Senin, 22 Desember 2014

Lelaki Penggenggam Syahadat

Menyelami kehidupan tokoh-tokoh besar memang tak ada habisnya.

Termasuk beliau. Berawal dari doa sang ibunda, "Ya Allah, bukakanlah pintu hatinya agar ia dapat membaca, menghafal, dan memahami Al-Qur'an. Ya Allah, jadikanlah ia sebagai mata pena-Mu dan mata pedang-Mu."

Maka jadilah Sayyid Quthb kecil seorang hafidz Al-Qur'an di usia 10 tahun.

Mengenyam pendidikan di Amerika sejak 1949, membuat pemikirannya sempat mendekati sekular. Namun, hidayah Allah itu muncul dengan uniknya. Hatinya diketuk oleh sebuah kenyataan yang menyisakan pertanyaan.

Lelaki macam apa yang ditembak dan dibiarkan mati hingga tetes darah terakhirnya mengalir? Mengapa militer Amerika begitu gembira atas kematiannya? Apa yang sebenarnya dilakukan lelaki bernama Hasan Al-Banna itu?

Lekas, Quthb kembali ke Mesir lalu bergabung dengan Ikhwanul Muslimin. Perlahan, ia ditunjuk sebagai pemimpin redaksi majalah resmi milik organisasi yang didirikan Hasan Al-Banna ini.

Kemampuan menulisnya yang dahulu dipakai untuk menyerang Islam, kini telah beralih fungsi. Ia menjadi mata pena bagi dakwah. Tulisan-tulisannya membangkitkan semangat jihad, membangun kesadaran, dan meluluh-lantahkan kedzaliman.

Gamal Abdul Nasser, penguasa Mesir kala itu, memandang hal ini sebagai ancaman. Segeralah Quthb dan kawan-kawannya ditangkap dan dimasukkan ke dalam penjara selama beberapa tahun. Sempat keluar, Quthb ditangkap kembali seusai menyelesaikan bukunya berjudul Ma'alim fi Ath-Thariq dan dituduh hendak melakukan kudeta.

Selama di penjara, selain fisik, Quthb dan narapidana lain disiksa mental. Hampir setiap hari mereka harus mendengarkan pidato Gaml Abdul Nasser selama 20 jam tanpa henti.

Tetapi, justru saat-saat inilah, sebuah karya monumentalnya lahir. Fii Zhilalil Qur'an, menjadi kitab tafsir yang membawa ruh pergerakan dakwah dan jihad.

Di tengah aktivitas menulisnya, siapa sangka Quthb pernah hampir putus asa?

"Apa gunanya makalah, jurnal, dan majalah-majalah ini? Lebih baik kita ke medan perang. Menyongsong senjata menghadapi musuh," ujarnya kala ia hampir berhenti menulis.

Namun, semuanya kembali berubah. Kala itu ia kembali melihat tulisan-tulisan lamanya. Betapa terkejutnya ia kala menemukan mimpi-mimpi dan analisanya terdahulu perlahan menjadi kenyataan. Termasuk kala ia "meramalkan", bahwa sesudah Komunisme, Barat akan menghadapi musuh besar lainnya; Islam. Analisa yang muncul jauh sebelum Samuel Huntington menulis hal serupa dalam Clash of Civilization-nya.

Quthb begitu takjub pada kekuatan kata-kata. Ia menyadari betul, ada yang harus diwariskan kepada generasi Muslim selanjutnya.
Kurang lebih 2 tahun setelah dipenjara untuk kedua kalinya itu, sang mata pena Allah menemui kesyahidannya. Kalimat terakhirnya yang menggentarkan seorang opsir Mesir begitu menyejarah.

"Telunjuk seorang mukmin yang selalu diangkat saat shalat, sebagai bentuk pengakuannya terhadap ketauhidan Rabbul Alamin. Tak akan pernah sekalipun digunakan untuk menulis atau menandatangani sesuatu yang dapat menyebabkan murka-Nya," lantangnya menolak meminta maaf pada Gamal Abdul Nasser.

Semoga Allah merahmatinya dan menjaganya di alam kubur dan akhirat nanti. Sungguh, umat ini amat merindukan orang-orang seperti wahai Syaikh.

Allahu a'lam.
 

Sudah Shalatkah Anda?