Selasa, 11 November 2014

Tentang Pemimpin

motivaksi.blogspot.com
“Saya, bukanlah yang terbaik diantara kamu sekalian," seru Abu Bakar menunduk, "Oleh karena itu saya sangat menghargai dan mengharapkan saran dan pertolongan kalian semua."

"Allah telah memberi ujian kalian semua padaku," Umar Al-Faruq tersedu.

"Amanah adalah tetap amanah," Utsman bin Affan mengingatkan, "maka berpegang teguhlah pada amanah itu. Dan janganlah kalian menjadi orang pertama yang melanggarnya. Karena apa yang kalian lakukan akan dicontoh oleh orang-orang sesudah kalian."

"Taatlah kalian kepada Allah dan jangan melanggar perintah-Nya," Ali bin Abi Thalib menasihatkan.

"Sungguh," Umar bin Abdul Aziz menumpahkan air mata, "aku takut pada neraka."

Tanya nuranimu, tak rindukah hatimu pada jiwa-jiwa yang mampu meresapi dengan tepat makna sebuah amanat?

Pada jiwa-jiwa yang sedu sedan mengenang pertanggungjawaban atas kepemimpinannya di Hari Mizan kelak?

Pada jiwa-jiwa yang sadar atas tanya 200 juta lebih rakyatnya di Hari Pengadilan nanti?

Bukan pada yang bersorak-sorai. Bak amanat adalah piala bergilir yang diperebutkan.

Bukan pada yang mengumbar maksiat. Atau lagu dan tarian pelupa kiamat. Bak merasa tak ada satu tagih pun padanya kelak.


Tak rindukah?

Atau Allah telah matikan rasa itu? Ah, bukan! Engkaulah yang mematikannya.

Engkau yang menutup hatimu. Menggelapkannya. Membangun tabir antara kebenaran dan egomu.

Moga Allah masih menurunkan rahmat-Nya pada negeri ini. Sebab sebuah keyakinan. Atas masih adanya orang-orang yang memendam rindu.

Lalu keluarlah dari mulut-mulut mereka doa Muhammad SAW saat di Thaif, "Ya Allah, kepada-Mu aku mengeluhkan kelemahan-kelemahanku, ketidak-berdayaanku, dan kehinaanku di hadapan manusia. Wahai yang Maha Pengasih di antara yang mengasihi!"
 

Sudah Shalatkah Anda?