Selasa, 11 November 2014

Yang Digenggam, Tak Sepenuhnya Dimiliki

hafizatulmuna.blogspot.com
Siapa pun kita, kelak bisa jadi berada di posisi Ibrahim 'alaihissalam. Menggantung hajat bertahun-tahun lamanya. Hingga, suatu hari lahirlah "Ismail" bagi kita.

Ada yang mengharap bisnis berkah. Maka, saat bisnisnya perlahan meraksasa, itulah "Ismail" baginya.

Ada yang mengimpikan rumah megah. Maka, kala keluarganya kini menetap di rumah impiannya, itulah "Ismail" untuknya.

Ada yang merindu kekasih shalih/shalihah. Maka, ketika ia dan jodohnya berlabuh di pelaminan, itulah "Ismail" buatnya.

Dan, selayak pula Ibrahim. Tak butuh selang lama, "Ismail"nya diminta kembali oleh Yang Maha Pemberi.

Pesannya jelas; siapa yang lebih kau cintai? Impianmu atau Tuhanmu?

Maka, kelak bisnis yang tengah membesar itu, bisa jadi Allah uji dengan rugi bertumpuk.

Maka, kelak rumah megah yang sedang dinikmati itu, mungkin Allah beri cobaan dengan api yang menghanguskan.

Maka, kelak kekasih yang lama diidamkan itu, barangkali Allah panggil untuk meninggalkan dunia yang melenakan.

Sungguh, kisah ayah dan anak ini mengajak kita menginsyafi diri. Yang kita genggam tak sepenuhnya milik diri. Yang kita peroleh tak seluruhnya kepunyaan diri.

Sebagaimana orang yang meminjam barang. Si empunya mampu kapan pun mengambil kembali barang miliknya.
 

Sudah Shalatkah Anda?