasiyah. Aktivitas keilmuan pun sangat maju dan mencapai puncaknya. Bahkan, pada dua masa tersebut, wilayah kekuasaan Islam telah tersebar hingga mencapai sepertiga luas bumi. Persia, Romawi, dan Konstantinopel takluk di hadapan pasukan kaum muslimin.

Akan tetapi, sangat disayangkan, ada juga di antara dai besar yang ikhlas dan gigih memperjuangkan Islam turut terjerumus dalam analisa sejarahnya. Lalu, siapakah yang paling bertanggung jawab terhadap ini semua? Kenapa pula sejarah Islam perlu ditulis ulang dengan metode baru yang obyektif, jujur, dan proposional? Buku karya ulama besar, Prof. DR. Yusuf Al-Qaradhawi yang ada di hadapan Anda ini memberikan wacana komprehensif bagaimana seharusnya kita menyikapi sejarah umat Islam dan urgensitas rekodifikasi.

Harga: Rp 55000,-
Diskon: 20%

Informasi dan Pemesanan:
089654915928 (sms recommended)


Buku: Novel "Rambut Annisa"

Annisa Saraswati, model iklan sampo terkenal, muda, cantik, cerdas dan mapan. Namanya menjadi jaminan rating untuk programprogram televisi, layar lebar, dan dunia model. Ia dianggap memiliki rambut termahal di Indonesia dan menjadi ikon kecantikan para remaja.

Ia adalah mimpi banyak wanita dan impian ratusan laki-laki. Hingga suatu hari di usianya yang ke-20, ia menerima satu pesan dari ibunda. Sebuah pesan yang menjadi titik balik dalam perjalanan hidupnya. Annisa merasa gamang. Setelah terjebak dalam pesta narkoba dan diserang habis-habisan oleh media yang dahulu menyanjung dirinya, Annisa dikirim ke Turki oleh Raj Singh, seorang produser yang juga sahabat ayahnya.

Di Istanbul, Annisa menemukan hakikat dan sejarah jilbab yang ternyata disyariatkan oleh semua agama besar di dunia seperti Islam, Kristen, Yahudi, Hindu, dan Buddha. Ternyata jilbab adalah busana yang membentuk peradaban dan sudah ada sejak zaman Mesir Kuno, Yunani Kuno, Peradaban Gupta dan Post Gupta, Romawi Kuno, Era Kristen, hingga peradaban Islam. Jilbab adalah busana segala zaman yang meninggikan derajat kaum perempuan dengan nilai dan penghargaan.

Sanggupkah Annisa meninggalkan dunia penuh kemilau kepada penyerahan diri total kepada Rabb-nya?

" Jilbab bukan sekadar busana bagimu, ia adalah simbol kesantunan sekaligus rasa aman bagi kaum perempuan "

Harga: Rp 45000,-
Diskon: 20%

Informasi dan Pemesanan:
089654915928 (sms recommended)





Rabu, 17 Juli 2013

Muntah Dengan Sengaja?

Berdasarkan pendapat jumhur 'ulama, ternyata yang membatalkan puasa itu adalah muntah yang dilakukan dengan SENGAJA. Bila muntah, namun tidak sengaja tidaklah membatalkan puasa. Tapi, memang ada ya orang yang sengaja muntah?

Hal ini memang tidak lazim bagi masyarakat kita di Indonesia. Tetapi, di zaman Rasul dan para shahabat dahulu, muntah dengan sengaja bukanlah perbuatan yang asing. Untuk apa? Yaitu ketika mereka menelan makanan haram atau makanan yang didapat dari uang dan usaha yang haram. Lalu mereka sengaja memuntahkannya agar tidak ada secuil pun daging yang tumbuh di tubuh mereka yang berasal dari makanan-makanan yang haram.

Adalah Abu Bakar Ash-Shiddiq salah satunya. Dalam suatu riwayat beliau pernah memakan makanan yang diberikan oleh seseorang. Setelah menelannya, orang tersebut bercerita bahwa makanan tersebut didapat dari usahanya menjadi dukun ketika dahulu. Segera beliau memasukkan tangannya ke dalam mulutnya hingga makanan yang tadi beliau makan dapat keluar lagi.

Bagaimana dengan kita hari ini?

Allohu a'lam..

Membaca Tanda Zaman; Dari Afghan, Ke Palestina, Lalu Suriah

Sesuai jadwal, empat belas mahasiswa dari Kabul itu berkumpul. Tekad mereka yang lama dipendam, kini memasuki episode puncaknya. Tak ada kata lain; Rusia dengan komunisnya harus enyah dari Afghanistan.

Entah apa yang ada di pikiran mereka kala itu. Hendak melawan raksasa adidaya tapi tak bermodalkan apa pun.

Uang yang mereka kumpulkan juga tak banyak. Hanya dapat membeli dua buah senapan dan satu bom yang siap dilemparkan.

Hasilnya? Bisa ditebak; kekalahan.

Berita ini kemudian cepat tersebar. Termasuk di telinga DR. Abdullah Azzam. Mengenang semangat mereka, beliau memberi pernyataan menyejukkan, "Mereka telah berlaku shiddiq kepada Allah."

Kejujuran mereka untuk berjihad tak hanya dirongrong di bibir. Namun dibuktikan dalam amal nyata. Meski persiapan dan sumber daya jelas tak ada.

Dan dari sinilah awal mula peperangan bertahun-tahun di bukit dan lembah Afghan. Afghanistan berubah menjadi sekolah jihad. Hasilnya? Rusia harus mengubur kedigdayaannya di bumi tersebut.

Momentum perjuangan jihad di Afghanistan itu benar-benar dimanfaatkan dengan baik oleh Dr. Abdullah Azzam.


Menang atas Rusia adalah keberhasilan. Tetapi sungguh ada kegemilangan lain yang terpendam dari perjuangan ini.

DR. Abdullah Azzam juga mengenalkan hakikat jihad kepada umat Islam di seluruh dunia. Beliau dan para mujahid lainnya berhasil mengubah pandangan kaum Muslim di dunia, bahwa masalah yang dihadapi Afghanistan bukanlah masalah bangsa Afghan atau dunia Arab saja. Tetapi merupakan permasalahan seluruh kaum muslimin di  mana pun mereka berada. Bahkan panggilan "gerilyawan" atau "pemberontak" yang selama ini disematkan kepada para mujhaid perlahan redup. Banyak media yang kini menggunakan kata "Mujahidin Afghan".

Di Indonesia, momentum ini dimanfaatkan pula oleh beberapa da'i untuk menjelaskan makna jihad yang sesungguhnya kepada umat.


Umat tidak lagi hanya meraba-raba ketika berbicara tentang jihad. Mereka dapat melihat bentuk nyata dari makna jihad itu.

Pun perjuangan saudara-saudara kita di Palestina hari ini. Palestina memang belum merdeka secara utuh, tapi ada kemenangan lain yang telah diraih. Isu Palestina kini tak lagi hanya menjadi isu dua ideologi yang sedang mempertaruhkan eksistensinya--meskipun hal ini juga tak dapat dinafikan--tetapi telah menjadi isu kemanusiaan. Israel telah diakui kebiadabannya oleh banyak warga dunia.

Sekarang ini kita dihadapkan lagi pertarungan lain antara Al-Haqq dan Al-Bathil di bumi yang pernah masuk dalam area Syam bersama Palestina; Suriah.


Inilah satu lagi momentum yang dapat dan seharusnya kita manfaatkan sebaik-baiknya.

Momentum untuk menjelaskan kepada umat siapa dan apa Syi'ah itu sebenarnya. Menjelaskan kepada umat garis batas jelas antara Islam dan Syi'ah. Ganti sebutan kaum muslimin yang sedang berjuang di sini dengan sebutan dan panggilan yang baik. Ganti sebutan "Pemberontak Suriah" dengan "Kaum muslimin di Suriah" atau "Mujahidin Suriah".

Tentu ini hanya salah satu di antara hal-hal yang dapat kita manfaatkan dari peperangan di Suriah.

Anggap saja memanfaatkan momentum--atau yang oleh Anis Matta disebut "celah sejarah"--adalah salah satu seni yang mesti dikuasai oleh para da'i.


Ini sangat berguna pula bagi sebuah organisasi dakwah untuk menentukan langkah-langkah yang akan diambil selanjutnya. Bahkan ketika ingin mengambil lompatan-lompatan besar bagi kemajuan dakwahnya.

Terkadang banyak kejadian dan peristiwa di sekitar kita, namun kita belum sadar kalau ternyata momentumnya dapat kita manfaatkan bagi kemajuan dakwah Islam.

Allahu a'lam.
 

Sudah Shalatkah Anda?