Jumat, 24 Oktober 2014

Bukan Empunya, Tapi Apa Jawabnya

“Maaf, ya, rumahnya kecil,” kata pemuda itu pada istrinya sebakda pernikahan. “Kontrakan pula.” Dia berusaha tersenyum meski ada yang terasa membebani.

“Tak apa,” ujar sang istri dengan wajah ridha lagi bahagia. Senyumnya mengembang sempurna. “Jangan terlalu dipikirkan,” lanjutnya, “yang sempit akan terasa luas asalkan hati kita juga lapang.”

Hati lelaki muda itu tiba-tiba seperti disergap sejuk embun pegunungan. Tapi tetap dijajakinya pemahaman istrinya. “Bagaimana jika nantinya kita harus mengontrak seumur hidup karena aku tak sanggup membeli rumah untuk kita?”

Istrinya tersenyum lagi. “Tidak apa-apa Sayang,” ujarnya kini dengan nada bermanja. “Punya rumah itu tidak wajib. Tak memilikinya bukan berarti dosa. Kalau shalat baru wajib. Tidak shalat barulah dosa.” Sang istri tertawa kecil, memperlihatkan betapa manis gigi gingsulnya.

Lelaki itu terhenyak makin kagum pada wanita yang sebenarnya belum terlalu dikenalnya. Hanya dua atau tiga pertemuan di rumah seorang ustadz. Tanya jawab yang singkat tapi bermaknalah yang membuat mereka memutuskan menikah. “Memangnya kamu tidak ingin punya rumah, Sayang?” tanyanya dengan nada berdebar.

“Ingin sekali, amat sangat ingin,” sahut sang istri, “yang besar, megah, mewah, dan berada di tengah taman yang sanagt indah.”

“Wah,” timpal suaminya, “dengan keadaaan sekarang, aku tidak tahu apakah sampai akhir hidupku aku akan mampu membelikannya untukmu.”

“Tenang saja, Sayang,” kata istrinya dengan riang, “cukup bagi kita punya rumah di surga. Yang di dunia, kita nikmati saja apa yang ada.”

Maka berjalanlah hidup pasangan muda itu dengan keterbatasan yang disabari dan nikmat-nikmat tak terduga yang disyukuri. Tiga sore dalam sepekan, rumah sewaan mereka ramai oleh anak-anak yang belajar mengaji Al-Qur’an. Gema mereka mengeja huruf-huruf hijaiyyah menggetarkan dinding-dindingnya. Gemuruh tilawah mereka menjadi senandung yang syahdu.

Tapi juga tingkah polah mereka beraneka. Gedebag-gedebugnya rebut. Hingar-bingarnya gempar. Riuh-rendahnya semarak. Dan suatu hari, dengan pensil warna, crayon, dan spidol, mereka menggambar dan melukisi tembok-tembok ruang tamu rumah bersahaja itu dengan sangat seru. Coret-moret jadinya. Dan atas ketetapan Allah, saat mereka asyik menuangkan karya abstraknya, datanglah sang pemilik rumah yang lantas marah-marah.

Tentu saja, dia merasa bahwa milik yang dia amanahkan sebagai sewaan, telah dikotori dan dibuat berantakan oleh anak-anak pengajian. Sebagian anak itu takut dan menangis. Sebagian yang lain lari dan berolok-olok. Tapi jelas, majelis pengajian sore itu kacau acaranya.

Petang itu, di pundak suaminya, sang istri menangis. “Kasihan anak-anak itu,” ujarnya di sela isak, “bagaimana kalau mereka takut dan tak berani mengaji lagi? Beliau berlebihan, bukan? Kalau hanya dinding dicorat-coreti, bukankah kapan waktu bisa dicat lagi?”

Diam-diam, di dalam hatinya, sang suami merintih pada Rabbnya. “Ya Allah,” lirihnya, “jika memiliki rumah itu baik, Ya Allah; agar anak-anak yang mengaji ini jika berekspresi mencorat-coret tembok kami tak perlu ada yang memarahi; maka kami tak keberatan jika Kau anugerahkan tempat tinggal yang mencukupi sebagai milik kami.”

Dan mudah bagi Allah Yang Maha Pemberi kaya mewujudkan permohonan. Mungkin bukan bersebab kedua suami-istri itu telah menyiapkan jawab jika ditanya untuk apa rumah yang mereka pinta. Tapi ini karunia Allah, yang dengan jawaban itu insya Allah akan bertambah ringan hisab atasnya di akhirat nanti. Sebulan kemudian, dengan cara yang sangat menakjubkan, Allah anugerahkan mereka sebuah rumah yang melampaui semua bayangan mereka dalam letak, ukuran, maupun kemudahan pembayarannya.

Mereka pun, bersama anak tercinta, masih santai saja mengendarai sepeda motor ke mana-mana. Sampai orang-orang menegur, andai sepeda motor itu bisa bicara, pastilah ia berteriak mengungkapkan derita. Sebab penumpangnya yang berat-berat, betapa membebaninya. Tapi setiap kali handai dan rekan menggoda agar mereka menggantinya dengan mobil saja, sang istri berkata pada suaminya, “Mana bisa mobil membuat kami semesra boncengan berdua?”

Hingga suatu hari sang istri menangis lagi. Sebab dia melihat seorang ibu tetangga dekat yang sudah harus cuci darah akibat penyakit gagal ginjal, berangkat ke rumah sakit dibonceng suaminya yang sudah berumur pula. Hujan turun deras, dan mereka tampak sangat kepayahan dalam basah dan dingin yang menusuk.

“Ya Allah, kasihan mereka,” begitu gumam wanita di sisinya yang membuat sang suami kembali melirihkan doa. “Ya Allah,” batinnya, “jika memiliki mobil itu baik; bisa digunakan mengantar tetangga cuci darah rutin tanpa kehujanan, maka kami tidak keberatan dikaruniai mobil, ya Allah.”

Dan mudah bagi Allah Yang Maha Pemberi kaya mewujudkan permohonan. Mungkin bukan bersebab kedua suami-istri itu telah menyiapkan jawab jika ditanya untuk apa rumah yang mereka pinta. Tapi ini karunia Allah, yang dengan jawaban itu insya Allah akan bertambah ringan hisab atasnya di akhirat nanti. Lagi-lagi sebulan kemudian, dengan cara yang sangat menakjubkan, Allah anugerahkan mereka sebuah mobil yang melampaui semua bayangan mereka dalam merek, model, umur, kenyamanan, maupun kemudahan pembayarannya.

Barangkali, menyiapkan jawaban bukan hanya memudahkan hisab di akhirat, melainkan juga mendekatkan istijabah di dunia. Kita lalu belajar bahwa di lapis-lapis keberkahan, menyiapkan jawaban lebih penting dari segala yang kita punya maupun kita angankan.

-Tersadur dari buku Lapis-Lapis Keberkahan karya Salim A. Fillah-
 

Sudah Shalatkah Anda?