Senin, 27 Oktober 2014

Resensi Buku Kyai Kocak VS Liberal

Judul                : Kyai Kocak Vs Liberal
Penulis             : Abdul Mutaqin

Penerbit           : Salsabila, Pustaka Al-Kautsar Group
Tebal               : 184 halaman; 14 x 21.5 cm
Cetakan           : III, Mei 2014
No. ISBN        : 978-602-98545-0-3

Tapi, kalau diam dan berdoa saja, kayaknya tetap saja bikin kita mangkel bin dongkol. Mau dilawan, nggak punya cukup bekel. Nggak dilawan, bikin hati kesel.

“Terus, gimana Kyai?”

“Ya, jailin aja!”

Itulah secuplik prolog yang mengawali buku menggelitik nan mendidik ini. Pernyataan kontroversial yang kerap diumbar pegiat sepilis (sekularisme, pluralisme, dan liberalisme) memang sering membuat kita gerah. Bahkan tak jarang menjadikan bulu kuduk merinding. Ngeri atas kenekadan mereka mengupas kembali perkara yang telah pasti (tsawabit) dalam Islam.

Tapi siapa sangka? Isu-isu liberalisme yang biasa di-counter secara serius dan akademis, ternyata mudah dipatahkan melalui guyonan.

Terbagi dalam 34 cerita pendek, buku ini mengajak kita untuk melawan logika konyol mereka dengan cita rasa humor.

Bagi pembaca yang pernah menyimak buku Rehat Bersama Kyaik Kocak (RBKK), mungkin sudah tak asing dengan tokoh Kyai Adung. Tokoh fiktif yang digambarkan kocak, jail, cerdas, kolot, dan kampungan ini akan kembali menemani kita. Sebab buku ini merupakan seri ketiga dari RBKK setelah sebelumnya penulis menyusun seri kedua bertajuk RBKK2: Puasa Kompak Lebaran 2 Shift.

Dalam buku ini, Kyai Adung akan berdebat dengan orang-orang yang mengusung paham sepilisnya. Dengan kejailannya, Kyai Adung membantah pemikiran mereka dengan humor yang membuat siapa pun tertawa.

Seperti dalam cerita berjudul “Perkawinan” dan “Surga”. Kyai Adung berceloteh kepada para pendukung pernikahan sesama jenis. Atau dalam cerita “Relatif”, saat Kyai Adung meluncukan senjatanya pada mereka yang menggaungkan relativisme kebenaran.

Ada juga cerita “Kafir Saleh”, ketika Kyai Adung dihadapkan pada mahasiswa yang menegaskan bahwa golongan kafir asal mereka berbuat baik maka dapat pula disebut orang shalih.
Namun, Kyai Adung tak pernah kehabisan ide jahilnya.

Bahkan di cerita “Adzan”, saat seseorang mempermasalahkan adzan yang keras, Kyai Adung berseloroh, “Eh, Mas. Lafazh adzan itu bukan kencang-kencang atau pelan-pelan. Tapi, Allahu Akbar, Allaaahu Akbar. Allaaahu Akbar Allaaahu Akbar. Asyhadu an laa ilaaha illallah… Masa muadzin, adzannya, Kenceeeng…kenceeeng…kenceeennnggg.

Semakin lama membaca buku ini kita semakin tersadar. Bahwa betapa rapuhnya logika yang sering dipakai para pegiat sepilis. Saking rapuhnya, logika konyol mereka dapat dimentahkan lewat humor.
Meski begitu, Kyai Adung beberapa kali juga kerap menjawab argumen mereka dengan jawaban yang ilmiah. Dan baru melancarkan celotehnya saat keadaan sudah mentok. Yaitu ketika lawan bicaranya sudah ngeyel stadium akut menolak segala dalil dan penjelasan ilmiah dari Kyai Adung.

Seperti pada cerita berjudul “Fabel”. Yang mengisahkan perdebatan antara Unta dan Babi. Babi mengejek Unta karena hanya hidup di Arab (hewan lokal) dan sering disembelih untuk dijadikan kurban. Sementara Babi adalah hewan universal dan semua orang menyukainya. Namun, Unta berhasil mematahkan dan melawan balik argumen Babi. Bahkan berani menunjukkan kesalahan dalam Injil zaman sekarang yang banyak mengubah ayat tentang pengharaman Babi. Penasaran?

Tak lupa pula, penulis menyisipkan salinan fatwa MUI tentang sepilis pada bagian akhir. Ini semakin menegaskan pada kita betapa bahayanya pemikiran ini. Dan setiap Muslim seakan wajib berlindung dan melindungi Muslim lain dari pemikiran-pemikiran tersebut.

Dikemas dengan bahasa yang renyah, buku ini sayang dilewatkan oleh setiap Muslim yang masih lurus nuraninya. Bahkan tak jarang kita menemukan kata-kata yang mesti dicetak miring. Kadang sebab kata itu merupakan bahasa gaul yang tak terdapat di KBBI. Atau kadang kata bahasa asing (bahasa Inggris, bahasa Jawa, dll) yang memaksa diterjemahkan melalui catatan kaki.

Tapi selayak genre komedi umumnya, selera humor tiap orang tentu berbeda. Mungkin dalam beberapa cerita, bagi pembaca tak ada kelucuan yang didapat.

Beberapa kali juga sebetulnya Kyai Adung tidak mematahkan sepenuhnya logika konyol kaum sepilis. Tentu memang tak cukup bagi kita meng-counter pemikiran mereka lewat logika semata. Sebab logika apa pun dapat dimentahkan. Sementara nash Qur’an dan Sunnah tak mungkin terbantahkan.


Penting bagi setiap Muslim memperdalam pengetahuan agamanya melalui guru yang tepat. Semoga langkah penulis melawan pemikiran sepilis berbuah kesadaran dan semangat kita untuk terus menimba ilmu agama kita sendiri.

-Resensi ini juga dimuat di website dakwahsekolahku.com-

Bukan hasil copas, tapi penulis di web itu juga saya, hehe :D
 

Sudah Shalatkah Anda?