Rabu, 17 Juli 2013

Membaca Tanda Zaman; Dari Afghan, Ke Palestina, Lalu Suriah

Sesuai jadwal, empat belas mahasiswa dari Kabul itu berkumpul. Tekad mereka yang lama dipendam, kini memasuki episode puncaknya. Tak ada kata lain; Rusia dengan komunisnya harus enyah dari Afghanistan.

Entah apa yang ada di pikiran mereka kala itu. Hendak melawan raksasa adidaya tapi tak bermodalkan apa pun.

Uang yang mereka kumpulkan juga tak banyak. Hanya dapat membeli dua buah senapan dan satu bom yang siap dilemparkan.

Hasilnya? Bisa ditebak; kekalahan.

Berita ini kemudian cepat tersebar. Termasuk di telinga DR. Abdullah Azzam. Mengenang semangat mereka, beliau memberi pernyataan menyejukkan, "Mereka telah berlaku shiddiq kepada Allah."

Kejujuran mereka untuk berjihad tak hanya dirongrong di bibir. Namun dibuktikan dalam amal nyata. Meski persiapan dan sumber daya jelas tak ada.

Dan dari sinilah awal mula peperangan bertahun-tahun di bukit dan lembah Afghan. Afghanistan berubah menjadi sekolah jihad. Hasilnya? Rusia harus mengubur kedigdayaannya di bumi tersebut.

Momentum perjuangan jihad di Afghanistan itu benar-benar dimanfaatkan dengan baik oleh Dr. Abdullah Azzam.


Menang atas Rusia adalah keberhasilan. Tetapi sungguh ada kegemilangan lain yang terpendam dari perjuangan ini.

DR. Abdullah Azzam juga mengenalkan hakikat jihad kepada umat Islam di seluruh dunia. Beliau dan para mujahid lainnya berhasil mengubah pandangan kaum Muslim di dunia, bahwa masalah yang dihadapi Afghanistan bukanlah masalah bangsa Afghan atau dunia Arab saja. Tetapi merupakan permasalahan seluruh kaum muslimin di  mana pun mereka berada. Bahkan panggilan "gerilyawan" atau "pemberontak" yang selama ini disematkan kepada para mujhaid perlahan redup. Banyak media yang kini menggunakan kata "Mujahidin Afghan".

Di Indonesia, momentum ini dimanfaatkan pula oleh beberapa da'i untuk menjelaskan makna jihad yang sesungguhnya kepada umat.


Umat tidak lagi hanya meraba-raba ketika berbicara tentang jihad. Mereka dapat melihat bentuk nyata dari makna jihad itu.

Pun perjuangan saudara-saudara kita di Palestina hari ini. Palestina memang belum merdeka secara utuh, tapi ada kemenangan lain yang telah diraih. Isu Palestina kini tak lagi hanya menjadi isu dua ideologi yang sedang mempertaruhkan eksistensinya--meskipun hal ini juga tak dapat dinafikan--tetapi telah menjadi isu kemanusiaan. Israel telah diakui kebiadabannya oleh banyak warga dunia.

Sekarang ini kita dihadapkan lagi pertarungan lain antara Al-Haqq dan Al-Bathil di bumi yang pernah masuk dalam area Syam bersama Palestina; Suriah.


Inilah satu lagi momentum yang dapat dan seharusnya kita manfaatkan sebaik-baiknya.

Momentum untuk menjelaskan kepada umat siapa dan apa Syi'ah itu sebenarnya. Menjelaskan kepada umat garis batas jelas antara Islam dan Syi'ah. Ganti sebutan kaum muslimin yang sedang berjuang di sini dengan sebutan dan panggilan yang baik. Ganti sebutan "Pemberontak Suriah" dengan "Kaum muslimin di Suriah" atau "Mujahidin Suriah".

Tentu ini hanya salah satu di antara hal-hal yang dapat kita manfaatkan dari peperangan di Suriah.

Anggap saja memanfaatkan momentum--atau yang oleh Anis Matta disebut "celah sejarah"--adalah salah satu seni yang mesti dikuasai oleh para da'i.


Ini sangat berguna pula bagi sebuah organisasi dakwah untuk menentukan langkah-langkah yang akan diambil selanjutnya. Bahkan ketika ingin mengambil lompatan-lompatan besar bagi kemajuan dakwahnya.

Terkadang banyak kejadian dan peristiwa di sekitar kita, namun kita belum sadar kalau ternyata momentumnya dapat kita manfaatkan bagi kemajuan dakwah Islam.

Allahu a'lam.
 

Sudah Shalatkah Anda?