Selasa, 11 November 2014

Sepersekian Detik Sebelum Marah

jayakusuma23.blogspot.com
Sebetulnya, kita punya waktu sepersekian detik sebelum kita marah. Iya, hanya sepersekian detik, tidak sampai satu detik.

Dalam waktu yang singkat itu, pikiran kita akan memutuskan; kita harus marah atau tidak. Bahkan sampai memutuskan, jika marah pelampiasannya akan seperti apa. Apakah dengan mencak-mencak, pasang muka merah, caci sana hina sini. Atau mau diredam saja amarahnya, lalu salurkan kepada sarana yang positif.

Ini juga berlaku kala kita terkejut. Ada waktu sepersekian detik sebelum pikiran kita memutuskan; apa sikap kita saat terkejut. Apakah dengan berkata kasar, sampai menyebut beragam binatang di Ragunan. Atau justru menyebut asma Allah dan perkataan agung lainnya.

Iya, hanya sepersekian detik. Itulah yang disebut akhlak.

Seperti yang diungkapkan oleh Imam Ghazali. Akhlak adalah apa yang keluar dari kita, baik perkataan dan perbuatan, secara spontan. Tanpa perlu berpikir dahulu.

Cukuplah kita melihat sikap seseorang ketika marah dan saat terkejut, untuk melihat bagaimana akhlaknya. Meski tak sepenuhnya jadi sandaran.

Sebab itu, Allah menciptakan momentum pembelajaran akhlak bagi kita. Yaitu, dalam shalat. Setiap pergantian rukun, ada sunnah bertakbir. Takbir ini adalah bagian dari pembiasaan. Mulut kita, lidah kita, pikiran kita dibiasakan mengucapkan kalimat yang baik. Belum lagi kalau ditambah dengan tilawah Qur'an dan mengayakan diri dengan zikir.

Apa yang kita biasakan, itu yang akan menjadi akhlak kita. Kalau ada yang tersandung batu, lalu berujar, "Eh, ayam, eh, ayam!" Ah, mudah sebenarnya menebak seperti apa akhlaknya. Dan mudah pula menebak apa kebiasaannya. Sekali lagi, meski tak sepenuhnya dapat menjadi sandaran penilaian.
 

Sudah Shalatkah Anda?