Rabu, 11 Mei 2016

Resensi Novel Maneken: Cerita Ada, Karena Kita Percaya

Kau kira hanya manusia saja yang memiliki obsesi terhadap cinta? Jangan membuatku tertawa. Aku pun sebagai benda yang dipajang di sebuah toko punya obsesi itu dan akan memperjuangkannya.

Claudia namanya. Maneken cantik—calon—penghuni etalase utama toko Medilon Shakespeare. Sebagai butik yang baru direnovasi, Medilon Shakespeare membutuhkan kejutan utama di hari peluncurannya. Tentu agar butik ini tidak begitu saja tenggelam di balik butik-butik besar lainnya di daratan Inggris. Dan Claudia adalah jawabannya.

Claudia begitu senang. “Dunia kaca kecilku. Etalase milikku,” akunya. (hal. 4)

Tapi Sophie, pengelola butik, ternyata juga menyimpan kejutan lain. Tiga karyawan lain, Touya, Deborah, dan Nichole hanya bisa menuruti perintah. Termasuk Vince, pemilik asli butik yang tak pandai mengelola bisnis.

Claudia bukanlah satu-satunya bintang utama Medilon Shakespeare. Butuh satu maneken lagi. Maka didatangkanlah Fereli. Maneken pria tampan, ‘pelengkap’ bagi Claudia. Tentu bagi Claudia, ini jauh di luar harapan. Milikku, artinya milikku. Tidak boleh ada maneken lain yang menghuni etalase utama. Apalagi, sejak pertemuan pertama, Claudia sudah dibuat jengkel dengan pertanyaan dalam bahasa Perancis yang membuatnya terlihat bodoh. “Bonjour Mademoiselle! Comment vous-allez vouz? (Halo Nona, apa kabar?)” (hal. 14)

Ah, lupa. Claudia dan Fereli memang maneken, tapi keduanya mampu berbicara. Tentu dalam bahasa mereka, dan hanya mereka yang bisa mendengarnya. Ada empat kemampuan maneken lainnya yang tidak dimiliki manusia. Takkan jadi kejutan kalau semuanya dituang dalam resensi sederhana ini.

Sangat tak mudah bagi Claudia yang ambisius dan menggebu selalu bersama 24 jam dengan Fereli yang formal dan dingin. Musim terus berganti, dan tema toko pun berubah. Begitu pula dengan Claudia dan Fereli. Busana dan posisi mereka selalu disesuaikan dengan tema yang diusung Medilon Shakespeare. Tapi benci Claudia justru perlahan menguap. Fereli yang dikenalnya ternyata juga memiliki sifat lembut dan sopan. Gentle. Sampai akhirnya rasa itu kemudian hadir. Terutama setelah tangan Claudia bersentuhan dengan tangan Fereli. “Saat itu, kukira sebagai ungkapan sepakat kami harus saling menyentuh tangan, ternyata dampak yang harus ditimbulkan lebih dari sekadar itu.” (hal. 49)

Sejak itu, etalase utama bukan lagi milikku. Tetapi menjadi etalase kami. Claudia merasa telah menyatu dengan Fereli, begitu pun sebaliknya.

Pada saat yang sama, sebuah rahasia terkuak. Dari mana mereka berasal, dan mengapa Fereli merasa bahwa mereka telah ditakdirkan bersama sejak pertama kali diciptakan oleh seseorang bernama Sinclair. Rahasia yang membuat Sophie tak segan membuang dan membakar Fereli sesaat setelah kekasihnya membatalkan rencana pernikahan mereka. Rahasia yang kembali mempertemukan Fereli dan Sinclair. Rahasia yang mampu "menghidupkan" kembali Fereli dan memaksanya untuk menyelamatkan Claudia dari rencana jahat Sophie lainnya. Rahasia apa? Apa yang sebenarnya telah terjadi?

Cerita yang kita punya takkan ada jika tak percaya.”

***

Sungguh tak disangka, ternyata sebuah video clip bisa disulap menjadi novel setebal 181 halaman. Dengan imajinasinya, penulis mampu mengembangkan video clip lagu Dalam Duka miliki Letto, lengkap dengan beberapa detail. Seperti tema toko yang tulisannya ditempel di depan etalase utama, serta busana dan posisi kedua maneken. Termasuk sikap Claudia yang menaruh iri pada pasangan kekasih yang kerap meramaikan kafe di depan toko. Benar-benar seperti sedang menonton video clip, namun dengan cerita yang lebih meluas.

Kisah cinta yang unik, karena diambil dari sudut pandang benda mati. Benda yang selama ini mungkin kita abaikan. Tetapi ternyata memiliki emosi dan ambisi sebagaimana manusia.
Tidak heran, seluruh bab ditulis dengan kalimat pasif. Dinamai, Dijengkelkan, Dilamar, Ditinggalkan, dan sebagainya. Awalnya ini semacam keunikan tersendiri. Perlahan disadari, benda mati sejatinya memang tidak bergerak sendiri. Ada manusia yang menjadi subjeknya.

Kelebihan lain novel ini ialah bahasa yang lincah mengalir dan diksi yang puitik. Sebagaimana endorse dari Tasaro GK, “Setiap kata dalam novel Maneken ini seakan dipilih dengan kesadaran penuh akan rimanya, maknanya, filosofinya, dan kritiknya.” Seperti ketika penulis menguraikan perasaan Claudia atas kehadiran tirai yang menjuntai di depan etalase.

Kemarin malam, lapisan-lapisan kertas yang melekat dan mengganggu pandanganku terhadap suguhan kecil jagat raya bagian depan etalase utama dicopot oleh Sophie dan kawan-kawan. Saat kertas tersibak, terkuaklah pemandangan di luar. Bukan panorama padang hijau yang terpampang—sebab kutahu ini di kota—melainkan jalanan dan jejeran bangunan bisu yang bising oleh aktivitas manusia.” (hal. 7-8)

Atau beberapa quote  yang turut merenda novel.

Tak ada yang tak mungkin, karena kau hidup di bawah awan. Kau diperbolehkan bermimpi setinggi awan dan bisa berusaha meraihnya. Coba bayangkan jika kau hidup di atas awan, di manakah kau menggantung mimpimu?” (hal.90)

Setiap bab ditulis pendek. Sekitar 3-8 halaman saja. Sehingga pembaca tidak dibebani dengan penantian akhir bab dan bosan sebelum menuntaskannya. Justru pembaca tidak sadar kalau novel yang dibacanya bisa habis dalam waktu singkat. Klimaksnya tentu saja menunggu akhir kisah cinta Claudia dan Fereli. Pembaca dibuat penasaran dengan klimaks tersebut, namun tidak butuh waktu lama untuk naik ke puncaknya.

Sayangnya, ada beberapa noda yang sedikit mengotori novel Maneken ini.

Pertama, lagi-lagi typo. Misal penulisan “disekitaran” (hal. 90) yang seharusnya dipisah, malah disambung. Tapi ini tidak banyak. Masih dalam hitungan kewajaran.

Kedua, desain sampul. Rasanya kurang eye catching. Font untuk tulisan Maneken sedikit kurang tegas. Dari jauh, pembaca akan sedikit kesulitan membaca judul novel ini. Selain itu, gambar kedua manekennya masih kurang mirip seperti maneken. Awalnya saya kira gambar itu sekadar merepresentasikan tokoh di dalam novel. Manusia, bukan maneken.

Ketiga, kelewat puitik. Ini terjadi di beberapa scene. Terutama ketika wawancara beberapa saksi mata yang mengaku melihat manusia (baca: maneken) terbang di malam hari.

...Namun saat itu berbeda, dalam tidurku aku merasa gelisah. Terbangunlah aku, tidak dengan berteriak sebab aku tidak mimpi buruk, suamiku masih tertidur dengan kenyenyakan yang takkan terusik gempa. Aku berjalan ke dapur, berniat meminum air putih...” (hal. 124)

Jarang sekali ada orang yang masih dalam keadaan terkejut lalu dapat berbicara panjang lebar dan dengan kalimat-kalimat yang tersusun rapi. Biasanya mereka akan bicara sepotong-potong, to the point, serta kalimat yang kadang tidak keruan.

Keempat, alur maju yang terlalu cepat. Sepertinya ada beberapa bagian yang masih bisa dikembangkan oleh penulis. Cerita sekreatif dan seunik ini rasanya agak sayang dapat tuntas hanya dalam waktu singkat. Contoh, kisah mengenai awal pembuatan Claudia dan Feleri. Penulis bisa saja membuat bab baru, sedikit flash back, dan menyusun cerita yang lebih detail. Tidak sekadar omongan Feleri yang menjawab rasa penasaran Claudia. Saya jadi bertanya, jika setiap maneken memiliki lima kemampuan yang sama, bukankah mungkin saja ada Claudia dan Fereli lainnya? Bahkan mungkin ada maneken yang nakal, memberontak kepada manusia. Menuntut hak asasi manekennya. Mengerucutnya cerita hanya pada Claudia dan Fereli mungkin bisa sedikit dikembangkan dengan kehadiran maneken lain sebagai penyeimbang.

Saya juga sedikit kecewa mengapa penulis memilih Claudia dan Fereli untuk “dimanusiakan”, dalam arti harfiah. Ke-maneken-nya tergantikan oleh “kemanusiannya”. Cerita cinta yang telah disusun dengan legit dari awal itu seperti kehilangan makna dan keunikannya.

Begitulah, tapi beberapa kekurangan tersebut seperti tidak terasa jika kita telah membaca novel ini hingga khatam. Terakhir, bagi para penikmat novel dan cerita roman, novel ini tentu sayang dilewatkan begitu saja. Buat para penulis pemula, menyeksamai novel Maneken pasti akan menambah wawasan, atau minimal kosakata kita. Mengembangkan imajinasi kita mengenai dunia fantasi. Sesuatu yang awalnya tampak tidak mungkin, ternyata dapat diwujudkan. Sebab cerita itu akan ada, hanya jika kita percaya. []

Judul: Maneken
Penulis : SJ. Munkian
Penerbit: Mahaka Publishing, Jakarta
Tebal: x+181 halaman; 13.5 x 20.5 cm
Cetakan: I, September 2015
Nomor ISBN: 978-602-9474-06-0 
 

Sudah Shalatkah Anda?