Jumat, 27 Februari 2015

Resensi Buku Midnight Kring - Lomba FLP


Roger 8, geng pengurus OSIS di STM Pembinaraganungan, mendadak terganggu ketenangan hidupnya. Geng yang beranggotakan Oji, Mandar, Yono, Pandu, dan Manto ini mendapatkan teror telepon gelap. Tepat jam 12 setiap malam, telepon mereka berdering. Namun ketika diangkat, tak ada jawaban. Senyap. Kadang, suara yang keluar justru bikin bulu kuduk merinding: suara cekikikan.

Keadaan bertambah runyam karena ternyata OSIS sedang pontang-panting memburu dana. Acara mereka yang bertajuk P4 (Pasukan Prestasi Vs. Pasukan Pornografi) kekurangan biaya sebesar 15 juta rupiah. Padahal acara hanya menyisakan waktu dua minggu lagi.

Sementara itu, geng lain yang diketuai oleh Gamal sedang menyusun rencana untuk menghancurkan Roger 8. Ipat dan Nafis, anak buah Gamal, diperintahkan mendaftar sebagai pengurus OSIS. Sedangkan Gamal mengatur siasat dari balik layar.

Merasa tak nyaman, Roger 8 memberanikan diri mengusut tuntas masalah ini. Penyelidikan demi penyelidikan mengarahkan mereka pada rumah kosong di Rawakodibangun Residence. Rumah yang benar-benar tampak horor, terbengkalai, dan tanpa penerangan.

Ternyata masalah ini secara tidak langsung juga menyeret Gamal, dkk. Mau tak mau, ketiga musuh OSIS itu pun harus menikmati gelapnya rumah kosong di Rawakodibangun Residence.

Di tempat lain, Jepri, artis yang sedang naik daun, bertambah popularitasnya di layar kaca. Kasus perampokan yang terjadi di rumahnya menjadi buah bibir di mana-mana.

Semua cerita kemudian saling terhubung menjadi satu benang lurus. Membawa Roger 8, Gamal, dan kasus perampokan Jepri melewati beragam episode penuh humor, misteri, bahkan tak ketinggalan petikan-petikan hikmah. Pembaca dibuat penasaran hingga akhir cerita. Padahal si penelepon ajaib itu ternyata…

***

Dibagi dalam 10 chapter, novel remaja karya Asa Mulchias ini diawali dengan saat pertama kali Yono dan kawan-kawan diteror si penelepon gelap. Hanya Oji yang tak diteror. Si doi nggak punya ponsel. Ia hanya diteror dengan timpukan-timpukan gaib ke arah jendela rumahnya di tengah malam.

Meski begitu, Oji tak peduli. Dibandingkan keempat temannya, ketua Roger 8 ini paling tidak percaya dengan hal-hal berbau takhayul.

Sedangkan Gamal dan kedua temannya, perlahan menyusun siasat untuk melawan Roger 8. Dendam Gamal di masa lalu telah sampai puncaknya. Dendam inilah yang kemudian merepotkan Roger 8. Rencana-rencana Gamal menjadi awal mula teror telepon gelap terhadap Yono dan kawan-kawan.

Kepiawaian penulis dalam menyusun alur cerita terlihat dalam novel ini. Jalan cerita kadang dibuat maju-mundur. Dari scene telepon gelap yang menyerang Yono, tiba-tiba scene berpindah ke Nafis dan Ipat yang terpaksa menuruti perintah Gamal karena rasa balas budi. Dari adegan Roger 8 mencari dana bagi acaranya, plot bisa berubah pada enyak Oji yang setia mengikuti perkembangan kasus perampokan di rumah artis kesayangannya, Jepri.

Tidak mudah bosan membaca Midnight Kring. Ditambah banyak humor-humor ringan yang menghiasi paragraf demi paragraf. Misal ketika Pak Fajar—tukang nasi goreng di kantin—ditanya mengapa ia tak bangga STM Pembinaraganungan berpredikat SBI alias Sekolah Berskala Internasional. “Ngapain saya bangga? Siswa bukan, guru bukan! Saya, kan, cuma jualan nasi goreng di sini!” (Hal. 11).

Pembaca juga dibuat menebak-menebak siapa penelepon gelap itu sebenarnya. Meski Gamal memiliki andil dalam misteri ini, namun salah jika menebak pelakunya adalah ia.

Keunggulan lain novel ini ialah point of view yang beragam. Kita bisa melihat sudut pandang hampir dari setiap tokoh. Selain itu, kedalaman karakter tiap tokoh digambarkan tak hanya melalui deskripsi penulis, namun juga melalui dialog-dialog.

Penulis juga menyisipkan informasi-informasi yang patut diapresiasi. Misal ketika menggambarkan Yono yang maniak Doraemon atau Mandar yang fanatik dengan isu HIV-AIDS, penulis kadang memaparkannya melalui dialog tokoh. Selain karena data-data akurat yang pasti perlu diteliti dahulu sebelum menulisnya, pemaparan informasi menjadi tidak kaku. Terasa lebih ringan karena menggunakan bahasa remaja pada umumnya.

Tak ketinggalan, di sela-sela cerita ada pelajaran dan kata-kata bijak yang sayang  dilewatkan. Seperti ketika Oji menasihati Yono—ketua acara P4—yang frustasi dengan masalah yang datang bertubi-tubi.

Bro,” Oji buka mulut, “kalo ada orang yang boleh putus asa di forum ini, gue bisa bilang orangnya bukan dan nggak boleh elo. Elo itu pemimpin acara ini. Elo harusnya jadi sumber semangat, sumber harapan, sumber inspirasi anak buah elo. Kalau elo lesu begitu, gimana anak buah lo?” (Hal. 77).

***

Dengan segala kelebihannya, novel ini tentu tak lepas dari beberapa hal yang perlu dikritisi. Dari segi fisik, kertas di buku yang saya beli mudah lepas. Padahal buku ini terbilang buku baru dan jarang saya buka. Barangkali ini salah satu pekerjaan rumah bagi penerbit.

Sedangkan pada isi novel, tokoh Manto hampir terasa terabaikan. Digambarkan sebagai sosok pendiam, ia hanya berbicara dua kali sepanjang cerita. Selain itu, mungkin bagi beberapa orang, ide cerita terdengar basi. Kalau saja bukan karena penyajian cerita yang apik dan bahasa yang tidak membosankan, mungkin novel ini telah ditinggalkan sejak chapter pertama.

Ending cerita juga terasa menggantung. Meski misteri ini akhirnya terkuak, akhir cerita seperti memberikan ruang tanya bagi pembaca. Tokoh Gamal hanya digambarkan menyendiri dan menjauh dari teman-temannya. Tak ada keterangan tentang kelanjutan geng yang diketuainya atau hubungan antara Gamal dengan Roger 8.

For your information, keunikan novel ini terletak pada keterkaitan antara tokoh-tokohnya dengan penulis. Ternyata nama-nama dan karakter tokoh disesuaikan dari nama-nama adik kelas penulis di STM dahulu. Meski kisahnya fiktif, bagi orang-orang yang mengenal penulis dan tokoh-tokoh aslinya, bukan tak mungkin merasa novel ini seperti hidup.

Detail:
Judul              : Midnight Kring
Penulis          : Asa Mulchias
Penerbit         : PING!!!
Tebal              : 224 halaman
Cetakan         : I, Mei 2014

No. ISBN       : 978-602-255-521-6

Senin, 16 Februari 2015

Ingin Berubah Jadi Lebih Baik? Hindari 4 Kata Ini!

Ada saja godaan setan untuk menghalangi kita dari berkebajikan. Kadang mereka membuat kita malas. Kadang tubuh dibuat tak bergairah. Hingga tak jarang, waktu luang terbuang sia-sia. Jika tak oleh kebaikan, waktu kita disusupi setan dengan kemaksiatan.

Maka ketika hendak berkebajikan itu, setan kerap menahan kita dengan berbagai cara. Termasuk dengan kata-kata berikut. Apa saja itu? Yuk, tengok.


Ini nih salah satu kata (atau lebih tepatnya kalimat) yang tanpa sadar sering kita ucapkan. Parahnya, kadang kata ini kita gunakan kala hendak bermaksiat. "Sekali ini aja, deh. Besok nggak lagi." Padahal tak ada yang menjamin umur kita masih ada selepas berbuat dosa. Kata ini sebetulnya semu belaka. Fungsinya melegitimasi maksiat kita saja. Besok, lagi-lagi kita berdalih, "Sekali ini aja, ya." Atau kadang dengan kalimat lain, "Ini yang terakhir, deh." Tetapi ternyata maksiat kita masih terulang.


"Mendingan gue masih mau baca Al-Quran satu lembar per hari, daripada si anu, nggak pernah sama sekali," ucap seseorang. Yang lain berbeda kalimat tetapi bernada sama, "Mendingan gue cuma merokok satu batang per hari. Lihat tuh bapak-bapak! Sampai ada yang merokok dua bungkus per hari."

Aduhai, betapa berbahaya kata ini. Dengannya kita bisa menghalalkan sebuah maksiat dan menganggap baik turunnya iman. Kita merasa jumawa. Lebih baik dan lebih mulia dibandingkan orang lain. Padahal pepatah itu telah teramat terang; "Bila urusan akhirat, lihatlah ke atasmu."


Kata-kata yang ini tak kalah menggodanya. Uniknya, kata ini berusaha merestui maksiat kita, dengan menyamakan semua orang. Seakan semua manusia layaknya kita. Yang mudah bermaksiat dan menghimpun dosa. Kerap pula, kalimat ini bermetamorfosis, "Jangan munafik gitu, semua cowok juga melotot kalau melihat cewek cakep." Atau, "Teman-teman di kelas juga mencontek semua, nggak salah dong gue nyontek juga?" Nastaghfiruallah.


Wahai, satu-satunya hal yang harus ditunda adalah rencanamu untuk menunda betobat dan berkebajikan. Kata-kata ini sederhana, tapi dengan mudah mematahkan tekad kita menghindari maksiat. Kita seperti tak ingat mati dan hari kiamat. Kita lupa. Kita manusia biasa, yang satu menit kemudian pun bisa menemui ajal.

Begitulah, Sob. Kalau 4 kata-kata di atas masih kita turuti, selamanya kita akan diam di tempat. Tidak beranjak sedikit pun menuju gerbang kebaikan. Hingga tambahlah benar aksioma itu, "Jadi orang baik susah, ya?"
Semoga Allah memberi kita hidayah, keimanan, dan ketabahan berada di atas jalan-Nya. Aamiin.

Kamis, 12 Februari 2015

Ditipu Setan

kabarmuslimah.com
"Di masa Bani Israil dahulu," tutur Ali bin Abi Thalib yang diriwayatkan oleh Ibnu Jarir, "hiduplah seorang rahib yang menjadi ahli ibadah selama 60 tahun.

Setan yang tak pernah berhasil menggodanya, akhirnya berhasil mendapatkan satu ide.

Melalui seorang wanita yang gila, setan hendak menjebak si rahib. Ia membisiki saudara-saudara wanita tersebut, 'Pergilah kalian kepada rahib itu.'

Sesampainya di rumah sang rahib, lantas ia mengobatinya. Butuh beberapa waktu hingga wanita itu sembuh. Selama pengobatan itulah, sang rahib dan wanita tersebut hidup bersama.

Hingga suatu hari, hati sang rahib mulai tertarik pada wanita itu. Namun apa daya, berkat bisikan setan, sang rahib justru berzina dengan wanita tersebut.

Sang rahib bingung dan menyesal atas perbuatannya. Tak tahu hendak berbicara apa di depan saudara-saudara si wanita. Pada kesempatan ini, setan kembali beraksi.

'Aku adalah sahabatmu. Sesungguhnya engkau telah membuatku kelelahan. Dan akulah yang telah membuatmu seperti ini. Sebab itu, taatilah aku. Aku akan menyelamatkanmu. Bersujudlah padaku sekali saja,' bisik setan pada si rahib.

Maka rahib yang putus asa itu, bersujud pada setan.

Lengkap sudah keberhasilan setan. Enam puluh tahun berjuang, hingga sang rahib takluk padanya. Tapi apa kata setan selanjutnya?

'Sesungguhnya aku berlepas dari dirimu, sesungguhnya aku takut kepada Allah, Rabb segenap alam.'

Setan nyatanya berlepas diri dan tak memberi bantuan apa pun pada sang rahib. Maka sang rahib akhirnya ditangkap, lalu dibunuh."

Kisah ini kemudian dikutip oleh Ibnu Katsir ketika hendak menafsirkan ayat:

"(Bujukan orang-orang munafik itu) seperti (bujukan) setan ketika dia berkata kepada manusia, 'Kafirlah kamu.' maka tatkala manusia telah kafir ia berkata: 'Sesungguhnya aku berlepas diri darimu, karena sesungguhnya aku takut kepada Allah, Rabb segenap alam.'" (Qs. Al-Hasyr: 16)

Tampaklah pada kita bagaimana cara kerja setan. Ia menggoda kita. Membujuk kita agar membersamainya di neraka.

Ia hias setiap keburukan. Hingga keburukan itu terlihat indah di mata kita. Padahal, tak sedikit pun ia dapat menyelamatkan kita. Sekali pun, ia tak mampu menolong kita.

Na'udzubillahi minasy syaithanirrajim.

Seberapa Burukkah Khamr Itu?

konsultasisyariah.com
"Dahulu, pernah ada seorang ahli ibadah yang masuk ke dalam perangkap seorang wanita," Utsman bin Affan mengawali kisahnya.

"Wanita itu mengutus pembantunya menemui ahli ibadah tersebut," tambah Utsman, "Si pembantu mengatakan bahwa sang ahli ibadah harus menemui tuannya untuk menjadi saksi.

Maka berangkatlah keduanya menuju rumah wanita tersebut.

Ketika ahli ibadah itu masuk, tiba-tiba si wanita menutup pintu rumahnya. Di samping wanita tersebut telah tersedia seorang anak kecil dan sekendi minuman khamr.

'Aku memanggilmu bukan untuk menjadi saksi. Sebenarnya aku menginginkan dirimu,' wanita itu mengutarakan maksudnya. 'Pilihlah! Minum segelas khamr ini atau kau bunuh anak kecil ini.'

Sang ahli ibadah tak berusaha keluar dari tempat tersebut.

Ia justru berkata, 'Lebih baik aku meminum satu gelas khamar ini.'

Setelah habis satu gelas, ahli ibadah itu malah terus meminta, 'Tambah satu gelas lagi!' Semakin ia minum, makin tak hilang rasa dahaganya. Perlahan, ahli ibadah itu kehilangan kesadarannya.

Kemudian ia berzina dengan wanita tersebut dan justru membunuh si anak kecil."

"Ketahuilah," Utsman bin Affan mengakhiri kisahnya, "iman seseorang tidak akab bersatu dalam hati seorang pecandu minuman keras.

Salah satu dari keduanya akan keluar dari hatinya. Imannya yang keluar atau kebiasaannya minum khamr," pungkas beliau.

Allahu a'lam.

Minggu, 08 Februari 2015

Persaingan

herman-nurhidayat.blogspot.com
Selain terharu, saya kerap tertawa ketika membuka lembar-lembar sejarah 'persaingan' antara Abu Bakar dan Umar bin Khattab. Bukan sebab humoris. Tetapi kisah mereka selalu mengundang senyum yang seakan berkata, "Menakjubkan!"

Ketika udangan beramal datang, keduanya setia di garda terdepan. Jika panggilan berkebajikan hadir, mereka tak akan pernah abstain.

Namun saat sanjungan menggoda keduanya, wajah mereka tertunduk bahkan menitikkan bulir air mata. Amanah kekhalifahan yang sempat menjemput, ibarat beban yang amat memberatkan.

***

Tak lama setelah Nabi wafat, kursi kepemimpinan kaum muslimin mengalami kekosongan.

Umar yang gundah sebab masalah ini, lantas berdiri di hadapan penduduk Madinah. "...adapun Abu Bakar, ialah sahabat setia Rasulullah, orang kedua di dalam gua, serta yang paling berhak mengatur urusan kalian. Berdirilah dan baiatlah ia!."

"Ulurkan tanganmu," pinta Umar pada Abu Bakar. Seolah tak ingin ada yang menyebut nama Umar sebagai khalifah.

Maka Umar pun membaiatnya. Termasuk seluruh komunitas Muhajirin dan Anshar.

***

Di kesempatan lain, pernah Abu Bakar memberikan memo tentang pemberian tanah milik kaum muslimin bagi Uyaynah bin Hishn dan Aqra bin Habis.

Namun, memo ini harus sepertujuan Umar. Ketika Umar ditemui, ia justru meludahi dan menghapus isi memo itu. Sebab, tanah itu milik bersama umat Islam. Bukan milik orang tertentu.

"Kami tidak tahu," geram keduanya pada Abu Bakar, "apakah Anda yang menjadi khalifah atau Umar?"

Apa jawab Abu Bakar? "Tidak. Kalau ia mau, ia bisa menjadi khalifah sekarang ini."

Bahkan ucapnya pada Umar, "Aku sudah katakan kepadamu dulu. Kamu itu lebih pandai mengurus ini daripada aku, tetapi kamu mengalah kepadaku."

Masya Allah.

***

Meminjam istilah Ust. Salim A. Fillah, inilah bagian dari lapis-lapis keberkahan. Kita mengambil teladan dari sosok-sosok pribadi yang mulia nan agung.

Pada individu-individu yang Allah beri gelar "sebaik-baik umat".

Maka, jika tak bukan pada mereka, ke mana lagi kita mencari keteladanan?

Sabtu, 07 Februari 2015

Ia yang Kalimatnya Diamini Al-Quran

sejarah.kompasiana.com
"Ya Allah, jelaskan kepada kami tentang minuman keras," pinta Umar bin Khaththab suatu waktu.

Maka Allah menurunkan firman-Nya, "Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah, 'Pada keduanya terdapat dosa yang besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya.'" (Al-Baqarah: 219).

Seakan tak puas, di lain waktu Umar berdoa kembali, "Ya Allah, jelaskan kepada kami tentang minuman keras lebih detail lagi."

Allah pun menjawab doanya, "Hai orang-orang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan." (An-Nisa: 43).

Masih tak lega, Umar melangitkan doanya kembali, "Ya Allah, jelaskan kepada kami tentang minuman keras lebih detail lagi."

Pengharaman khamar memasuki puncaknya, "Hai orang-orang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan anak panah, adalah termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu beruntung." (Al-Maidah: 90).

***

Di lain hari, Umar meminta agar maqam Ibrahim dijadikan tempat shalat. Maka turunlah surat Al-Baqarah ayat 125.

"Dan (ingatlah), ketika Kami menjadikan rumah itu (Baitullah) tempat berkumpul bagi manusia dan tempat yang aman. Dan jadikanlah sebagian maqam Ibrahim tempat shalat..."

Ia juga pernah berpesan pada Sang Nabi, "Rasulullah, orang baik dan orang jahat mendatangimu. Seandainya Anda perintahkan para Ummul Mukminin untuk memaki hijab."

Lalu kalam Allah mengamininya, "Hai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin: 'Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka'. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (Al-Ahzab: 59).

"Tahan diri kalian," Umar mengingatkan para istri Nabi di lain masa, "atau Allah akan mengganti kalian dengan istri yang lebih baik untuk Rasul-Nya."

Salah seorang istri Rasul memprotes, mengapa tak Rasulullah sendiri yang menasihati istri-istrinya? Tetapi justru ayat lain kembali turun.

"Jika Nabi menceraikan kamu, boleh jadi Tuhannya akan memberi ganti kepadanya dengan istri-istri yang lebih baik daripada kamu, yang patuh, yang beriman, yang taat, yang bertobat, yang mengerjakan ibadah, yang berpuasa, yang janda dan yang perawan." (At-Tahrim: 5).

***

Sungguh, siapa yang dirinya tak ingin seperti Umar? Hidupnya menjadi inspirator turunnya wahyu.

Mulai dari soal tawanan perang Badar, adab memasuki rumah, hingga perihal menshalati jenazah orang-orang munafik.

Di kala Abu Bakar memberi hikmah pada kita bahwa tak ada orang besar yang muncul dengan instan. Umar menunjukkan pada kita bagaimana hidup dalam buaian Al-Quran. Tentu wahyu tak mungkin turun lagi. Tetapi bukan itu poin intinya.

Memiliki kata-kata yang sering diamini Allah sungguhlah tak mudah. Tak ada harga murah untuk sebuah keistimewaan. Butuh bertumpuk-tumpuk pengorbanan dalam menegakkan ajaran Nabi-Nya. Perlu bersusun-susun amal kebajikan hingga Allah ridha padanya.

Umar betul-betul menjadikan Al-Quran tak sekadar pemuas intelektual belaka. Atau hafalan-hafalan minim makna. Ia menjadikannya peta hidup. Visinya berorientasi pada mengimplementasikan setiap ayat.

Maka baginya sepuluh ayat itu sudah cukup. Ia teras berat untuk diamalkan. Tak perlu ditambah lagi, katanya.

Maka baginya satu ayat itu cukup membuatnya sakit selama sebulan. "Sesungguhnya azab Tuhanmu pasti terjadi." (Ath-Thur: 7).

Ya Allah, ampunilah kami yang amat jarang membuka ayat-ayat-Mu. Menjadikannya berdebu di lemari-lemari yang telah bersarang laba-laba.

Ya Allah, ampunilah kami yang sekadar membaca dan menghafal kalimat-Mu. Namun tak sedikit pun kami praktikk dalam hidup. Justru kami gunakan untuk meligitimasi kemaksiatan kami. Firman-Mu kami catut untuk membenarkan dosa-dosa kami.

Jumat, 06 Februari 2015

Ketika Umar Menjadi Hakim

youtube.com
Di masa pemerintahan Abu Bakar Ash-Shiddiq, hakim negara merupakan posisi yang amat penting dan strategis. Maka orang yang mengisinya pun tak boleh sembarangan.

Sebab itu, tak heran Abu Bakar memilih Umar bin Khattab. Lelaki yang mampu mempertemukan ketegasan dan keadilan.

Tetapi baru setahun menjabat, Umar memilih berhenti.

"Apakah karena pekerjaan menjadi hakim itu begitu berat, wahai Umar?" Abu Bakar mempertanyakan.

"Tidak, wahai Khalifah Rasulullah."

"Jadi mengapa engkau mengundurkan diri?"

"Saya ini sudah menjabat satu tahun lamanya," Umar menerangkan, "tetapi tidak ada satu pun kasus aku tangani."

"Wajar jika masyarakat ini tidak pernah ada masalah," Umar meneruskan kalimatnya, "Bagaimana mau ada masalah? Mereka adalah masyarakat yang menegakkan amar ma'ruf dan nahi munkar. Mereka hidup dengan saling menasihati. Mereka adalah masyarakat yang tahu hak dan kewajibannya. Mereka melaksanakan kewajiban dengan sebaik-baiknya. Serta mereka tidak mengambil hak melebihi hak mereka sendiri."

Inilah sungguh masyarakat yang kita idamkan. Hidup dalam suasana harmoni dan saling menasihati.

Mereka yang benar, mau mengingatkan mereka yang salah. Mereka yang salah, menerima setiap kritik dan berusaha memperbaikinya. Bukan malah mencari alasan lain, menyembelih kambing hitam, apalagi mengintimidasi dan menekan mereka yang sudah berusaha mengingatkan.

Inilah sungguh masyarakat yang kita rindukan. Maka di Jumat yang mulia ini, mari melantunkan doa bagi seluruh umat. Agar hidup sebagaimana para shahabat hidup. Agar hidup berkeadlian dan berdiri di atas keberkahan.

Kultwit @Malakmalakmal #IZZAH

Kultwit bang @malakmalakmal tentang ‪#‎Izzah‬.
Cekidot, Gan :))
01. Kali ini saya ingin bahas soal ‘izzah (kemuliaan) sbg Muslim. Kita kasi judul #Izzah, tp dibacanya ttp pake ‘ain ya smile emotikon
02. Yg namanya #Izzah ini menimbulkan perasaan mulia dan bangga, krn kemuliaan itu membanggakan.
03. Sebagai seorang Muslim, kita wajib memiliki #Izzah. Tidak layak bagi kita utk menghinakan diri.
04. Islam bukan hanya mengajarkan tata ibadah yg wajib kita lakukan, tp jg mengajari manusia akan jati dirinya. #Izzah
05. Layakkah manusia menghinakan dirinya, sedangkan Allah telah memuliakannya? Lihat QS. 38:71-72. #Izzah
06. Jauh sblm Sigmund Freud berteori soal ego dan superego, Qur’an sudah memuliakan manusia krn jiwanya. #Izzah
07. Dua ayat di atas jelas menunjukkan bhw jasad manusia hanya terbuat dari tanah. #Izzah
08. Setelah Allah SWT meniupkan ruh kepada jasad tsb, barulah ia menjadi makhluk yg mulia. #Izzah
09. Banyak manusia yg salah mencari kemuliaan, krn mrk mencarinya dari hal2 yg bersifat materi. #Izzah
10. Padahal, tubuhnya tidak lebih canggih drpd hewan, bahkan lebih lemah drpd kebanyakan binatang. #Izzah
11. Sebagus2nya fisik manusia, kelak akan hancur juga. Terobsesi dgn keindahan fisik adalah pilihan hidup yg salah. #Izzah
12. Manusia dilengkapi dgn hawa’ (dlm bhs Indonesia disebut nafsu), namun yg terjebak olehnya jg banyak. #Izzah
13. Hawa’ adalah alat kelengkapan utk hidup, namun jika memperturutkannya, manusia menjadi hina. #Izzah
14. Hapal Surah An-Naazi’at? Lihat bgmn Allah SWT menjelaskan ciri penghuni neraka (QS. 79: 37-39). #Izzah
15. Kemudian lihat bgmn Allah SWT menjelaskan ciri penghuni surga (QS. 79: 40-41). #Izzah
16. Perbedaan kontras antara surga dan neraka terletak pd cara manusia memperlakukan hawa’-nya. #Izzah
17. Jika manusia tunduk pada hawa’, maka lenyap kemuliaannya. Jiwa semestinya memegang kendali penuh. #Izzah
18. Manusia yg bertindak dgn akhlaq yg keliru berarti telah menodai kemuliaannya sendiri. #Izzah
19. Jika Anda melihat seorang raja kentut sembarangan, apakah Anda masih menganggapnya mulia? #Izzah
20. Lalu mengapa manusia biasa yg bermacam2 kondisinya harus menjaga akhlaqnya? #Izzah
21. Ini jawabannya. Manusia bukan hewan. Manusia adalah khalifah (wakil) Allah. Lihat QS. 2:30. #Izzah
22. Allah tidak menyamakan manusia dgn makhluk lainnya. Manusia adalah wakil yang Dia tunjuk langsung! #Izzah
23. Jika manusia menghayati perannya sebagai khalifah Allah, wajarkah ia bertindak seenaknya? #Izzah
24. Setiap manusia tidak kurang dari seorang khalifah. Pantaskah berperilaku bak hewan? #Izzah
25. Banyak yg tidak memahami masalah ini. Krn itu, mrk bertanya2, “Mengapa segala hal diatur dlm Islam?” #Izzah
26. “Makan saja kok diatur2?” Karena yg makan adalah khalifah, maka ada aturannya. #Izzah
27. “Melangkahkan kaki saja kok ada aturannya?” Karena khalifah yg melangkah, maka tak bisa sembarangan. #Izzah
28. “Buang hajat saja kok ribet?” Karena khalifah tdk layak membiarkan dirinya kotor, itulah sebabnya. #Izzah
29. Sadarkah Anda semua, bahwa yg tengah mengajari Anda utk menjadi mulia ini adalah Rabb kita semua? #Izzah
30. Allah telah memuliakan manusia, tapi manusia kerap lupa akan kemuliaannya. Maka kita diingatkan! #Izzah
31. Allah menciptakan manusia dgn kemuliaan, tapi kita kerap menistakan kemuliaan itu. Dan Allah tak henti mengingatkan! :') #Izzah
32. Tanpa akhlaq yg benar, manusia bukan lagi makhluq mulia sebagaimana Sang Khaliq dulu menciptakannya. #Izzah
33. Utk memiliki akhlaq yg baik, manusia harus memahami adab yg benar, dan yg paling utama adalah adab kpd Allah. #Izzah
34. Allah itu Maha Mulia, dan karenanya, org yg memahami tugasnya sbg wakil Allah pasti bersikap mulia. #Izzah
35. Bagaimana jika ia menyekutukan Allah? Jika bukan wakil Allah, lantas wakil siapa? #Izzah
36. Adakah berhala2 itu mengajarkan kebaikan yg sama sebagaimana Allah SWT mengajari kita? #Izzah
37. Mrk yg menghamba pada fanatisme kebangsaan, sbg contoh, akan sibuk berperang demi kemuliaan palsu spt kaum jahiliyah. #Izzah
38. Ketika Bani Aus dan Bani Khazraj diprovokasi Yahudi utk saling memusuhi, Allah mengingatkan mrk dgn sebuah ayat. #Izzah
39. Bacalah ayatnya dgn pikiran terbuka! QS. 3: 103. #Izzah
40. Allah SWT-lah yg telah menyeru kita dgn lembut agar bangkit dari kejahilan dan kembali pd kemuliaan. #Izzah
41. Oleh karena itu, di antara semua kezaliman, menyekutukan Allah SWT adalah kezaliman terbesar (QS. 31:13). #Izzah
42. Kufur kepada Allah adalah kehinaan, dan sumber dari segala kehinaan lainnya. #Izzah
43. Bukan berarti seorang Muslim pasti terhindar dari perilaku keji. Akan tetapi, kekufuran adalah biang kekejian. #Izzah
44. Oleh karena itu, seorang Muslim senantiasa mensyukuri nikmat iman dan Islam pada dirinya. #Izzah
45. Petunjuk Allah SWT adalah nikmat tak terbayangkan. #Izzah
46. Sebaliknya, kesesatan dari petunjuk tsb adalah adzab yg tak terbayangkan pula. #Izzah
47. Tepatlah kiranya jika kita bercermin pada kata2 Rasulullah saw sbgmn diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim. #Izzah
48. “Tiga perkara yang bila seseorang memilikinya, maka ia akan merasakan manisnya iman...” #Izzah
49. “(1) Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai dari selain keduanya,...” #Izzah
50. “(2) Ia mencintai saudaranya hanya karena Allah,...” #Izzah
51. "(3) Ia benci kembali pada kekufuran setelah Allah menyelamatkannya darinya sbgmn ia tak suka jika dilempar ke neraka.” #Izzah
52. Seseorang yg beriman, tidak bisa tidak, pasti merasakan kebanggaan sebagai seorang Muslim. #Izzah
53. Kini, ada orang2 yg berusaha memalingkan umat Muslim dari kebanggaan tsb. #Izzah
54. Ada yg bilang, bangga dan sombong itu tipis. Tapi pd saat yg bersamaan, ia tidak jelaskan batasannya. #Izzah
55. Takabbur adalah sifat Iblis. Ia disebut takabbur ketika mengingkari perintah Allah. #Izzah
56. Oleh karena ingkar, ia disebut kafir. Takabbur adalah sifatnya makhluk yg kafir (QS. 2:34). #Izzah
57. Dlm salah satu hadits yg diriwayatkan o/ Imam Muslim, Nabi saw jg menjelaskan arti sifat sombong. #Izzah
58. “Sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia.” #Izzah
59. Maka, kekafiran adalah kesombongan yg paling sejati. Sejalan dgn kisah Iblis tadi. #Izzah
60. Jika seorang Muslim merasa agamanyalah yg benar, apakah itu kesombongan? #Izzah
61. Jika seorang Muslim memandang kekafiran sbg suatu kebathilan, apakah itu kesombongan? #Izzah
62. Kerusakan pemikiran ini terjadi krn kita tdk memahami konsep2 dlm ajaran Islam dgn benar. #Izzah
63. Islam tdk perlu belajar toleransi dari Barat. Kita sdh memiliki pegangan yg pasti. #Izzah
64. Sikap thd agama lain adalah “lakum diinukum wa liyadiin”, tp dibuka dgn “yaa ayyuhal kaafiruun”. #Izzah
65. Kita menghormati agama lain, membiarkan mereka beribadah sesuai ajaran agamanya. #Izzah
66. Akan tetapi, jgn sampai mengatakan bahwa agama kita sama atau sama2 benar. Sbb mereka ingkar pd kebenaran! #Izzah
67. Kita yakin mereka mengingkari kebenaran krn kita yakin bhw agama kita adalah kebenaran. #Izzah
68. Tengoklah bgmn kita diperintahkan utk berbicara dgn Ahli Kitab (QS. 3:64). #Izzah
69. Ayat ini kerap dimanipulasi o/ kaum liberalis. Spt biasa, mrk memahaminya secara parsial. #Izzah
70. Awal ayat ini menyeru Ahli Kitab utk berpegang pd “kalimatin sawaa’”. #Izzah
71. Kemudian kaum liberalis menyerukan agar kita mencari “kalimatin sawaa’” ini dgn dialog antar agama. #Izzah
72. Apa benar begitu? Padahal, ayat tsb sudah menjelaskan apa yg dimaksud dgn “kalimatin sawaa’”. #Izzah
73. “Kalimatin sawaa’” adalah “kita tdk menyembah selain Allah, tdk persekutukan selain-Nya...” #Izzah
74. “...dan kita tdk menjadikan sebagian kita sbg tuhan dari sebagian yg lain.” Clear kan? #Izzah
75. Bahkan dijelaskan lbh lanjut: “Jika mereka berpaling, katakanlah: saksikanlah bhw kami adalah org2 yg berserah diri.” #Izzah
76. “Kalimatin sawaa’” bukanlah suatu hal yg bisa dicari2 dan disepakati. #Izzah
77. Tauhid adalah harga mati bagi seorang Muslim. Jika Ahli Kitab tdk mengakuinya, maka itulah pilihan mrk. #Izzah
78. Seorang Muslim, spt kata kang @hafidz_ary, pada akhirnya berkata dgn penuh #Izzah: “Isyhaduu bi annaa muslimuun!”
79. Amat disayangkan, tdk sedikit Muslim yg tdk bangga dgn keislamannya. #Izzah
80. Tdk hanya kehilangan #Izzah sbg Muslim, mrk malah menganggap kekafiran sbg keragaman semata. #Izzah
81. Semoga Allah tdk mengembalikan kita pd kejahilan yg telah lampau, aamiin yaa Rabbal ‘aalamiin... #Izzah
Follow: @SAdistributor

Berhala

art-andarias.blogspot.com
"Aku tidak pernah sujud kepada berhala sama sekali," cerita Abu Bakar suatu hari kepada para shahabat Nabi. "Ketika aku beranjak dewasa, ayahku--Abu Quhafah--mengajakku ke suatu ruangan yang berisi berhala-berhala.

Ayahku berkata, 'Inilah tuhan-tuhanmu yang bernama Syumm, Al-'Awaaliy, Khalaniy, dan Dzahab.'

Aku pun mencoba mendekati berhala-berhala tersebut, seraya meminta, 'Aku lapar, tolong beri aku makan!' Tetapi berhala itu tidak menjawab permintaanku.

Aku berkata lagi, 'Aku telanjang, tolong beri aku pakaian.' Berhala itu tetap tidak menjawab permintaanku.

Maka aku pun melempar batu ke arah berhala itu dan berhasil mengenai wajahnya."

Jika Umar bin Khatab mengajari kita melupakan dosa masa lampau. Kemudian mengubahnya menjadi karya peradaban. Maka Abu Bakar memberi tahu kita bahwa tak ada orang besar yang tercipta secara instan.

Pantaslah Abu Bakar memiliki kesempatan menjadi pendamping Nabi. Menjadi salah satu shahabat yang dijamin masuk surga. Menemani Nabi selama hijrah. Menjadi khalifah pertama kebanggaan umat.

Sebab sejak awal, ia telah mendidik dirinya untuk menjauhi kemaksiatan dan kejahilan. Bahkan sebelum masuk Islam, Abu Bakar tak pernah sekali pun menenggak khamar.

Kawan, percayalah. Tak pernah ada orang besar yang muncul dengan instan. Siapa dirimu di hari ini adalah siapa dirimu selama 5 atau 10 tahun sebelumnya. Jika itu buruk dan tak kunjung diubah, percayalah 5 atau 10 tahun lagi siapa dirimu kelak tak jauh dari siapa dirimu hari ini.
 

Sudah Shalatkah Anda?