Selasa, 11 November 2014

Kesetaraan Gender; Antara Shahabiyah dan Feminis Liberal

suma.ui,ac,id
Suatu hari, rekam Abu Nu'aim al-Asbahani dalam kitab Ma'rifat al-Shahabah, Asma binti Yazid al-Anshariyah menghadapi Nabi yang tengah berada di antara shahabatnya.

Lalu berkata, “Demi Allah Yang jadikan ayahku dan ibuku tebusanmu wahai Rasulullah, aku adalah perwakilan seluruh Muslimah. Tiada satu pun di antara mereka saat ini, kecuali berpikiran yang sama dengan aku.

Sungguh Allah telah mengutusmu kepada kaum laki-lakidan perempuan, lalu kami beriman dan mengikutimu. Kami kaum hawa terbatas aktivitasnya, menunggu rumah kalian para suami, dan yang mengandung anak-anak kalian.

Sementara kalian kaum lelaki dilebihkan atas kami dengan shalat berjama'ah, shalat Jum'at, menengok orang sakit, mengantar jenazah, bisa haji berulang-ulang dan jihad di jalan Allah. Pada saat kalian haji, umrah, atau berjihad, kami yang menjaga harta kalian, menjahit baju kalian, dan mendidik anak-anak kalian. Mengapa kami tidak bisa menyertai kalian dalam semua kebaikan itu?”

Rasul lantas menoleh kepada para shahabatnya dan berkata, “Tidakkah kalian pernah dengar ucapan perempuan yang bertanya tentang agamanya, lebih baik dari Asma?”

“Tidak wahai Rasul.”

Beliau lalu bersabda, “Kembalilah wahai Asma dan beri tahukan kaummu bahwa melayani suami kalian, meminta keridhaannya, dan menyertainya ke mana pun ia pergi, pahalanya SETARA dengan apa yang kalian tuntut.”

Asma lalu pergi keluar majelis tersebut seraya bertahlil dan bertakbir kegirangan.

Allahu Akbar. Tuntutan kaum hawa atas kesetaraannya terhadap laki-laki sebetulnya bukan barang baru. Sebelum para pegiat feminisme di Barat itu mengusung paham mereka, ternyata seorang shahabiyah di zaman Rasul telah memulainya.

Tapi, apa yang membedakan antara tuntutan Asma dan para pegiat feminisme?

“Aspirasi Asma,” jelas Ust. Fahmi Salim dalam buku Tafsir Sesat, “lebih merupakan kesetaraan secara substansial, dibandingkan kesetaraan nominal. Bukan peran yang hendak disamakan, namun peluang untuk sama-sama meraih pahala dan surga Allah.”

Alangkah jauh akhlak kita dibandingkan sosok-sosok di zaman Rasul itu. Bukan perannya, mereka hanya ingin tetap memiliki kesempatan membangun peradaban, menjaring pahala, menggapai ridha-Nya.

Lalu Sang Nabi mengakhiri jawabnya, “Kembalilah wahai Asma dan beri tahukan kaummu bahwa melayani suami kalian, meminta keridhaannya, dan menyertainya ke mana pun ia pergi, pahalanya SETARA dengan apa yang kalian tuntut.”

Peran boleh beda, tetapi peluang meraih ridha Allah sama besarnya.

Allahu a'lam.
 

Sudah Shalatkah Anda?