Rabu, 28 Januari 2015

Fitnah, Dendam, dan Kisah Nabi Yusuf

Telah berlalu 40 tahun sejak Nabi Yusuf ditenggelamkan ke dalam sumur. Sebuah konspirasi pembunuhan yang didasari kedengkian hati. Tak puas melihat saudara sendiri dianak-emaskan oleh kedua orang tua.

Tetapi, kita tahu bersama, episode kesengsaraan Nabi Yusuf tak berhenti di situ. Ia dipekerjakan sebagai budak. Jadilah Yusuf 'alaihissalam, pria tampan yang berada di strata terendah masyarakat kala itu. Sudah jadi budak, nasibnya justru beralih ke balik jeruji besi. Dan di antara episode cobaan-cobaan yang menimpanya, ada pula Zulaikha. Ujian kenikmatan, yang hampir saja melenakan.

Namun kini Nabi Yusuf memasuki episode baru. Ia telah menduduki sebuah jabatan penting di Mesir.

"Dan demikianlah Kami memberi kedudukan kepada Yusuf di negeri Mesir; (dia berkuasa penuh) pergi menuju ke mana saja yang ia kehendaki di bumi Mesir itu. Kami melimpahkan rahmat Kami kepada siapa yang Kami kehendaki dan Kami tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik." (QS. Yusuf: 56)

Hingga suatu hari.

Saudara-saudaranya beserta ayahnya, Nabi Ya'qub, mengunjungi Mesir. Selain untuk meminta perlindungan, mereka hendak memperoleh kebutuhan pokok dengan harga yang murah. Maka bertemulah mereka dengan Yusuf. Tapi tak ada satu pun yang mengenali Yusuf, sebab Yusuf telah pergi dari rumah sejak belia. Berbeda dengan Yusuf, ia justru mengenali ayah dan saudara-saudaranya.

"Dan saudara-saudara Yusuf datang (ke Mesir) lalu mereka masuk ke (tempat) nya. Maka Yusuf mengenal mereka, sedang mereka tidak kenal (lagi) kepadanya." (QS. Yusuf: 58)

Keadaan benar-benar memaksa mereka agar segera mendapatkan makanan. Masa paceklik yang begitu panjang, menyebabkan banyak masyarakat--termasuk mereka--tertimpa kelaparan dan kesempitan hidup. Bahkan mereka harus menemui Al-Aziz langsung. Saudara-ssudara Yusuf ini rela mengemis di depan penguasa Mesir. Tetapi justru melalui peristiwa itu, akhirnya mereka mengenali Yusuf 'alaihissalam.

"Mereka berkata: "Apakah kamu ini benar-benar Yusuf?" Yusuf menjawab: "Akulah Yusuf dan ini saudaraku. Sesungguhnya Allah telah melimpahkan karunia-Nya kepada kami. Sesungguhnya barang siapa yang bertakwa dan bersabar, maka sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik." (QS. Yusuf: 90)

Dalam keadaan seperti ini, wajar sebetulnya jika Yusuf sudi mengusir saudara-saudaranya dari Mesir. Membiarkan mereka larut dalam kesengsaraan dan kelaparan. Tak jauh berbeda dengan apa yang mereka perbuat pada Yusuf puluhan tahun silam. Itu semua mudah bagi Yusuf. Ia memiliki kuasa, memiliki jabatan penting di pemerintahan.

Tapi apa yang dikatakan Yusuf pada saudara-saudaranya?

"Dia (Yusuf) berkata: "Pada hari ini tak ada cercaan terhadap kamu, mudah-mudahan Allah mengampuni (kamu), dan Dia adalah Maha Penyayang di antara para penyayang." (QS. Yusuf: 92)

Bagi kita hari ini, yang menganalogikan diri layaknya kisah Yusuf. Ingatlah bahwa jarak antara sumur dan istana itu 40 tahun masanya. Bahkan riwayat lain menyebut 80 tahun lamanya. Waktu yang panjang, penuh pengorbanan, dan butuh napas kesabaran yang kuat.

Tetapi, fitnah itu rasanya baru kemarin. Tak ada dua tahun rasanya. Kita belum berada di strata terendah masyarakat. Kita belum menikmati dinginnya penjara, apalagi desing peluru di tengah-tengah demonstrasi.

Kita pun belum berkuasa, sebenarnya. Kita ini belum apa-apa.

Hari ini Allah hanya sejenak membuka aib musuh-musuh kita. Memperlihatkan pada semua makhluk-Nya, betapa lemah sebuah koalisi kebathilan. Layaknya sarang laba-laba; terlihat kuat, namun sangat rapuh.

Pada masa kini, justru betapa mudah kita membalas dendam. Mencerca, memaki, menyebut dengan panggilan yang buruk. Kita ini belum apa-apa. Belum melakukan apa-apa. Jangankan berkuasa, berjalan saja masih tertatih-tatih.

Wahai, perjalanan kita masih amat panjang. Ada pekerjaan-pekerjaan besar yang lebih layak diselesaikan. Ada amanah-amanah yang menunggu untuk ditunaikan. Daripada ghibah sana-sini atas hal-hal kecil nan sepele. Yang bisa jadi hanya mengalihkan isu dan fokus kita pada perkara-perkara yang justru lebih berbahaya.

Wahai, kita ini baru keluar dari sumur. Masih ada episode menjadi budak, dipenjara, dan ujian-ujian kenikmatan dunia.

Allahu a'lam.

Senin, 12 Januari 2015

Mengaitkan Sains Dengan Al-Quran dan Hadits

guardyan.blogspot.com
Ilmu pengetahuan (sains) yang berkembang sekarang, tulis Ust. Budi Handrianto dalam buku Islamisasi Ilmu, telah banyak diwarnai corak kebudayaan Barat. Sehingga tak heran, pembahasan sains di dunia pendidikan jauh dari warna keislaman.

Sebab, pada dasarnya kebudayaan Barat menolak konsep wahyu dan memisahkan antara sains dan agama. Seluruh fenomena alam dijelaskan secara mekanis dan fakta empiris belaka.

Sains satu kali pun tak menjelaskan kekuasaan Allah atas semesta alam. Apalagi menjadikan kejadian-kejadian di langit dan bumi sebagai bukti keberadaan-Nya.

Maka muncullah gaung Islamisasi Ilmu atau lebih tepat Islamisasi Sains di kalangan cendekiawan Islam. Terutama ketika Syed M. Naquib Al-Attas membuka wacana gerakan ini pada sebuah pertemuan cendekiawan Muslim lintas negara di Mekkah.

Mimpi Al-Attas mengenai gerakan ini sangat besar. Visinya tentang Islamisasi Ilmu dapat kita temukan dalam beberapa buku, termasuk buku Filsafat Ilmu karya Ust. Adian Husaini, dkk.

Tetapi tak semua ulama dan cendekiawan Muslim yang berpikiran sama dengan Al-Attas, menggunakan metode yang sama pula dengan beliau.

Di antara metode yang berkembang dan "laris" di pasaran ialah metode Justifikasi. Yakni mengaitkan peristiwa alam dengan nash atau membuktikan kebenaran nash melalui penjelasan sains.

Salah satu tokoh yang terkenal menggunakan metode ini ialah Harun Yahya.

Aplikasi metode ini contohnya ialah penjelasan mengenai hadits Rasulullah tentang mencelupkan lalat ke dalam air minum. Penjelasan ayat Al-Quran mengenai dua laut yang saling bertemu, adanya api di bawah laut, alasan babi diharamkan, perputaran benda langit pada porosnya, peristiwa Big Bang, dan penemuan-penemuan lainnya.

Salah satu keunggulan metode ini ialah dapat menambah keyakinan masyarakat Muslim mengenai kebenaran nash Al-Quran dan Hadits sebagai wahyu Allah. Kita juga sering mendengar banyak muallaf yang masuk Islam setelah menyadari kesesuaian antara sains dengan kalam Allah.

Namun, sebagaimana metode buatan manusia lainnya, tentu ia tak lepas dari kekurangan.

Pertama, secara konsep, Justifikasi belum menyentuh sisi inti Islamisasi Ilmu yang hendak dicapai. Sebab, metode ini hanya berusaha mengaitkan sains dengan nash. Pembahasan mengenai ini cukup panjang dan dapat kita temukan dalam buku Islamisasi Ilmu karya Ust. Budi Handrianto.

Kedua, metode ini justru dapat disalahartikan jika tak diimbangi dengan pemahaman agama baik. Sebab, sains dapat berubah seiring perkembangan zaman, Sedangkan, wahyu Allah telah pasti dan tidak dapat diganggu gugat.

Jika suatu saat ditemukan bukti bahwa dua sayap lalat ternyata justru memiliki racun, masihkah kita mempercayai hadits Nabi? Jika suatu hari nanti ditemukan alat untuk membasmi ulat pada tubuh babi, masihkah kita mengatakan babi itu haram?

Ada hal-hal, yang sains tak mampu menjangkaunya. Oleh karena itu, posisi wahyu dalam Islam juga merupakan sumber ilmu. Ia sampai kepada kita melalui "berita yang benar" (Khabar Shadiq).

Beberapa di antaranya tak memerlukan penjelasan sains. Khabar Shadiq menuntut kita meyakininya sebelum berusaha membuktikannya.

Seperti Mi'raj Rasulullah yang menggunakan jasad dan ruh, kebesaran Arasy Allah, dan sebagainya.

Allahu a'lam.
 

Sudah Shalatkah Anda?