Kamis, 05 September 2013

Teladan Doa

twicsy.com
Pernah saya mendapatkan satu materi dari sebuah seminar motivasi. Katanya, berdoa itu harus spesifik, divisualisasikan. Semakin jelas gambaran doa kita, semakin doa itu didengar oleh Allah. Law of attraction; hubungan timbal-balik, katanya.

Kini, mari sejenak kita belajar doa-doa agung dari hamba-hamba plihanNya. Ada Musa dengan "Rabbi, inni lima anzalta ilayya min khairin faqiir." Kisahnya bermula ketika beliau berlari dari Mesir ke Madyan. Di perjalanan ia bertemu 2 putri Syu'aib yang saling menunggu giliran memberi makan ternak. Musa yang perkasa meski dengan tenaga sisa menolong dua gadis itu. Seusainya, ia bernaung di tempat agak teduh. Para Mufassir menyebutkan: Musa begitu lapar dan memerlukan makanan. Maka ia berdoa, "Wahai Rabbku, sungguh aku terhadap yang Kau turunkan padaku dari antara kebaikan; aku amatlah faqir (memerlukan).

Musa tidak menyebut hajatnya dengan jelas: lapar. Musa tak menyebut kebutuhannya yang amat mendesak: makanan. Ia susun kalimat doa yang indah dan santun. Yang Allah abadikan di dalam kitabNya.

Apa yang didapat Musa dari doa yang tidak spesifik dan tervisualisasikan itu?

Bukan hanya makanan, tapi juga perlindungan, bimbingan, bahkan kelak istri dan kerasulan.

Itu pula yang Yunus lantunkan di dalam perut ikan Paus. Kebutuhannya jelas: ia ingin keluar dari perut ikan tersebut. Tapi doa yang diucapkannya terlalu agung hingga menyejarah sampai sekarang. Laa ilaaha illa anta, subhanaka, inni kuntu minadzh dzholimiin; Tiada Ilah sesembahan Haq selain Engkau. Mahasuci Engkau. Sungguh aku termasuk orang yang berbuat aniaya.

Terkait soal "boleh-tidak boleh", ada perbincangan tentang adab berdoa kepada Allah Subahanhu wa Ta'ala. Bukannya melarang doa yang spesifik dan tervisualisasikan, hanya kita sedang bicara adab. Hingga kata Salim A. Fillah, "...khawatir tak mendapati tuntunannya dari insan-insan mulia yang doanya diabadikan dalam Al-Qur'an."

Allohu a'lam.
 

Sudah Shalatkah Anda?