Minggu, 08 Februari 2015

Persaingan

herman-nurhidayat.blogspot.com
Selain terharu, saya kerap tertawa ketika membuka lembar-lembar sejarah 'persaingan' antara Abu Bakar dan Umar bin Khattab. Bukan sebab humoris. Tetapi kisah mereka selalu mengundang senyum yang seakan berkata, "Menakjubkan!"

Ketika udangan beramal datang, keduanya setia di garda terdepan. Jika panggilan berkebajikan hadir, mereka tak akan pernah abstain.

Namun saat sanjungan menggoda keduanya, wajah mereka tertunduk bahkan menitikkan bulir air mata. Amanah kekhalifahan yang sempat menjemput, ibarat beban yang amat memberatkan.

***

Tak lama setelah Nabi wafat, kursi kepemimpinan kaum muslimin mengalami kekosongan.

Umar yang gundah sebab masalah ini, lantas berdiri di hadapan penduduk Madinah. "...adapun Abu Bakar, ialah sahabat setia Rasulullah, orang kedua di dalam gua, serta yang paling berhak mengatur urusan kalian. Berdirilah dan baiatlah ia!."

"Ulurkan tanganmu," pinta Umar pada Abu Bakar. Seolah tak ingin ada yang menyebut nama Umar sebagai khalifah.

Maka Umar pun membaiatnya. Termasuk seluruh komunitas Muhajirin dan Anshar.

***

Di kesempatan lain, pernah Abu Bakar memberikan memo tentang pemberian tanah milik kaum muslimin bagi Uyaynah bin Hishn dan Aqra bin Habis.

Namun, memo ini harus sepertujuan Umar. Ketika Umar ditemui, ia justru meludahi dan menghapus isi memo itu. Sebab, tanah itu milik bersama umat Islam. Bukan milik orang tertentu.

"Kami tidak tahu," geram keduanya pada Abu Bakar, "apakah Anda yang menjadi khalifah atau Umar?"

Apa jawab Abu Bakar? "Tidak. Kalau ia mau, ia bisa menjadi khalifah sekarang ini."

Bahkan ucapnya pada Umar, "Aku sudah katakan kepadamu dulu. Kamu itu lebih pandai mengurus ini daripada aku, tetapi kamu mengalah kepadaku."

Masya Allah.

***

Meminjam istilah Ust. Salim A. Fillah, inilah bagian dari lapis-lapis keberkahan. Kita mengambil teladan dari sosok-sosok pribadi yang mulia nan agung.

Pada individu-individu yang Allah beri gelar "sebaik-baik umat".

Maka, jika tak bukan pada mereka, ke mana lagi kita mencari keteladanan?
 

Sudah Shalatkah Anda?