Jumat, 27 Februari 2015

Resensi Buku Midnight Kring - Lomba FLP


Roger 8, geng pengurus OSIS di STM Pembinaraganungan, mendadak terganggu ketenangan hidupnya. Geng yang beranggotakan Oji, Mandar, Yono, Pandu, dan Manto ini mendapatkan teror telepon gelap. Tepat jam 12 setiap malam, telepon mereka berdering. Namun ketika diangkat, tak ada jawaban. Senyap. Kadang, suara yang keluar justru bikin bulu kuduk merinding: suara cekikikan.

Keadaan bertambah runyam karena ternyata OSIS sedang pontang-panting memburu dana. Acara mereka yang bertajuk P4 (Pasukan Prestasi Vs. Pasukan Pornografi) kekurangan biaya sebesar 15 juta rupiah. Padahal acara hanya menyisakan waktu dua minggu lagi.

Sementara itu, geng lain yang diketuai oleh Gamal sedang menyusun rencana untuk menghancurkan Roger 8. Ipat dan Nafis, anak buah Gamal, diperintahkan mendaftar sebagai pengurus OSIS. Sedangkan Gamal mengatur siasat dari balik layar.

Merasa tak nyaman, Roger 8 memberanikan diri mengusut tuntas masalah ini. Penyelidikan demi penyelidikan mengarahkan mereka pada rumah kosong di Rawakodibangun Residence. Rumah yang benar-benar tampak horor, terbengkalai, dan tanpa penerangan.

Ternyata masalah ini secara tidak langsung juga menyeret Gamal, dkk. Mau tak mau, ketiga musuh OSIS itu pun harus menikmati gelapnya rumah kosong di Rawakodibangun Residence.

Di tempat lain, Jepri, artis yang sedang naik daun, bertambah popularitasnya di layar kaca. Kasus perampokan yang terjadi di rumahnya menjadi buah bibir di mana-mana.

Semua cerita kemudian saling terhubung menjadi satu benang lurus. Membawa Roger 8, Gamal, dan kasus perampokan Jepri melewati beragam episode penuh humor, misteri, bahkan tak ketinggalan petikan-petikan hikmah. Pembaca dibuat penasaran hingga akhir cerita. Padahal si penelepon ajaib itu ternyata…

***

Dibagi dalam 10 chapter, novel remaja karya Asa Mulchias ini diawali dengan saat pertama kali Yono dan kawan-kawan diteror si penelepon gelap. Hanya Oji yang tak diteror. Si doi nggak punya ponsel. Ia hanya diteror dengan timpukan-timpukan gaib ke arah jendela rumahnya di tengah malam.

Meski begitu, Oji tak peduli. Dibandingkan keempat temannya, ketua Roger 8 ini paling tidak percaya dengan hal-hal berbau takhayul.

Sedangkan Gamal dan kedua temannya, perlahan menyusun siasat untuk melawan Roger 8. Dendam Gamal di masa lalu telah sampai puncaknya. Dendam inilah yang kemudian merepotkan Roger 8. Rencana-rencana Gamal menjadi awal mula teror telepon gelap terhadap Yono dan kawan-kawan.

Kepiawaian penulis dalam menyusun alur cerita terlihat dalam novel ini. Jalan cerita kadang dibuat maju-mundur. Dari scene telepon gelap yang menyerang Yono, tiba-tiba scene berpindah ke Nafis dan Ipat yang terpaksa menuruti perintah Gamal karena rasa balas budi. Dari adegan Roger 8 mencari dana bagi acaranya, plot bisa berubah pada enyak Oji yang setia mengikuti perkembangan kasus perampokan di rumah artis kesayangannya, Jepri.

Tidak mudah bosan membaca Midnight Kring. Ditambah banyak humor-humor ringan yang menghiasi paragraf demi paragraf. Misal ketika Pak Fajar—tukang nasi goreng di kantin—ditanya mengapa ia tak bangga STM Pembinaraganungan berpredikat SBI alias Sekolah Berskala Internasional. “Ngapain saya bangga? Siswa bukan, guru bukan! Saya, kan, cuma jualan nasi goreng di sini!” (Hal. 11).

Pembaca juga dibuat menebak-menebak siapa penelepon gelap itu sebenarnya. Meski Gamal memiliki andil dalam misteri ini, namun salah jika menebak pelakunya adalah ia.

Keunggulan lain novel ini ialah point of view yang beragam. Kita bisa melihat sudut pandang hampir dari setiap tokoh. Selain itu, kedalaman karakter tiap tokoh digambarkan tak hanya melalui deskripsi penulis, namun juga melalui dialog-dialog.

Penulis juga menyisipkan informasi-informasi yang patut diapresiasi. Misal ketika menggambarkan Yono yang maniak Doraemon atau Mandar yang fanatik dengan isu HIV-AIDS, penulis kadang memaparkannya melalui dialog tokoh. Selain karena data-data akurat yang pasti perlu diteliti dahulu sebelum menulisnya, pemaparan informasi menjadi tidak kaku. Terasa lebih ringan karena menggunakan bahasa remaja pada umumnya.

Tak ketinggalan, di sela-sela cerita ada pelajaran dan kata-kata bijak yang sayang  dilewatkan. Seperti ketika Oji menasihati Yono—ketua acara P4—yang frustasi dengan masalah yang datang bertubi-tubi.

Bro,” Oji buka mulut, “kalo ada orang yang boleh putus asa di forum ini, gue bisa bilang orangnya bukan dan nggak boleh elo. Elo itu pemimpin acara ini. Elo harusnya jadi sumber semangat, sumber harapan, sumber inspirasi anak buah elo. Kalau elo lesu begitu, gimana anak buah lo?” (Hal. 77).

***

Dengan segala kelebihannya, novel ini tentu tak lepas dari beberapa hal yang perlu dikritisi. Dari segi fisik, kertas di buku yang saya beli mudah lepas. Padahal buku ini terbilang buku baru dan jarang saya buka. Barangkali ini salah satu pekerjaan rumah bagi penerbit.

Sedangkan pada isi novel, tokoh Manto hampir terasa terabaikan. Digambarkan sebagai sosok pendiam, ia hanya berbicara dua kali sepanjang cerita. Selain itu, mungkin bagi beberapa orang, ide cerita terdengar basi. Kalau saja bukan karena penyajian cerita yang apik dan bahasa yang tidak membosankan, mungkin novel ini telah ditinggalkan sejak chapter pertama.

Ending cerita juga terasa menggantung. Meski misteri ini akhirnya terkuak, akhir cerita seperti memberikan ruang tanya bagi pembaca. Tokoh Gamal hanya digambarkan menyendiri dan menjauh dari teman-temannya. Tak ada keterangan tentang kelanjutan geng yang diketuainya atau hubungan antara Gamal dengan Roger 8.

For your information, keunikan novel ini terletak pada keterkaitan antara tokoh-tokohnya dengan penulis. Ternyata nama-nama dan karakter tokoh disesuaikan dari nama-nama adik kelas penulis di STM dahulu. Meski kisahnya fiktif, bagi orang-orang yang mengenal penulis dan tokoh-tokoh aslinya, bukan tak mungkin merasa novel ini seperti hidup.

Detail:
Judul              : Midnight Kring
Penulis          : Asa Mulchias
Penerbit         : PING!!!
Tebal              : 224 halaman
Cetakan         : I, Mei 2014

No. ISBN       : 978-602-255-521-6
 

Sudah Shalatkah Anda?