Senin, 27 Oktober 2014

Resensi Buku Letters From Turkey

Judul                     : Letters From Turkey
Penulis                  : Faris BQ
Penerbit                : Salsabila (Pustaka Al-Kautsar Group)
Tebal                    : 417 halaman; 13,5 x 20,5 cm
Cetakan                : I, Desember 2013
No. ISBN             : 978-602-169-5029

Dalam setiap perjalanan, selalu ada tiga hal unik yang menjadi perhatian; manusia, alam, dan tak lupa, kuliner.

“Bertemu manusia, beserta budayanya, meluaskan pikiran dan gagasan. Adapun memandang alam dapat memperhalus budi dan memperhalus jiwa. Sedangkan kuliner, menikmatinya merupakan petualangan yang memperkaya ragam rasa di lidah dan membekas dalam ingatan,” begitu tulis Faris BQ mengawali bukunya ini.

Buku bertajuk “Letters From Turkey” ini betul-betul menyajikan pengalaman-pengalaman penulis selama di Turki melalui pendekatan yang berbeda.

Tak hanya mengumbar keindahan kota Izmir, keanggunan rumah-rumah gunung di Kapakdokya, atau kebekuan Ankara di musim dingin. Kita juga kerap diajak untuk berpikir, merenung, dan memungut hikmah dari setiap episode kehidupan.

Dibagi dalam bab-bab pendek berkisar 3-6 halaman, buku ini memang sepertinya tidak cocok disebut novel. Tak bisa disebut pula sebagai kumpulan cerpen, sebab memang buku ini berisi surat-surat penulis yang dikumpulkan jadi satu.

Surat kepada siapa?

Beberapa surat ditujukan kepada sang istri yang harus rela ditinggalkan bersama sang bayi di Indonesia. Kita dapat membaca kerinduan yang mendalam penulis melalui surat-suratnya, seperti: Nilai Sebuah Pilihan, Malam Terakhir, You Are My Compass, My Map, and My Dictionary, Rindu Berburu Kuliner Bersamamu, dan Wanita Hebat Itu. Bahkan surat berjudul “Wanita Hebat Itu” diakhiri dengan kalimat, “Jika aku bisa berbicara langsung di telingamu malam ini, aku akan berbisik, ‘Hidup ini, Cinta, adalah tentangmu. Tentang bagaimana aku berjuang untuk membahagiakanmu.’”

Selebihnya, bisa dibilang memang ditujukan bagi penyusunan buku ini.

Membaca buku ini, lambat laun kita akan menyadari kepiawaian penulis dalam memetik tiap peristiwa lalu merangkainya menjadi sebuah pelajaran. Hampir tiap surat berisi kisah, lalu hikmah yang bisa kita serap dari kisah tersebut. Seperti kata penulisnya sendiri dalam buku ini melalui surat berjudul Menulis Itu Memetik, “Kata-kata bukan dikeluarkan, sebab menulis sebenarnya bukan menaburkan. Menulis adalah memungut, memetik, dan menangkap dari apa yang telah kita baca, kita rasakan, dan kita lihat.”

Tentang kemampuan kita mendengar, diulas oleh penulis melalui beberapa kisah dalam surat “Latihan Menerima Kritik” dan “Keterampilan Mendengar”. Beliau juga menyodorkan kebudayaan dan kehidupan di Turki lalu mengupasnya menjadi sesuatu yang bernilai, seperti dalam “Inspirasi dari Cara Minum Teh Orang Turki”, “The Power of ‘Apa Kabar?’”, dan “Lima Kesusahan Hidup di Turki”.

Atau mengail pelajaran melalui peristiwa alam dalam “Bahasa Hujan”, “Gempa di Kota Van”, dan “Suasana Hati di Negeri Empat Musim”. Penulis pun juga menghadirkan pengalaman kuliner seperti dalam “Masakan Ibu Versus Masakan Istri” dan “Kuliner Antep yang Maknyus”.


Semua peristiwa dirangkum dan ditulis dalam buku setebal 417 halaman. Dengan bahasa yang ringan dan tidak menggurui, buku ini tetap akan membawa kita berkeliling Turki berkawan pesan-pesan singkat bagi kehidupan.

-Resensi ini juga dimuat di website dakwahsekolahku.com-

Bukan hasil copas, tapi penulis di web itu juga saya, hehe :D

Resensi Buku Kyai Kocak VS Liberal

Judul                : Kyai Kocak Vs Liberal
Penulis             : Abdul Mutaqin

Penerbit           : Salsabila, Pustaka Al-Kautsar Group
Tebal               : 184 halaman; 14 x 21.5 cm
Cetakan           : III, Mei 2014
No. ISBN        : 978-602-98545-0-3

Tapi, kalau diam dan berdoa saja, kayaknya tetap saja bikin kita mangkel bin dongkol. Mau dilawan, nggak punya cukup bekel. Nggak dilawan, bikin hati kesel.

“Terus, gimana Kyai?”

“Ya, jailin aja!”

Itulah secuplik prolog yang mengawali buku menggelitik nan mendidik ini. Pernyataan kontroversial yang kerap diumbar pegiat sepilis (sekularisme, pluralisme, dan liberalisme) memang sering membuat kita gerah. Bahkan tak jarang menjadikan bulu kuduk merinding. Ngeri atas kenekadan mereka mengupas kembali perkara yang telah pasti (tsawabit) dalam Islam.

Tapi siapa sangka? Isu-isu liberalisme yang biasa di-counter secara serius dan akademis, ternyata mudah dipatahkan melalui guyonan.

Terbagi dalam 34 cerita pendek, buku ini mengajak kita untuk melawan logika konyol mereka dengan cita rasa humor.

Bagi pembaca yang pernah menyimak buku Rehat Bersama Kyaik Kocak (RBKK), mungkin sudah tak asing dengan tokoh Kyai Adung. Tokoh fiktif yang digambarkan kocak, jail, cerdas, kolot, dan kampungan ini akan kembali menemani kita. Sebab buku ini merupakan seri ketiga dari RBKK setelah sebelumnya penulis menyusun seri kedua bertajuk RBKK2: Puasa Kompak Lebaran 2 Shift.

Dalam buku ini, Kyai Adung akan berdebat dengan orang-orang yang mengusung paham sepilisnya. Dengan kejailannya, Kyai Adung membantah pemikiran mereka dengan humor yang membuat siapa pun tertawa.

Seperti dalam cerita berjudul “Perkawinan” dan “Surga”. Kyai Adung berceloteh kepada para pendukung pernikahan sesama jenis. Atau dalam cerita “Relatif”, saat Kyai Adung meluncukan senjatanya pada mereka yang menggaungkan relativisme kebenaran.

Ada juga cerita “Kafir Saleh”, ketika Kyai Adung dihadapkan pada mahasiswa yang menegaskan bahwa golongan kafir asal mereka berbuat baik maka dapat pula disebut orang shalih.
Namun, Kyai Adung tak pernah kehabisan ide jahilnya.

Bahkan di cerita “Adzan”, saat seseorang mempermasalahkan adzan yang keras, Kyai Adung berseloroh, “Eh, Mas. Lafazh adzan itu bukan kencang-kencang atau pelan-pelan. Tapi, Allahu Akbar, Allaaahu Akbar. Allaaahu Akbar Allaaahu Akbar. Asyhadu an laa ilaaha illallah… Masa muadzin, adzannya, Kenceeeng…kenceeeng…kenceeennnggg.

Semakin lama membaca buku ini kita semakin tersadar. Bahwa betapa rapuhnya logika yang sering dipakai para pegiat sepilis. Saking rapuhnya, logika konyol mereka dapat dimentahkan lewat humor.
Meski begitu, Kyai Adung beberapa kali juga kerap menjawab argumen mereka dengan jawaban yang ilmiah. Dan baru melancarkan celotehnya saat keadaan sudah mentok. Yaitu ketika lawan bicaranya sudah ngeyel stadium akut menolak segala dalil dan penjelasan ilmiah dari Kyai Adung.

Seperti pada cerita berjudul “Fabel”. Yang mengisahkan perdebatan antara Unta dan Babi. Babi mengejek Unta karena hanya hidup di Arab (hewan lokal) dan sering disembelih untuk dijadikan kurban. Sementara Babi adalah hewan universal dan semua orang menyukainya. Namun, Unta berhasil mematahkan dan melawan balik argumen Babi. Bahkan berani menunjukkan kesalahan dalam Injil zaman sekarang yang banyak mengubah ayat tentang pengharaman Babi. Penasaran?

Tak lupa pula, penulis menyisipkan salinan fatwa MUI tentang sepilis pada bagian akhir. Ini semakin menegaskan pada kita betapa bahayanya pemikiran ini. Dan setiap Muslim seakan wajib berlindung dan melindungi Muslim lain dari pemikiran-pemikiran tersebut.

Dikemas dengan bahasa yang renyah, buku ini sayang dilewatkan oleh setiap Muslim yang masih lurus nuraninya. Bahkan tak jarang kita menemukan kata-kata yang mesti dicetak miring. Kadang sebab kata itu merupakan bahasa gaul yang tak terdapat di KBBI. Atau kadang kata bahasa asing (bahasa Inggris, bahasa Jawa, dll) yang memaksa diterjemahkan melalui catatan kaki.

Tapi selayak genre komedi umumnya, selera humor tiap orang tentu berbeda. Mungkin dalam beberapa cerita, bagi pembaca tak ada kelucuan yang didapat.

Beberapa kali juga sebetulnya Kyai Adung tidak mematahkan sepenuhnya logika konyol kaum sepilis. Tentu memang tak cukup bagi kita meng-counter pemikiran mereka lewat logika semata. Sebab logika apa pun dapat dimentahkan. Sementara nash Qur’an dan Sunnah tak mungkin terbantahkan.


Penting bagi setiap Muslim memperdalam pengetahuan agamanya melalui guru yang tepat. Semoga langkah penulis melawan pemikiran sepilis berbuah kesadaran dan semangat kita untuk terus menimba ilmu agama kita sendiri.

-Resensi ini juga dimuat di website dakwahsekolahku.com-

Bukan hasil copas, tapi penulis di web itu juga saya, hehe :D

Jumat, 24 Oktober 2014

Siapa Bilang Cowok, Ikhwan Lagi!

Subhanallah, beberapa rekan bercerita kepada saya tentang gejolak cinta yang melanda kalangan yang dalam pandangan umum berpredikat anak alim. Ikhwan (sebutan untuk putra) dan akhwat (sebutan untuk putri) istilahnya.

Kalau ikhwan jatuh cinta, begitu kata mereka, sebabnya mungkin lebih berkelas. Bukan lagi hawa nafsu yang menjurus seks atau romantis-romantisan semata, meski kadang itu juga muncul. Tetapi iannya seringkali berhulukan simpati atas keshalihan, kemuliaan akhlaq, dan kesamaan visi dalam dakwah.

Dilemanya kemudian, bahwa ia sudah mengerti batasan batasan yang diberikan Allah dan RosulNya. Tetapi tetap saja ketertarikan itu menggantungkan keinginan untuk memberi perhatian, sekedar memahami, atau bahkan berusaha memberikan protect agar sidia tetap dalam keshalihan. Setahu saya, ada juga yang sampai titip pada saudara-saudaranya dijalan Allah agar sidia dijaga, diperhatikan, dan dinasihati agar tetap istiqamah dalam dakwah.

Wah?

Apa yang terjadi di sepanjang perjalanan hari? Kalau tidak bertemu, rasanya ada sesuatu yang hilang dan harus segera dicari. Ada kekhawatiran berlebihan, ada keinginan kuat untuk bersua jumpa, atau sekedar tahu kondisi. Tapi setelah bertemu, berpandang, berbincang, atau sekedar meng-SMS akan muncul rasa bersalah, gelisah, takut membuat Allah murka, dan menyesal..... (Aneh ya?)

Saya jadi bertanya, kok tidak dicoba untuk menutup semua pintu yang bisa memberi banyak ruang bertemu. Tapi ternyata terjawab bahwa banyak yang harus menjadi pertimbangan. Tidak seperti para ‘cowok’ yang tak perlu pikir panjang secara dewasa sambung dan putus. Para ikhwan itu harus banyak mempertimbangkan untuk sekedar membatasi interaksi. Misalnya jangan sampai putus silaturahim, putus ukhuwah, atau setidaknya muncul kesan seperti itu. Oo , begitu. Padahal kalau interaksinya seperti biasa, sulit sekali untuk menjadi ‘tetap seperti biasa’.

Ada juga yang justru salah tingkah kalau bertemu, gemeteran, kelur keringat dingin dan tak bisa bicara dengan mencukupi. Tipe ini juga dilematis, lebih banyak menghindar namun mengundang tanda tanya. Yang terjadi kadang komunikasi tidak sehat, banyak kesalah-pahaman, dan bisa jadi menggangu kinerja dakwah jika melibatkan sebuah tim kerja atau organisasi.

Jadi bagaimana?

Lebih lanjut, dua ikhwan narasumber kita bercerita pada saya bahwa para ikhwan tetap saja mudah tergoda oleh tampilan fisik. Tentu tampilan fisik yang menunjukan keshalihan. Hebatnya, mereka kadang berfikir jauh kedepan soal visi pernikahan membangun peradaban. Mereka merasa harus segera menyiapkan segalanya : ilmu, jiwa, jasad, dan finansial. Tentu bagus. Tapi kalau semua persiapan sampai pun belajar untuk SPMB dikaitkan dengan sebuah nama? Saya kira ada kesalah penempatan.

Kalau akhwat? Bicara soal Geer-Geeran agaknya mereka juga sering mengalami. Naluri mendapatkan perhatian kadang menarik perasaan untuk mencoba sejauh apa pandangan seorang ikhwan terhadap masalahnya. Tanpa sadar, kadang ada penilaian, pembandingan, lalu kecenderungan. Hebatnya, -ini kata narasumber-, akhwat lebih easy going soal visi pernikahan. Ya, mereka memang tak perlu terlalu jauh berpikir tentang dimana tinggal atau bagaimana soal nafkah.

Kata narasumber lagi, akhwat lebih tahan guncangan-guncangan kecil (maksudnya godaan berbentuk ikhwan), cuek seolah tak tahu. Tetapi kalau guncangannya dahsyat, sekali collaps, untuk bangun lagi tidak gampang lho.

Kita mencatat rentannya ketertarikan terhadap keshalihan dalam diri ikhwan dan akhwat ini. Wajar saja. Tetapi kalau sudah sampai tingkat merusak niat, konsentrasi ibadah, atau sampai tak ada bedanya dengan pacarannya para cowok-cewek, artinya ada yang harus diluruskan.

Apabila kamu merasa kagum dengan seorang wanita, ingatlah kejelekan-kejelekannya!
(Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘Anhu).

Ucapan mulia ini tak layak dinodai suuzhzhan kita. Bukan tajassus (mencari-cari aib) yang dimaksud. Tetapi lebih kepada pengembalian objektivitas yang manusiawi. Juga untuk memeutuskan salah satu rantai tazyin (menghias-hias) yang dilakukan syaithan : yang buruk tampak baik, yang busuk tercium wangi, yang nista terdengar mulia.

Apabila kamu merasa kagum dengan seorang wanita, ingatlah kejelekan-kejelekannya!

Bukan orangnya yang kemudian harus kita sikapi sebagai orang yang banyak kekurangan. Tetapi lebih agar interaksi yang kita lakukan benar-benar proporsional. Bukan sebuah interaksi yang rasanya bagus, saling memberi nasihat dan tausiyah satu sama lain, saling memberi hadiah buku penyucian hati, kaset nasyid, dan murattal, tetapi ternyata justru merusak hati. Bukan, bukan itu yang kita inginkan.

Kita sering berkata, cinta kita karena Allah semata. Buktinya, yang kita lakukan adalah saling menasehati dalam keshalihan. Tetapi tanpa ikatan apapun, kita memberi perhatian khusus pada sebuah nama. Tidakkah kita berpikir bahwa yang harus dicintai karena Allah banyak jumlahnya? Tak hanya dia, tapi keadilan yang melekati cinta menuntut perhatian besar kita pada masalah-masalah besar ummat ini. Juga perhatian dan perlakuan yang sama terhadap semua akhwat misalnya. Pengkhususan adalah pemfokusan jaring pesona yang berbahaya. Begitulah saya kira...,

“mintalah fatwa kepada hatimu. Kebaikan itu adalah apa-apa yang tenteram jiwa padanya, dan tenteram pula dalam hati. Dan dosa itu adalah apa-apa yang syak dalam jiwa, dan ragu-ragu dalam hati, meski orang-orang memberikan fatwa kepadamu dan mereka membenarkannya.” (H.r. Muslim)

Kepada akhi evan dan akhi egha yang telah menjadi narasumber tulisan ini, jazakumullahu khairan..’afwan yang kalau ada yang salah, saya kan tidak se-berpengalaman antum berdua he he he...


-Tertuang dalam buku Nikmatnya Pacaran Setelah Pernikahan karya Salim A. Fillah-

Bukan Empunya, Tapi Apa Jawabnya

“Maaf, ya, rumahnya kecil,” kata pemuda itu pada istrinya sebakda pernikahan. “Kontrakan pula.” Dia berusaha tersenyum meski ada yang terasa membebani.

“Tak apa,” ujar sang istri dengan wajah ridha lagi bahagia. Senyumnya mengembang sempurna. “Jangan terlalu dipikirkan,” lanjutnya, “yang sempit akan terasa luas asalkan hati kita juga lapang.”

Hati lelaki muda itu tiba-tiba seperti disergap sejuk embun pegunungan. Tapi tetap dijajakinya pemahaman istrinya. “Bagaimana jika nantinya kita harus mengontrak seumur hidup karena aku tak sanggup membeli rumah untuk kita?”

Istrinya tersenyum lagi. “Tidak apa-apa Sayang,” ujarnya kini dengan nada bermanja. “Punya rumah itu tidak wajib. Tak memilikinya bukan berarti dosa. Kalau shalat baru wajib. Tidak shalat barulah dosa.” Sang istri tertawa kecil, memperlihatkan betapa manis gigi gingsulnya.

Lelaki itu terhenyak makin kagum pada wanita yang sebenarnya belum terlalu dikenalnya. Hanya dua atau tiga pertemuan di rumah seorang ustadz. Tanya jawab yang singkat tapi bermaknalah yang membuat mereka memutuskan menikah. “Memangnya kamu tidak ingin punya rumah, Sayang?” tanyanya dengan nada berdebar.

“Ingin sekali, amat sangat ingin,” sahut sang istri, “yang besar, megah, mewah, dan berada di tengah taman yang sanagt indah.”

“Wah,” timpal suaminya, “dengan keadaaan sekarang, aku tidak tahu apakah sampai akhir hidupku aku akan mampu membelikannya untukmu.”

“Tenang saja, Sayang,” kata istrinya dengan riang, “cukup bagi kita punya rumah di surga. Yang di dunia, kita nikmati saja apa yang ada.”

Maka berjalanlah hidup pasangan muda itu dengan keterbatasan yang disabari dan nikmat-nikmat tak terduga yang disyukuri. Tiga sore dalam sepekan, rumah sewaan mereka ramai oleh anak-anak yang belajar mengaji Al-Qur’an. Gema mereka mengeja huruf-huruf hijaiyyah menggetarkan dinding-dindingnya. Gemuruh tilawah mereka menjadi senandung yang syahdu.

Tapi juga tingkah polah mereka beraneka. Gedebag-gedebugnya rebut. Hingar-bingarnya gempar. Riuh-rendahnya semarak. Dan suatu hari, dengan pensil warna, crayon, dan spidol, mereka menggambar dan melukisi tembok-tembok ruang tamu rumah bersahaja itu dengan sangat seru. Coret-moret jadinya. Dan atas ketetapan Allah, saat mereka asyik menuangkan karya abstraknya, datanglah sang pemilik rumah yang lantas marah-marah.

Tentu saja, dia merasa bahwa milik yang dia amanahkan sebagai sewaan, telah dikotori dan dibuat berantakan oleh anak-anak pengajian. Sebagian anak itu takut dan menangis. Sebagian yang lain lari dan berolok-olok. Tapi jelas, majelis pengajian sore itu kacau acaranya.

Petang itu, di pundak suaminya, sang istri menangis. “Kasihan anak-anak itu,” ujarnya di sela isak, “bagaimana kalau mereka takut dan tak berani mengaji lagi? Beliau berlebihan, bukan? Kalau hanya dinding dicorat-coreti, bukankah kapan waktu bisa dicat lagi?”

Diam-diam, di dalam hatinya, sang suami merintih pada Rabbnya. “Ya Allah,” lirihnya, “jika memiliki rumah itu baik, Ya Allah; agar anak-anak yang mengaji ini jika berekspresi mencorat-coret tembok kami tak perlu ada yang memarahi; maka kami tak keberatan jika Kau anugerahkan tempat tinggal yang mencukupi sebagai milik kami.”

Dan mudah bagi Allah Yang Maha Pemberi kaya mewujudkan permohonan. Mungkin bukan bersebab kedua suami-istri itu telah menyiapkan jawab jika ditanya untuk apa rumah yang mereka pinta. Tapi ini karunia Allah, yang dengan jawaban itu insya Allah akan bertambah ringan hisab atasnya di akhirat nanti. Sebulan kemudian, dengan cara yang sangat menakjubkan, Allah anugerahkan mereka sebuah rumah yang melampaui semua bayangan mereka dalam letak, ukuran, maupun kemudahan pembayarannya.

Mereka pun, bersama anak tercinta, masih santai saja mengendarai sepeda motor ke mana-mana. Sampai orang-orang menegur, andai sepeda motor itu bisa bicara, pastilah ia berteriak mengungkapkan derita. Sebab penumpangnya yang berat-berat, betapa membebaninya. Tapi setiap kali handai dan rekan menggoda agar mereka menggantinya dengan mobil saja, sang istri berkata pada suaminya, “Mana bisa mobil membuat kami semesra boncengan berdua?”

Hingga suatu hari sang istri menangis lagi. Sebab dia melihat seorang ibu tetangga dekat yang sudah harus cuci darah akibat penyakit gagal ginjal, berangkat ke rumah sakit dibonceng suaminya yang sudah berumur pula. Hujan turun deras, dan mereka tampak sangat kepayahan dalam basah dan dingin yang menusuk.

“Ya Allah, kasihan mereka,” begitu gumam wanita di sisinya yang membuat sang suami kembali melirihkan doa. “Ya Allah,” batinnya, “jika memiliki mobil itu baik; bisa digunakan mengantar tetangga cuci darah rutin tanpa kehujanan, maka kami tidak keberatan dikaruniai mobil, ya Allah.”

Dan mudah bagi Allah Yang Maha Pemberi kaya mewujudkan permohonan. Mungkin bukan bersebab kedua suami-istri itu telah menyiapkan jawab jika ditanya untuk apa rumah yang mereka pinta. Tapi ini karunia Allah, yang dengan jawaban itu insya Allah akan bertambah ringan hisab atasnya di akhirat nanti. Lagi-lagi sebulan kemudian, dengan cara yang sangat menakjubkan, Allah anugerahkan mereka sebuah mobil yang melampaui semua bayangan mereka dalam merek, model, umur, kenyamanan, maupun kemudahan pembayarannya.

Barangkali, menyiapkan jawaban bukan hanya memudahkan hisab di akhirat, melainkan juga mendekatkan istijabah di dunia. Kita lalu belajar bahwa di lapis-lapis keberkahan, menyiapkan jawaban lebih penting dari segala yang kita punya maupun kita angankan.

-Tersadur dari buku Lapis-Lapis Keberkahan karya Salim A. Fillah-

Mencintai Penanda Dosa

Kisahnya dimulai dengan cerita indah di semester akhir kuliah. Dia Muslimah yang taat, aktivis dakwah yang tangguh, akhwat yang jadi teladan di kampus, dan penuh dengan prestasi yang menyemangati rekan-rekan. Kesyukurannya makin lengkap tatkala prosesnya untuk menikah lancar dan mudah. Dia tinggal menghitung hari. Detik demi detik serasa menyusupkan bahagia di napasnya.

Ikhwan itu, sang calon suami, seorang lelaki yang mungkin jadi dambaan semua sebayanya. Dia berasal dari keluarga tokoh terpandang kaya raya, tapi jelas tak manja. Dikenal juga sebagai "pembesar" di kalangan para aktivis, usaha yang dirintisnya sendiri sejak kuliah telah mengentas banyak kawan; sungguh membanggakan.

Awal-awal, si Muslimah yang berasal dari keluarga biasa, seadanya dan bersahaja itu tak percaya diri. Tetapi niat baik dari masing-masing pihak mengatasi semuanya.

Hari akad dan walimah itu tinggal tujuh hari menjelang, ketika sang ikhwan dengan mobil barunya datang kerumah yang dikontraknya bersama akhwat-akhwat lain. Sang muslimah agak terkejut ketika si calon suami tampak sendiri.

Ya, hari itu mereka berencana meninjau rumah calon tempat tinggal yang akan mereka surgakan bersama. Angkahnya, ibunda si lelaki dan adik perempuannya akan beserta agar batas syariat tetap terjaga.

"Afwan ukhti, ibu dan adik tidak jadi ikut karena mendadak uwak masuk ICU tersebab serangan jantung," ujar ikhwan berpenampilan eksekutif muda itu dengan wajah sesal dan merasa bersalah. "Afwan juga, adakah beberapa akhwat teman Anti yang bisa mendampingi agar rencana hari ini tetap berjalan?".

"Sayangnya tidak ada. Afwan, semua sedang ada acara dan keperluan lain. Bisakah ditunda?".

"Masalahnya besok saya harus berangkat keluar kota untuk beberapa hari. Sepertinya tak ada waktu lagi. Bagaimana?"

Akhirnya dengan memaksa dan membujuk, salah seorang kawan kontrakan sang Ukhti berkenan menemani mereka. Tetapi bi-idzniLlah, di tengah jalan sang teman ditelepon rekan lain untuk suatu keperluan yang katanya gawat dan darurat. “Saya menyesal membiarkannya turun di tengah perjalanan”, kata muslimah itu pada saya dengan sedikit isak. “Meskipun kami jaga sebaik-baiknya dengan duduk beda baris, dia di depan dan saya di belakang, saya insyaf, itu awal semua petakanya. Kami terlalu memudah-mudahkan. AstaghfiruLlah.”

Ringkas cerita, mereka akhirnya harus berdua saja meninjau rumah baru tempat kelak surga cinta itu akan dibangun. Rumah itu tak besar. Tapi asri dan nyaman. Tidak megah. Tapi anggun dan teduh.

Saat sang muslimah pamit ke kamar mandi untuk hajatnya, dengan bantuan seekor kecoa yang membuatnya berteriak ketakutan, syaithan bekerja dengan kelihaian menakjubkan. “Di rumah yang seharusnya kami bangun surga dalam ridhaNya, kami jatuh terjerembab ke neraka. Kami melakukan dosa besar terlaknat itu”, dia tersedu. Saya tak tega memandang dia dan sang ibunda yang menggugu. Saya alihkan mata saya pada adik lelakinya di sebalik pintu. Dia tampak menimang seorang anak perempuan kecil.

“Kisahnya tak berhenti sampai di situ”, lanjutnya setelah agak tenang. “Pulang dari sana kami berada dalam gejolak rasa yang sungguh menyiksa. Kami marah. Marah pada diri kami. Marah pada adik dan ibu. Marah pada kawan yang memaksa turun di jalan. Marah pada kecoa itu. Kami kalut. Kami sedih. Merasa kotor. Merasa jijik. Saya terus menangis di jok belakang. Dia menyetir dengan galau. Sesal itu menyakitkan sekali. Kami kacau. Kami merasa hancur.”

Dan kecelakaan itupun terjadi. Mobil mereka menghantam truk pengangkut kayu di tikungan. Tepat sepekan sebelum pernikahan.

“Setelah hampir empat bulan koma”, sambungnya, “Akhirnya saya sadar. Pemulihan yang sungguh memakan waktu itu diperberat oleh kabar yang awalnya saya bingung harus mengucap apa. Saya hamil. Saya mengandung. Perzinaan terdosa itu membuahkan karunia.” Saya takjub pada pilihan katanya. Dia menyebutnya “karunia”. Sungguh tak mudah untuk mengucap itu bagi orang yang terluka oleh dosa.

“Yang lebih membuat saya merasa langit runtuh dan bumi menghimpit adalah”, katanya terisak lagi, “Ternyata calon suami saya, ayah dari anak saya, meninggal di tempat dalam kecelakaan itu.”

“SubhanaLlah”, saya memekik pelan dengan hati menjerit. Saya pandangi gadis kecil yang kini digendong oleh sang paman itu. Engkaulah rupanya Nak, penanda dosa yang harus dicintai itu. Engkaulah rupanya Nak, karunia yang menyertai kekhilafan orangtuamu. Engkaulah rupanya Nak, ujian yang datang setelah ujian. Seperti perut ikan yang menelan Yunus setelah dia tak sabar menyeru kaumnya.

“Doakan saya kuat Ustadz”, ujarnya. Tiba-tiba, panggilan “Ustadz” itu terasa menyengat saya. Sergapan rasa tak pantas serasa melumuri seluruh tubuh. Bagaimana saya akan berkata-kata di hadapan seorang yang begitu tegar menanggung semua derita, bahkan ketika keluarga almarhum calon suaminya mencampakkannya begitu rupa. Saya masih bingung alangkah teganya mereka, keluarga yang konon kaya dan terhormat itu, mengatakan, “Bagaimana kami bisa percaya bahwa itu cucu kami dan bukan hasil ketaksenonohanmu dengan pria lain yang membuat putra kami tersayang meninggal karena frustrasi?”

“Doakan saya Ustadz”, kembali dia menyentak. “Semoga keteguhan dan kesabaran saya atas ujian ini tak berubah menjadi kekerasan hati dan tak tahu malu. Dan semoga sesal dan taubat ini tak menghalangi saya dari mencintai anak itu sepenuh hati.” Aduhai, surga masih jauh. Bahkan pinta doanya pun menakjubkan.

Allah, sayangilah jiwa-jiwa pendosa yang memperbaiki diri dengan sepenuh hati. Allah, jadikan wanita ini semulia Maryam. Cuci dia dari dosa-dosa masa lalu dengan kesabarannya meniti hari-hari bersama sang buah hati. Allah, balasi tiap kegigihannya mencintai penanda dosa dengan kemuliaan di sisiMu dan di sisi orang-orang beriman. Allah, sebab ayahnya telah Kau panggil, kami titipkan anak manis dan shalihah ini ke dalam pengasuhanMu nan Maha Rahman dan Rahim.

Allah, jangan pula izinkan hati kami sesedikit apapun menghina jiwa-jiwa pendosa. Sebab ada kata-kata Imam Ahmad ibn Hanbal dalam Kitab Az Zuhd yang selalu menginsyafkan kami. “Sejak dulu kami menyepakati”, tulis beliau, “Bahwa jika seseorang menghina saudara mukminnya atas suatu dosa, dia takkan mati sampai Allah mengujinya dengan dosa yang semisal dengannya.”


-Terpotret dari buku Menyimak Kicau Merajut Makna karya Salim A. Fillah-

Kekuatan Bening

Bukan kita yang memilih takdir
Takdirlah yang memilih kita
Bagaimanapun, takdir bagai angin bagi seorang pemanah
Kita selalu harus mencoba untuk membidik dan melesatkannya
Di saat yang paling tepat

-Shalahuddin Al Ayyubi-

Obsesi tujuh abad itu begitu bergemuruh di dada seorang Sultan muda, baru 23 tahun usianya. Tak sebagaimana lazimnya, obsesi itu bukan mengeruhkan, melainkan semakin membeningkan hati dan jiwanya. Ia tahu, hanya seorang yang paling bertaqwa yang layak mendapatkannya. Ia tahu, hanya sebaik-baik pasukan yang layak mendampinginya.

Maka di sepertiga malam terakhir menjelang penyerbuan bersejarah itu ia berdiri di atas mimbar, dan meminta semua pasukannya berdiri. "Saudara-saudaraku di jalan Allah", ujarnya, "Amanah yang dipikulkan ke pundak kita menuntut hanya yang terbaik yang layak mendapatkannya. Tujuh ratus tahun lamanya nubuat Rasulullah telah menggerakkan para mujahid tangguh, tetapi Allah belum mengizinkan mereka memenuhinya. Aku katakan pada kalian sekarang, yang pernah meninggalkan shalat fardhu sejak balighnya, silakan duduk!"

Begitu sunyi. Tak seorang pun bergerak.

"Yang pernah meninggalkan puasa Ramadhan, silakan duduk!"

Andai sebutir keringat jatuh ketika itu, pasti terdengar. Hening sekali, tak satu pun bergerak.

"Yang pernah mengkhatamkan Al Qur'an melebihi sebulan, silakan duduk!"

Kali ini, beberapa gelintir orang perlahan menekuk kakinya. Berlutut berlinang air mata.

"Yang pernah kehilangan hafalan Al Qur'an-nya, silakan duduk!"

Tinggal sedikit yang masih berdiri, dengan wajah yang sangat tegang, dada berdegub kencang, dan tubuh menggeletar

"Yang pernah meninggalkan puasa Ayyamul Bidh, silakan duduk!"

Kali ini semua terduduk lemas. Hanya satu orang yang masih berdiri. Dia, sang sultan sendiri. Namanya Muhammad Al Fatih. Dan obsesi tujuh abad itu adalah Konstantinopel.

-Terekam dalam buku Jalan Cinta Para Pejuang karya Salim A. Fillah-

Romantisme Pembeli Pecel Lele

Suatu hari mungkin kita menyaksikan seorang lelaki, ikut antri di warung pecel lele di daerah Monjali (Monumen Jogja Kembali).

Mendung bergantung sore itu, dan warna hitam yang menyeruak di barat mlai mendekat. Dia, berkaos putih yang lehernya mulai geripis, di kepalanya ada pecis putih kecil, dan celananya beberapa senti di atas mata kaki. Sandal jepit swallow yang talinya hampir putus nyangkut di antara jempol dan jari kakinya. Seperti yang lain ia juga memesan, ''Pecel Lele Mas!''

''Berapa?'' tanya Mas penjual yang asyik menguleg sambal terasi sambil sesekali meraih sothil besar untuk membalik gorengan lele di wajan raksasa. Gemuruh bunyi kompor mengharuskan orang bicara sedikit keras.

''Satu. Dibungkus...'' Perlahan tangannya merogoh saku celana, lalu duduk sembari menghitung uangnya. Malu-malu, tangannya dijorokkan sedikit ke bawah meja. Uang pecahan ratusan yang sudah disatukan dengan selotip bening per sepuluh keping, pas jumlahnya sesuai harga.

"Nggak makan sini aja Mas?? Takut keburu hujan ya?''

''hi hi, buat istri...''

''Oowh...''

Selesai pesanannya dibungkus, bersamaan dengan bunyi keritik yang mulai menggambar titik-titik basah di tenda terpal milik Mas Pecel Lele. Agak berlari ia keluar, tapi melebatnya sang hujan jauh lebih cepat dari tapak-tapak kecilnya.

Khawatir pecel lele untuk istri tercinta yang hanya dibungkus kertas akan berkuah, ia selipkan masuk ke perutnya. Bungkusan itu ia rengkuh erat dengan tangan kanan, tersembunyi di balik kaos putih yang mulai transparan disapu air. Tangan kirinya ke atas, mencoba melindungi kepalanya dari terpaan ganas hujan yang tercurah memukul-mukul. Saat itu ia sadar, ia ambil pecinya. Ia pakai juga untuk melapisi bungkusan pecel lele.huff, lumayan aman sekarang.

Tapi 3 kilometer bukan jarak yang dekat untuk berjalan di tengah hujan bukan??

Apa perasaan Anda melihat lelaki ini? Kasihan. Iba. Miris. Sedih.

Itukan Anda!

Coba tanyakan pada lelaki itu, kalau Anda bertemu. Oh, sungguh berbeda. Betapa berbunga hatinya. Dadanya dipenuhi heroisme sebagai suami baru yang penuh perjuangan untuk membelikan penyambung hayat istri tercinta.

Jiwanya dipenuhi getaran kebanggaan, keharuan dan kegembiraan. Kebahagiaan seolah tak terbatas, menyelam begitu dalam di kebeningan matanya. Ia membayangkan senyum yang menantinya, bagai bayangan surga yang terus terhidupkan yang terus terhidupkan dirumah petak kontrakannya.

Di tengah cipratan air dari mobil dan bus kota yang bersicepat, juga sandalnya yang putus lalu hilang ditelan lumpur becek, ia akan tersenyum. Senyum termanis yang di saksikan jagad. Seingatnya, ia belum pernah tersenyum semanis itu saat ia membujang,..

Subhaanallaah..


Siapakah pria ini? Pembaca ada yang tahu? :D

-Tercuplik dari buku Barakallahu Laka; Bahagianya Merayakan Cinta karya Salim A. Fillah-
 

Sudah Shalatkah Anda?