Sabtu, 07 Februari 2015

Ia yang Kalimatnya Diamini Al-Quran

sejarah.kompasiana.com
"Ya Allah, jelaskan kepada kami tentang minuman keras," pinta Umar bin Khaththab suatu waktu.

Maka Allah menurunkan firman-Nya, "Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah, 'Pada keduanya terdapat dosa yang besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya.'" (Al-Baqarah: 219).

Seakan tak puas, di lain waktu Umar berdoa kembali, "Ya Allah, jelaskan kepada kami tentang minuman keras lebih detail lagi."

Allah pun menjawab doanya, "Hai orang-orang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan." (An-Nisa: 43).

Masih tak lega, Umar melangitkan doanya kembali, "Ya Allah, jelaskan kepada kami tentang minuman keras lebih detail lagi."

Pengharaman khamar memasuki puncaknya, "Hai orang-orang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan anak panah, adalah termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu beruntung." (Al-Maidah: 90).

***

Di lain hari, Umar meminta agar maqam Ibrahim dijadikan tempat shalat. Maka turunlah surat Al-Baqarah ayat 125.

"Dan (ingatlah), ketika Kami menjadikan rumah itu (Baitullah) tempat berkumpul bagi manusia dan tempat yang aman. Dan jadikanlah sebagian maqam Ibrahim tempat shalat..."

Ia juga pernah berpesan pada Sang Nabi, "Rasulullah, orang baik dan orang jahat mendatangimu. Seandainya Anda perintahkan para Ummul Mukminin untuk memaki hijab."

Lalu kalam Allah mengamininya, "Hai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin: 'Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka'. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (Al-Ahzab: 59).

"Tahan diri kalian," Umar mengingatkan para istri Nabi di lain masa, "atau Allah akan mengganti kalian dengan istri yang lebih baik untuk Rasul-Nya."

Salah seorang istri Rasul memprotes, mengapa tak Rasulullah sendiri yang menasihati istri-istrinya? Tetapi justru ayat lain kembali turun.

"Jika Nabi menceraikan kamu, boleh jadi Tuhannya akan memberi ganti kepadanya dengan istri-istri yang lebih baik daripada kamu, yang patuh, yang beriman, yang taat, yang bertobat, yang mengerjakan ibadah, yang berpuasa, yang janda dan yang perawan." (At-Tahrim: 5).

***

Sungguh, siapa yang dirinya tak ingin seperti Umar? Hidupnya menjadi inspirator turunnya wahyu.

Mulai dari soal tawanan perang Badar, adab memasuki rumah, hingga perihal menshalati jenazah orang-orang munafik.

Di kala Abu Bakar memberi hikmah pada kita bahwa tak ada orang besar yang muncul dengan instan. Umar menunjukkan pada kita bagaimana hidup dalam buaian Al-Quran. Tentu wahyu tak mungkin turun lagi. Tetapi bukan itu poin intinya.

Memiliki kata-kata yang sering diamini Allah sungguhlah tak mudah. Tak ada harga murah untuk sebuah keistimewaan. Butuh bertumpuk-tumpuk pengorbanan dalam menegakkan ajaran Nabi-Nya. Perlu bersusun-susun amal kebajikan hingga Allah ridha padanya.

Umar betul-betul menjadikan Al-Quran tak sekadar pemuas intelektual belaka. Atau hafalan-hafalan minim makna. Ia menjadikannya peta hidup. Visinya berorientasi pada mengimplementasikan setiap ayat.

Maka baginya sepuluh ayat itu sudah cukup. Ia teras berat untuk diamalkan. Tak perlu ditambah lagi, katanya.

Maka baginya satu ayat itu cukup membuatnya sakit selama sebulan. "Sesungguhnya azab Tuhanmu pasti terjadi." (Ath-Thur: 7).

Ya Allah, ampunilah kami yang amat jarang membuka ayat-ayat-Mu. Menjadikannya berdebu di lemari-lemari yang telah bersarang laba-laba.

Ya Allah, ampunilah kami yang sekadar membaca dan menghafal kalimat-Mu. Namun tak sedikit pun kami praktikk dalam hidup. Justru kami gunakan untuk meligitimasi kemaksiatan kami. Firman-Mu kami catut untuk membenarkan dosa-dosa kami.
 

Sudah Shalatkah Anda?