Jumat, 23 Oktober 2015

Memaknai Sakinah, Memburu Mawaddah - Resensi Buku Sayap-Sayap Sakinah



Apa yang Anda imajinasikan saat mendengar kata “pernikahan”?

Kegembiraan bertemu tambatan hati, kesibukan menyiapkan walimah, atau debar-debar menjelang akad? Juga segala rasa bahagia, canggung, tak sabar, seluruhnya menyatu dalam satu waktu? “Mari kita bersepakat bahwa rasa yang paling mendominasi segenap jiwa saat itu pastinya adalah bahagia. Kita semua sependapat bahwa menikah itu sebuah perkara indah.” (hlm. 9)

Namun, tampaknya ada yang perlu diluruskan dengan definisi “bahagia” kita. Sebab kita kerap mengartikan bahagia dengan penyelenggaraan walimah (resepsi) yang megah lagi wah. Masalahnya, kebahagiaan terlalu sempit jika dimaknai melalui besar-kecilnya walimah saja. Substansi pernikahan jauh lebih rumit. Butuh waktu panjang, energi besar, dan kesabaran luar biasa untuk menapakinya.

Untungnya Dzat Yang Maha Penyayang menunjukkan bimbingan-Nya. Bahwa perjalanan berat berupa pernikahan bertujuan satu: tercapainya sakinah.

Dan di antara ayat-ayat-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri supaya kamu merasa nyaman kepadanya…”  (Qs. Ar-Rum: 21)

“Dalam ayat tersebut terdapat kata litaskunuu ilaiha (merasa tenteram kepadanya). Litaskunuu berasal dari kata sakana, yang berarti nyaman, cenderung, tenteram, atau tenang—sakinah. Sedangkan kata ilaiha merujuk bahwa rasa sakinah itu berarti kepada yang dicintainya—dalam hal ini adalah pasangannya.” (hlm. 45)

Karena sakinah adalah tuntunan-Nya, maka selayaknya jalan menuju ‘cinta’ pun mengikuti petunjuk-Nya.

Betapa sebagian dari kita hari ini terburu-buru menebar janji yang belum tentu terbukti dan menitipkan rasa cinta pada sosok yang sebetulnya masih misteri. Andai saja kita merenungi kisah Abu Bakar bin Umar dan Zainab el-Nafzawiya. Kisah singkat dari buku Kitab Cinta dan Patah Hati-nya Sinta Yudisia tersebut membuktikan pada kita bahwa yang telah menikah pun belum tentu ‘berjodoh’. Sayangnya, pacaran, hari ini masih menjadi ikhtiar mencari jodoh paling populer. Sepasang lelaki-wanita menjalin hubungan tak halal berdalih penjajakan karakter. Dalih yang mudah dipatahkan.

“Nyatanya, anak-anak SD pun saat ini sudah mulai mencoba berpacaran. Anak SMP sekarang sudah ‘mahir’ menjerat mangsa dan melakukan hubungan seks tanpa nikah, bahkan di ruang kelas sekolah!” (hlm. 55)

Lalu mencari jodoh dari mana? Tenang, Mbak Afifah Afra telah menyiapkan 6 rumus yang dapat ditelaah di halaman 61-65. Agar rumus ini lebih aplikatif, di beberapa bab Mbak Afifah Afra dan Riawani Elyta pun tak segan membagikan kisah pernikahan mereka yang (catat!) tanpa didahului pacaran.

Lengkaplah persiapan merayakan cinta. Degup jantung kembali tenang sebakda akad. Apa yang sebelumnya haram, kini mendapatkan stempel halal, bahkan bernilai ibadah.
“Akan tetapi, apa yang perlu Anda ketahui bahwa pernikahan bukanlah sebuah taman bunga yang serba indah.” (hlm. 104)

Pria dan wanita jelas berbeda. Baik fisik, psikis, maupun pola pikir. Jika tidak diantisipasi, perbedaan-perbedaan kecil yang ada justru bisa berbuah perselisihan besar nantinya. Bagaimana mengantisipasinya? Temukan sendiri jawabannya di halaman 109-110, ya. Hehe.
Semakin ke dalam, kita akan disuguhkan formula-formula agar sakinah terus mengepakkan sayapnya. Dari menata ulang pemahaman tentang Mitsaqon Gholidzo, menata hati di malam pertama, menata cinta di awal pernikahan, menata sikap terhadap mertua, sampai menata jiwa jika ternyata sifat pasangan bertolak-belakang dengan harapan kita.

Cukuplah pemaparan menuju akad nikah hingga kiat membangun rumah tangga dalam buku ini, menjadi bekal bagi kita yang masih lajang atau telah berkeluarga. Agar sayap-sayap sakinah mampu mengembang. Dan menerbangkan rumah tangga kita mencapai ridha-Nya.

***

Saya yakin, buku ini bukanlah buku bertema pernikahan Islami pertama yang Anda temui. Saya sendiri sempat berpikir, “Apa bedanya buku ini dengan buku bertema sejenis lainnya? Ah, paling bahasnya itu-itu lagi.”

Tapi, bukankah kunci sukses belajar adalah ‘mengosongkan gelas’ dahulu?

Kita mesti berani merendah. Dan seperti kata Helvy Tiana Rosa, “…sadar bahwa kita belum tahu banyak.”

Dan sikap semacam itu terbukti hasilnya. Dalam buku setebal 248 halaman ini, saya memperoleh beberapa perspektif baru mengenai pernikahan dan beragam kisah berhikmah yang patut diteladani. “Nikah dan Second Opinion” adalah contoh bab yang sangat saya sukai. Benar-benar memberikan pemahaman baru.

Ditambah, kedua penulis ini merupakan penulis besar dan telah menelurkan banyak buku fiksi. Tidak heran diksi yang dipakai bervariasi dan mampu menyampaikan pesan tanpa kesan mendakwai. Bahasanya mengalir lincah, terselip humor, namun tetap padat dengan nash-nash dan fakta ilmiah.

Bagi Pembaca yang tidak terbiasa menyelesaikan bacaannya (ups!), buku ini lumayan membantu Anda. Penyusunannya yang tidak sistematis memungkinkan kita membaca dari bab mana pun. “Saya ingin tulisan-tulisan ini terjelma bak kumpulan benda-benda kecil yang bisa dinikmati secara terpisah. Namun tatkala benda-benda itu dikumpulkan, menjelmalah sebuah bentuk yang lebih besar dan utuh.” (hlm. 18)

Bobot buku ini bertambah dengan tampilan sepotong quote setiap mengawali bab baru. Seperti yang berada di halaman 189,

Bukankah cinta datang untuk menyatukan, dua hati yang berbeda.
Dan tiada memaksakan satu keinginan, atas keinginan yang lain.”
(Yana Yulio)

Bersiaplah pula meleleh dengan puisi-puisi cinta di akhir buku. Selamat membacanya di depan pasangan halal Anda (eh!).

Dari segi tampilan, desain sampul cukup eye catching dengan background warna biru dihiasi dua ekor burung dara. Tapi, karena bernuansa feminim, bagi saya yang laki-laki mungkin agak malu jika membacanya sambil berdiri di Commuter Line atau Transjakarta, hehe.

Terakhir, saya ucapkan selamat membaca dan mengepakkan sayap-sayap sakinah Anda.

***

Judul         : Sayap-Sayap Sakinah
Penulis        : Afifah Afra dan Riawani Elyta
Penerbit      : Indiva Media Kreasi, Solo
Tebal         : 248 halaman; 19 cm
Cetakan      : 1, Juli 2014
Nomor ISBN : 978-602-1614-22-8

Selasa, 19 Mei 2015

Ikhwan - Akhawat

Beberapa waktu lalu, seorang adik kelas berbisik mengajukan tanya, "Bang, teman saya pernah nanya begini, kenapa sih kalau acara-acara Rohis atau keislaman gitu harus pakai hijab? Ikhwan dan akhawat kenapa sih harus dipisah?"

Sampai sini, di dalam hati saya kira temannya itu ingin memprotes aturan tersebut tanpa alasan. Namun kemudian ia melanjutkan, "Tapi kadang kalau melihat panitianya, ngobrol antara ikhwan dan akhawat biasa saja. Saling tatap. Hijabnya seolah lepas jika berada di luar acara. Saya juga dulu sempat mikir sama kaya gitu bang. Terus ngapain saya diajarkan soal pergaulan ini-itu. Menurut antum bagaimana, bang?"

Subhanallah. Sungguh, sebenarnya saya terlalu malu untuk menjawabnya. Jelas, ini pukulan telak.

"Pertama, saya mewakili teman-teman memohon maaf pada antum dan teman-teman yang berpikiran sama seperti itu. Apa pun yang diajarkan pada antum mengenai pergaulan, insya Allah itu yang lebih benar dan lebih berhak untuk antum ikuti.

Insya Allah ini jadi bahan evaluasi buat saya dan teman-teman. Beberapa orang mungkin antum temui berbeda sikapnya dengan apa yang kami ajarkan. Yang seperti ini, jangan antum ikuti dan silakan dilaporkan kepada saya atau teman-teman alumni yang lain."

Beberapa hari yang lalu pun, seorang kakak kelas memberi pesan kepada saya melalui Whatsapp. Saat itu, sedang berlangsung diskusi antarsekolah mengenai apakah di acara rihlah antarrohis nanti akan ada penampilan seni dari Rohis masing-masing atau tidak.

"Ry, kalau nanti penampilan seninya jadi," pesan beliau, "tolong ingatkan sekolah lain ya. Usahakan akhawat itu jangan tampil. Ini kan acaranya untuk ikhwan juga. Khawatir apa yang kita ajarkan di sini, berbeda dengan sekolah lain."

Seharusnya ini menjadi koreksi bagi diri kita semua. Terutama mereka yang bergelut di dunia dakwah dan kebajikan.

Jangan-jangan, banyak yang lari dari dakwah ini bersebab kelakukan para pegiat dakwah itu sendiri. Nilai-nilai keteladanan meluntur. Seluruhnya atas dalih keterbukaan dan peleburan. Sampai tak jarang, antara ikhwan dan akhawat sesama penegak dakwah bercanda sepuasnya. Cair begitu saja seolah belum pernah merasakan tarbiyah Islamiyah.

Sebagaimana yang dituturkan Ust. Salim A. Fillah, kisah-kisah seperti ikhwan-akhawat sebuah kampus yang duduk saling membelakangi membicarakan dakwah, hingga salah satunya tidak sadar jika temannya telah pergi, tak tahu bahwa untuk beberapa menit ia berbicara sendiri. Kini sekadar cerita saja. Atau lelucon yang tak diambil ibrahnya.

Dakwah harus lebih memasyarakat, itu betul. Tetapi sesama pegiat dakwah sendiri tak saling menjaga adab, lalu masyarakat mau mencontoh siapa lagi? Di mana kontrol diri?

"Insya Allah kami masih bisa mengontrol diri kok. Sekadar saling tatap insya Allah masih aman."

Wallahi, apa indikator kita dapat menjaga diri? Padahal umur kita adalah masa-masa ketika syahwat bergejolak. Bergelora meminta dituruti ajakannya. Minimal, ia mengajak setan agar membengkokan hati kita. Jadilah amal itu sia-sia.

Sudah dakwah tidak maksimal, pahala tak jua didapat.

Allahu a'lam.

Yang Mana Kita?

Ada beda; antara rizki dan pendapatan. Rizki memiliki arti umum. Meliputi seluruh pemberian-Nya bagi hidup kita. Kesehatan, waktu luang, istri yang shalihah, anak-anak yang menentramkan hati, hingga iman yang menyuburkan jiwa. Sedang pendapatan ialah bagian dari rizki. Dinanti para karyawan tiap akhir bulan, diburu para pebisnis ketika bertransaksi.

Beberapa orang menikmati keduanya; pendapatan cukup, rizki berlimpah. Inilah karunia ganda. Yang tak semua orang merasainya. Namun rindu kita atasnya tidak berhenti. Siapa yang tak ingin berlibur dengan keluarga tanpa memikirkan biaya?

Sebagian lain, diberi kenikmatan berbeda. Pendapatan pas-pasan, tetapi rizki terus mengalir. Ini yang kerap kita lupa syukuri. Hitung saja kebutuhan sebulan, lalu bandingkan dengan penghasilan yang diperoleh. Jangan lupa, hitung biaya oksigen yang kita hirup saban hari. Betapa matematika langit senantiasa melampaui pikiran manusia. Siapa sangka seorang tukang bubur dengan pendapatan biasa, mampu memenuhi seruan-Nya ke tanah suci?

Sementara lainnya, Allah uji dengan pendapatan yang mencukupi namun rizki baginya terbatas. Ini yang tak jarang kita jumpai. Mapan, rumah mewah, anak banyak, tetapi makan tidak boleh sembarangan. Ada pantangan ini dan itu. Kalau tidak, siap-siap harta dihabiskan untuk menggaji pegawai rumah sakit. Na'udzubillah.

Bagi sejumlah orang, keduanya justru serba kekurangan. Namun, selayak nasihat Ust. Rahmat Abdullah, jika ada kemiskinan paling berbahaya di dunia ini, maka itulah kemiskinan tekad. Tidak penting ia kaya atau miskin, cukup atau kurang, bila hatinya krisis tekad, ia hanya menunggu untuk ditakbirkan empat kali.

Lalu, yang mana kita? Semoga apa pun keadaannya, Allah tetap mengaruniakan syukur dan sabar di setiap desir nafas kita. Sebab, seluruh yang dihadirkan-Nya tidak ada yang datang kecuali bersama kebaikan. Jika lapang, semoga syukur menghiasi segala nikmat-Nya. Hingga kelapangan itu mengantarkan pada kemuliaan dan kebermanfaatan bagi sesama. Jika sempit, semoga sabar mengisi setiap kekosongan rizki dan pendapatan. Hingga kesempitan itu tidak membawa kita pada kemaksiatan serta kekafiran.

Allahu a'lam.

Yang Lebih Mahal Dari Sekadar Haram-Halal

Pernahkah Anda, melihat seorang lelaki shalat memakai celana sekadar menutup pusar hingga lutut? Saya rasa Anda mungkin jarang--atau tidak pernah--menemukan lelaki semacam ini. Kecuali jika orang tersebut kurang kewarasannya, atau minimal sangat minim pemahamannya.

Agama fitrah kita, Islam, memiliki tiga komponen utama. Ialah aqidah, syariah, dan akhlak. Konsekuensi pelanggaran aqidah biasanya seputar kafir, munafik, bid'ah, khurafat, dsb. Pada syariat, hukumnya tak jauh dari wajib, sunnah, mubah, makruh, haram, fasad, dan lainnya.

Sementara akhlak, bermuara pada dua penilaian; terpuji dan tercela.

Ketiganya, membuktikan betapa Islam agama yang paripurna. Mengatur setiap sudut kehidupan serta membimbing umatnya bagaimana beribadah dan meraih ridha-Nya dengan metode yang tepat.

Sebagaimana perintah shalat. Anda tidak akan mungkin menemukan seorang Muslim yang memahami ketiganya, pergi ke masjid bermodal celana saja. Tentu ia punya malu. Ia paham, ia akan bersimpuh di hadapan Rabb yang telah menciptakannya. Secara aqidah, ia mengakui adanya Allah, Rabb yang harus disembah. Melalui syariat, ia belajar bagaimana menunaikannya dengan cara yang benar. Termasuk batasan aurat pria. Dalam fikih, sebetulnya sah saja shalatnya meski hanya bagian pusar hingga lutut yang tertutupi.

Tetapi ada yang lebih mahal dari sekadar halal-haram, ialah akhlak.

Sebab akhlak adalah bagian dari takwa. Ia memenuhi porsi besar saat Rasulullah mula-mula berdakwah di Mekkah. Ia menjadi indikator keimanan seseorang. Ia tak hanya bermanfaat di dunia, bahkan membawa kebaikan hingga ke akhirat. Selayak jawaban Sang Nabi atas tanya Ummu Salamah.

"Ya Rasul, di antara kami, para wanita, ada yang menikahi lebih dari satu lelaki di dunia. Jika kelak wanita tersebut dan para suaminya masuk surga. Wanita ini akan bersama siapa wahai Rasul?"

"ia dibebaskan memilih," sahut Rasulullah, "lalu dia pun memilih siapa di antara mereka yang paling baik akhlaknya.

…Wahai Ummu Salamah, akhlak yang baik itu akan pergi membawa dua kebaikan, dunia dan akhirat.”

Adalah Imam Ahmad ibn Hanbal sempat diprotes oleh beberapa orang, "Wahai Imam, bukankah engkau bilang bahwa tanah itu bukan najis. Mengapa ketika baju yang hendak engkau pakai untuk shalat terkena tanah, engkau pulang lalu berganti pakaian?"

Sang Imam menjawab tawadhu, "Dzalika fatwa, wa hadza takwa; yang itu fatwa, yang ini adalah takwa."

Allahu a'lam.

Jumat, 27 Februari 2015

Resensi Buku Midnight Kring - Lomba FLP


Roger 8, geng pengurus OSIS di STM Pembinaraganungan, mendadak terganggu ketenangan hidupnya. Geng yang beranggotakan Oji, Mandar, Yono, Pandu, dan Manto ini mendapatkan teror telepon gelap. Tepat jam 12 setiap malam, telepon mereka berdering. Namun ketika diangkat, tak ada jawaban. Senyap. Kadang, suara yang keluar justru bikin bulu kuduk merinding: suara cekikikan.

Keadaan bertambah runyam karena ternyata OSIS sedang pontang-panting memburu dana. Acara mereka yang bertajuk P4 (Pasukan Prestasi Vs. Pasukan Pornografi) kekurangan biaya sebesar 15 juta rupiah. Padahal acara hanya menyisakan waktu dua minggu lagi.

Sementara itu, geng lain yang diketuai oleh Gamal sedang menyusun rencana untuk menghancurkan Roger 8. Ipat dan Nafis, anak buah Gamal, diperintahkan mendaftar sebagai pengurus OSIS. Sedangkan Gamal mengatur siasat dari balik layar.

Merasa tak nyaman, Roger 8 memberanikan diri mengusut tuntas masalah ini. Penyelidikan demi penyelidikan mengarahkan mereka pada rumah kosong di Rawakodibangun Residence. Rumah yang benar-benar tampak horor, terbengkalai, dan tanpa penerangan.

Ternyata masalah ini secara tidak langsung juga menyeret Gamal, dkk. Mau tak mau, ketiga musuh OSIS itu pun harus menikmati gelapnya rumah kosong di Rawakodibangun Residence.

Di tempat lain, Jepri, artis yang sedang naik daun, bertambah popularitasnya di layar kaca. Kasus perampokan yang terjadi di rumahnya menjadi buah bibir di mana-mana.

Semua cerita kemudian saling terhubung menjadi satu benang lurus. Membawa Roger 8, Gamal, dan kasus perampokan Jepri melewati beragam episode penuh humor, misteri, bahkan tak ketinggalan petikan-petikan hikmah. Pembaca dibuat penasaran hingga akhir cerita. Padahal si penelepon ajaib itu ternyata…

***

Dibagi dalam 10 chapter, novel remaja karya Asa Mulchias ini diawali dengan saat pertama kali Yono dan kawan-kawan diteror si penelepon gelap. Hanya Oji yang tak diteror. Si doi nggak punya ponsel. Ia hanya diteror dengan timpukan-timpukan gaib ke arah jendela rumahnya di tengah malam.

Meski begitu, Oji tak peduli. Dibandingkan keempat temannya, ketua Roger 8 ini paling tidak percaya dengan hal-hal berbau takhayul.

Sedangkan Gamal dan kedua temannya, perlahan menyusun siasat untuk melawan Roger 8. Dendam Gamal di masa lalu telah sampai puncaknya. Dendam inilah yang kemudian merepotkan Roger 8. Rencana-rencana Gamal menjadi awal mula teror telepon gelap terhadap Yono dan kawan-kawan.

Kepiawaian penulis dalam menyusun alur cerita terlihat dalam novel ini. Jalan cerita kadang dibuat maju-mundur. Dari scene telepon gelap yang menyerang Yono, tiba-tiba scene berpindah ke Nafis dan Ipat yang terpaksa menuruti perintah Gamal karena rasa balas budi. Dari adegan Roger 8 mencari dana bagi acaranya, plot bisa berubah pada enyak Oji yang setia mengikuti perkembangan kasus perampokan di rumah artis kesayangannya, Jepri.

Tidak mudah bosan membaca Midnight Kring. Ditambah banyak humor-humor ringan yang menghiasi paragraf demi paragraf. Misal ketika Pak Fajar—tukang nasi goreng di kantin—ditanya mengapa ia tak bangga STM Pembinaraganungan berpredikat SBI alias Sekolah Berskala Internasional. “Ngapain saya bangga? Siswa bukan, guru bukan! Saya, kan, cuma jualan nasi goreng di sini!” (Hal. 11).

Pembaca juga dibuat menebak-menebak siapa penelepon gelap itu sebenarnya. Meski Gamal memiliki andil dalam misteri ini, namun salah jika menebak pelakunya adalah ia.

Keunggulan lain novel ini ialah point of view yang beragam. Kita bisa melihat sudut pandang hampir dari setiap tokoh. Selain itu, kedalaman karakter tiap tokoh digambarkan tak hanya melalui deskripsi penulis, namun juga melalui dialog-dialog.

Penulis juga menyisipkan informasi-informasi yang patut diapresiasi. Misal ketika menggambarkan Yono yang maniak Doraemon atau Mandar yang fanatik dengan isu HIV-AIDS, penulis kadang memaparkannya melalui dialog tokoh. Selain karena data-data akurat yang pasti perlu diteliti dahulu sebelum menulisnya, pemaparan informasi menjadi tidak kaku. Terasa lebih ringan karena menggunakan bahasa remaja pada umumnya.

Tak ketinggalan, di sela-sela cerita ada pelajaran dan kata-kata bijak yang sayang  dilewatkan. Seperti ketika Oji menasihati Yono—ketua acara P4—yang frustasi dengan masalah yang datang bertubi-tubi.

Bro,” Oji buka mulut, “kalo ada orang yang boleh putus asa di forum ini, gue bisa bilang orangnya bukan dan nggak boleh elo. Elo itu pemimpin acara ini. Elo harusnya jadi sumber semangat, sumber harapan, sumber inspirasi anak buah elo. Kalau elo lesu begitu, gimana anak buah lo?” (Hal. 77).

***

Dengan segala kelebihannya, novel ini tentu tak lepas dari beberapa hal yang perlu dikritisi. Dari segi fisik, kertas di buku yang saya beli mudah lepas. Padahal buku ini terbilang buku baru dan jarang saya buka. Barangkali ini salah satu pekerjaan rumah bagi penerbit.

Sedangkan pada isi novel, tokoh Manto hampir terasa terabaikan. Digambarkan sebagai sosok pendiam, ia hanya berbicara dua kali sepanjang cerita. Selain itu, mungkin bagi beberapa orang, ide cerita terdengar basi. Kalau saja bukan karena penyajian cerita yang apik dan bahasa yang tidak membosankan, mungkin novel ini telah ditinggalkan sejak chapter pertama.

Ending cerita juga terasa menggantung. Meski misteri ini akhirnya terkuak, akhir cerita seperti memberikan ruang tanya bagi pembaca. Tokoh Gamal hanya digambarkan menyendiri dan menjauh dari teman-temannya. Tak ada keterangan tentang kelanjutan geng yang diketuainya atau hubungan antara Gamal dengan Roger 8.

For your information, keunikan novel ini terletak pada keterkaitan antara tokoh-tokohnya dengan penulis. Ternyata nama-nama dan karakter tokoh disesuaikan dari nama-nama adik kelas penulis di STM dahulu. Meski kisahnya fiktif, bagi orang-orang yang mengenal penulis dan tokoh-tokoh aslinya, bukan tak mungkin merasa novel ini seperti hidup.

Detail:
Judul              : Midnight Kring
Penulis          : Asa Mulchias
Penerbit         : PING!!!
Tebal              : 224 halaman
Cetakan         : I, Mei 2014

No. ISBN       : 978-602-255-521-6

Senin, 16 Februari 2015

Ingin Berubah Jadi Lebih Baik? Hindari 4 Kata Ini!

Ada saja godaan setan untuk menghalangi kita dari berkebajikan. Kadang mereka membuat kita malas. Kadang tubuh dibuat tak bergairah. Hingga tak jarang, waktu luang terbuang sia-sia. Jika tak oleh kebaikan, waktu kita disusupi setan dengan kemaksiatan.

Maka ketika hendak berkebajikan itu, setan kerap menahan kita dengan berbagai cara. Termasuk dengan kata-kata berikut. Apa saja itu? Yuk, tengok.


Ini nih salah satu kata (atau lebih tepatnya kalimat) yang tanpa sadar sering kita ucapkan. Parahnya, kadang kata ini kita gunakan kala hendak bermaksiat. "Sekali ini aja, deh. Besok nggak lagi." Padahal tak ada yang menjamin umur kita masih ada selepas berbuat dosa. Kata ini sebetulnya semu belaka. Fungsinya melegitimasi maksiat kita saja. Besok, lagi-lagi kita berdalih, "Sekali ini aja, ya." Atau kadang dengan kalimat lain, "Ini yang terakhir, deh." Tetapi ternyata maksiat kita masih terulang.


"Mendingan gue masih mau baca Al-Quran satu lembar per hari, daripada si anu, nggak pernah sama sekali," ucap seseorang. Yang lain berbeda kalimat tetapi bernada sama, "Mendingan gue cuma merokok satu batang per hari. Lihat tuh bapak-bapak! Sampai ada yang merokok dua bungkus per hari."

Aduhai, betapa berbahaya kata ini. Dengannya kita bisa menghalalkan sebuah maksiat dan menganggap baik turunnya iman. Kita merasa jumawa. Lebih baik dan lebih mulia dibandingkan orang lain. Padahal pepatah itu telah teramat terang; "Bila urusan akhirat, lihatlah ke atasmu."


Kata-kata yang ini tak kalah menggodanya. Uniknya, kata ini berusaha merestui maksiat kita, dengan menyamakan semua orang. Seakan semua manusia layaknya kita. Yang mudah bermaksiat dan menghimpun dosa. Kerap pula, kalimat ini bermetamorfosis, "Jangan munafik gitu, semua cowok juga melotot kalau melihat cewek cakep." Atau, "Teman-teman di kelas juga mencontek semua, nggak salah dong gue nyontek juga?" Nastaghfiruallah.


Wahai, satu-satunya hal yang harus ditunda adalah rencanamu untuk menunda betobat dan berkebajikan. Kata-kata ini sederhana, tapi dengan mudah mematahkan tekad kita menghindari maksiat. Kita seperti tak ingat mati dan hari kiamat. Kita lupa. Kita manusia biasa, yang satu menit kemudian pun bisa menemui ajal.

Begitulah, Sob. Kalau 4 kata-kata di atas masih kita turuti, selamanya kita akan diam di tempat. Tidak beranjak sedikit pun menuju gerbang kebaikan. Hingga tambahlah benar aksioma itu, "Jadi orang baik susah, ya?"
Semoga Allah memberi kita hidayah, keimanan, dan ketabahan berada di atas jalan-Nya. Aamiin.

Kamis, 12 Februari 2015

Ditipu Setan

kabarmuslimah.com
"Di masa Bani Israil dahulu," tutur Ali bin Abi Thalib yang diriwayatkan oleh Ibnu Jarir, "hiduplah seorang rahib yang menjadi ahli ibadah selama 60 tahun.

Setan yang tak pernah berhasil menggodanya, akhirnya berhasil mendapatkan satu ide.

Melalui seorang wanita yang gila, setan hendak menjebak si rahib. Ia membisiki saudara-saudara wanita tersebut, 'Pergilah kalian kepada rahib itu.'

Sesampainya di rumah sang rahib, lantas ia mengobatinya. Butuh beberapa waktu hingga wanita itu sembuh. Selama pengobatan itulah, sang rahib dan wanita tersebut hidup bersama.

Hingga suatu hari, hati sang rahib mulai tertarik pada wanita itu. Namun apa daya, berkat bisikan setan, sang rahib justru berzina dengan wanita tersebut.

Sang rahib bingung dan menyesal atas perbuatannya. Tak tahu hendak berbicara apa di depan saudara-saudara si wanita. Pada kesempatan ini, setan kembali beraksi.

'Aku adalah sahabatmu. Sesungguhnya engkau telah membuatku kelelahan. Dan akulah yang telah membuatmu seperti ini. Sebab itu, taatilah aku. Aku akan menyelamatkanmu. Bersujudlah padaku sekali saja,' bisik setan pada si rahib.

Maka rahib yang putus asa itu, bersujud pada setan.

Lengkap sudah keberhasilan setan. Enam puluh tahun berjuang, hingga sang rahib takluk padanya. Tapi apa kata setan selanjutnya?

'Sesungguhnya aku berlepas dari dirimu, sesungguhnya aku takut kepada Allah, Rabb segenap alam.'

Setan nyatanya berlepas diri dan tak memberi bantuan apa pun pada sang rahib. Maka sang rahib akhirnya ditangkap, lalu dibunuh."

Kisah ini kemudian dikutip oleh Ibnu Katsir ketika hendak menafsirkan ayat:

"(Bujukan orang-orang munafik itu) seperti (bujukan) setan ketika dia berkata kepada manusia, 'Kafirlah kamu.' maka tatkala manusia telah kafir ia berkata: 'Sesungguhnya aku berlepas diri darimu, karena sesungguhnya aku takut kepada Allah, Rabb segenap alam.'" (Qs. Al-Hasyr: 16)

Tampaklah pada kita bagaimana cara kerja setan. Ia menggoda kita. Membujuk kita agar membersamainya di neraka.

Ia hias setiap keburukan. Hingga keburukan itu terlihat indah di mata kita. Padahal, tak sedikit pun ia dapat menyelamatkan kita. Sekali pun, ia tak mampu menolong kita.

Na'udzubillahi minasy syaithanirrajim.

Seberapa Burukkah Khamr Itu?

konsultasisyariah.com
"Dahulu, pernah ada seorang ahli ibadah yang masuk ke dalam perangkap seorang wanita," Utsman bin Affan mengawali kisahnya.

"Wanita itu mengutus pembantunya menemui ahli ibadah tersebut," tambah Utsman, "Si pembantu mengatakan bahwa sang ahli ibadah harus menemui tuannya untuk menjadi saksi.

Maka berangkatlah keduanya menuju rumah wanita tersebut.

Ketika ahli ibadah itu masuk, tiba-tiba si wanita menutup pintu rumahnya. Di samping wanita tersebut telah tersedia seorang anak kecil dan sekendi minuman khamr.

'Aku memanggilmu bukan untuk menjadi saksi. Sebenarnya aku menginginkan dirimu,' wanita itu mengutarakan maksudnya. 'Pilihlah! Minum segelas khamr ini atau kau bunuh anak kecil ini.'

Sang ahli ibadah tak berusaha keluar dari tempat tersebut.

Ia justru berkata, 'Lebih baik aku meminum satu gelas khamar ini.'

Setelah habis satu gelas, ahli ibadah itu malah terus meminta, 'Tambah satu gelas lagi!' Semakin ia minum, makin tak hilang rasa dahaganya. Perlahan, ahli ibadah itu kehilangan kesadarannya.

Kemudian ia berzina dengan wanita tersebut dan justru membunuh si anak kecil."

"Ketahuilah," Utsman bin Affan mengakhiri kisahnya, "iman seseorang tidak akab bersatu dalam hati seorang pecandu minuman keras.

Salah satu dari keduanya akan keluar dari hatinya. Imannya yang keluar atau kebiasaannya minum khamr," pungkas beliau.

Allahu a'lam.

Minggu, 08 Februari 2015

Persaingan

herman-nurhidayat.blogspot.com
Selain terharu, saya kerap tertawa ketika membuka lembar-lembar sejarah 'persaingan' antara Abu Bakar dan Umar bin Khattab. Bukan sebab humoris. Tetapi kisah mereka selalu mengundang senyum yang seakan berkata, "Menakjubkan!"

Ketika udangan beramal datang, keduanya setia di garda terdepan. Jika panggilan berkebajikan hadir, mereka tak akan pernah abstain.

Namun saat sanjungan menggoda keduanya, wajah mereka tertunduk bahkan menitikkan bulir air mata. Amanah kekhalifahan yang sempat menjemput, ibarat beban yang amat memberatkan.

***

Tak lama setelah Nabi wafat, kursi kepemimpinan kaum muslimin mengalami kekosongan.

Umar yang gundah sebab masalah ini, lantas berdiri di hadapan penduduk Madinah. "...adapun Abu Bakar, ialah sahabat setia Rasulullah, orang kedua di dalam gua, serta yang paling berhak mengatur urusan kalian. Berdirilah dan baiatlah ia!."

"Ulurkan tanganmu," pinta Umar pada Abu Bakar. Seolah tak ingin ada yang menyebut nama Umar sebagai khalifah.

Maka Umar pun membaiatnya. Termasuk seluruh komunitas Muhajirin dan Anshar.

***

Di kesempatan lain, pernah Abu Bakar memberikan memo tentang pemberian tanah milik kaum muslimin bagi Uyaynah bin Hishn dan Aqra bin Habis.

Namun, memo ini harus sepertujuan Umar. Ketika Umar ditemui, ia justru meludahi dan menghapus isi memo itu. Sebab, tanah itu milik bersama umat Islam. Bukan milik orang tertentu.

"Kami tidak tahu," geram keduanya pada Abu Bakar, "apakah Anda yang menjadi khalifah atau Umar?"

Apa jawab Abu Bakar? "Tidak. Kalau ia mau, ia bisa menjadi khalifah sekarang ini."

Bahkan ucapnya pada Umar, "Aku sudah katakan kepadamu dulu. Kamu itu lebih pandai mengurus ini daripada aku, tetapi kamu mengalah kepadaku."

Masya Allah.

***

Meminjam istilah Ust. Salim A. Fillah, inilah bagian dari lapis-lapis keberkahan. Kita mengambil teladan dari sosok-sosok pribadi yang mulia nan agung.

Pada individu-individu yang Allah beri gelar "sebaik-baik umat".

Maka, jika tak bukan pada mereka, ke mana lagi kita mencari keteladanan?

Sabtu, 07 Februari 2015

Ia yang Kalimatnya Diamini Al-Quran

sejarah.kompasiana.com
"Ya Allah, jelaskan kepada kami tentang minuman keras," pinta Umar bin Khaththab suatu waktu.

Maka Allah menurunkan firman-Nya, "Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah, 'Pada keduanya terdapat dosa yang besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya.'" (Al-Baqarah: 219).

Seakan tak puas, di lain waktu Umar berdoa kembali, "Ya Allah, jelaskan kepada kami tentang minuman keras lebih detail lagi."

Allah pun menjawab doanya, "Hai orang-orang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan." (An-Nisa: 43).

Masih tak lega, Umar melangitkan doanya kembali, "Ya Allah, jelaskan kepada kami tentang minuman keras lebih detail lagi."

Pengharaman khamar memasuki puncaknya, "Hai orang-orang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan anak panah, adalah termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu beruntung." (Al-Maidah: 90).

***

Di lain hari, Umar meminta agar maqam Ibrahim dijadikan tempat shalat. Maka turunlah surat Al-Baqarah ayat 125.

"Dan (ingatlah), ketika Kami menjadikan rumah itu (Baitullah) tempat berkumpul bagi manusia dan tempat yang aman. Dan jadikanlah sebagian maqam Ibrahim tempat shalat..."

Ia juga pernah berpesan pada Sang Nabi, "Rasulullah, orang baik dan orang jahat mendatangimu. Seandainya Anda perintahkan para Ummul Mukminin untuk memaki hijab."

Lalu kalam Allah mengamininya, "Hai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin: 'Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka'. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (Al-Ahzab: 59).

"Tahan diri kalian," Umar mengingatkan para istri Nabi di lain masa, "atau Allah akan mengganti kalian dengan istri yang lebih baik untuk Rasul-Nya."

Salah seorang istri Rasul memprotes, mengapa tak Rasulullah sendiri yang menasihati istri-istrinya? Tetapi justru ayat lain kembali turun.

"Jika Nabi menceraikan kamu, boleh jadi Tuhannya akan memberi ganti kepadanya dengan istri-istri yang lebih baik daripada kamu, yang patuh, yang beriman, yang taat, yang bertobat, yang mengerjakan ibadah, yang berpuasa, yang janda dan yang perawan." (At-Tahrim: 5).

***

Sungguh, siapa yang dirinya tak ingin seperti Umar? Hidupnya menjadi inspirator turunnya wahyu.

Mulai dari soal tawanan perang Badar, adab memasuki rumah, hingga perihal menshalati jenazah orang-orang munafik.

Di kala Abu Bakar memberi hikmah pada kita bahwa tak ada orang besar yang muncul dengan instan. Umar menunjukkan pada kita bagaimana hidup dalam buaian Al-Quran. Tentu wahyu tak mungkin turun lagi. Tetapi bukan itu poin intinya.

Memiliki kata-kata yang sering diamini Allah sungguhlah tak mudah. Tak ada harga murah untuk sebuah keistimewaan. Butuh bertumpuk-tumpuk pengorbanan dalam menegakkan ajaran Nabi-Nya. Perlu bersusun-susun amal kebajikan hingga Allah ridha padanya.

Umar betul-betul menjadikan Al-Quran tak sekadar pemuas intelektual belaka. Atau hafalan-hafalan minim makna. Ia menjadikannya peta hidup. Visinya berorientasi pada mengimplementasikan setiap ayat.

Maka baginya sepuluh ayat itu sudah cukup. Ia teras berat untuk diamalkan. Tak perlu ditambah lagi, katanya.

Maka baginya satu ayat itu cukup membuatnya sakit selama sebulan. "Sesungguhnya azab Tuhanmu pasti terjadi." (Ath-Thur: 7).

Ya Allah, ampunilah kami yang amat jarang membuka ayat-ayat-Mu. Menjadikannya berdebu di lemari-lemari yang telah bersarang laba-laba.

Ya Allah, ampunilah kami yang sekadar membaca dan menghafal kalimat-Mu. Namun tak sedikit pun kami praktikk dalam hidup. Justru kami gunakan untuk meligitimasi kemaksiatan kami. Firman-Mu kami catut untuk membenarkan dosa-dosa kami.
 

Sudah Shalatkah Anda?