Selasa, 11 November 2014

Keseimbangan Jiwa

dedymanholik.wordpress.com
Pada yang menang, pada yang berjaya, ia tak butuh dipuji. Itu sebabnya surat al-Anfal sebagai manifestasi dari Perang Badar tak diawali dengan sanjungan atas kemenangan.

Ia justru berisi teguran. Ia justru menyiratkan peringatan. Para pemenang butuh itu. Agar jiwanya tak melangit. Agar jiwanya tetap berada dalam satu kondisi: seimbang.

Pada yang kalah, pada yang terjatuh, ia tak perlu dimarahi. Apalagi dicaci-dimaki. Tegur saja secukupnya. Itu sebabnya tak ada satu ayat pun yang menegur secara langsung pasukan pemanah di Perang Uhud. Ada beberapa ayat yang mengisahkan perang ini, namun pasukan pemanah ternyata tak "disalahkan" secara gamblang.

Sang Nabi juga diam. Justru tiga hari ba'da perang, Sang Nabi mengajak pasukannya menyerang kabilah-kabilah kecil di sekitar Madinah. Mengajak shahabat-shahabatnya melupakan yang telah lalu, cukup menjadi pelajaran agar Islam semakin maju.

Mereka yang kalah perlu itu. Agar tak ada rasa bersalah berlebihan. Hingga merasa tak berdaya lalu menyerah. Agar jiwanya tetap bertahan. Agar jiwanya tetap berada dalam satu kondisi: seimbang.

Kondisi jiwa yang seimbang itu sangat penting. Jiwa seimbang berdampak pada iman yang stabil. Iman yang stabil membuat pikiran lebih tenang dan dingin. Sehingga bisa menentukan sikap yang tepat saat menang dan respon yang positif meski kalah.

Allahu a'lam.
 

Sudah Shalatkah Anda?