Kamis, 11 Desember 2014

Daging Para Ulama Itu Beracun

littlemikhael.wordpress.com
Usianya tua renta. Hartanya melimpah dan keturunannya banyak. Tapi, hampir setiap hari ia berkeliling Kufah dan menggoda setiap wanita yang ditemuinya.

Penduduk Kufah pun dibuat heran. Maka salah seorang warga bertanya padanya, "Wahai Kakek, mengapa sudah setua ini engkau masih menggoda para wanita?"

Sambil menyesali perbuatannya, sang Kakek menjawab, "Aku tertimpa doa Sa'ad bin Abi Waqqash."

Apa yang sebetulnya terjadi pada si Kakek? Mengapa seorang shahabat Rasulullah sampai berdoa demikian?

Bertahun-tahun sebelumnya, pernah suatu ketika 'Umar bin Khaththab mengirimkan tim untuk menginspeksi dan mengontrol seluruh pejabat yang berada di bawah pemerintahan beliau. Tim yang diketuai oleh Muhammad bin Maslamah ini, kemudian sampai di Kufah yang dipimpin oleh Sa'ad bin Abi Waqqash.

Kemudian mereka berkeliling Kufah, menanyakan satu per satu penduduknya tentang kepemimpinan Sa'ad atas mereka. Komentar seluruh penduduk Kufah bernilai positif. Banyak dari mereka yang menyanjung kepemimpinan Sa'ad. Sebagian dari mereka juga memuji kepribadian beliau.

Kecuali satu.

Tiba-tiba seseorang yang ditanyai tim ini menjawab, "Sa'ad tidak pernah menghakimi serta membagi kami dengan cara yang adil. Dan bukan orang yang peduli terhadap kami."

Sa'ad, yang juga tengah bersama tim tersebut, merasa tak demikian faktanya. Lalu ia berdoa, "Ya Allah, jika orang ini bohong, berilah ia umur yang panjang, harta yang melimpah, dan keturunan yang banyak. Serta berikan juga padanya, fitnah kehidupan yang besar."

Maka sejarah pun mencatat terkabulnya doa Sa'ad ini.

Hari-hari ini betapa dengan mudah kita menemukan orang-orang yang membicarakan aib para ulama. Mencibir para asatidz. Menggunjing orang-orang shalih. Menyebar dusta terhadap para wali Allah.

Padahal rekaman sejarah ini memberikan kita sebuah pelajaran yang besar. Terlepas dari doa Sa'ad yang selalu terkabul, sungguh mengerikan balasan bagi mereka yang menjelekkan para ulama dan orang shalih.

Bahkan ulama-ulama terdahulu memiliki ungkapan; Daging para ulama itu beracun. Jangan dimakan. Bukankah membicarakan aib sesama Muslim berarti memakan bangkai daging orang itu? Kalau daging para ulama beracun, jangan dimakan. Jika dimakan, niscaya Anda mati.

Allahu a'lam.
 

Sudah Shalatkah Anda?