Minggu, 30 November 2014

19 Jenis Orang Yang Tak Layak Didengarkan

maknakata.com
Sejauh mana para ulama terdahulu menyaring informasi dan menampih narasumbernya?
Imam Abu Hatim ibn Hibban telah memberikan "daftar hitam" 19 orang yang tak layak diterima pernyataannya. Yaitu:
1. Zindiq; yakni mereka yang bisa jadi zahirnya Muslim namun sesungguhnya kafir. Seperti para sophist, skeptik, agnostic, bahkan atheis.
2. Orang yang berani berdusta atas nama Rasulullah, meski dengan alasan amar ma'ruf nahi mungkar.
3. Orang yang terang-terangan berdusta dan menganggap dusta itu boleh-boleh saja.
4. Orang yang berdusta demi kepentingan duniawi.
5. Orang lanjut usia yang kacau ingatannya.
6. Orang yang sok tahu dan menjawab apa saja yang ditanyakan kepadanya.
7. Orang yang bukan pakar atau ahli di bidangnya.
8. Orang yang mengajar dari buku karangan seseorang, namun belum pernah berguru langsung pada penulisnya.
9. Orang yang memutarbalikkan informasi dan menyamaratakan "derajat" semua narasumber.
10. Orang yang mengajarkan sesuatu yang tidak pernah diajarkan gurunya.
11. Orang yang mengajarkan apa yang didapatnya dari buku-buku semata.
12. Orang jujur yang sering keliru dan salah besar.
13. Orang yang namanya sering dicatut oleh anaknya atau juru tulisnya.
14. Orang yang tidak tahu kalau karya tulisnya sering dimanipulasi.
15. Orang yang pernah keliru tanpa sengaja. Kemudian menyadari kekeliruannya namun tak kunjung mengoreksinya.
16. Orang fasiq yang sering mengabaikan dan melanggar perintah agama secara terang-terangan.
17. Orang yang tidak pernah menyebut sumber asal informasi yang didapatnya.
18. Orang yang mempropagandakan ajaran sesat.
19. Orang yang berdusta untuk menarik perhatian banyak orang dengan cerita, nasihat, dan ceramahnya.
Nah, coba cek sekali lagi. Jangan-jangan kita termasuk salah satunya. 

Selasa, 11 November 2014

Fitnah Lebih Kejam Dari Pembunuhan?

wawasanislam.com
Entah dari mana aksioma ini muncul. Iya, memang memfitnah itu dilarang. Tapi, fitnah lebih kejam dari pembunuhan? Kalau begitu, lebih baik membunuh saja daripada memfitnah, hehe.

Yuk, coba kita amati sebentar.

Redaksi tersebut sebenarnya bisa kita jumpai di al-Qur'an, surat al-Baqarah ayat 191;

"Dan bunuhlah mereka di mana saja kamu jumpai mereka, dan usirlah mereka dari tempat mereka telah mengusir kamu (Mekah); dan fitnah itu lebih besar bahayanya dari pembunuhan, dan janganlah kamu memerangi mereka di Masjidil Haram, kecuali jika mereka memerangi kamu di tempat itu. Jika mereka memerangi kamu (di tempat itu), maka bunuhlah mereka. Demikianlah balasan bagi orang-orang kafir."

Ayat ini turun berkenaan dengan perintah dan pembolehan dari Allah kepada para Muslimin untuk berperang melawan kafir Quraisy di Mekkah. Perintah tersebut turun tak berapa lama setelah kaum Muslimin berhasil hijrah ke Madinah.

Lalu, apa hubungannya "fitnah" dengan kejadian ini? Adakah korelasinya? Atau ternyata, makna "fitnah" dalam ayat tersebut tidak seperti yang selama ini kita pahami?

Sekali lagi, kita akan menemukan betapa lemahnya bahasa Indonesia menerjemahkan bahasa al-Qur'an yang turun dalam bahasa Arab.

Dalam bahasa kita, fitnah biasa diartikan dengan mengatakan sesuatu tentang orang lain yang tidak ada pada orang tersebut dan orang tersebut tidak menyukainya.

Namun, dalam bahasa Arab, wanita kadang disebut juga sebagai fitnah, godaan dunia disebut pula dengan fitnah, bahkan penyebutan Dajjal kerap disandingkan dengan kata fitnah.

Apa makna fitnah dalam ayat tersebut?

Abul Aliyah, Mujahid, Qatadah, Sa'id ibn Jubair, Ikrimah, Al-Hasan, Ad-Dahhak, dan Ar-Rabi' ibn Anas mengatakan bahwa fitnah dalam ayat tersebut berarti kemusyrikan yang dilakukan oleh kaum kafir Quraisy Mekkah. Ibnu Katsir juga menafsiri kata fitnah dengan kafir kepada Allah, mempersekutukan-Nya, dan menghalangi manusia dari jalan Allah.

Sedangkan, pembunuhan dalam ayat tersebut berkaitan dengan perintah jihad. Allah mengingatkan kepada kaum Muslimin bahwa kemusyrikan itu jauh lebih besar bahayanya dari pembunuhan yang dilakukan saat jihad/perang berlangsung. Sebab, jihad itu murni perintah Allah, sedangkan kemusyrikan justru membuat pelakunya kekal di Jahanam.

Allahu a'lam.

Sepersekian Detik Sebelum Marah

jayakusuma23.blogspot.com
Sebetulnya, kita punya waktu sepersekian detik sebelum kita marah. Iya, hanya sepersekian detik, tidak sampai satu detik.

Dalam waktu yang singkat itu, pikiran kita akan memutuskan; kita harus marah atau tidak. Bahkan sampai memutuskan, jika marah pelampiasannya akan seperti apa. Apakah dengan mencak-mencak, pasang muka merah, caci sana hina sini. Atau mau diredam saja amarahnya, lalu salurkan kepada sarana yang positif.

Ini juga berlaku kala kita terkejut. Ada waktu sepersekian detik sebelum pikiran kita memutuskan; apa sikap kita saat terkejut. Apakah dengan berkata kasar, sampai menyebut beragam binatang di Ragunan. Atau justru menyebut asma Allah dan perkataan agung lainnya.

Iya, hanya sepersekian detik. Itulah yang disebut akhlak.

Seperti yang diungkapkan oleh Imam Ghazali. Akhlak adalah apa yang keluar dari kita, baik perkataan dan perbuatan, secara spontan. Tanpa perlu berpikir dahulu.

Cukuplah kita melihat sikap seseorang ketika marah dan saat terkejut, untuk melihat bagaimana akhlaknya. Meski tak sepenuhnya jadi sandaran.

Sebab itu, Allah menciptakan momentum pembelajaran akhlak bagi kita. Yaitu, dalam shalat. Setiap pergantian rukun, ada sunnah bertakbir. Takbir ini adalah bagian dari pembiasaan. Mulut kita, lidah kita, pikiran kita dibiasakan mengucapkan kalimat yang baik. Belum lagi kalau ditambah dengan tilawah Qur'an dan mengayakan diri dengan zikir.

Apa yang kita biasakan, itu yang akan menjadi akhlak kita. Kalau ada yang tersandung batu, lalu berujar, "Eh, ayam, eh, ayam!" Ah, mudah sebenarnya menebak seperti apa akhlaknya. Dan mudah pula menebak apa kebiasaannya. Sekali lagi, meski tak sepenuhnya dapat menjadi sandaran penilaian.

Kesetaraan Gender; Antara Shahabiyah dan Feminis Liberal

suma.ui,ac,id
Suatu hari, rekam Abu Nu'aim al-Asbahani dalam kitab Ma'rifat al-Shahabah, Asma binti Yazid al-Anshariyah menghadapi Nabi yang tengah berada di antara shahabatnya.

Lalu berkata, “Demi Allah Yang jadikan ayahku dan ibuku tebusanmu wahai Rasulullah, aku adalah perwakilan seluruh Muslimah. Tiada satu pun di antara mereka saat ini, kecuali berpikiran yang sama dengan aku.

Sungguh Allah telah mengutusmu kepada kaum laki-lakidan perempuan, lalu kami beriman dan mengikutimu. Kami kaum hawa terbatas aktivitasnya, menunggu rumah kalian para suami, dan yang mengandung anak-anak kalian.

Sementara kalian kaum lelaki dilebihkan atas kami dengan shalat berjama'ah, shalat Jum'at, menengok orang sakit, mengantar jenazah, bisa haji berulang-ulang dan jihad di jalan Allah. Pada saat kalian haji, umrah, atau berjihad, kami yang menjaga harta kalian, menjahit baju kalian, dan mendidik anak-anak kalian. Mengapa kami tidak bisa menyertai kalian dalam semua kebaikan itu?”

Rasul lantas menoleh kepada para shahabatnya dan berkata, “Tidakkah kalian pernah dengar ucapan perempuan yang bertanya tentang agamanya, lebih baik dari Asma?”

“Tidak wahai Rasul.”

Beliau lalu bersabda, “Kembalilah wahai Asma dan beri tahukan kaummu bahwa melayani suami kalian, meminta keridhaannya, dan menyertainya ke mana pun ia pergi, pahalanya SETARA dengan apa yang kalian tuntut.”

Asma lalu pergi keluar majelis tersebut seraya bertahlil dan bertakbir kegirangan.

Allahu Akbar. Tuntutan kaum hawa atas kesetaraannya terhadap laki-laki sebetulnya bukan barang baru. Sebelum para pegiat feminisme di Barat itu mengusung paham mereka, ternyata seorang shahabiyah di zaman Rasul telah memulainya.

Tapi, apa yang membedakan antara tuntutan Asma dan para pegiat feminisme?

“Aspirasi Asma,” jelas Ust. Fahmi Salim dalam buku Tafsir Sesat, “lebih merupakan kesetaraan secara substansial, dibandingkan kesetaraan nominal. Bukan peran yang hendak disamakan, namun peluang untuk sama-sama meraih pahala dan surga Allah.”

Alangkah jauh akhlak kita dibandingkan sosok-sosok di zaman Rasul itu. Bukan perannya, mereka hanya ingin tetap memiliki kesempatan membangun peradaban, menjaring pahala, menggapai ridha-Nya.

Lalu Sang Nabi mengakhiri jawabnya, “Kembalilah wahai Asma dan beri tahukan kaummu bahwa melayani suami kalian, meminta keridhaannya, dan menyertainya ke mana pun ia pergi, pahalanya SETARA dengan apa yang kalian tuntut.”

Peran boleh beda, tetapi peluang meraih ridha Allah sama besarnya.

Allahu a'lam.

Tentang Pemimpin

motivaksi.blogspot.com
“Saya, bukanlah yang terbaik diantara kamu sekalian," seru Abu Bakar menunduk, "Oleh karena itu saya sangat menghargai dan mengharapkan saran dan pertolongan kalian semua."

"Allah telah memberi ujian kalian semua padaku," Umar Al-Faruq tersedu.

"Amanah adalah tetap amanah," Utsman bin Affan mengingatkan, "maka berpegang teguhlah pada amanah itu. Dan janganlah kalian menjadi orang pertama yang melanggarnya. Karena apa yang kalian lakukan akan dicontoh oleh orang-orang sesudah kalian."

"Taatlah kalian kepada Allah dan jangan melanggar perintah-Nya," Ali bin Abi Thalib menasihatkan.

"Sungguh," Umar bin Abdul Aziz menumpahkan air mata, "aku takut pada neraka."

Tanya nuranimu, tak rindukah hatimu pada jiwa-jiwa yang mampu meresapi dengan tepat makna sebuah amanat?

Pada jiwa-jiwa yang sedu sedan mengenang pertanggungjawaban atas kepemimpinannya di Hari Mizan kelak?

Pada jiwa-jiwa yang sadar atas tanya 200 juta lebih rakyatnya di Hari Pengadilan nanti?

Bukan pada yang bersorak-sorai. Bak amanat adalah piala bergilir yang diperebutkan.

Bukan pada yang mengumbar maksiat. Atau lagu dan tarian pelupa kiamat. Bak merasa tak ada satu tagih pun padanya kelak.


Tak rindukah?

Atau Allah telah matikan rasa itu? Ah, bukan! Engkaulah yang mematikannya.

Engkau yang menutup hatimu. Menggelapkannya. Membangun tabir antara kebenaran dan egomu.

Moga Allah masih menurunkan rahmat-Nya pada negeri ini. Sebab sebuah keyakinan. Atas masih adanya orang-orang yang memendam rindu.

Lalu keluarlah dari mulut-mulut mereka doa Muhammad SAW saat di Thaif, "Ya Allah, kepada-Mu aku mengeluhkan kelemahan-kelemahanku, ketidak-berdayaanku, dan kehinaanku di hadapan manusia. Wahai yang Maha Pengasih di antara yang mengasihi!"

Tentang Munafik

suara-islam.com
Hari itu, tanda-tanda 'kekalahan' kaum muslimin sebetulnya telah tampak. Bahkan sebelum seluruh pasukan turun ke medan laga.

Hari itu, tiga ratus personil kembali ke Madinah. Di bawah provokasi Bapak Munafiqin Dunia; Abdullah bin Ubay bin Salul. Tinggallah Perang Uhud dihadapi tujuh ratus shahabat yang setia pada Rasul-Nya.

Hari itu, tekad yang memuncak tiba-tiba memecah. Meragu. Dan sejak hari itu, perlahan umat Islam tahu siapa orang-orang munafik itu serta sepak terjang mereka menggerogoti agama ini dari dalam.

Inilah musuh paling berbahaya yang dihadapi umat ini. Berada di tengah-tengah kita, tetapi menyerang dan menyudutkan umat. Berstatus muslim tetapi menggugat keotentikan Al-Qur'an, mengganti warisan fiqih ulama dengan fiqihnya sendiri, menolak tafsir klasik dengan tafsir hermeneutikanya.

Pantaslah secara bahasa Nifak itu berasal dari kata Nafaqul Yarbu. Lubang tikus. Masuk lewat lubang satu, keluar lewat lubang berbeda. Yang disembunyikan tak pernah sama dengan yang ditampakkan.

Dalam sejarah pun kita akan menemukan banyak perpecahan umat ini disulut oleh orang-orang munafik. Perang Bani Musthaliq menjadi saksi ketika mereka meletupkan pertikaian antara kaum Muhajirin dan Anshar.

"Jika mereka berangkat bersama-sama kalian, niscaya mereka tidak menambah kalian selain dari kerusakan belaka, dan tentu mereka akan bergegas maju ke muka di celah-celah barisan kalian untuk mengadakan kekacauan di antara kalian." (at-Taubah: 47)

Siapa yang menyebar fitnah di tengah pernikahan Rasulullah dan Zainab? Siapa yang mempromosikan berita bohong (haditsul ifk) antara Shafwan dan Aisyah?

"Di antara manusia ada yang mengatakan, 'Kami beriman kepada Allah dan Hari Kemudian,' padahal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman. Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu dirinya sendiri. sedang mereka tidak sadar. Di dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta." (al-Baqarah: 8-10)

Inilah musuh yang perlu jua diwaspadai. Mereka tampak sekilas sama seperti kita. Tetapi benci jika kita menang dan suka jika kita kalah.

Semoga kita tidak sedikit pun termasuk bagian dari mereka.

Allahu a'lam.

Sang Pemimpin Belanja Sayur

Pagi-pagi ba’da shubuh dan bebenah, seperti biasa acara rutin sebagian ibu-ibu adalah belanja. Demikian pula aku. Udara masih dingin kala itu. Kuturuni tangga kontrakanku. Kujumpai sebagian ibu-ibu berjalan menuju titik yang sama, tempat belanja! Tanah kapling di bawah kontrakanku masih banyak yang belum dibangun.

Aku berjalan tepat di samping rumah ustadz Hidayat Nurwahid, Presiden Partai Keadilan. Di Belakang rumah beliau, rumput masih banyak tumbuh dan tanah sedikit berair menyisakan tanda-tanda rawa yang masih belum sepenuhnya teruruk. Aku terus berjalan. Naik beberapa tangga, melalui pintu gerbang SDIT Iqro’ Pondok Gede yang sudah terkuak.

Rumah ustadz Rahmad Abdullah yang asri dan sederhana kulewati. Rumah yang tiap dua hari sepekan kusambangi sebab disitulah aku belajar tahsin pada istri beliau.

Aku terus berjalan melalui beberapa rumah para aktivis da’wah hingga akhirnya sampailah ke tempat belanjaan.Belum selesai aku memilih-milih, tiba-tiba muncul laki-laki yang di lingkungan kami sangat dikenal dan tidak asing. Beliau bersama putranya. Kemunculannya tentu sangat tidak diduga. Kami para ibupun mempersilakan beliau untuk mendapat pelayanan terlebih dahulu. Beliaulah satu-satunya laki-laki saat itu. Aku memperhatikannya. Subhanallah, tak ada kecanggungan.

Sesampai di rumah kuceritakan apa yang kulihat pada suamiku, dengan penuh kekaguman.

“Ya, begitulah yang terjadi dalam keluarga beliau. Saling taawun antara suami istri tanpa harus dibatasi oleh pemisahan pekerjaan yang kaku, “komentar suamiku yang berinteraksi cukup intensif.

Esoknya aku menjalani rutinitas yang sama, belanja. Di jalan aku berpapasan dengan laki-laki itu kembali, bersama putranya.

“Belanja ustadz?” Aku sengaja menyapa.

“Iya, istri lagi sakit perut dan khodimah (Pembantu) pulang, Jawab beliau sambil tersenyum.

Aku mengangguk-angguk. Subhanallah, aku jadi teringat Ammar bin Yasir ketika menjabat sebagai gubernur. Beliau kadang belanja di pasar dan mengikat serta memanggul sayuran sendirian. Inilah profil yang perlu di jadikan teladan.

Laki-laki yang saya jumpai itu yang belanja di tukang sayur itu adalah ustadz Ahmad Heryawan, Lc.

Beliau adalah ketua Partai Keadilan DKI Jakarta dan anggota DPRD DKI Jakarta. Saya tidak akan terheran-heran jika beliau belanja bersama istri dan anak-anaknya di Supermarket, yang bagi keluarga muda atau keluarga jaman sekarang hal yang biasa dan sangat tidak tabu. Tetapi ini harus berbelanja dan ikut antri dengan para ibu rumah tangga, walau pada akhirnya beliau dipersilahkan untuk dilayani lebih dahulu.

Lagi-lagi dengan takjub saya menceritakan apa yang saya lihat kepada suami saya. Sebagai orang yang intensif bertemu dengan beliau bahkan banyak menimba ilmu kepada beliau, suami saya berkata,

“Ustadz Heryawan memang subhanalloh Dik. Sebagai muridnya, saya merasakan kedekatan. Ketika sholat jama’ah di masjid misalnya, beliau kadang-kadang secara tiba-tiba merangkul saya dari belakang. Saya juga beruntung mempunyai jadwal ronda dengan beliau.”

Ya, suami saya memang beruntung, beliau mendapat jadwal ronda bersama ustadz Ahmad Heriawan dan Ustadz Satori Ismail, sehingga pembicaraan kala ronda adalah pembicaraan-pembicaraan yang bermutu.

Ah… saya jadi menghayal, seandainya negeri ini dipimpin oleh orang-orang yang berakhlaq mulia, yang mempunyai keharmonisan keluarga, yang dekat dengan anak istrinya, yang mempunyai hubungan baik dengan para tetangga, yang memuliakan wanita dan kaum papa, betapa indahnya dunia. Saya jadi teringat cerita sederhana dari istri beliau.

“Ayahnya Khobab (ustadz Ahmad Heriawan) sangat suka sayur lodeh nangka. Suatu saat beliau meminta saya untuk memasaknya. Begitu tahu bahwa ternyata membuat sayur lodeh nangka itu membutuhkan proses yang begitu lama, beliau pun berkata,

“Sudah Bu, Sekali ini saja. Kalau tahu bahwa prosesnya begini lama, ayah tak akan meminta dibikinkan. Dari pada waktu demikian panjang hanya habis untuk bikin sayur, mending buat baca atau untuk mengerjakan yang lain.”

Nampaknya sangat sederhana, namun saya melihat ada satu hal yang luar biasa, tersirat dalam ungkapan itu, pemberian peluang yang luas bagi berkembangnya istri.

Saya memang harus banyak belajar dari keluarga pimpinan saya yang sempat menjadi tetangga saya itu. Yang jika orang-orang terkenal memberikan tariff dalam ceramah-ceramahnya, beliau malah pernah menolak ceramah dengan bayaran cukup lumayan karena harus terikat dengan pola yang diterapkan penyelenggara.

Maka jangan heran, jika kita mengundang beliau dan memberikan “amplop” dengan mengatakan uang transport, maka seluruh uang yang ada di dalam amplop itu akan beliau gunakan untuk membayar jasa transportasi, dan tak menyisakan untuk kantong beliau sendiri.

Ah, itukah sibghoh Allah? Sebuah generasi yang dijanjikan oleh Allah dalam surat Al-Maidah : 54 itu semoga kian dekat di sekitar kita, dan semoga memang sudah ada di sekitar kita.

M. Muttaqwiati - Bukan Di Negeri Dongeng

Syahwat dan Syubhat

googlemuslim.wordpress.com
Sejak dahulu, akar dosa itu ada dua.

Yang pertama, sering menimpa orang awam. Atau yang tidak mengetahui hukum suatu hal. Namanya syubhat. Jadilah halal-haram itu tampak samar. Obatnya mudah; belajarlah!

Yang kedua, baik para 'alim atau awam dapat terasuki olehnya. Inilah syahwat. Bahkan yang telah tahu hukumnya pun, dapat terjerumus dalam lembah maksiat.

Bagi yang awam, ketika ia berkutat pada perkara syubhat, syahwat akan menuntunnya untuk terus mendekati perkara tersebut. Hingga ia jatuh dalam jurang keharaman.

Pada yang 'alim, syahwat seakan menutup pengetahuannya selama ini. Maka jangan heran jika menemukan seorang profesor tetapi mencaci-maki ayat Allah. Jangan kaget jika ada seorang doktor tetapi bergabung dalam barisan pengikut Syiah. Jangan tercengang melihat lulusan Syari'ah namun mengatakan bahwa Al-Qur'an sudah tidak relevan di masa kini.

Pun dengan kita, kalau bukan syubhat, maka setan akan menggoda kita melalui syahwat.

Sebab itu, merendahlah. Kita bukan siapa-siapa. Sebanyak apa pun ilmu kita, peluang untuk salah itu selalu ada. Merendahlah, karena syahwat akan semakin membara kala berakrab dengan kesombongan; menolak kebenaran dan meremehkan orang lain.

Allahu a'lam.

Apakah Sampai Padamu Berita Tentang Mahanazi?

dunia.rmol.co
Kabar apakah yang sampai padamu tentang Palestina?

Apakah sampai padamu berita tentang rumah-rumah yang dihancurkan tanah-tanah meratap berpindah tuan, bahkan manusia yang dibuldozer?

Apakah sampai padamu berita tentang air mata yang tumpah dan menjelma minuman sehari-hari tentang jadwal makan yang hanya sehari sekali atau listrik yang menyala cuma empat jam sehari?

Apakah sampai padamu berita tentang kanak-kanak yang tak lagi berbapak, tentang ibu mereka yang diperkosa atau diseret ke penjara?

Para balita yang menggenggam batu dengan dua tangan mungil mereka menghadang tentara zionis Israel, lalu tangan kaki mereka disayat dan dibuntungi

Apakah sampai padamu berita tentang masjidil Aqsha di halamannya menggenang darah dan tubuh-tubuh yang terbongkar

Peluru yang berhamburan di udara menyanyikan lagu kematian menyayat nadi kekejaman yang melebihi fiksi dan semua film yang pernah kau tonton di bioskop dan televisi

Kebiadaban yang mahanazi

Tapi orang-orang di negeriku masih saja mengernyitkan kening;

“Palestina? Untuk apa memikirkan Palestina? Persoalan di negeri sendiri menjulang!”

Mereka bersungut-sungut tak suka

Membatu,

tak jarang terpengaruh menuduh pejuang kemerdekaan Palestina yang membela tanah air mereka sendiri sebagai teroris!

Duhai, maka kukatakan pada mereka: Tanpa abai pada semua persoalan di negeri ini

Atas nama kemanusiaan: menyala-lah!

Kita tak bisa hanya diam menyaksi pagelaran mahanazi, sambil mengunyah menu empat sehat lima sempurna dan bercanda di ruang keluarga

kita tak bisa sekadar menampung pembantaian-pembantain itu dalam batin atau purapura tak peduli

Seorang teman Turki berkata:

"mereka yang membatasi ruang kemanusiaan dengan batas-batas negara, sesungguhnya belum mengerti makna kemanusiaan

Hai Amr Moussa tanyakan pada Liga Arab belum tibakah masanya bagi kalian bersatu, membuka hati, berani berhenti mengamini nafsu Amerika yang seharusnya kita taruh di bawah sepatu?

Hai Ban Ki Moon, apakah Perserikatan Bangsa-Bangsa itu nyata? Sebab tak pernah kami dengar PBB mengutuk dan memberi sanksi pada mahanazi teroris zionis Israel yang pongah melucuti kemanusiaan dan keberadaban dari wajah dan hati dunia

Apakah kalian, apakah kita tak malu,
Pada para syuhada;

Flotilla, Rachel Corrie, Yoyoh Yusroh dan George Galloway?

Karena sesungguhnya kita bisa melakukan sesuatu: menyebarkan tragedi keji ini pada hati-hati yang bersih, memberi meski sedikit apa yang kita punya dan mendoakan Palestina

Apakah sampai padamu, berita tentang mahanazi itu?

Tentang Palestina yang bersemayam kokoh di hati mereka yang diberi kurnia?

Seperti cinta yang tak bisa kau hapus dari penglihatan dan ingatan, airmata, darah, dan denyut nadi manusia

: Lawan Mahanazi!

(Helvy Tiana Rosa)

Mubarak; Tukang Kebun Penjaga Amanah

radioaustralia.net.au
Di sela waktu ini, mari sejenak kita bercermin pada mereka yang menjaga amanah dan mengokohkan imannya.

Namanya Mubarak. Mantan budak yang kini bekerja sebagai penjaga kebun delima milik seorang yang kaya raya. Dari majakan sebelumnya kita tahu, ia dimerdekakan sebab keluhuran pekerti dan kejujurannya. Di kalangan kawannya, ia dikenal pula dengan keramahan dan kelembutan tutur sapanya.

Suatu hari, pemilik kebun memanggilnya, "Mubarak, tolong petikkan buah delima yang manis dan masak."

Mubarak segera bergegas ke kebun. Ia petik beberapa buah lalu ia berikan pada tuannya. "Ah, masam rasanya, coba kau petik yang lain!" tukas tuannya sesaat ia mencicipi buah-buah yang baru saja dipetik.

Kejadian ini selalu berulang. Setiap kali Mubarak memetik delima, selalu yang masam yang diterima. Hingga Sang Tuan merasa gusar lalu bertanya, "Mengapa engkau hanya memetik dari kebun seluas ini setangkai delima yang selalu rasanya masam?”

“Hamba tidak tahu Tuan, mana yang manis dan mana pula yang masam,” sahut Mubarak jujur.

“Subhanallah! Sudah lama engkau bekerja di sini, mengapa masih juga belum tahu delima mana yang manis dan mana yang rasanya masam?”

"Demi Allah, Tuan," lirih Mubarak, "saya hanya ditugaskan menjaga kebun bukan mencicipi buah-buahnya."

Dan Sang Tuan pun dibuat takjub karenanya.

Sejak saat itu, hubungan keduanya bertambah akrab. Hingga tiba hari itu.

“Hai Mubarak, aku hanya memiliki seorang anak perempuan. Menurutmu, lebih baik aku menikahkannya dengan siapa?”

“Orang-orang Yahudi menikahkan anaknya dengan seseorang sebab hartanya. Orang Nasrani menikahkan anaknya sebab keelokan rupa. Dan orang Arab biasa menikahkan anaknya karena nasab dan keturunannya. Sedangkan orang Muslim menikahkan anaknya pada seseorang, melihat iman dan taqwanya. Anda tinggal memilih, mau masuk golongan yang mana? Dan nikahkanlah puterimu dengan orang yang kau anggap satu golongan denganmu.” jawab Mubarak memberi pertimbangan.

”Aku rasa, tak ada orang yang lebih bertaqwa darimu.”

Maka menikahlah Mubarak dengan putri tuannya. Kelak dari pernikahan ini, lahirlah seorang 'ulama tabi'in bernama Abdullah. Seorang ahli hadits sekaligus ahli zuhud. 'Ulama yang dipenuhi ilmu dan ketaqwaan sekaligus saudagar kaya yang gemar bersedekah. Ialah, Abdullah ibn Mubarak.

Kita kembali belajar untuk tidak mengendorkan ketaatan meski tidak berada di bulan keberkahan. Kita kembali belajar untuk tidak berhenti menyemai kebajikan. Hingga kelak, lahirlah generasi-generasi membanggakan sebab kebaikan-kebaikan yang kita tanam.

Barangkali, kejemuan menyergap ketundukan di tengah jalan. Barangkali, kebosanan melanda jiwa-jiwa yang taat di pertengahan. Bila itu terjadi, barangkali pula kita perlu ingat. Kita tetap berkewajiban melahirkan generasi iman. Yang-sebagian besar-tak dilahirkan dari Ayah dan Ibu yang berpeluhkan kemaksiatan.

Allahu a'lam.

Keseimbangan Jiwa

dedymanholik.wordpress.com
Pada yang menang, pada yang berjaya, ia tak butuh dipuji. Itu sebabnya surat al-Anfal sebagai manifestasi dari Perang Badar tak diawali dengan sanjungan atas kemenangan.

Ia justru berisi teguran. Ia justru menyiratkan peringatan. Para pemenang butuh itu. Agar jiwanya tak melangit. Agar jiwanya tetap berada dalam satu kondisi: seimbang.

Pada yang kalah, pada yang terjatuh, ia tak perlu dimarahi. Apalagi dicaci-dimaki. Tegur saja secukupnya. Itu sebabnya tak ada satu ayat pun yang menegur secara langsung pasukan pemanah di Perang Uhud. Ada beberapa ayat yang mengisahkan perang ini, namun pasukan pemanah ternyata tak "disalahkan" secara gamblang.

Sang Nabi juga diam. Justru tiga hari ba'da perang, Sang Nabi mengajak pasukannya menyerang kabilah-kabilah kecil di sekitar Madinah. Mengajak shahabat-shahabatnya melupakan yang telah lalu, cukup menjadi pelajaran agar Islam semakin maju.

Mereka yang kalah perlu itu. Agar tak ada rasa bersalah berlebihan. Hingga merasa tak berdaya lalu menyerah. Agar jiwanya tetap bertahan. Agar jiwanya tetap berada dalam satu kondisi: seimbang.

Kondisi jiwa yang seimbang itu sangat penting. Jiwa seimbang berdampak pada iman yang stabil. Iman yang stabil membuat pikiran lebih tenang dan dingin. Sehingga bisa menentukan sikap yang tepat saat menang dan respon yang positif meski kalah.

Allahu a'lam.

Yang Digenggam, Tak Sepenuhnya Dimiliki

hafizatulmuna.blogspot.com
Siapa pun kita, kelak bisa jadi berada di posisi Ibrahim 'alaihissalam. Menggantung hajat bertahun-tahun lamanya. Hingga, suatu hari lahirlah "Ismail" bagi kita.

Ada yang mengharap bisnis berkah. Maka, saat bisnisnya perlahan meraksasa, itulah "Ismail" baginya.

Ada yang mengimpikan rumah megah. Maka, kala keluarganya kini menetap di rumah impiannya, itulah "Ismail" untuknya.

Ada yang merindu kekasih shalih/shalihah. Maka, ketika ia dan jodohnya berlabuh di pelaminan, itulah "Ismail" buatnya.

Dan, selayak pula Ibrahim. Tak butuh selang lama, "Ismail"nya diminta kembali oleh Yang Maha Pemberi.

Pesannya jelas; siapa yang lebih kau cintai? Impianmu atau Tuhanmu?

Maka, kelak bisnis yang tengah membesar itu, bisa jadi Allah uji dengan rugi bertumpuk.

Maka, kelak rumah megah yang sedang dinikmati itu, mungkin Allah beri cobaan dengan api yang menghanguskan.

Maka, kelak kekasih yang lama diidamkan itu, barangkali Allah panggil untuk meninggalkan dunia yang melenakan.

Sungguh, kisah ayah dan anak ini mengajak kita menginsyafi diri. Yang kita genggam tak sepenuhnya milik diri. Yang kita peroleh tak seluruhnya kepunyaan diri.

Sebagaimana orang yang meminjam barang. Si empunya mampu kapan pun mengambil kembali barang miliknya.
 

Sudah Shalatkah Anda?