Selasa, 19 Mei 2015

Yang Mana Kita?

Ada beda; antara rizki dan pendapatan. Rizki memiliki arti umum. Meliputi seluruh pemberian-Nya bagi hidup kita. Kesehatan, waktu luang, istri yang shalihah, anak-anak yang menentramkan hati, hingga iman yang menyuburkan jiwa. Sedang pendapatan ialah bagian dari rizki. Dinanti para karyawan tiap akhir bulan, diburu para pebisnis ketika bertransaksi.

Beberapa orang menikmati keduanya; pendapatan cukup, rizki berlimpah. Inilah karunia ganda. Yang tak semua orang merasainya. Namun rindu kita atasnya tidak berhenti. Siapa yang tak ingin berlibur dengan keluarga tanpa memikirkan biaya?

Sebagian lain, diberi kenikmatan berbeda. Pendapatan pas-pasan, tetapi rizki terus mengalir. Ini yang kerap kita lupa syukuri. Hitung saja kebutuhan sebulan, lalu bandingkan dengan penghasilan yang diperoleh. Jangan lupa, hitung biaya oksigen yang kita hirup saban hari. Betapa matematika langit senantiasa melampaui pikiran manusia. Siapa sangka seorang tukang bubur dengan pendapatan biasa, mampu memenuhi seruan-Nya ke tanah suci?

Sementara lainnya, Allah uji dengan pendapatan yang mencukupi namun rizki baginya terbatas. Ini yang tak jarang kita jumpai. Mapan, rumah mewah, anak banyak, tetapi makan tidak boleh sembarangan. Ada pantangan ini dan itu. Kalau tidak, siap-siap harta dihabiskan untuk menggaji pegawai rumah sakit. Na'udzubillah.

Bagi sejumlah orang, keduanya justru serba kekurangan. Namun, selayak nasihat Ust. Rahmat Abdullah, jika ada kemiskinan paling berbahaya di dunia ini, maka itulah kemiskinan tekad. Tidak penting ia kaya atau miskin, cukup atau kurang, bila hatinya krisis tekad, ia hanya menunggu untuk ditakbirkan empat kali.

Lalu, yang mana kita? Semoga apa pun keadaannya, Allah tetap mengaruniakan syukur dan sabar di setiap desir nafas kita. Sebab, seluruh yang dihadirkan-Nya tidak ada yang datang kecuali bersama kebaikan. Jika lapang, semoga syukur menghiasi segala nikmat-Nya. Hingga kelapangan itu mengantarkan pada kemuliaan dan kebermanfaatan bagi sesama. Jika sempit, semoga sabar mengisi setiap kekosongan rizki dan pendapatan. Hingga kesempitan itu tidak membawa kita pada kemaksiatan serta kekafiran.

Allahu a'lam.
 

Sudah Shalatkah Anda?