Jumat, 06 Februari 2015

Berhala

art-andarias.blogspot.com
"Aku tidak pernah sujud kepada berhala sama sekali," cerita Abu Bakar suatu hari kepada para shahabat Nabi. "Ketika aku beranjak dewasa, ayahku--Abu Quhafah--mengajakku ke suatu ruangan yang berisi berhala-berhala.

Ayahku berkata, 'Inilah tuhan-tuhanmu yang bernama Syumm, Al-'Awaaliy, Khalaniy, dan Dzahab.'

Aku pun mencoba mendekati berhala-berhala tersebut, seraya meminta, 'Aku lapar, tolong beri aku makan!' Tetapi berhala itu tidak menjawab permintaanku.

Aku berkata lagi, 'Aku telanjang, tolong beri aku pakaian.' Berhala itu tetap tidak menjawab permintaanku.

Maka aku pun melempar batu ke arah berhala itu dan berhasil mengenai wajahnya."

Jika Umar bin Khatab mengajari kita melupakan dosa masa lampau. Kemudian mengubahnya menjadi karya peradaban. Maka Abu Bakar memberi tahu kita bahwa tak ada orang besar yang tercipta secara instan.

Pantaslah Abu Bakar memiliki kesempatan menjadi pendamping Nabi. Menjadi salah satu shahabat yang dijamin masuk surga. Menemani Nabi selama hijrah. Menjadi khalifah pertama kebanggaan umat.

Sebab sejak awal, ia telah mendidik dirinya untuk menjauhi kemaksiatan dan kejahilan. Bahkan sebelum masuk Islam, Abu Bakar tak pernah sekali pun menenggak khamar.

Kawan, percayalah. Tak pernah ada orang besar yang muncul dengan instan. Siapa dirimu di hari ini adalah siapa dirimu selama 5 atau 10 tahun sebelumnya. Jika itu buruk dan tak kunjung diubah, percayalah 5 atau 10 tahun lagi siapa dirimu kelak tak jauh dari siapa dirimu hari ini.
 

Sudah Shalatkah Anda?