Selasa, 19 Mei 2015

Yang Lebih Mahal Dari Sekadar Haram-Halal

Pernahkah Anda, melihat seorang lelaki shalat memakai celana sekadar menutup pusar hingga lutut? Saya rasa Anda mungkin jarang--atau tidak pernah--menemukan lelaki semacam ini. Kecuali jika orang tersebut kurang kewarasannya, atau minimal sangat minim pemahamannya.

Agama fitrah kita, Islam, memiliki tiga komponen utama. Ialah aqidah, syariah, dan akhlak. Konsekuensi pelanggaran aqidah biasanya seputar kafir, munafik, bid'ah, khurafat, dsb. Pada syariat, hukumnya tak jauh dari wajib, sunnah, mubah, makruh, haram, fasad, dan lainnya.

Sementara akhlak, bermuara pada dua penilaian; terpuji dan tercela.

Ketiganya, membuktikan betapa Islam agama yang paripurna. Mengatur setiap sudut kehidupan serta membimbing umatnya bagaimana beribadah dan meraih ridha-Nya dengan metode yang tepat.

Sebagaimana perintah shalat. Anda tidak akan mungkin menemukan seorang Muslim yang memahami ketiganya, pergi ke masjid bermodal celana saja. Tentu ia punya malu. Ia paham, ia akan bersimpuh di hadapan Rabb yang telah menciptakannya. Secara aqidah, ia mengakui adanya Allah, Rabb yang harus disembah. Melalui syariat, ia belajar bagaimana menunaikannya dengan cara yang benar. Termasuk batasan aurat pria. Dalam fikih, sebetulnya sah saja shalatnya meski hanya bagian pusar hingga lutut yang tertutupi.

Tetapi ada yang lebih mahal dari sekadar halal-haram, ialah akhlak.

Sebab akhlak adalah bagian dari takwa. Ia memenuhi porsi besar saat Rasulullah mula-mula berdakwah di Mekkah. Ia menjadi indikator keimanan seseorang. Ia tak hanya bermanfaat di dunia, bahkan membawa kebaikan hingga ke akhirat. Selayak jawaban Sang Nabi atas tanya Ummu Salamah.

"Ya Rasul, di antara kami, para wanita, ada yang menikahi lebih dari satu lelaki di dunia. Jika kelak wanita tersebut dan para suaminya masuk surga. Wanita ini akan bersama siapa wahai Rasul?"

"ia dibebaskan memilih," sahut Rasulullah, "lalu dia pun memilih siapa di antara mereka yang paling baik akhlaknya.

…Wahai Ummu Salamah, akhlak yang baik itu akan pergi membawa dua kebaikan, dunia dan akhirat.”

Adalah Imam Ahmad ibn Hanbal sempat diprotes oleh beberapa orang, "Wahai Imam, bukankah engkau bilang bahwa tanah itu bukan najis. Mengapa ketika baju yang hendak engkau pakai untuk shalat terkena tanah, engkau pulang lalu berganti pakaian?"

Sang Imam menjawab tawadhu, "Dzalika fatwa, wa hadza takwa; yang itu fatwa, yang ini adalah takwa."

Allahu a'lam.
 

Sudah Shalatkah Anda?