Senin, 27 Oktober 2014

Resensi Buku Letters From Turkey

Judul                     : Letters From Turkey
Penulis                  : Faris BQ
Penerbit                : Salsabila (Pustaka Al-Kautsar Group)
Tebal                    : 417 halaman; 13,5 x 20,5 cm
Cetakan                : I, Desember 2013
No. ISBN             : 978-602-169-5029

Dalam setiap perjalanan, selalu ada tiga hal unik yang menjadi perhatian; manusia, alam, dan tak lupa, kuliner.

“Bertemu manusia, beserta budayanya, meluaskan pikiran dan gagasan. Adapun memandang alam dapat memperhalus budi dan memperhalus jiwa. Sedangkan kuliner, menikmatinya merupakan petualangan yang memperkaya ragam rasa di lidah dan membekas dalam ingatan,” begitu tulis Faris BQ mengawali bukunya ini.

Buku bertajuk “Letters From Turkey” ini betul-betul menyajikan pengalaman-pengalaman penulis selama di Turki melalui pendekatan yang berbeda.

Tak hanya mengumbar keindahan kota Izmir, keanggunan rumah-rumah gunung di Kapakdokya, atau kebekuan Ankara di musim dingin. Kita juga kerap diajak untuk berpikir, merenung, dan memungut hikmah dari setiap episode kehidupan.

Dibagi dalam bab-bab pendek berkisar 3-6 halaman, buku ini memang sepertinya tidak cocok disebut novel. Tak bisa disebut pula sebagai kumpulan cerpen, sebab memang buku ini berisi surat-surat penulis yang dikumpulkan jadi satu.

Surat kepada siapa?

Beberapa surat ditujukan kepada sang istri yang harus rela ditinggalkan bersama sang bayi di Indonesia. Kita dapat membaca kerinduan yang mendalam penulis melalui surat-suratnya, seperti: Nilai Sebuah Pilihan, Malam Terakhir, You Are My Compass, My Map, and My Dictionary, Rindu Berburu Kuliner Bersamamu, dan Wanita Hebat Itu. Bahkan surat berjudul “Wanita Hebat Itu” diakhiri dengan kalimat, “Jika aku bisa berbicara langsung di telingamu malam ini, aku akan berbisik, ‘Hidup ini, Cinta, adalah tentangmu. Tentang bagaimana aku berjuang untuk membahagiakanmu.’”

Selebihnya, bisa dibilang memang ditujukan bagi penyusunan buku ini.

Membaca buku ini, lambat laun kita akan menyadari kepiawaian penulis dalam memetik tiap peristiwa lalu merangkainya menjadi sebuah pelajaran. Hampir tiap surat berisi kisah, lalu hikmah yang bisa kita serap dari kisah tersebut. Seperti kata penulisnya sendiri dalam buku ini melalui surat berjudul Menulis Itu Memetik, “Kata-kata bukan dikeluarkan, sebab menulis sebenarnya bukan menaburkan. Menulis adalah memungut, memetik, dan menangkap dari apa yang telah kita baca, kita rasakan, dan kita lihat.”

Tentang kemampuan kita mendengar, diulas oleh penulis melalui beberapa kisah dalam surat “Latihan Menerima Kritik” dan “Keterampilan Mendengar”. Beliau juga menyodorkan kebudayaan dan kehidupan di Turki lalu mengupasnya menjadi sesuatu yang bernilai, seperti dalam “Inspirasi dari Cara Minum Teh Orang Turki”, “The Power of ‘Apa Kabar?’”, dan “Lima Kesusahan Hidup di Turki”.

Atau mengail pelajaran melalui peristiwa alam dalam “Bahasa Hujan”, “Gempa di Kota Van”, dan “Suasana Hati di Negeri Empat Musim”. Penulis pun juga menghadirkan pengalaman kuliner seperti dalam “Masakan Ibu Versus Masakan Istri” dan “Kuliner Antep yang Maknyus”.


Semua peristiwa dirangkum dan ditulis dalam buku setebal 417 halaman. Dengan bahasa yang ringan dan tidak menggurui, buku ini tetap akan membawa kita berkeliling Turki berkawan pesan-pesan singkat bagi kehidupan.

-Resensi ini juga dimuat di website dakwahsekolahku.com-

Bukan hasil copas, tapi penulis di web itu juga saya, hehe :D
 

Sudah Shalatkah Anda?