Selasa, 11 November 2014

Mubarak; Tukang Kebun Penjaga Amanah

radioaustralia.net.au
Di sela waktu ini, mari sejenak kita bercermin pada mereka yang menjaga amanah dan mengokohkan imannya.

Namanya Mubarak. Mantan budak yang kini bekerja sebagai penjaga kebun delima milik seorang yang kaya raya. Dari majakan sebelumnya kita tahu, ia dimerdekakan sebab keluhuran pekerti dan kejujurannya. Di kalangan kawannya, ia dikenal pula dengan keramahan dan kelembutan tutur sapanya.

Suatu hari, pemilik kebun memanggilnya, "Mubarak, tolong petikkan buah delima yang manis dan masak."

Mubarak segera bergegas ke kebun. Ia petik beberapa buah lalu ia berikan pada tuannya. "Ah, masam rasanya, coba kau petik yang lain!" tukas tuannya sesaat ia mencicipi buah-buah yang baru saja dipetik.

Kejadian ini selalu berulang. Setiap kali Mubarak memetik delima, selalu yang masam yang diterima. Hingga Sang Tuan merasa gusar lalu bertanya, "Mengapa engkau hanya memetik dari kebun seluas ini setangkai delima yang selalu rasanya masam?”

“Hamba tidak tahu Tuan, mana yang manis dan mana pula yang masam,” sahut Mubarak jujur.

“Subhanallah! Sudah lama engkau bekerja di sini, mengapa masih juga belum tahu delima mana yang manis dan mana yang rasanya masam?”

"Demi Allah, Tuan," lirih Mubarak, "saya hanya ditugaskan menjaga kebun bukan mencicipi buah-buahnya."

Dan Sang Tuan pun dibuat takjub karenanya.

Sejak saat itu, hubungan keduanya bertambah akrab. Hingga tiba hari itu.

“Hai Mubarak, aku hanya memiliki seorang anak perempuan. Menurutmu, lebih baik aku menikahkannya dengan siapa?”

“Orang-orang Yahudi menikahkan anaknya dengan seseorang sebab hartanya. Orang Nasrani menikahkan anaknya sebab keelokan rupa. Dan orang Arab biasa menikahkan anaknya karena nasab dan keturunannya. Sedangkan orang Muslim menikahkan anaknya pada seseorang, melihat iman dan taqwanya. Anda tinggal memilih, mau masuk golongan yang mana? Dan nikahkanlah puterimu dengan orang yang kau anggap satu golongan denganmu.” jawab Mubarak memberi pertimbangan.

”Aku rasa, tak ada orang yang lebih bertaqwa darimu.”

Maka menikahlah Mubarak dengan putri tuannya. Kelak dari pernikahan ini, lahirlah seorang 'ulama tabi'in bernama Abdullah. Seorang ahli hadits sekaligus ahli zuhud. 'Ulama yang dipenuhi ilmu dan ketaqwaan sekaligus saudagar kaya yang gemar bersedekah. Ialah, Abdullah ibn Mubarak.

Kita kembali belajar untuk tidak mengendorkan ketaatan meski tidak berada di bulan keberkahan. Kita kembali belajar untuk tidak berhenti menyemai kebajikan. Hingga kelak, lahirlah generasi-generasi membanggakan sebab kebaikan-kebaikan yang kita tanam.

Barangkali, kejemuan menyergap ketundukan di tengah jalan. Barangkali, kebosanan melanda jiwa-jiwa yang taat di pertengahan. Bila itu terjadi, barangkali pula kita perlu ingat. Kita tetap berkewajiban melahirkan generasi iman. Yang-sebagian besar-tak dilahirkan dari Ayah dan Ibu yang berpeluhkan kemaksiatan.

Allahu a'lam.
 

Sudah Shalatkah Anda?