Senin, 12 Januari 2015

Mengaitkan Sains Dengan Al-Quran dan Hadits

guardyan.blogspot.com
Ilmu pengetahuan (sains) yang berkembang sekarang, tulis Ust. Budi Handrianto dalam buku Islamisasi Ilmu, telah banyak diwarnai corak kebudayaan Barat. Sehingga tak heran, pembahasan sains di dunia pendidikan jauh dari warna keislaman.

Sebab, pada dasarnya kebudayaan Barat menolak konsep wahyu dan memisahkan antara sains dan agama. Seluruh fenomena alam dijelaskan secara mekanis dan fakta empiris belaka.

Sains satu kali pun tak menjelaskan kekuasaan Allah atas semesta alam. Apalagi menjadikan kejadian-kejadian di langit dan bumi sebagai bukti keberadaan-Nya.

Maka muncullah gaung Islamisasi Ilmu atau lebih tepat Islamisasi Sains di kalangan cendekiawan Islam. Terutama ketika Syed M. Naquib Al-Attas membuka wacana gerakan ini pada sebuah pertemuan cendekiawan Muslim lintas negara di Mekkah.

Mimpi Al-Attas mengenai gerakan ini sangat besar. Visinya tentang Islamisasi Ilmu dapat kita temukan dalam beberapa buku, termasuk buku Filsafat Ilmu karya Ust. Adian Husaini, dkk.

Tetapi tak semua ulama dan cendekiawan Muslim yang berpikiran sama dengan Al-Attas, menggunakan metode yang sama pula dengan beliau.

Di antara metode yang berkembang dan "laris" di pasaran ialah metode Justifikasi. Yakni mengaitkan peristiwa alam dengan nash atau membuktikan kebenaran nash melalui penjelasan sains.

Salah satu tokoh yang terkenal menggunakan metode ini ialah Harun Yahya.

Aplikasi metode ini contohnya ialah penjelasan mengenai hadits Rasulullah tentang mencelupkan lalat ke dalam air minum. Penjelasan ayat Al-Quran mengenai dua laut yang saling bertemu, adanya api di bawah laut, alasan babi diharamkan, perputaran benda langit pada porosnya, peristiwa Big Bang, dan penemuan-penemuan lainnya.

Salah satu keunggulan metode ini ialah dapat menambah keyakinan masyarakat Muslim mengenai kebenaran nash Al-Quran dan Hadits sebagai wahyu Allah. Kita juga sering mendengar banyak muallaf yang masuk Islam setelah menyadari kesesuaian antara sains dengan kalam Allah.

Namun, sebagaimana metode buatan manusia lainnya, tentu ia tak lepas dari kekurangan.

Pertama, secara konsep, Justifikasi belum menyentuh sisi inti Islamisasi Ilmu yang hendak dicapai. Sebab, metode ini hanya berusaha mengaitkan sains dengan nash. Pembahasan mengenai ini cukup panjang dan dapat kita temukan dalam buku Islamisasi Ilmu karya Ust. Budi Handrianto.

Kedua, metode ini justru dapat disalahartikan jika tak diimbangi dengan pemahaman agama baik. Sebab, sains dapat berubah seiring perkembangan zaman, Sedangkan, wahyu Allah telah pasti dan tidak dapat diganggu gugat.

Jika suatu saat ditemukan bukti bahwa dua sayap lalat ternyata justru memiliki racun, masihkah kita mempercayai hadits Nabi? Jika suatu hari nanti ditemukan alat untuk membasmi ulat pada tubuh babi, masihkah kita mengatakan babi itu haram?

Ada hal-hal, yang sains tak mampu menjangkaunya. Oleh karena itu, posisi wahyu dalam Islam juga merupakan sumber ilmu. Ia sampai kepada kita melalui "berita yang benar" (Khabar Shadiq).

Beberapa di antaranya tak memerlukan penjelasan sains. Khabar Shadiq menuntut kita meyakininya sebelum berusaha membuktikannya.

Seperti Mi'raj Rasulullah yang menggunakan jasad dan ruh, kebesaran Arasy Allah, dan sebagainya.

Allahu a'lam.
 

Sudah Shalatkah Anda?