Selasa, 19 Mei 2015

Ikhwan - Akhawat

Beberapa waktu lalu, seorang adik kelas berbisik mengajukan tanya, "Bang, teman saya pernah nanya begini, kenapa sih kalau acara-acara Rohis atau keislaman gitu harus pakai hijab? Ikhwan dan akhawat kenapa sih harus dipisah?"

Sampai sini, di dalam hati saya kira temannya itu ingin memprotes aturan tersebut tanpa alasan. Namun kemudian ia melanjutkan, "Tapi kadang kalau melihat panitianya, ngobrol antara ikhwan dan akhawat biasa saja. Saling tatap. Hijabnya seolah lepas jika berada di luar acara. Saya juga dulu sempat mikir sama kaya gitu bang. Terus ngapain saya diajarkan soal pergaulan ini-itu. Menurut antum bagaimana, bang?"

Subhanallah. Sungguh, sebenarnya saya terlalu malu untuk menjawabnya. Jelas, ini pukulan telak.

"Pertama, saya mewakili teman-teman memohon maaf pada antum dan teman-teman yang berpikiran sama seperti itu. Apa pun yang diajarkan pada antum mengenai pergaulan, insya Allah itu yang lebih benar dan lebih berhak untuk antum ikuti.

Insya Allah ini jadi bahan evaluasi buat saya dan teman-teman. Beberapa orang mungkin antum temui berbeda sikapnya dengan apa yang kami ajarkan. Yang seperti ini, jangan antum ikuti dan silakan dilaporkan kepada saya atau teman-teman alumni yang lain."

Beberapa hari yang lalu pun, seorang kakak kelas memberi pesan kepada saya melalui Whatsapp. Saat itu, sedang berlangsung diskusi antarsekolah mengenai apakah di acara rihlah antarrohis nanti akan ada penampilan seni dari Rohis masing-masing atau tidak.

"Ry, kalau nanti penampilan seninya jadi," pesan beliau, "tolong ingatkan sekolah lain ya. Usahakan akhawat itu jangan tampil. Ini kan acaranya untuk ikhwan juga. Khawatir apa yang kita ajarkan di sini, berbeda dengan sekolah lain."

Seharusnya ini menjadi koreksi bagi diri kita semua. Terutama mereka yang bergelut di dunia dakwah dan kebajikan.

Jangan-jangan, banyak yang lari dari dakwah ini bersebab kelakukan para pegiat dakwah itu sendiri. Nilai-nilai keteladanan meluntur. Seluruhnya atas dalih keterbukaan dan peleburan. Sampai tak jarang, antara ikhwan dan akhawat sesama penegak dakwah bercanda sepuasnya. Cair begitu saja seolah belum pernah merasakan tarbiyah Islamiyah.

Sebagaimana yang dituturkan Ust. Salim A. Fillah, kisah-kisah seperti ikhwan-akhawat sebuah kampus yang duduk saling membelakangi membicarakan dakwah, hingga salah satunya tidak sadar jika temannya telah pergi, tak tahu bahwa untuk beberapa menit ia berbicara sendiri. Kini sekadar cerita saja. Atau lelucon yang tak diambil ibrahnya.

Dakwah harus lebih memasyarakat, itu betul. Tetapi sesama pegiat dakwah sendiri tak saling menjaga adab, lalu masyarakat mau mencontoh siapa lagi? Di mana kontrol diri?

"Insya Allah kami masih bisa mengontrol diri kok. Sekadar saling tatap insya Allah masih aman."

Wallahi, apa indikator kita dapat menjaga diri? Padahal umur kita adalah masa-masa ketika syahwat bergejolak. Bergelora meminta dituruti ajakannya. Minimal, ia mengajak setan agar membengkokan hati kita. Jadilah amal itu sia-sia.

Sudah dakwah tidak maksimal, pahala tak jua didapat.

Allahu a'lam.

Yang Mana Kita?

Ada beda; antara rizki dan pendapatan. Rizki memiliki arti umum. Meliputi seluruh pemberian-Nya bagi hidup kita. Kesehatan, waktu luang, istri yang shalihah, anak-anak yang menentramkan hati, hingga iman yang menyuburkan jiwa. Sedang pendapatan ialah bagian dari rizki. Dinanti para karyawan tiap akhir bulan, diburu para pebisnis ketika bertransaksi.

Beberapa orang menikmati keduanya; pendapatan cukup, rizki berlimpah. Inilah karunia ganda. Yang tak semua orang merasainya. Namun rindu kita atasnya tidak berhenti. Siapa yang tak ingin berlibur dengan keluarga tanpa memikirkan biaya?

Sebagian lain, diberi kenikmatan berbeda. Pendapatan pas-pasan, tetapi rizki terus mengalir. Ini yang kerap kita lupa syukuri. Hitung saja kebutuhan sebulan, lalu bandingkan dengan penghasilan yang diperoleh. Jangan lupa, hitung biaya oksigen yang kita hirup saban hari. Betapa matematika langit senantiasa melampaui pikiran manusia. Siapa sangka seorang tukang bubur dengan pendapatan biasa, mampu memenuhi seruan-Nya ke tanah suci?

Sementara lainnya, Allah uji dengan pendapatan yang mencukupi namun rizki baginya terbatas. Ini yang tak jarang kita jumpai. Mapan, rumah mewah, anak banyak, tetapi makan tidak boleh sembarangan. Ada pantangan ini dan itu. Kalau tidak, siap-siap harta dihabiskan untuk menggaji pegawai rumah sakit. Na'udzubillah.

Bagi sejumlah orang, keduanya justru serba kekurangan. Namun, selayak nasihat Ust. Rahmat Abdullah, jika ada kemiskinan paling berbahaya di dunia ini, maka itulah kemiskinan tekad. Tidak penting ia kaya atau miskin, cukup atau kurang, bila hatinya krisis tekad, ia hanya menunggu untuk ditakbirkan empat kali.

Lalu, yang mana kita? Semoga apa pun keadaannya, Allah tetap mengaruniakan syukur dan sabar di setiap desir nafas kita. Sebab, seluruh yang dihadirkan-Nya tidak ada yang datang kecuali bersama kebaikan. Jika lapang, semoga syukur menghiasi segala nikmat-Nya. Hingga kelapangan itu mengantarkan pada kemuliaan dan kebermanfaatan bagi sesama. Jika sempit, semoga sabar mengisi setiap kekosongan rizki dan pendapatan. Hingga kesempitan itu tidak membawa kita pada kemaksiatan serta kekafiran.

Allahu a'lam.

Yang Lebih Mahal Dari Sekadar Haram-Halal

Pernahkah Anda, melihat seorang lelaki shalat memakai celana sekadar menutup pusar hingga lutut? Saya rasa Anda mungkin jarang--atau tidak pernah--menemukan lelaki semacam ini. Kecuali jika orang tersebut kurang kewarasannya, atau minimal sangat minim pemahamannya.

Agama fitrah kita, Islam, memiliki tiga komponen utama. Ialah aqidah, syariah, dan akhlak. Konsekuensi pelanggaran aqidah biasanya seputar kafir, munafik, bid'ah, khurafat, dsb. Pada syariat, hukumnya tak jauh dari wajib, sunnah, mubah, makruh, haram, fasad, dan lainnya.

Sementara akhlak, bermuara pada dua penilaian; terpuji dan tercela.

Ketiganya, membuktikan betapa Islam agama yang paripurna. Mengatur setiap sudut kehidupan serta membimbing umatnya bagaimana beribadah dan meraih ridha-Nya dengan metode yang tepat.

Sebagaimana perintah shalat. Anda tidak akan mungkin menemukan seorang Muslim yang memahami ketiganya, pergi ke masjid bermodal celana saja. Tentu ia punya malu. Ia paham, ia akan bersimpuh di hadapan Rabb yang telah menciptakannya. Secara aqidah, ia mengakui adanya Allah, Rabb yang harus disembah. Melalui syariat, ia belajar bagaimana menunaikannya dengan cara yang benar. Termasuk batasan aurat pria. Dalam fikih, sebetulnya sah saja shalatnya meski hanya bagian pusar hingga lutut yang tertutupi.

Tetapi ada yang lebih mahal dari sekadar halal-haram, ialah akhlak.

Sebab akhlak adalah bagian dari takwa. Ia memenuhi porsi besar saat Rasulullah mula-mula berdakwah di Mekkah. Ia menjadi indikator keimanan seseorang. Ia tak hanya bermanfaat di dunia, bahkan membawa kebaikan hingga ke akhirat. Selayak jawaban Sang Nabi atas tanya Ummu Salamah.

"Ya Rasul, di antara kami, para wanita, ada yang menikahi lebih dari satu lelaki di dunia. Jika kelak wanita tersebut dan para suaminya masuk surga. Wanita ini akan bersama siapa wahai Rasul?"

"ia dibebaskan memilih," sahut Rasulullah, "lalu dia pun memilih siapa di antara mereka yang paling baik akhlaknya.

…Wahai Ummu Salamah, akhlak yang baik itu akan pergi membawa dua kebaikan, dunia dan akhirat.”

Adalah Imam Ahmad ibn Hanbal sempat diprotes oleh beberapa orang, "Wahai Imam, bukankah engkau bilang bahwa tanah itu bukan najis. Mengapa ketika baju yang hendak engkau pakai untuk shalat terkena tanah, engkau pulang lalu berganti pakaian?"

Sang Imam menjawab tawadhu, "Dzalika fatwa, wa hadza takwa; yang itu fatwa, yang ini adalah takwa."

Allahu a'lam.
 

Sudah Shalatkah Anda?