Jumat, 23 Oktober 2015

Memaknai Sakinah, Memburu Mawaddah - Resensi Buku Sayap-Sayap Sakinah



Apa yang Anda imajinasikan saat mendengar kata “pernikahan”?

Kegembiraan bertemu tambatan hati, kesibukan menyiapkan walimah, atau debar-debar menjelang akad? Juga segala rasa bahagia, canggung, tak sabar, seluruhnya menyatu dalam satu waktu? “Mari kita bersepakat bahwa rasa yang paling mendominasi segenap jiwa saat itu pastinya adalah bahagia. Kita semua sependapat bahwa menikah itu sebuah perkara indah.” (hlm. 9)

Namun, tampaknya ada yang perlu diluruskan dengan definisi “bahagia” kita. Sebab kita kerap mengartikan bahagia dengan penyelenggaraan walimah (resepsi) yang megah lagi wah. Masalahnya, kebahagiaan terlalu sempit jika dimaknai melalui besar-kecilnya walimah saja. Substansi pernikahan jauh lebih rumit. Butuh waktu panjang, energi besar, dan kesabaran luar biasa untuk menapakinya.

Untungnya Dzat Yang Maha Penyayang menunjukkan bimbingan-Nya. Bahwa perjalanan berat berupa pernikahan bertujuan satu: tercapainya sakinah.

Dan di antara ayat-ayat-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri supaya kamu merasa nyaman kepadanya…”  (Qs. Ar-Rum: 21)

“Dalam ayat tersebut terdapat kata litaskunuu ilaiha (merasa tenteram kepadanya). Litaskunuu berasal dari kata sakana, yang berarti nyaman, cenderung, tenteram, atau tenang—sakinah. Sedangkan kata ilaiha merujuk bahwa rasa sakinah itu berarti kepada yang dicintainya—dalam hal ini adalah pasangannya.” (hlm. 45)

Karena sakinah adalah tuntunan-Nya, maka selayaknya jalan menuju ‘cinta’ pun mengikuti petunjuk-Nya.

Betapa sebagian dari kita hari ini terburu-buru menebar janji yang belum tentu terbukti dan menitipkan rasa cinta pada sosok yang sebetulnya masih misteri. Andai saja kita merenungi kisah Abu Bakar bin Umar dan Zainab el-Nafzawiya. Kisah singkat dari buku Kitab Cinta dan Patah Hati-nya Sinta Yudisia tersebut membuktikan pada kita bahwa yang telah menikah pun belum tentu ‘berjodoh’. Sayangnya, pacaran, hari ini masih menjadi ikhtiar mencari jodoh paling populer. Sepasang lelaki-wanita menjalin hubungan tak halal berdalih penjajakan karakter. Dalih yang mudah dipatahkan.

“Nyatanya, anak-anak SD pun saat ini sudah mulai mencoba berpacaran. Anak SMP sekarang sudah ‘mahir’ menjerat mangsa dan melakukan hubungan seks tanpa nikah, bahkan di ruang kelas sekolah!” (hlm. 55)

Lalu mencari jodoh dari mana? Tenang, Mbak Afifah Afra telah menyiapkan 6 rumus yang dapat ditelaah di halaman 61-65. Agar rumus ini lebih aplikatif, di beberapa bab Mbak Afifah Afra dan Riawani Elyta pun tak segan membagikan kisah pernikahan mereka yang (catat!) tanpa didahului pacaran.

Lengkaplah persiapan merayakan cinta. Degup jantung kembali tenang sebakda akad. Apa yang sebelumnya haram, kini mendapatkan stempel halal, bahkan bernilai ibadah.
“Akan tetapi, apa yang perlu Anda ketahui bahwa pernikahan bukanlah sebuah taman bunga yang serba indah.” (hlm. 104)

Pria dan wanita jelas berbeda. Baik fisik, psikis, maupun pola pikir. Jika tidak diantisipasi, perbedaan-perbedaan kecil yang ada justru bisa berbuah perselisihan besar nantinya. Bagaimana mengantisipasinya? Temukan sendiri jawabannya di halaman 109-110, ya. Hehe.
Semakin ke dalam, kita akan disuguhkan formula-formula agar sakinah terus mengepakkan sayapnya. Dari menata ulang pemahaman tentang Mitsaqon Gholidzo, menata hati di malam pertama, menata cinta di awal pernikahan, menata sikap terhadap mertua, sampai menata jiwa jika ternyata sifat pasangan bertolak-belakang dengan harapan kita.

Cukuplah pemaparan menuju akad nikah hingga kiat membangun rumah tangga dalam buku ini, menjadi bekal bagi kita yang masih lajang atau telah berkeluarga. Agar sayap-sayap sakinah mampu mengembang. Dan menerbangkan rumah tangga kita mencapai ridha-Nya.

***

Saya yakin, buku ini bukanlah buku bertema pernikahan Islami pertama yang Anda temui. Saya sendiri sempat berpikir, “Apa bedanya buku ini dengan buku bertema sejenis lainnya? Ah, paling bahasnya itu-itu lagi.”

Tapi, bukankah kunci sukses belajar adalah ‘mengosongkan gelas’ dahulu?

Kita mesti berani merendah. Dan seperti kata Helvy Tiana Rosa, “…sadar bahwa kita belum tahu banyak.”

Dan sikap semacam itu terbukti hasilnya. Dalam buku setebal 248 halaman ini, saya memperoleh beberapa perspektif baru mengenai pernikahan dan beragam kisah berhikmah yang patut diteladani. “Nikah dan Second Opinion” adalah contoh bab yang sangat saya sukai. Benar-benar memberikan pemahaman baru.

Ditambah, kedua penulis ini merupakan penulis besar dan telah menelurkan banyak buku fiksi. Tidak heran diksi yang dipakai bervariasi dan mampu menyampaikan pesan tanpa kesan mendakwai. Bahasanya mengalir lincah, terselip humor, namun tetap padat dengan nash-nash dan fakta ilmiah.

Bagi Pembaca yang tidak terbiasa menyelesaikan bacaannya (ups!), buku ini lumayan membantu Anda. Penyusunannya yang tidak sistematis memungkinkan kita membaca dari bab mana pun. “Saya ingin tulisan-tulisan ini terjelma bak kumpulan benda-benda kecil yang bisa dinikmati secara terpisah. Namun tatkala benda-benda itu dikumpulkan, menjelmalah sebuah bentuk yang lebih besar dan utuh.” (hlm. 18)

Bobot buku ini bertambah dengan tampilan sepotong quote setiap mengawali bab baru. Seperti yang berada di halaman 189,

Bukankah cinta datang untuk menyatukan, dua hati yang berbeda.
Dan tiada memaksakan satu keinginan, atas keinginan yang lain.”
(Yana Yulio)

Bersiaplah pula meleleh dengan puisi-puisi cinta di akhir buku. Selamat membacanya di depan pasangan halal Anda (eh!).

Dari segi tampilan, desain sampul cukup eye catching dengan background warna biru dihiasi dua ekor burung dara. Tapi, karena bernuansa feminim, bagi saya yang laki-laki mungkin agak malu jika membacanya sambil berdiri di Commuter Line atau Transjakarta, hehe.

Terakhir, saya ucapkan selamat membaca dan mengepakkan sayap-sayap sakinah Anda.

***

Judul         : Sayap-Sayap Sakinah
Penulis        : Afifah Afra dan Riawani Elyta
Penerbit      : Indiva Media Kreasi, Solo
Tebal         : 248 halaman; 19 cm
Cetakan      : 1, Juli 2014
Nomor ISBN : 978-602-1614-22-8
 

Sudah Shalatkah Anda?