Jumat, 24 Oktober 2014

Siapa Bilang Cowok, Ikhwan Lagi!

Subhanallah, beberapa rekan bercerita kepada saya tentang gejolak cinta yang melanda kalangan yang dalam pandangan umum berpredikat anak alim. Ikhwan (sebutan untuk putra) dan akhwat (sebutan untuk putri) istilahnya.

Kalau ikhwan jatuh cinta, begitu kata mereka, sebabnya mungkin lebih berkelas. Bukan lagi hawa nafsu yang menjurus seks atau romantis-romantisan semata, meski kadang itu juga muncul. Tetapi iannya seringkali berhulukan simpati atas keshalihan, kemuliaan akhlaq, dan kesamaan visi dalam dakwah.

Dilemanya kemudian, bahwa ia sudah mengerti batasan batasan yang diberikan Allah dan RosulNya. Tetapi tetap saja ketertarikan itu menggantungkan keinginan untuk memberi perhatian, sekedar memahami, atau bahkan berusaha memberikan protect agar sidia tetap dalam keshalihan. Setahu saya, ada juga yang sampai titip pada saudara-saudaranya dijalan Allah agar sidia dijaga, diperhatikan, dan dinasihati agar tetap istiqamah dalam dakwah.

Wah?

Apa yang terjadi di sepanjang perjalanan hari? Kalau tidak bertemu, rasanya ada sesuatu yang hilang dan harus segera dicari. Ada kekhawatiran berlebihan, ada keinginan kuat untuk bersua jumpa, atau sekedar tahu kondisi. Tapi setelah bertemu, berpandang, berbincang, atau sekedar meng-SMS akan muncul rasa bersalah, gelisah, takut membuat Allah murka, dan menyesal..... (Aneh ya?)

Saya jadi bertanya, kok tidak dicoba untuk menutup semua pintu yang bisa memberi banyak ruang bertemu. Tapi ternyata terjawab bahwa banyak yang harus menjadi pertimbangan. Tidak seperti para ‘cowok’ yang tak perlu pikir panjang secara dewasa sambung dan putus. Para ikhwan itu harus banyak mempertimbangkan untuk sekedar membatasi interaksi. Misalnya jangan sampai putus silaturahim, putus ukhuwah, atau setidaknya muncul kesan seperti itu. Oo , begitu. Padahal kalau interaksinya seperti biasa, sulit sekali untuk menjadi ‘tetap seperti biasa’.

Ada juga yang justru salah tingkah kalau bertemu, gemeteran, kelur keringat dingin dan tak bisa bicara dengan mencukupi. Tipe ini juga dilematis, lebih banyak menghindar namun mengundang tanda tanya. Yang terjadi kadang komunikasi tidak sehat, banyak kesalah-pahaman, dan bisa jadi menggangu kinerja dakwah jika melibatkan sebuah tim kerja atau organisasi.

Jadi bagaimana?

Lebih lanjut, dua ikhwan narasumber kita bercerita pada saya bahwa para ikhwan tetap saja mudah tergoda oleh tampilan fisik. Tentu tampilan fisik yang menunjukan keshalihan. Hebatnya, mereka kadang berfikir jauh kedepan soal visi pernikahan membangun peradaban. Mereka merasa harus segera menyiapkan segalanya : ilmu, jiwa, jasad, dan finansial. Tentu bagus. Tapi kalau semua persiapan sampai pun belajar untuk SPMB dikaitkan dengan sebuah nama? Saya kira ada kesalah penempatan.

Kalau akhwat? Bicara soal Geer-Geeran agaknya mereka juga sering mengalami. Naluri mendapatkan perhatian kadang menarik perasaan untuk mencoba sejauh apa pandangan seorang ikhwan terhadap masalahnya. Tanpa sadar, kadang ada penilaian, pembandingan, lalu kecenderungan. Hebatnya, -ini kata narasumber-, akhwat lebih easy going soal visi pernikahan. Ya, mereka memang tak perlu terlalu jauh berpikir tentang dimana tinggal atau bagaimana soal nafkah.

Kata narasumber lagi, akhwat lebih tahan guncangan-guncangan kecil (maksudnya godaan berbentuk ikhwan), cuek seolah tak tahu. Tetapi kalau guncangannya dahsyat, sekali collaps, untuk bangun lagi tidak gampang lho.

Kita mencatat rentannya ketertarikan terhadap keshalihan dalam diri ikhwan dan akhwat ini. Wajar saja. Tetapi kalau sudah sampai tingkat merusak niat, konsentrasi ibadah, atau sampai tak ada bedanya dengan pacarannya para cowok-cewek, artinya ada yang harus diluruskan.

Apabila kamu merasa kagum dengan seorang wanita, ingatlah kejelekan-kejelekannya!
(Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘Anhu).

Ucapan mulia ini tak layak dinodai suuzhzhan kita. Bukan tajassus (mencari-cari aib) yang dimaksud. Tetapi lebih kepada pengembalian objektivitas yang manusiawi. Juga untuk memeutuskan salah satu rantai tazyin (menghias-hias) yang dilakukan syaithan : yang buruk tampak baik, yang busuk tercium wangi, yang nista terdengar mulia.

Apabila kamu merasa kagum dengan seorang wanita, ingatlah kejelekan-kejelekannya!

Bukan orangnya yang kemudian harus kita sikapi sebagai orang yang banyak kekurangan. Tetapi lebih agar interaksi yang kita lakukan benar-benar proporsional. Bukan sebuah interaksi yang rasanya bagus, saling memberi nasihat dan tausiyah satu sama lain, saling memberi hadiah buku penyucian hati, kaset nasyid, dan murattal, tetapi ternyata justru merusak hati. Bukan, bukan itu yang kita inginkan.

Kita sering berkata, cinta kita karena Allah semata. Buktinya, yang kita lakukan adalah saling menasehati dalam keshalihan. Tetapi tanpa ikatan apapun, kita memberi perhatian khusus pada sebuah nama. Tidakkah kita berpikir bahwa yang harus dicintai karena Allah banyak jumlahnya? Tak hanya dia, tapi keadilan yang melekati cinta menuntut perhatian besar kita pada masalah-masalah besar ummat ini. Juga perhatian dan perlakuan yang sama terhadap semua akhwat misalnya. Pengkhususan adalah pemfokusan jaring pesona yang berbahaya. Begitulah saya kira...,

“mintalah fatwa kepada hatimu. Kebaikan itu adalah apa-apa yang tenteram jiwa padanya, dan tenteram pula dalam hati. Dan dosa itu adalah apa-apa yang syak dalam jiwa, dan ragu-ragu dalam hati, meski orang-orang memberikan fatwa kepadamu dan mereka membenarkannya.” (H.r. Muslim)

Kepada akhi evan dan akhi egha yang telah menjadi narasumber tulisan ini, jazakumullahu khairan..’afwan yang kalau ada yang salah, saya kan tidak se-berpengalaman antum berdua he he he...


-Tertuang dalam buku Nikmatnya Pacaran Setelah Pernikahan karya Salim A. Fillah-
 

Sudah Shalatkah Anda?